
Anya dan Daffa kini berada di salah satu kafe kecil yang letaknya tak jauh dari Apartemennya.
Setelah pertemuan mereka di lift. Daffa dengan sukarela membantu Anya membawakan barang belanjaannya sampai di depan pintu Apartemen. Sebagai tanda terima kasih Anya lantas meneraktir pria itu minum kopi.
Daffa yang tadinya hendak pulang ke rumah setelah berkunjung ke kediaman sang adik, yang hanya berbeda satu lantai di bawah kediaman Anya, tak kuasa menolak.
Daffa adalah mantan pacar Anya satu-satunya saat ia duduk di bangku kelas tiga SMA. Usia mereka terpaut lima tahun. Mereka berkenalan pada saat Daffa menjadi guru relawan sementara di sekolahnya.
Mereka berpacaran kurang lebih satu tahun sebelum akhirnya memutuskan berpisah secara baik-baik. Keputusan Daffa untuk melanjutkan S2 nya di Luar Negeri menjadi faktor utama kandasnya hubungan mereka. Merekapun tidak pernah berkomunikasi lagi sejak saat itu.
"Mas tidak terkejut, tahu aku sudah menikah?" tanya Anya penasaran saat melihat reaksi Daffa yang biasa-biasa saja setelah mendengar ia telah bersuami.
"Usiamu sudah pantas untuk menikah, jadi untuk apa terkejut? Justru aku lah yang ingin bertanya, kau tidak terkejut mendengar aku masih sendiri di usiaku yang sudah memasuki kepala tiga?" tanya Daffa balik. Pria itu tersenyum kalem.
"Kebanyakan pria memang baru akan siap menikah di usia tigapuluhan, bukan?" mendengar penuturan Anya lantas membuat Daffa tertawa.
Lebih terlihat layaknya kedua sahabat yang sudah lama tak berjumpa, keduanya asyik berbincang-bincang mengenai kehidupan masing-masing.
Tak terasa sudah satu setengah jam mereka mengobrol. Anya sadar dia harus pulang ke rumah, apa lagi barang belanjaannya ia tinggal begitu saja di meja dapur. Sebelum berpisah Daffa mengajak Anya bertukar nomor telepon.
"Terima kasih atas bantuan dan waktunya ya, Mas? Maaf membuatmu pulang terlambat," ujar Anya sembari menatap Daffa yang berada di dalam mobil.
"Tidak masalah. Hubungi aku jika butuh sesuatu, dan kapan-kapan kenalkan suamimu padaku, ya?"
Anya mengangguk. Gadis tak mungkin berkata, bahwa hubungan mereka tak boleh diketahui publik.
Sepeninggal Daffa, Anya segera masuk menuju gedung Apartemennya.
Dirinya cukup terkejut ketika mendapati Axton sudah pulang ke rumah. Pria itu tengah menyantap makan malamnya seorang diri.
__ADS_1
"Dari mana saja kau?" tanya Axton dingin.
"Maaf l, aku pulang terlambat. Tadi aku bertemu teman lama. Kebetulan ia membantuku membawa barang belanjaan. Sebagai ucapan terima kasih, aku meneraktirnya di kafe dekat sini." Anya menjawab jujur. Axton tak berkata apa-apa lagi. Sesungguhnya dia tak peduli akan apa yang dilakukan Anya. Dia hanya tak suka melihat barang belanjaan berserakan ketika pulang ke rumah.
"Lain kali rapikan dulu barang-barangmu, sebelum keluar rumah."
Anya mengangguk patuh. Hatinya lega sebab Axton tidak memarahinya kali ini.
...***...
Syuting drama yang Axton jalani telah usai. Sebagai reward para pemain, karena drama tersebut memiliki rating yang baik, sang sutradara mengajak mereka berlibur ke Singapore selama tiga hari, tiga malam. Itulah mengapa Axton baru pulang pagi tadi.
