Cinta Anya Untuk X

Cinta Anya Untuk X
Anya kembali ke Jakarta.


__ADS_3

Anya bergegas menghampiri Axton yang sedang mengaduh kesakitan sembari mengelus dadanya yang terasa nyeri. "Sakit ya, Kak?" tanya Anya khawatir.


"T–tidak." raut wajah Axton menunjukan hal sebaliknya.


"Harusnya pintu rumah jangan dibiarkan setengah terbuka." Sepwrti tidak terjadi apa-apa, Elang melenggang santai ke dalam rumah. Pria itu berdiri menghadap Axton lalu mengulurkan tangannya. Axton menerima uluran tangan Elang.


Setelah membantu Axton bangun, dia kemudian berjalan menuju ke dapur untuk mengambil minum.


Anya berdiri dibantu Axton. "Mas baru pulang Kantor?" tanya Anya.


"Iya." Sahut Elang dari dapur.


"Kapan jadwal check up-mu? Bunda tadi telepon." Elang keluar dari dapur.


"Bulan depan."


"Secepatnya."


Axton dan Anya menjawab bersamaan.


Anya menatap Axton heran.


"Aku ingin membawa Anya pulang." Terang Axton pada Elang.


Elang tampak berpikir sejenak. "Asal dokter mengijinkan tidak masalah. Lagi pula memang lebih baik di Jakarta. Para orang tua jadi tidak perlu bolak-balik kemari."


"Mas tetap di sini atau kembali ke Jakarta?" tanya Anya.


"Tugasku sudah selesai dua hari lalu. Aku akan pulang ke Jakarta lusa." Jawab Elang santai.


Seakan ingat sesuatu, Axton berjalan mendekati Elang, "Mas, aku ingin bicara," ujar pria itu.


...***...

__ADS_1


Axton tak berhenti menatap gambar yang tertera di layar monitor. Sesosok bayi mungil bergerak lincah di dalam sana. Usianya sudah memasuki minggu ke 24. Dokter mengatakan perkembangan bayi mereka sangat baik. Anya juga tidak memerlukan tindakan Cervical Cerclage. Dia hanya diminta agar tidak banyak melakukan aktifitas berat. Ia pun diperbolehkan kembali ke Jakarta. Dokter Maya sudah menyiapkan berkas untuk Anya bawa saat check up di Jakarta nanti.


"Wah, bayinya laki-laki!" seru dokter Maya seraya memperlihatkan bentuk kelamin bayinya.


"Rupanya, kau ingin menunggu Papa dulu untuk diberitahu ya," ujar dokter Maya tersenyum.


Axton bergeming. Anya menghapus setetes air mata yang mengalir dari pelupuk mata suaminya.


Setelah selesai memeriksakan diri, Axton dan Anya pulang ke rumah. Di sepanjang perjalanan sampai ke rumah, Axton sama sekali tidak melepas genggaman tangannya pada Anya. Sesekali, pria itu bahkan menciumi tangan Anya penuh cinta.


Anya begitu terharu melihat perubahan diri Axton. Dia berharap tidak akan ada lagi sesuatu yang mengganggu ketentraman mereka, baik itu darinya maupun dari Axton. Anya berjanji akan menciptakan keluarga kecil yang bahagia demi anak mereka.


Sesampainya di rumah, Anya bergegas membantu Kinanti membereskan semua pakaiannya. Ada Bu Ida yang turut membantu, juga Bimo yang tengah membongkar lapak dagangan Anya bersama Jagat.


Anya sudah membicarakan perihal kepulangannya ke Jakarta dengan Bu Ida. Wanita itu mengatakan akan meninggalkan semua barang elektronik yang ia beli beserta lapak dan isinya pada Beliau. Anggaplah agar lebih memudahkan penghuni kontrakan yang baru, supaya tidak perlu membawa barang-barang lagi ketika akan mengontrak di sana.


Anya juga berterima kasih atas segala kebaikan Bu Ida dan keluarga padanya selama ini. Ia meminta maaf atas segala khilaf dan kesalahan yang mungkin pernah ia lakukan.


Bu Ida menangis. Ia sudah menganggap Anya sebagai anaknya sendiri. Namun biar bagaimanapun, Anya memiliki keluarga yang sebenarnya, jadi mau tak mau, Bu Ida harus melepaskan Anya.


Agar tempat ini benar-benar menjadi bagian dari hidup Anya, Axton berinisiatif mengambil alih Panti Asuhan Kasih. Bersama Elang, mereka akan mengelola Panti Asuhan tersebut di bawah naungan Perusahaan keluarga Caldwell. Maxim dan Callista dengan senang hati menyetujui usulan Axton.


