Cinta Anya Untuk X

Cinta Anya Untuk X
Pilihan Anya.


__ADS_3

Daffa menemani Anya di Apartemen sampai hampir tengah malam. Pria itu juga dengan sukarela membereskan semua kekacauan yang Axton buat, sebab khawatir Anya akan terluka nantinya.


Setelah selesai membereskan barang-barang yang pecah dan berserakan, Daffa kembali ke ruang televisi untuk menemani Anya yang kini tengah tertidur di sofa. Dia memang enggan memindahkan gadis itu ke kamarnya.


Meski sesekali terlihat gelisah dan mengigau, Anya tetap tidak terbangun dari tidurnya.


Daffa memandangi gadis itu dengan seksama. Ada segelintir perasaan bersalah yang tersemat di relung hatinya.


Jika saja dia tidak bersikeras mengajak Anya tadi sore, mungkin kejadian seperti ini tidak akan terjadi. Atau, jika saja mereka tidak dipertemukan kembali, kecil kemungkinan Anya mendapat perlakuan seperti ini dari Axton.


Daffa mengusap pipi Anya dengan sangat hati-hati, memerlakukannya bagai sesuatu yang mudah hancur jika ia menekannya sedikit saja.


Terlanjur memergoki keadaannya, membuat Anya akhirnya menceritakan seluruh kejadian yang ia alami pada Daffa, termasuk perihal surat kontrak pernikahan mereka yang akan habis tiga bulan lagi. Anya tak peduli jika penilaian pria itu padanya berubah total setelah mendengar semua kenyataan yang ada.


Namun pikiran Anya ternyata salah. Anya begitu terkejut mendengar perkataan Daffa yang malah bersikeras mengajak gadis itu pergi bersamanya saat itu juga.


Anya lantas menolak mentah-mentah.


Dia sadar, cintanya pada Axton tak sedikitpun berkurang Dia berkata akan menghabiskan waktu yang tersisa bersama Axton meski harus mengalami berbagai penderitaan. Anya bahkan menaruh harapan besar bahwa Axton mungkin saja akan membalas perasaannya suatu hari nanti, yang otomatis akan membuat surat kontrak tersebut tidak berlaku lagi.


Meski sakit mendengar gadis yang dicintainya dengan lantang mengatakan cinta pada pria lain, Daffa tetap berusaha tegar.


Daffa menekan giginya kuat-kuat, amarahnya kembali meletup membayangkan bagaimana Axton memperlakukan Anya secara kasar, hingga membuat gadis itu babak belur.


Seharusnya Axton bersyukur bisa dicintai gadis setulus Anya. Seharusnya pria itu merasa beruntung bisa mendapatkan Anya.


Tangannya terkepal, ia berjanji dalam hati akan langsung menghajar pria brengsek itu jika mereka dipertemukan kembali.


Axton harus diberi pelajaran.


Axton harus merasakan sakit yang sama, seperti yang Anya rasakan saat ini.


"Aku akan selalu melindungimu, Anya," ucapnya lirih. Matanya enggan berpaling dari gadis pujaannya.


"Apa yang kau lakukan di rumahku?" Axton yang tiba-tiba masuk ke dalam rumah berlari menerjang Daffa.


Kapan dia datang? Daffa sama sekali tidak menyadari kedatangannya. Mendengar suara pintu terbuka saja tidak.


"Bagaimana kau bisa datang dan masuk ke tempatku, hah?" Axton menarik kerah baju Daffa tinggi-tinggi.

__ADS_1


Daffa melepaskan cengkraman tangan Axton dengan menyikutnya. "Masih berani kau pulang setelah melakukan hal seperti ini pada istrimu," ujarnya.


"Tak kusangka, publik figur yang tengah digilai banyak wanita ternyata memiliki perangai brengsek seperti ini." Lanjut Daffa sinis.


Axton mendekatkan dirinya, "Tutup mulutmu, sialan! Dan jawab pertanyaanku, bagaimana kau bisa lolos ke lantai ini?" tanya Axton tak sabar. Matanya melirik ke arah Anya yang sedang tertidur di sofa. persis di belakang tubuh Daffa.


"Ahh, aku tahu, pasti perempuan ini yang telah mengundangmu ke rumah, kan?" Axton menunjuk-nunjuk wajah Anya. "Apa dia menangis tersedu-sedu, menceritakan semua kelakuan suaminya padamu seraya meminta belas kasihan?" Axton tertawa sinis.


