
"Bunda tidak mau tahu, selama kau di sana, kau harus mengawasi Anya. Kalau perlu pergi temui dia!" dari balik telepon, Dania sedikit berteriak.
"Bun! Dia bukan siapa-siapa!" Elang ikut meninggikan suaranya.
"Dia adikmu, Elang!"
Adik? Yang benar saja. Apa yang ada di dalam otak sang Ibu sampai-samapi sudi menganggap Anya sebagai adiknya. "Dia penghancur!" seru Elang dingin.
"Penghancur siapa? Tidak ada penghancur atau dihancurkan. Ayahmu bertemu dengan Ibunya setelah lama bercerai dari Bunda."
"Kalian hampir saja kembali bersama jika Ayah tidak bertemu wanita itu." Kini, ada nada kesedihan tersirat dari suara Elang.
"Siapa yang mengatakan itu? Sudah Bunda katakan berkali-kali, kami tidak pernah sepakat kembali bersama, selain hanya menjalin hubungan baik demi kau, Nak!" Dania benar-benar kesal, pasalnya sudah berkali-kali dia menjelaskan perihal perceraiannya dengan Sigit, namun tetap saja Elang menganggap itu adalah kesalahan Ratna, Ibu dari Anya.
"Sepakat tidak sepakat, kalian bisa saja kembali bersama jika tak ada wanita itu ... dan anaknya," ucap Elang keras kepala.
"Savanna namanya dan dia adalah adikmu. Hubungan kalian kuat karena kalian satu Ayah,"
"Bun,"
"Elang!"
Hening menghiasi keduanya sesaat. Elang hafal tabiat Bundanya yang jarang sekali marah, terkecuali jika ada hal yang benar-benar salah menurut wanita tersebut.
Dania terdengar menghela napasnya. "Sayang, kau adalah orang berpendidikan. Kau juga memiliki hati yang baik. Bunda yakin hatimu sangat bertentangan dengan apa yang kau katakan saat ini. Bunda dapat merasakannya," ujar Dania lembut. "Bunda tak pernah meminta apapun darimu. Kau bebas memilih apa yang kau suka dan tidak suka. Selama ini pun, Bunda menurutimu untuk menjauhi Anya. Tapi sekarang lihat bagaimana kehidupan adikmu,"
"Jikalau memang kau tak mau menemuinya, sesekali awasi saja dia. Cukup melihatnya dari jauh, guna memastikan dia baik-baik saja."
Elang terdiam. Dia tak menjawab permintaan Dania. Pria itu hanya mengatakan bahwa ia akan pulang ke Jakarta minggu depan dan meminta sang Ibu agar menjaga diri selama di rumah.
Kantor cabang di Kota ini memang sedang mengalami sedikit masalah, jadi dia tinggal sedikit lebih lama karena harus turun tangan langsung. Sedangkan Dania telah pulang dua hari setelah perayaan ulang tahun Kantor.
Dan di sinilah pria itu sekarang, menguntit sang adik dari belakang menggunakan mobilnya seperti orang kurang kerjaan. Sudah hampir satu jam ia mengikuti Anya yang berjalan sembari membawa dua buah kantong belanjaan berukuran besar.
Entahlah, Anya terlalu sibuk menjawab sapaan tiap orang yang dilewatinya, atau ia memang bodoh hingga tak sadar ada mobil yang membuntutinya sedari tadi, meski jaraknya cukup jauh. Jalanan ini memang jalan besar, tetapi jarang ada kendaraan berlalu lalang. Jadi seharusnya Anya sadar akan hal itu.
Elang memasang wajah jengkel. Anya jelas-jelas tampak kepayahan membawa barang-barang tersebut, namun masih sempat-sempatnya dia berhenti, meletakan barang-barangnya di jalan, berbincang sejenak dengan orang-orang yang memanggilnya, lalu mengangkatnya kembali sebelum kemudian melanjutkan langkahnya. Buang-buang energi saja!
"Dasar bodoh," gumam pria itu dalam hati.
Kini jarak ke rumah Anya hanya tinggal beberapa meter lagi. Elang mematikan mobilnya di depan sebuah ruko kosong tak jauh dari rumah sang adik. Umbul-umbul yang terpajang di sana lumayan membantu menyembunyikan keberadaan mobilnya.
Jantung pria itu nyaris lompat keluar, tatkala Anya tiba-tiba tergelincir kerikil kecil yang berserakan di jalan. Beruntung wanita itu memiliki reflek yang bagus.
"Ceroboh sekali dia!" batin Elang kesal.
"Maaf ya, Sayang, Ibu ceroboh sekali," ujar Anya sembari menatap perutnya. Sesampainya di rumah Anya segera meletakan barang belanjaannya tersebut.
__ADS_1
Dari dalam mobil, Elang dapat melihat Anya membereskan barang-barang seraya membuka lapaknya dengan semangat, padahal ia baru saja sampai.
"Anya adalah wanita yang kuat. Mau tak mau, ia harus hidup sendiri karena suaminya merantau di Negeri orang sebagai TKI. Maka dari itu, Anya memilih hidup di desa agar tidak kesepian. Dia juga tak ingin merepotkan kedua adik angkatnya yang sedang fokus menempuh pendidikan."
Elang kembali mengingat perkataan Bu Ida tempo hari.