Sementara untuk Kinanti dan Jagat. Axton bersikeras menyuruh mereka ikut ke Jakarta dan berkuliah di sana. Soal rumah peninggalan Bu Rastini, Axton akan menyewa seseorang untuk menjaganya, jika mereka tidak bersedia menjual rumah penuh kenangan tersebut.


Semula Maxim menawari Kinanti dan Jagat untuk tinggal bersama mereka, namun Kinanti menolak. Maxim memahami penolakan Kinanti. Pasti tidak akan mudah bagi gadis itu untuk berdamai dengan Theresa.


Alhasil, Dania yang menawarkan mereka untuk tinggal bersama. Dania akan mengangkat mereka berdua sebagai anak angkat yang sah di mata hukum. Elang tidak keberatan. Toh, dia memang tinggal terpisah dari Ibunya, jadi kehadiran Kinanti dan Jagat tentu akan membawa keceriaan bagi Beliau.


Sore harinya, Anya, Axton, Kinanti, Jagat dan Ian mengadakan pesta perpisahan kecil-kecilan di Panti Asuhan kasih seraya berpamitan. Tak lupa, seluruh warga desa juga turut diundang.


Para anak-anak Panti mengerubungi Anya dan memeluknya. Mereka menangis, meminta Anya untuk tetap tinggal di sini.


"Nanti Iyaa tidak bisa makan masakan Bunda lagi!" Jerit Hilya, gadis kecil berusia 6 tahun yang sedari tadi tidak melepaskan pelukannya. Beberapa anak ikut mengiyakan ucapan Hilya.

__ADS_1


"Bunda janji akan sering-sering kemari." Kata Anya meyakinkan.


"Janji ya, Bunda?" Amar, salah seorang anak Panti bersuara.


Bude Jum ikut duduk di sebelah Anya. "Anak-anak, Bunda memang tidak akan tinggal di sini, tetapi Bunda akan terus mengawasi dan menjaga kita. Bunda pasti akan sering-sering datang kemari. Jadi, kalian tidak boleh menangis ya? Kasihan nanti Bundanya jadi sedih. Kalau Bunda sedih, adik bayi juga akan sedih."


Mendengar penjelasan Bude Jum, anak-anak tersebut sontak menghapus airmata mereka. Anya tersenyum haru. Bahagia rasanya bisa dicintai anak-anak polos seperti mereka.


Selepas sholat maghrib, Anya dan yang lainnya pun pamit. Wanita itu memang sengaja mengambil penerbangan malam karena ingin menghabiskan waktunya semaksimal mungkin di sini.


"Hati-hati ya, Mbak, kabari jika si kecil sudah lahir," Dian melepas pelukannya.


"Pasti. Terima kasih sekali lagi ya, Yan," Anya mengelus lengan Dian. Dian mengangguk. Matanya berkaca-kaca.


Anya memeluk Ninda. "Dadah, Bunda, Dadah Dede bayi," ucap Ninda seraya mengelus perut Anya. Gadis itu mengikuti panggilan anak-anak Panti.


"Ninda harus jadi anak baik ya? Nurut sama Ibu, sama Bapak." Nasihat Anya. Ninda mengangguk antusias.


Anya beralih pada Bu Ida yang sudah menangis sesenggukan sedari tadi. Mereka berpelukan cukup lama.


"Terima kasih sekali lagi sudah mau menerima Anya ya, Bu," ujar Anya dengan suara tersendat.


"Iyo, Nak. Sehat-sehat di sana ya? Akur-akur sama suamimu. Layani suamimu dengan baik. Nurut apa katanya." Mendengar nasihat Bu Ida mengingatkan Anya pada Ibu angkatnya. Sontak Anya langsung menangis.


Bu Ida melepas pelukannya, lalu mengelus perut buncit Anya sebelum beralih memeluk Axton. "Tolong jaga Anya ya, Nak? Dia wanita yang hanya kuat fisiknya saja, tapi tidak dengan hatinya. Jangan disakiti. Kalian harus saling bergandengan tangan apapun yang terjadi."


"Iya, Bu." Axton membalas pelukan Bu Ida. Dia benar-benar sangat bersyukur, Anya memiliki keluarga baru di sini. Dia benar-benar mengerti, mengapa Anya tak ingin melupakan tempat ini begitu saja.


Setelah selesai berpamitan dengan yang lain, mereka pun masuk ke dalam mobil jemputan Bandara. Beberapa warga dan anak-anak Panti mengejar mobil mereka hingga keluar dari halaman Panti.


Anya mengusap airmatanya yang lagi-lagi basah. Axton memeluk Anya, berusaha menenangkan hati sang istri.


"Maafkan aku yang tidak bisa membuatmu tinggal lebih lama di sana." Kata Axton sedikit menyesal.

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Lagi pula, semakin lama aku tinggal, aku takut akan semakin berat meninggalkan tempat itu."


__ADS_2