Cinta Anya Untuk X

Cinta Anya Untuk X
Semangka Kuning


__ADS_3

Hampir tengah malam Axton baru kembali ke apartemennya. Barang belanjaan sepertinya sudah dibereskan Anya, sebab tak ada satupun kantong plastik belanjaan yang terlihat di meja makan atau meja dapur. Terkecuali, plastik berisikan buah semangka yang tadi dia beli, teronggok begitu saja di lantai persis sebelah kulkas.


Axton mengambil dan mengeluarkan buah semangka itu, lalu membelahnya jadi dua agar memudahkan semangka tersebut masuk ke dalam kulkas.


Setelah selesai, Axton lalu bergegas mematikan seluruh lampu kemudian naik ke lantai dua.


Tak ada siapapun. Dia dan Anya memang masih tidur terpisah meski hubungan keduanya tak lagi seburuk dulu. Jadi, sangat tidak mungkin Anya tidur di kamarnya hari ini, ditambah mereka baru saja bertengkar tadi.


Padahal dia pikir, hubungannya dengan Anya mengalami sedikit kemajuan. Dia sengaja menawarkan diri menemani wanita itu belanja.


Jujur, melihat bagaimana bersemangatnya Anya saat mengelilingi pusat perbelanjaan, juga melihat perubahan ekspresinya saat kesal ketika ia meninggalkannya jauh di belakang, menjadi hiburan tersendiri bagi Axton.


Terlebih saat tiba-tiba istrinya menangis tersedu-sedu hanya karena sebuah semangka. Axton cukup peka dengan hal tersebut. Maka dari itu, ia mengambil semangka merah sebagai pengganti semangka kuning yang tidak bisa Anya dapatkan.


Lagi pula, baginya tidak ada perbedaan yang berarti antara semangka merah dan kuning, selain warna daging buahnya. Selebihnya, semua sama saja di mata Axton.


Axton menghela napasnya. Kehadiran Daffa benar-benar membuat moodnya rusak. Ingin sekali ia menghajar pria brengsek itu kalau saja Ian tidak mengancamnya. Dia juga tak ingin membuat Richard murka.


Axton harus menahan diri sebaik mungkin, apa lagi mereka akan bekerja sama selama setahun penuh.


***


Waktu sudah menunjukan pukul 2 pagi ketika Axton tiba-tiba terbangun akibat rasa haus yang tak dapat ia tahan.


Dengan malas-malasan, pria itu bangkit dari ranjang dan keluar kamar menuju dapur untuk mengambil air dingin.


Keningnya berkerut tatkala mendapati dapurnya sedikit terang karena pintu kulkasnya dalam keadaan terbuka.


Seingat pria itu, dia sudah menutup rapat pintu kulkas tersebut. Lalu siapa yang berada di dapurnya sekarang?


Malingkah? Tidak mungkin, penjagaan di sini sangat ketat. Jangankan lantai 16 ke atas, lantai biasa pun maling akan sulit membobol masuk.


Anya? Wanita itu pasti sudah tidur sejak tadi.


Ian? Delia? Bisa jadi. Tapi untuk apa mereka datang dini hari tanpa memberitahunya terlebih dahulu, dan mengacak-acak kulkas?


Demi menghilangkan rasa penasaran, Axton memutuskan berjalan mengendap-endap, agar suara langkah kakinya tak terdengar oleh siapapun yang berada di dapurnya kini.


Mata pria itu memicing, ketika melihat ada seseorang yang tengah duduk sembari memeluk lututnya di lantai dapur. Meski wajahnya tersembunyi di antara kedua kaki dan tubuhnya, Axton tetap dapat menebak bahwa seseorang itu adalah Anya.


Axton menghampiri Anya dan menyentuh bahunya pelan.

__ADS_1


Anya mendongak. Wajah wanita itu sudah berurai airmata.


"Kenapa menangis?" tanya Axton, sedikit melupakan fakta bahwa mereka baru saja bertengkar tadi.


Anya terdiam sebelum akhirnya menunjuk buah semangka yang ada di dalam kulkas.


"Kenapa dengan semangkanya?" tanya Axton lagi. "Kau ingin makan itu? Biar aku yang memotongnya,"


Anya menggeleng. "Itu bukan warna kuning."


Axton mengangkat alisnya tinggi-tinggi. "Kita memang tidak membeli semangka kuning tadi." Mendengar jawaban Axton, Anya kembali menangis ... tersedu-sedu. Tangisannya terdengar menyayat hati, seolah-olah ia adalah manusia paling menyedihkan di Muka Bumi.


Axton sedikit heran dengan tingkah Anya yang terkesan kekanak-kanakan.


"Besok, aku akan belikan semangka kuning." Katanya berjanji.


Anya kembali menggeleng. "Rasanya sudah lain."


