Cinta Anya Untuk X

Cinta Anya Untuk X
Siapa sebenarnya suamimu?


__ADS_3

Rini mengerutkan keningnya. Ia heran melihat Kakak laki-lakinya, Daffa, pagi-pagi begini sudah datang ke rumah tanpa disuruh. Biasanya Pria itu baru akan datang ke sana jika Rini meneleponnya.


Mata Rini memicing, menatap Daffa yang tengah asyik bermain dengan anaknya, dengan seksama.


Pria itu berpakaian sangat rapi dan wangi. Dia memang bukan pria kotor yang tidak mementingkan penampilan, hanya kali ini sepertinya nampak sedikit berbeda.


Tak!


"Janda mana yang kali ini menarik perhatianmu?" tanya Rini sembari memukul punggung sang Kakak menggunakan botol susu anaknya. Sebab selama ini, jika wanita itu bertanya, ia sedang berkencan dengan siapa, Daffa akan selalu menjawab, dengan seorang Janda Kaya atau Janda kembang desa.


"Aww! Sakit rin! Dosa kamu," protes Daffa yang langsung dijawab, "Lemah!" oleh Rini.


"Sok tahu sekali kau," ujar Daffa kemudian, seraya mengambil botol susu tersebut dari tangan sang adik untuk diberikan pada keponakannya tercinta.


"Mustahil sekali kau berpenampilan seperti ini hanya untuk berkunjung ke rumahku." Rini kembali mencibir. Daffa tertawa canggung.


"Oh iya, Rin, apa kamu kenal para penghuni Apartemen ini?" tanya Daffa tiba-tiba.


Rini menghela napasnya, "Mas, Satpam saja masih harus melihat list buku, apa lagi aku." Jawabnya.


"Memang kenapa, sih?" tanya Rini kemudian. Penasaran juga kenapa tiba-tiba sang Kakak bertanya soal para penghuni Apartemen.


"Tidak semua maksudku. Misal, lantai di atasmu ini, adakah seseorang yang kau kenal?"


Rini mengernyitkan dahinya, "Lantai 16?" Daffa mengangguk.


Sang adik menggeleng. "Tapi setahuku, lantai 16 hingga 20 khusus ditempati oleh para tokoh terkenal, pejabat daerah hingga artis-artis."


"Masa?" Daffa bereaksi spontan.


"Iya, maka dari itu butuh ID khusus untuk sampai ke sana."


Mendengar jawaban Rini, Daffa jadi mengingat-ingat pertemuan pertamanya dengan Anya. Pria itu sedikit terperanjat ketika mengingat Anya memang mengeluarkan sebuah ID card untuk di scan setelah menekan tombol 16, padahal setahu Daffa untuk sampai ke apartemen sang adik saja, dia hanya cukup menekan tombol saja.


Daffa melamun sejenak. Anya yang dia kenal, merupakan gadis sederhana yang tinggal di pinggiran desa. Itu berarti suaminya merupakan orang yang di kenal publik. Pria itu jadi penasaran, siapa suami dari mantan kekasihnya tersebut.


...***...


"Kak, aku ijin keluar sebentar, ya? Berkas-berkas yang Kakak minta sudah kuletakan di atas meja tv. Aku juga sudah memesan makanan, sepuluh menit lagi mungkin akan datang. Apa mau aku menunggu dulu sampai makanan datang?" tanya Anya pada Axton yang baru saja keluar dari kamar mandi. Gadis itu meletakan setelan pakaian bersih milik Axton di atas ranjang.


Selama libur Axton hanya menghabiskan waktunya untuk tidur dan bermalas-malasan. Seperti hari ini, dia baru bangun hampir menjelang makan siang.

__ADS_1


"Tidak usah." Jawab Axton singkat.


Anya menghampirinya. Gadis itu mencium tangan Axton lalu pamit keluar rumah.


...***...


Sesuai janji, Anya dan Daffa bertemu untuk makan siang. Mereka tidak jadi makan di kafe sebelumnya, sebab kafe tersebut ternyata sudah penuh. Daffa akhirnya mengajak Anya untuk makan di restoran cepat saji.


Mereka asyik mengobrol sembari menyantap makan siang. Sesekali Daffa akan melontarkan ocehan lucu untuk memancinga tawa Anya.


"Oh iya, Anya, aku dengar lantai 16 hingga lantai 20 di Apartemenmu khusus dihuni oleh para orang terkenal. Benar begitu? Aku jadi penasaran siapa Suamimu itu,"


Anya terkesiap, raut wajahnya berubah gugup. "Ahh, kata siapa, Mas?" tanya Anya canggung.


