Cinta Anya Untuk X

Cinta Anya Untuk X
Hidup baru Anya.


__ADS_3

"Kau yakin tidak ingin menyewa rumah petakan saja?" tanya Bu Ida, orang tua dari teman Jagat yang memiliki usaha kontrakan di kota yang Anya tuju.


Wanita paruh baya itu sedikit khawatir sebab rumah yang ingin Anya sewa bukanlah rumah petakan, melainkan satu unit rumah utuh. Mereka memang memiliki 10 petak kontrakan dan 3 unit rumah utuh berukuran sedang, yang di dalamnya sudah lengkap dengan berbagai macam perabot.


"Iya, Bu, aku sembari ingin membuka usaha kecil-kecilan. Rasanya tak enak jika harus buka di rumah petakan, takut mengganggu tetangga kanan kiri." Kata Anya menjelaskan. "Lagi pula, aku tak memiliki perabotan, jadi lebih baik aku menyewa satu rumah saja." Wanita itu tersenyum ramah.


"Baiklah, Ibu terima uang sewa untuk satu tahun ini ya, nanti Ibu buatkan kuitansi. Ini kuncinya," setelah menyerahkan kunci rumah beserta kunci cadangannya, Bu Ida pergi meninggalkan Anya. Rumah wanita itu tak terlalu jauh dari rumahnya, hanya berjarak sekitar lima rumah.


Sepeninggal Bu Ida, Anya masuk ke dalam rumah. Matanya memandang seisi rumah yang terlihat sangat nyaman dan bersih. Kentara sekali, sang pemilik rumah begitu apik merawatnya.


Dari pintu masuk dia sudah disuguhi ruangan panjang berukuran lima meter. Ruangan tersebut disekat oleh lemari pajangan tua berukuran besar sehingga terbagi menjadi dua untuk ruang tamu dan ruang televisi. Di ruang tamu, ada satu buah sofa panjang dan satu buah sofa pendek, juga meja kecil berbentuk segiempat, sementara di ruang televisi, ada satu buah buffet berbahan jati beserta televisi tabung yang di letakan di pojok ruangan.


Di sebelah kiri ruang tamu dan ruang televisi tersebut terdapat dua buah pintu kamar yang saling berhadapan. Dan di sebelah kanannya, ada sebuah pintu sliding menuju dapur dan kamar mandi (ruang televisi dan ruang tamu berada persis di tengah-tengah).


Anya berjalan masuk ke dalam dapur. Di sebelah kiri dapur terdapat kamar mandi berukuran 2x2 meter, sementara di sebelah kanan terdapat pintu samping yang menghubungkannya keluar rumah. Dapur tepat di antara keduanya.


Anya menatap puas rumah kecil barunya itu. Dia lalu bergegas menuju ke dalam kamar utama yang berada di depan untuk meletakan kopernya dan mandi.


Wanita itu berencana menghabiskan hari ini dengan beristirahat. Sebab besok, ia akan sibuk membeli perlengkapan dagang. Wanita itu berniat menjajakan minuman dan snack kecil-kecilan, karena kebetulan, tempatnya tinggal sekarang ini dekat dengan sekolah dan taman bermain. Ia juga sudah meminta ijin pada pak RT dan beberapa tetangga, ditemani Bu Ida tadi.


...***...


Delia lagi-lagi menghela napasnya kesal. Pasalnya, sepulang dari tempat Anya, Axton dan Ian saling mogok bicara. Terlebih, Ian pulang dalam keadaan babak belur. Delia yang memang tidak suka ikut campur memilih tidak mau tahu. Yang ia inginkan adalah sikap profesional mereka saat bekerja.


"Pulang dan beristirahat saja dulu, Mas, biar aku yang menghandle ini semua," ujar Delia. Percuma rasanya ada Ian di sana, toh Axton menolak setiap uluran tangan pria itu, jadi lebih baik jika ia pulang saja.


Delia melotot kala Ian masih berusaha keras kepala. Pria itu akhirnya menuruti perkataan gadis tersebut.

__ADS_1


"Besok aku akan kembali bekerja,"


"Tunggu sampai lebammu hilang! Aku tak mau orang-orang takut melihat wajahmu!" desis Delia.