Axton lagi-lagi menatap Anya keheranan. Apa yang membuat rasa sebuah semangka jadi berbeda jika ia membelinya besok? Mau beli tahun depan pun, semua rasa semangka kuning akan sama saja.


"Lalu?"


Anya terdiam sejenak, nampak berpikir.


Melihat perubahan mood Anya, membuat Axton kesal setengah mati. "Ada apa dengan wanita itu?" batinnya marah.


Keesokan harinya, sebelum Ian datang menjemput, Axton pergi membeli semangka kuning yang ia janjikan pada Anya. Beruntung, pasar pagi tidak terlalu jauh dari kediaman mereka.


Namun dirinya hanya bisa terperangah, ketika sampai di rumah, wanita itu malah asik mengunyah semangka merah yang semalam ia tolak, sembari menonton televisi.


"Ada apa?" tanya Anya yang heran melihat Axton hanya diam berdiri di depannya.


"Aku sudah membeli semangka kuning yang kau minta," ujar pria itu.


"Bawa saja ke lokasi, aku lebih suka semangka ini." Tanpa merasa berdosa, Anya kembali memakan semangka merah tersebut dengan tenang.


Axton merasa seperti sedang dibodohi. Wanita itu pasti tengah mengerjainya. Pria itu membanting semangka yang ia beli ke lantai.


Anya terkejut akan tindakan Axton.


"Kemarin dan semalam kau menangis tersedu-sedu hanya karena buah sialan ini. Tetapi sekarang, setelah aku bersusah payah mencari buah ini, kau malah dengan mudahnya menolak. Berani sekali kau mengerjaiku!"

__ADS_1


"B–bukan itu maksudku," Anya menyanggah tuduhan Axton.


"Lalu apa, hah?" Axton menatap Anya tajam.


"Aku hanya tidak menginginkannya lagi." Anya hanya bisa mengatakan kalimat tersebut dalam hatinya. Setetes airmata jatuh dari pelupuk mata Anya.


Melihat Anya menangis, Axton dengan kasar menendang semangka tersebut hingga berserakan dan pergi ke lantai dua.


Semua wanita sama saja! Selalu memakai airmata sebagai senjata mereka.


Tanpa menunggu Ian dan Delia datang, pria itu memilih pergi sendiri ke lokasi syuting.


Bi Rahmi yang mendengar ada ribut-ribut bergegas keluar dari laundry room dan menghampiri Anya yang kini sedang menangis di lantai. Di hadapan wanita itu terhampar potongan-potongan buah semangka kuning yang pecah akibat ulah Axton.


"Ibu, Ibu kenapa? Bapak kenapa lagi, Bu?" tanya Bi Rahmi sembari memeluk Anya penuh sayang.


Anya menggeleng. "Aku yang salah, Bi." Jawab Anya. Wanita itu lalu melepaskan diri, hendak membersihkan kekacauan yang Axton buat, tetapi Bi Rahmi melarangnya.


"Sudah, biar saya saja yang membersihkan." Bi Rahmi segera melesat dapur untuk mengambil plastik sampah, setelah mendudukan Anya di sofa terlebih dahulu.


Anya menangis terisak-isak sembari meringkuk di sana.


"Maaf,"


"Maaf," gumamnya pelan.


***


Mood Axton benar-benar kacau hari ini. Ia sama sekali belum menyelesaikan satu take adegan pun, hingga membuat sutradara mengamuk sejadi-jadinya.


"Kau pikir, hanya karena kau adalah Cameo, jadi kau bisa melakukan adegan seenak kepalamu, hah!" hardik Rama, sang sutradara. "Jika kau memang tak ingin bergabung dalam drama ini, katakan! Maka aku akan mencari penggantimu sekarang juga!" Setelah mengatakan hal tersebut, Rama langsung menginteruksikan kepada seluruh kru dan artis lainnya untuk beristirahat selama duapuluh menit.


Ian masuk ke dalam ruang tunggu Axton dan meminta semua orang yang ada di sana untuk memberikan mereka berdua sedikit privasi.


"Ada apa? Tak biasanya kau seperti ini X," ujar Ian seraya memberikan sekaleng minuman dingin pada Axton.


"Bertengkar lagi dengan Anya?" Ian yakin, mood kacau sahabatnya itu pasti berhubungan dengan sang istri.


Axton yang memang tidak dapat menyembunyikan segala hal pada Ian, menceritakan penyebab pertengkarannya dengan Anya. Dari mulai pertemuan wanita itu dengan Daffa, sampai perihal masalah semangka kuning.


Ian hanya bisa tergugu mendengar semua perkataan Axton, terlebih soal semangka kuning tersebut.

__ADS_1


Baginya, masalah tersebut hanyalah sebuah hal sepele, tetapi mengapa mereka berdua malah membuatnya menjadi besar.


Wanita memang mahluk yang sulit dimengerti.


__ADS_2