"Hebat sekali nyalinya. Setelah lancang bertemu pria lain di luar, sekarang ia dengan berani mengundang pria itu kemari." Axton mendorong Daffa lalu berjalan menghampiri sofa.


Daffa memegang bahu Axton dari belakang, menahan pria itu agar tidak semakin mendekati Anya.


BUGGH!


Dengan sekuat tenaga Daffa meninju Axton hingga tersungkur. Darah segar langsung mengalir dari sudut bibir Axton yang sobek.


Axton tidak tinggal diam. Ia segera bangkit dan membalas tinjuan Daffa, hingga membuat pria itu terpental sejauh tiga meter.


Daffa bangun dan berlari menghampiri Axton, emosinya benar-benar berada di puncak. "Sampah sepertimu tak pantas menjadi suaminya. Aku akan mengambilnya darimu, brengsek!" Daffa menendang perut Axton. Axton merintih kesakitan namun dengan cepat membalas tendangan Daffa.


"Dalam mimpimu, bedebah!"


Dia segera berlari dan menarik tangan Daffa yang hendak meninju Axton kembali.


"Hentikan!" teriaknya putus asa.


Daffa dan Axton berdiri di samping kanan kiri Anya. Napas keduanya tampak tersengal-sengal. Darah juga sudah membasahi hampir seluruh wajah mereka.


"Good! Sekarang aku tahu, kau berada dipihak siapa," ujar Axton.


Anya yang menyadari tangannya masih memegang tangan Daffa segera melepaskannya dan berjalan mendekati Axton.


Daffa menatap sendu Anya. "Anya, dia tak pantas bersanding denganmu. Mau sampai kapan kau akan menjalani hidup seperti ini?" tanyanya lirih.


"Ikut aku dan aku berjanji akan selalu membahagiakanmu, Anya," ucap Daffa tulus.


Anya dapat merasakan ketulusan pria itu. Tidak bisa dia pungkiri, bahwa dia tersentuh dengan segala ketulusan yang Daffa berikan sejak dulu sampai saat ini.


Tetapi ia telah memilih.

__ADS_1


Biarlah jika memang pilihannya ini akan menjadi senjata yang dapat membunuhnya dikemudian hari.


Anya membalas tatapan Daffa dengan penuh penyesalan, "Maafkan aku, Mas, karena telah melibatkanmu terlalu jauh."


"Kau tak perlu cemas, aku akan selalu baik-baik saja dan aku berjanji akan hidup bahagia. Sebab inilah jalan yang telah aku pilih."


Axton tersenyum penuh kemenangan. Ia menarik pinggang Anya dan memeluknya posesif.


Daffa tersenyum miris. Entah harus kagum atau benci melihat keteguhan hati Anya pada Axton.


Apa Axton benar-benar tidak menyadari perasaan Anya atau ia memang sengaja mengabaikannya?


"Baiklah kalau begitu. Semoga kau bahagia, Anya," Daffa mundur dua langkah lalu berbalik menuju pintu keluar.


Sebelum benar-benar keluar, Daffa mengatakannya sekali lagi, "Tawaranku akan selalu berlaku untukmu sampai kapanpun."


Setelah mengatakan hal demikian, Daffa pergi meninggalkan Apartemen.


"Kakak, tidak apa-apa?" tanya Anya sesaat setelah Daffa pergi. Ia menyentuh wajah Axton yang penuh luka dan lebam. Axton menahan tangan Anya dan meremasnya hingga gadis itu mengaduh kesakitan.


"Tak perlu sok perhatian kau!" tangan kiri pria itu mencengkram kuat pinggang Anya.


"Ku ingatkan sekali lagi, sebelum kontrak itu habis, kau adalah milikku. Jadi, tak boleh ada serangga manapun yang lancang menyentuh barang milikku, kecuali jika serangga itu ingin mati."


Axton melepaskan Anya dan berjalan menaiki tangga lantai menuju kamarnya.


BRAK!


Suara pintu kamar terbanting. Anya bisa mendengar teriakan kekesalan Axton dari sana.


Gadis itu reflek memegang dadanya. Hatinya nyeri bukan main mengetahui bahwa perlakuan Axton padanya bukan diakibatkan rasa cemburu, melainkan perasaan tak rela sebab barang miliknya telah diganggu.


Ia sadar, Axton hanya memperlakukannya bak barang kepunyaan, tanpa peduli bahwa ia adalah seorang Istri yang sah.


Anya menghapus air mata yang mengalir membasahi pipinya.


Bisakah ia melewati semua ini?


Apakah jalan hidupnya kedepan akan terus seperti ini?

__ADS_1


__ADS_2