
Lagi-lagi Anya memuntahkan makanannya siang ini. Dari pagi, dia memang tidak bisa mengonsumsi makanan apapun. Wanita itu hanya dapat memakan permen jahe yang dibeli Bi Rahmi di Minimarket.
Setelah membersihkan mulutnya, Anya berdiri di depan cermin wastafel. Tangan wanita itu meraba-raba wajahnya yang kini sedikit pucat.
"Inikah rasanya?" batin Anya.
Wanita itu merasa takjub akan perubahan yang terjadi pada dirinya.
Perlahan, ia meraba perutnya yang masih terlihat rata. Ada sensasi aneh yang hadir ketika ia menyentuh salah satu bagian tubuhnya itu.
Entahlah, ia kurang memahami apa yang sedang ia rasakan saat ini, tetapi yang jelas, hal itu membuat denyut jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
Anya sontak teringat, kalau dia belum sama sekali memeriksakan diri ke dokter.
"Apa hari ini saja?" tanyanya pada diri sendiri.
Wanita itu keluar dari kamar mandi untuk melihat jam dinding yang masih menunjukan angka dua siang.
Baiklah, ia akan membuat janji dengan dokter Fransiska sore ini, selagi Axton belum pulang dari Luar Kota.
***
Silvana memandang haru ke arah Hana yang kini tengah menyantap makan siangnya dengan lahap. Wanita itu merasa bersyukur dan berterima kasih, sebab Axton bersedia menemani Hana di Rumah Sakit hingga saat ini.
Pria itu bahkan dengan telaten membantunya mengurus Hana, dari mulai mencuci rambut hingga menyuapinya makan.
Silvana tahu, Axton mungkin melakukan semua ini tak lain karena kondisi anak semata wayangnya. Namun tetap saja, melihat kebersamaan mereka membuat Silvana sedikit memiliki harapan, walau hanya seujung kuku saja.
Axton meletakan piring makan Hana yang telah kosong ke atas meja. Ia lalu membantu Hana minum sebelum menyuruh wanita itu melanjutkan istirahatnya.
"Aku ingin jalan-jalan ke luar," pinta Hana.
"Tubuhmu masih lemah, istirahat saja di sini."
Hana merengut, netra coklat wanita itu memandangi Axton dengan tatapan memelas. "Aku bosan di sini," ucapnya.
Silvana mendekati keduanya dan berkata, "Baiklah, tapi sama Mommy saja jalan-jalannya, ya?" Hana menggeleng kuat-kuat.
Axton mengalah. Pria itu mengambil kursi roda yang berada di sudut ruangan lalu membantu Hana turun dari ranjang. "Sepuluh menit, tidak lebih! Kau harus beristirahat." Hana mengangguk semangat.
"Jangan menyusahkan X, Nak," Silvana merasa tak enak hati.
"Tidak apa, Mom." Jawab Axton ramah, sementara Hana tersenyum senang ke arah sang Ibu.
***
"Tensi Ibu lumayan tinggi, ya," ujar salah seorang perawat yang memeriksa tekanan darah Anya, setelah ia selesai menimbang berat badannya.
Anya hanya bisa tersenyum tanpa berkata apa-apa. Perawat itu kemudian meminta Anya menunggu di kursi yang tersedia.
Anya menatap beberapa pasang suami istri yang juga sedang menunggu seperti dirinya. Dilihat dari raut wajah bahagia pasangan-pasangan tersebut, mereka pasti merasa tak sabar mengetahui bagaimana perkembangan anak yang ada di dalam kandungan.
Hatinya mendadak pilu, mengingat hanya dia yang datang seorang diri tanpa didampingi suami.
"Periksa kehamilan ya, Mbak?" tanya seorang wanita hamil yang duduk di sebelahnya.
"Iya." Jawab Anya ramah.
"Baru pertama kali?" tanyanya lagi. Anya menjawab pertanyaan si wanita dengan anggukan.
"Pasti menyenangkan melihat rupa dan juga mendengar detak jantung si bayi pertama kali. Rasanya, seperti seluruh keindahan yang ada di alam semesta ini, tak dapat menandinginya." Anya menoleh pada si wanita. Perkataannya menarik perhatian Anya.
__ADS_1
"Seperti itukah?" tanya Anya penasaran.
"Ya." Jawab si wanita dengan ramah. "Apa lagi jika bisa mendengarnya bersama suami tercinta. Rasa haru tentu tak dapat dibendung," lanjut wanita itu.
Mendung mendadak menyelimuti wajah Anya.
Melihat perubahan raut wajah Anya, si wanita kontan memegang tangannya. "Jangan bersedih ya, Mbak, saya juga sendirian waktu pertama kali memeriksakan diri." Katanya menguatkan.
"Semoga Mbak dan si bayi selalu sehat sampai persalinan tiba." Sebaris ucapan tulus meluncur dari mulut wanita itu, membuat hati Anya seketika menghangat.
"Terima kasih," ucapnya penuh haru.
***
"Sudah sepuluh menit berlalu, kita kembali ke kamar," tutur Axton pada Hana yang tengah asik menikmati udara luar.