Ian memberinya cuti selama tiga hari untuk beristirahat di rumah sebelum memulai kembali aktifitasnya. Dia berencana akan menghabiskan waktunya dengan tidur dan menonton televisi.
Axton mengernyitkan dahinya. Telinganya sedikit terusik dengan suara-suara nyanyian yang berasal dari Anya.
Seingat dirinya, sepanjang hari ini Anya terlihat sangat bahagia. Gadis itu tidak henti-hentinya bersenandung lagu-lagu ceria penuh semangat. Ia juga terlihat lebih sering memainkan ponselnya lalu tertawa kecil sepwrti orang tak waras.
Anya terkesiap. Pipi gadis itu bersemu malu. "T–tidak apa-apa, Kak." Jawabnya mencicit.
Axton kembali memusatkan matanya pada acara televisi.
Sekarang Anya tengah mencuci baju di laundry room. Sembari menunggu cucian dia kembali mengutak atik ponselnya. Ternyata dia sedang bertukar pesan dengan Daffa.
Sejujurnya, Anya bahagia sekali bisa bertemu dengan Daffa. Bukan bahagia karena Daffa adalah mantan kekasihnya dulu, tetapi bahagia sebab dia bisa bertemu seseorang yang ia kenal di Ibu kota.
Sejak menikah dengan Axton dan pindah ke sini, Anya selalu sendiri. Dia tidak punya kontak teman-teman semasa SD dan SMP. Sementara teman-teman SMAnya tidak ada yang tinggal di Jakarta. Maklum, SMA tempat ia menempuh pendidikan bukan merupakan sekolah favorit. Sekolah itu merupakan sekolah pinggiran yang hampir terlupakan oleh Pemerintah Daerah. Bangunannya bahkan hampir saja rubuh jika para relawan tidak bahu membahu memperbaikinya. Anak-anak seangkatan Anya di sana hanya berjumlah 24 orang termasuk dirinya. Setiap angkatan hanya terdapat dua kelas yang masing-masing berisi 10 sampai 15 murid.
Maka dari itu, hatinya berbunga-bunga setelah mengetahui ada orang yang ia kenal di sini. Menghabiskan banyak waktu di rumah dan hanya mengenal beberapa orang saja membuat Anya begitu kesepian.
__ADS_1
Ting!
Mas Daffa:
Oh iya, apa kau besok ada waktu? Aku ingin meneraktirmu makan siang di kafe kemarin, kebetulan aku ingin bertemu adikku juga di sana. Bagaimana?
Anya menimbang-nimbang. Axton akan libur selama tiga hari di rumah. Apa pria itu akan mengijinkannya pergi keluar sebentar?
Sepertinya bisa, Mas.
Sampai bertemu besok.
...***...
❤
Sepertinya bisa, Mas.
Sampai bertemu besok.
Daffa tersenyum lebar ketika membaca pesan tersebut. Besok mereka akan bertemu lagi.
Sebenarnya, selama ini Daffa mencari keberadaan Anya. Dia benar-benar lupa rumah Anya yang dulu, oleh sebab itu Daffa mencoba menghubungi teman-teman sekolah Anya, tempatnya mengajarnya dulu, melalui social media. Sebagian besar dari mereka yang tahu. mengatakan bahwa Anya telah menikah dan ikut sang Suami ke Jakarta.
Daffa merasa putus asa. Pria itu memutuskan untuk melupakan Anya dan memulai hidup baru. Namun disaat keputusan itu telah ia buat, ia malah bertemu dengan gadis itu.
Oleh sebab itu, dia sama sekali tidak terkejut ketika Anya memberitahukan status pernikahannya.
Daffa sadar diri Anya telah bersuami. Dia tidak berniat merusak rumah tangga Anya. Dia hanya ingin berteman dengan gadis itu sekarang.
__ADS_1
Lalu, bagaimana dengan nama kontak Anya yang dia simpan?
Dia hanya ingin menyenangkan dirinya saja, tidak lebih.