Cinta Anya Untuk X

Cinta Anya Untuk X
Pertemuan Daffa dengan Kinanti dan Jagat


__ADS_3

Menjelang tengah malam, Callista datang menjemput Kinanti dan Jagat. Padatnya jadwal pekerjaan membuat gadis itu harus lembur di Kantor.


Sebenarnya, Callista sudah menelepon Kinanti dan menyuruhnya untuk pulang duluan ke rumah, namun Kinanti merasa tak enak jika Tuan rumah tak ada di sana. Jadi ia memutuskan menunggu Callista pulang, di apartemen Anya dan Axton. Tapi ia tak menyangka, Callista akan menjemput mereka alih-alih mengabari jika ia telah sampai di rumah.


"Maaf merepotkanmu, Callis," ujar Anya merasa tak enak. "Kau pasti lelah," lanjut Anya.


"Tidak apa, Mbak. Lagi pula ada Faidhan." Jawab Callista merujuk pada supir pribadi keluarga Caldwellbyang berdiri di sebelahnya. Mengingat jadwalnya yang padat, gadis itu memang sengaja tidak menyetir mobilnya sendiri demi keselamatannya.


"Makan dulu, Callis, Pak Faidhan," tawar Anya.


"Sudah tadi di Kantor, Mbak." Jawab Callista kalem, yang juga diangguki oleh Faidhan. "Cepat sembuh ya, Mbak. Hubungi aku jika perlu sesuatu," lanjut Callista seraya menatap kedua kaki Anya khawatir.


Anya mengangguk sembari mengatakan terima kasih.


Ketiganya lalu pamit pada Axton dan Anya.


"Hati-hati di jalan," Axton bersuara.


"Titip ketiga adik saya ya, Pak," ucap Anya pada Faidhan.


Pria muda itu lantas menjawab perkataan Anya dan Axton dengan tegas seraya berkata bahwa mereka tak perlu khawatir.


Selepas mereka pergi Axton menggendong Anya kembali ke dalam kamar untuk beristirahat. Ia tak memperbolehkan Anya tidur di depan televisi.


"Terima kasih," gumam Anya pelan. Axton menjawab dengan anggukan pelan lalu bergegas keluar dari kamar.


"Mau ... ke mana?" tanya wanita itu ketika Axton hampir menutup pintu kamar dari luar.


"Aku yang akan tidur di ruang tv." Mendengar jawaban Axton, Anya langsung bungkam. Merasa tak ada hal apapun lagi yang ingin dibicarakan, Axton segera menutup pintu.


Selepas kakinya sembuh nanti, Anya akan kembali tidur di fitting room. Dia tak ingin tidur satu kamar dengan Axton lagi.


Ia pasti bisa, ia hanya harus bertahan selama kurang dari tiga bulan sebelum Axton mengajukan perceraian. Setelah itu, ia akan pergi dari hidup Axton ... selamanya.


***


Siang ini Kinanti dan Jagat berkunjung ke apartemen Anya. Axton sudah memberitahu pihak apartemen untuk memberikan mereka kartu akses menuju lantai VIP.


"Terima kasih, Pak," ucap Kinanti seraya menerima kartu tersebut dari salah seorang petugas keamanan apartemen.


"Sama-sama."


Mereka pergi setelah Kinanti menandatangani buku berisi serah terima kartu.


"Kau atau aku yang simpan?" tanya Kinanti pada Jagat sembari menunggu pintu lift terbuka.

__ADS_1


"Mbak saja, aku takut lupa." Jawab Jagat cuek. Tangannya sibuk mengutak-atik ponsel.


Ting!


Pintu lift terbuka. Kinanti dan Jagat bersiap melangkah masuk ke dalam, akan tetapi seseorang yang berdiri di dalam lift mengejutkan mereka.


Daffa tak kalah terkejut mendapati kedua anak kembar tersebut berada di sini.


"Kinanti? Jagat?"


Mendengar namanya dipanggil, Kinanti semakin yakin bahwa ia tak salah mengenali orang. "Mas Daffa?"


***


"Aku tak menyangka kalian ada di sini," ujar Daffa seraya menyesap kopinya. Pria itu mengajak Kinanti dan Jagat untuk sarapan di luar apartemen.


"Aku juga tak tahu adik Mas Daffa tinggal di apartemen yang sama dengan Mbak Anya." Kinanti menanggapi perkataan Daffa. "Mbak Anya juga tidak menceritakan apapun perihal pertemuan kalian." terangnya.


Daffa tersenyum kecut. Ia paham, Anya tidak akan menceritakan dirinya yang bukanlah orang penting bagi wanita itu.


"Bagaimana keadaan Anya?" alih-alih menanggapi, Daffa mencoba mengalihakn perbincangan dengan menanyakan kabar Anya, yang malah membuat keduanya terheran-heran.