"Kau tahu adikku tinggal di sini, bukan?"


Ahh, Anya hampir saja lupa bahwa dia bertetangga dengan adik Daffa.


"Maaf Mas, aku tidak bisa mengatakan apa-apa." Jawabnya dengan raut wajah penuh penyesalan.


"Tidak apa-apa. Aku paham orang seperti mereka butuh privasi." Daffa jadi merasa tak enak. "Maaf jika pertanyaanku mengganggumu, ya?"


"Tidak apa-apa, Mas."


...***...


Axton tidak bisa berhenti gelisah. Seedari tadi pria itu sibuk mondar-mandir seraya menatap pintu depan dengan jengkel.


Hari sudah menjelang sore, tetapi Anya belum juga pulang ke rumah. Janjinya hanya sebentar. Memberi kabarpun tidak!


"Kemana gadis itu?" batinnya penuh emosi.


Entah mengapa Axton jengkel sekali menunggu Anya. Apa karena ia kesepian di rumah ini? Rumah ini memang terasa hening tanpa adanya kehadiran gadis itu.


'Sekarang kau mengerti apa yang Anya rasakan ketika menunggumu pulang, bukan?'


Axton terlonjak kaget ketika tiba-tiba otaknya berpikir demikian.


Sekuat tenaga pria itu mencoba menyingkirkan pikiran-pikiran menyebalkan yang mulai berseliweran di kepalanya.


Suara seseorang yang tengah menekan tombol password pintu depan terdengar. Buru-buru Axton duduk di meja makan dan bersikap biasa.

__ADS_1


"Assalamualaikum," Anya masuk dengan membawa tiga kantung belanjaan besar.


"Dari mana saja kau?" tanya Axton tanpa menjawab salam Anya.


"Wa'alaikumsalam." Anya menjawab sendiri. "Maaf Kak, aku tadi sekalian keluar untuk belanja deterjen dan perlengkapan mandi yang sudah mulai menipis."


Gadis itu tampak kepayahan membawa kantung-kantung belanjaannya. Matanya menoleh menatap Axton dengan penuh harap.


"Apa!" bentak Axton. Nyali Anya menciut. Dia memilih menyeret kantung-kantung belanjaannya saja.


Anya membawanya ke lemari penyimpanan yang tepat berada di antara dapur dan kamar mandi.


Gadis itu mulai mengeluarkan barang-barang dari dalam kantung dan menatanya di lemari. Setelah selesai, Anya lalu naik ke atas untuk mandi dan berganti pakaian.


"Segarnyaaa!" seru Anya sembari keluar dari kamar mandi. Gadis itu masih memakai handuk yang melilit tubuhnya, sementara tangannya sibuk mengeringkan rambut menggunakan handuk yang lain.


Matanya membelalak lebar tatkala mendapati Axton tengah tertidur di atas tempat tidur. Lengan kanan pria itu menutupi kedua matanya dengan sempurna.


Anya nyaris mengumpat. Bisa-bisanya dia lupa mengunci pintu kamar saat mandi tadi. Gadis itu memang terbiasa berganti pakaian di kamar, alih-alih di kamar mandi.


Anya menggigit bibirnya, ia melangkah perlahan tanpa suara mendekati Axton. Dirasa jarak mereka sudah cukup dekat, gadis itu melambai-lambaikan tangannya di hadapan wajah Axton.


Dia juga menggunakan ujung kukunya untuk menekan-nekan ringan kulit lengan pria itu.


Axton tidak bereaksi, itu artinya dia benar-benar sedang tertidur.


"Aman!" serunya dalam hati.


Gadis itu kemudian melangkah pelan menuju lemari pakaian yang berada persis di hadapan tempat tidur.


Matanya melirik ke arah Axton. Pria itu masih tertidur dengan posisi yang sama. Anya menghembuskan napas lega. Gadis itu mulai membuka handuk yang melilit tubuhnya.


Set!


Kepala Anya kembali menoleh ke belakang. Kedua tangannya mencengkram erat kedua ujung handuk di dadanya. Berjaga-jaga jika Axton terbangun dan dia harus kabur dari sana.


"Huuft," lagi-lagi gadis itu menghembuskan napas lega. Posisi Axton sama sekali tidak berubah.


Dengan santai Anya mulai membuka handuk tersebut sepenuhnya dan memakai pakaiannya di sana.


Dia tidak menyadari, bahwa Axton kini terbangun dan sempat melihat tubuh belakangnya selama tiga detik.

__ADS_1


"Ck! Sial!" umpat pria itu.


__ADS_2