"Saya hanya sekali melihatnya menangis, setelah itu, ia hidup seperti biasa. Kendati demikian, saya yakin itu bukanlah satu-satunya tangisan Anya." Perkataan Bu Ida kembali terngiang.
*
"Tidak mau. Aku tidak mau bersalaman dengannya!" Elang kecil berteriak seraya menepis keras-keras tangan Anya. Gadis itu tidak menyerah. Ia menyerahkan sebuah pot bunga yang masih terlihat kasar, hasil jerih payahnya sendiri. Setangkai bunga matahari yang diletakan di dalam pot bunga tersebut membuatnya tampak sedikit lebih hidup.
"Kalau begitu, ini untuk Mas, Anya bikin sendiri di bantu Ibu," ucap gadis kecil itu dengan senyuman termanisnya.
Bukannya menerima, Elang malah mengambil kasar pot bunga itu lalu membantingnya ke tanah. Tidak lupa, ia juga menginjak-injak bunga matahari tersebut hingga hancur.
Anya syok bukan main, namun, seperti tidak terjadi apa-apa, ia tetap tersenyum dan berkata, "Benar juga, pot bunga itu memang jelek sekali bentuknya, jadi lebih baik dibuang saja."
Elang tersentak. Ingatan masa lalu saat mereka pertama kali bertemu tiba-tiba saja muncul di kepalanya.
"Kita mau main apa, Mas?"
Suara Anya kecil kembali terdengar di telinganya. Elang kontan menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia pasti sedang berhalusinasi.
"Jadi kita mau main apa?"
"Diam," pria itu mulai membentur-benturkan kepalanya ke stir mobil, guna menghilangkan suara-suara tersebut.
"Anya memang kesakitan, tetapi Anya tidak marah sama sekali,"
"–karena Anya sayang Mas Elang,"
"Diam! Diam! Diaaaaaam!"
TIIIIIIIIIIIIIINNNNN!
Anya terperanjat kala mendengar suara klakson mobil tiba-tiba berbunyi entah dari mana. Suara klakson itu begitu memekakan telinga. Ia lalu keluar dari pagar rumahnya dan menoleh ke kanan kiri guna mencari sumber suara.
Ia terpaku pada sebuah mobil SUV berwarna hitam yang terparkir beberapa meter dari rumahnya.
Matanya membola membayangkan sesuatu hal mungkin saja telah terjadi pada sang pemilik mobil. Dengan langkah hati-hati Anya berjalan menuju ke arah mobil tersebut.
Melihat Anya tiba-tiba berjalan ke arahnya membuat Elang panik seketika. Tanpa pikir panjang, ia pun menyalakan mobilnya dan bergegas pergi dari sana.
Anya tersentak ketika mobil tersebut mendadak bergerak melewati dirinya dengan cepat. Kaca film mobil yang sangat gelap menyulitkan Anya melihat identitas si pengemudi.
"Syukurlah," gumam wanita itu. Setidaknya ia tahu, si pemilik baik-baik saja. "Mungkin ia terantuk karena tengah tidur."
__ADS_1
Beberapa tetangga mulai ikut keluar, "Suara apa tadi?" tanya salah satu tetangga pada Anya.
"Ada mobil tadi terparkir di depan ruko milik Koko Han. Mungkin pemiliknya sedang beristirahat lalu terantuk klakson mobil." Jawab Anya sembari menjelaskan. Ia merasa jawaban itulah yang paling masuk akal menurutnya.
...***...
"Pak, makan malam sudah saya siapkan. Mas Ian juga sudah datang, jadi saya pamit pulang ya, Pak?" Bi Rahmi mengetuk pintu kamar Axton dua kali. Seharian ini Axton memang tidak keluar dari kamar, tetapi biasanya ia akan menyahuti setiap panggilan Bi Rahmi dari dalam. Namun kini Bi Rahmi tak mendengar suara apapun.
"Pak," Bi Rahmi kembali mengetuk. "Saya pulang dulu ya?" ujarnya sekali lagi.
Dahinya mengerut kala samar-samar ia mendengar suara rintihan dari dalam kamar.
"Pak, Bapak tidak apa-apa?" tanya Bi Rahmi sekali lagi. Wanita itu sedikit berteriak.
Ian yang mendengar teriakan Bi Rahmi kemudian menyusulnya ke atas.
"Kenapa, Bi?" tanya Ian begitu sampai di depan kamar Axton.
"Saya salah dengar atau bagaimana, sepertinya Bapak sedang kesakitan." Jawab Bi Rahmi dengan raut wajah khawatir.
"X," panggil Ian. Pria itu mengetuk pintu lebih keras.
"X, jangan buat aku terpaksa mendobrak pintu kamarmu!"
Suara batuk tiba-tiba terdengar oleh Ian dan Bi Rahmi. Tanpa pikir panjang Ian segera mendobrak pintu kamar Axton.
Mereka terkejut tatkala mendapati Axton nyaris tak sadarkan diri di lantai. Wajah pria itu sudah sepucat kapas.
.
.
.
.
.
.
.
Maafkan typo, tanda baca atau kata-kata yang masih berantakan. Saya akan memperbaikinya setelah Novel ini Tamat.
Jangan lupa, like, komen dan rate ya teman-teman. Favoritkan juga bagi yang belum.
Terima kasih. ^^
__ADS_1