"Mas Daffa tahu kondisi Mbak Anya?" kali ini Jagat yang membuka suaranya.


Daffa tersentak.


"Aa–ahh, aku bertemu Axton kemarin, katanya Anya sakit, jadi wajar sepertinya jika aku menanyakan kabar temanku, bukan?" kata Daffa santai, berusaha agar tidak terlihat mencurigakan.


"Ahh," Jagat menganggukan kepalanya dua kali, seolah mengerti.


Benar juga, Daffa tadi sempat bercerita bahwa ia mengetahui kabar pernikahannya dengan Axton justru dari sang Kakak sendiri. Dia juga berkata sudah pernah bertemu dengan Kakak iparnya beberapa kali.


"Baik, Mas. Paling besok perban di kaki Mbak Anya sudah bisa dibuka." Kinanti mengambil alih jawaban Jagat.


Mendengar jawaban gadis kuliahan itu, membuat Daffa mengerutkan keningnya.


Kaki Anya di perban? Mengapa bisa?


Separah apa luka Anya kali ini? Siksaan apa yang telah Axton lakukan pada gadis itu setelah dia pergi dari sana?


Tanpa sadar pria itu mengepalkan tangannya sekuat tenaga hingga buku-buku jarinya memutih.


Dia harus menemui Anya. Tapi ... bagaimana caranya? Axton pasti akan semakin ketat mengawasi gadis itu.


Kinanti melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Daffa. "Mas, melamun?" tanyanya penasaran.

__ADS_1


Daffa kontan menggelengkan kepala lalu mengalihkan pembicaraan.


"Bagaimana kuliah kalian?" Obrolan mereka berlangsung lumayan lama sebelum akhirnya Kinanti meminta diri untuk pamit.


"Terima kasih sarapannya ya, Mas," ucap Kinanti dan Jagat bergantian.


"Sama-sama. Sebelum kalian pulang kita harus bertemu lagi, ya? Sudah lama sekali rasanya kita tidak mengobrol seperti hari ini," ucap Daffa pada keduanya.


"Iya, Mas." Jawab Kinanti ramah.


"Jangan lupa sampaikan salamku pada Anya," setelah mengatakan hal tersebut Daffa segera memisahkan diri, sementara keduanya lekas menuju apartemen Anya.


Sesampainya di sana, Jagat dengan antusias menceritakan pertemuan mereka di lift. Pria itu juga mengajak keduanya sarapan di luar. Tak lupa, ia juga menyampaikan salam Daffa pada Anya.


Anya tersenyum kaku, berusaha menyembunyikan ekspresi canggungnya.


"Aku tak menyangka kalian masih berkomunikasi." Kata Kinanti sembari membawa teh hangat dan beberapa cemilan buatan Bi Rahmi. Wanita paruh baya itu sudah pulang sesaat setelah Kinanti dan Jagat sampai di sana.


"Kak X tidak cemburu kan, Mbak?" tanya Jagat kemudian.


Anya salah tingkah, tak tahu harus menjawab apa.


"Kalau Kak X cemburu, mereka tidak akan berkomunikasi, bodoh!" Kinanti menanggapi pertanyaan Jagat dengan jengkel.


"Kinan," tegur Anya.


Jagat mencibir. "Cih! Aku hanya butuh penjelasan!" serunya ketus.


"Sudah ... sudah!" Anya memasang wajah galak. Kedua adik kembarnya itu memang sering kali bertikai hanya karena perkara kecil, dan Anya sudah pasti akan menjadi penengah mereka.


***


Daffa menghentikan mobilnya di lampu merah. Pria itu tak bisa berhenti memikirkan Anya, terlebih setelah tahu keadaan Anya dari kedua adiknya.


Dia benci pada gadis bodoh itu. Gadis bodoh yang terang-terangan menolaknya hanya demi seorang pria kejam yang tidak berperasaan.


Daffa benar-benar tidak bisa menebak apa yang ada dipikiran Anya. Apa yang membuat gadis itu sangat mencintai Axton, padahal yang pria itu lakukan selama ini hanyalah menyiksa dan membuatnya menangis.


Apa yang Axton miliki sedangkan tidak ia miliki, hingga Anya tak ingin lepas dari genggaman tangan si brengsek itu?


Haruskah ia menghancurkan Axton dan merebut Anya secara paksa? Atau menunggu Anya datang sendiri ke dalam pelukannya?


Mengapa gadis itu harus menunggu beberapa bulan lagi untuk lepas dari Axton?


'Bedeb**! Bedeb**!" umpat Daffa sembari memukul-mukul stir mobilnya.

__ADS_1


Anya harus kembali ke pelukannya, apapun yang terjadi!


__ADS_2