"Tak bisakah aku di sini lima menit lebih lama?" pinta Hana.
"Tidak. Aku juga harus pergi syuting." Jawab Axton.
Mendengar hal itu, raut wajah Hana berubah. "Tapi, Kakak akan kembali ke sini, kan?" tanyanya sembari memegang lengan Axton.
"Aku harus pulang ke rumah." Jawab Axton tanpa pikir panjang.
"Ahh, benar juga. Kakak sudah memiliki orang lain, sedangkan aku kini ... bukan siapa-siapa." setelah berkata demikian, Hana pergi sendiri dengan kursi rodanya.
Axton menghela napas. Pria itu lalu mengejar Hana dan membantunya mendorong kursi roda.
***
"Nyonya Savanna Danastri Handoko?" salah seorang perawat memanggil nama Anya. Wanita itu lantas berdiri dari tempat duduknya.
"Duluan ya, Mbak," ucapnya pada wanita yang duduk di sebelah Anya.
Si perawat mempersilahkan Anya untuk masuk ke dalam ruangan, sebelum kemudian menutup pintu.
Sedetik setelah itu, Axton melewati ruangan tersebut bersama Hana.
***
Setelah berbincang sedikit mengenai data diri Anya, dokter Fransiska kemudian menyuruhnya untuk berbaring di atas bed yang telah disediakan.
"Maaf ya, Bu, bajunya saya buka sedikit," ujar seorang perawat yang mendampingi sang dokter. Perawat tersebut kemudian mengambil sebuah botol berisi ultrasound gel lalu mengoleskannya pada perut Anya.
"Jangan kaget ya, Bu, rasanya akan sedikit dingin." Anya sedikit tersentak kala merasakan sensasi dingin pada perutnya.
"Ibu sudah minum yang banyak?" tanya Dokter Fransiska.
"Sudah, dok." Jawab Anya.
Dokter Fransiska lalu memegang Transducer dan mengarahkannya ke perut Anya. Seketika itu juga sebuah gambar hitam putih terlihat di layar monitor.
"Lihat, dia sedang bergerak di dalam sana," Anya memerhatikan layar monitor dengan seksama. Ia terperangah melihat sesosok mahluk mungil tengah bergerak lincah.
"Jika dihitung dari HPHT, usia kehamilan Ibu sudah memasuki minggu ke delapan, pas dengan yang tertera di monitor." Kata sang dokter.
"Ukuran janin juga sesuai dengan usianya, 2,5 centimeter, sebesar kacang merah." Anya tersenyum mendengar perkataan dokter tersebut.
"Sekarang, kita dengar detak jantungnya ya, Bu,"
Sesaat kemudian, pupil mata Anya kontan membesar, tatkala suara detak jantung bayinya terdengar jelas di telinga.
__ADS_1
"Bayinya sehat sekali." Perkataan perawat yang mendampingi dokter Fransiska, serta merta membuat airmata yang menggenang di pelupuk mata Anya, jatuh membasahi pipinya.
Benar yang dikatakan wanita hamil tadi. Rasanya, tak ada keindahan manapun yang dapat menandinginya. Dan juga, ini adalah suara paling merdu yang pernah Anya dengar.
Anya mencintai suara ini.
Anya mencintai anaknya.
***
"Aku tidak bisa berjanji akan kembali ke sini." Silvana mengangguk mendengar jawaban Axton, sementara Hana sedari tadi diam tak bersuara.
"Mommy mengerti sayang. Hati-hati, ya? Maaf, sudah merepotkanmu sampai harus menginap di sini," Silvana memeluk Axton erat. Axton membalas pelukan wanita itu.
Pria itu kemudian meninggalkan Hana dan Silvana.
Ian yang menunggu di depan ruangan Hana bergegas menghampiri, begitu Axton keluar dari sana.
"Kau berhutang banyak cerita padaku," ujar Ian dingin.
Axton hanya menjawab Ian dengan gumaman malas.
***
Anya tak berhenti menatap foto USG bayinya. Sesekali wanita itu tampak mengelus foto tersebut.
Anya terlihat sangat bahagia, meski dokter Fransiska juga memberi peringatan padanya, perihal kesehatan diri sendiri.
Anya bahkan sama sekali tidak takut kala sang dokter menjelaskan perihal tindakan Cesarean Section yang bisa saja ia ambil, jika tekanan darahnya masih tetap tinggi.
Mau caesar atau normal, bagi Anya sama saja. Keduanya sama-sama butuh pengorbanan besar. Namun kendati begitu, ia tak akan mengabaikan hal tersebut. Demi sang anak, Anya akan menuruti semua perkataan sang dokter agar tetap sehat sampai persalinan tiba.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Note:
HPHT \= Hari Pertama Haid Terakhir.
USG \= Ultrasonografi.
Cesarean Section \= Operasi Caesar.
__ADS_1
Transducer \= Komponen USG yang ditempelkan pada bagian tubuh yang akan diperiksa. Alat tersebutĀ dapat memancarkan suara berfrekuensi tinggi dan akan menimbulkan gelombang suara yang akan menentukan ukuran, bentuk, serta organ.