Sementara itu, Axton hanya berdiam diri menunggu take. Dia lebih banyak diam selama syuting. Kendati begitu, Delia tak perlu khawatir, sebab ketika pengambilan take, Axton akan tampil sesuai perannya. Sama sekali tidak mengganggu proses syuting.


...***...


"Mas, benar Mbak Anya pergi dari rumah?" suara Callista dari seberang telepon terdengar kesal. Callista baru tahu setelah ia bertemu Bi Rahmi saat pergi ke rumah Axton untuk mengunjungi Kakak iparnya.


"Ya." Jawab Ian singkat.


"Sekarang Kak X di mana? Aku ingin bertemu dan meminta penjelasan darinya!" pekik Callista.


"Sedang syuting."


"Aku tidak tahu karena aku sedang tidak bersamanya." Jawab Ian malas. "Aku istirahat dulu ya," tanpa menunggu jawaban Callista, pria itu menutup teleponnya. Ian tak mau Callista sampai tahu bahwa mereka sedang bertengkar.


"Mas? Halo?" Callista melihat ponselnya yang sudah tidak terhubung dengan Ian. Gadis itu berdecak kesal. Ia sakit hati Ian bersikap dingin padanya, padahal pria itu tak pernah memperlakukannya demikian.


Gadis itu bingung harus bertanya ke siapa. Axton tidak mengangkat teleponnya sama sekali, menelepon Ian pun percuma.


"Ahh!" Ia ingat ada satu orang yang belum di telepon. Gadis itu segera mencari kontak orang tersebut.


"Halo,"


"Delia,"

__ADS_1


...***...


Mata Ian perlahan terbuka kala indera penciumannya menangkap aroma masakan yang menggugah selera.


Ian kontan terkejut saat di hadapannya berdiri sesosok gadis yang sangat dia kenal.


"Aku menelepon Delia. Dia menceritakan semua. Jadi, apa lagi yang harus kudengar? Dan apa-apaan wajah babak belurmu itu!" Gadis itu berbicara panjang lebar sembari berkacak pinggang.


Ian memutar bola matanya. Kakak adik hobinya sama, sama-sama suka menerobos masuk rumahnya tanpa ijin. Sepertinya, ia harus segera mengganti password rumahnya.


...***...


Anya dibantu beberapa orang tetangga membangun sebuah tempat kecil untuk berdagang di depan rumah. Ia meletakan meja, etalase, kursi, blender, kompor dan segala keperluan dagang di sana. Karena halaman rumahnya sedikit luas, Anya juga meletakan tiga buah kursi dan satu buah meja panjang agar para pembeli nyaman ketika sedang menunggu pesanan.


Wanita itu menatap puas hasil jerih payahnya bersama beberapa tetangga. Ia berterima kasih atas kebaikan para tetangga yang senantiasa membantu dan begitu baik memperlakukan orang baru seperti dirinya. Anya jadi kerasan tinggal di sana. Ia optimis dapat menjalani hidup dengan baik.


Selesai membereskan tempat dagangannya, para tetangga pun pamit pulang.


"Kalau butuh apa-apa jangan sungkan untuk mengatakannya ya, Mbak Anya," ujar salah seorang Ibu muda yang sepantaran dengan Anya. Anya mengangguk dan mengucapkan terima kasih sekali lagi.


Mereka memang menyukai sikap Anya yang ramah, selain itu, mereka juga perihatin akan kondisi Anya yang sedang hamil dan harus tinggal sendirian.


Agar tidak terjadi masalah dikemudian hari, semalam Anya menceritakan keadaannya pada Bu Ida. Anya mengatakan bahwa suaminya merantau keluar Negeri sebagai seorang TKI. Bu Ida percaya cerita Anya, sebab Beliau memegang kopian buku nikah Anya, sebagai salah satu syarat yang harus dipenuhi si penyewa rumah.


Dengan begini, Anya bisa tenang menjalani hidupnya tanpa takut akan gunjingan orang, terlebih Bu Ida juga mengenal baik Jagat.


Yang jadi masalah adalah, ia harus bersiap saat Jagat dan Kinanti mendengar kabar kehamilannya. Lambat laun Bu Ida pasti akan membicarakannya dengan Jagat. Anya memang sengaja tidak melarang Bu Ida. Biarlah mereka tahu dari orang lain, ia tak ingin pusing-pusing merangkai kata.

__ADS_1


__ADS_2