
Dian datang ke rumah Anya pagi harinya. Ia membawa sepiring pisang goreng dan beberapa camilan untuk Anya.
Wanita itu masuk lewat pintu dapur yang terbuka. Ada Kinanti yang sedang memasak nasi goreng sebagai menu sarapan pagi ini.
Dian meletakan makanan yang ia bawa di meja dapur. Kinanti berterima kasih.
"Mbak Anya mana, Nan?" tanya Dian seraya celingak-celinguk.
"Mandi, Mbak." Jawab Kinanti sembari sibuk menuang nasi goreng yang sudah matang ke dalam sebuah wadah besar.
"Sarapan bareng yuk, Mbak," ajak Kinanti. Matanya berbinar-binar melihat sepiring pisang goreng buatan Dian yang tampak menggiurkan. Anya pernah bercerita bahwa pisang goreng buatan Dian memang enak.
"Terima kasih. Aku pulang dulu ya? Ninda sudah menunggu." Kata Dian.
Pintu kamar mandi terbuka. Anya keluar perlahan dengan handuk yang masih melilit di kepalanya. Kinanti dan Dian berjalan mendekat.
"Dian, mana Ninda?"
"Di rumah sama Ayahnya. Itu ada pisang goreng kesukaanmu. Dimakan ya, Mbak? Aku pamit dulu, Ninda sudah menunggu."
"Terima kasih, Yan,"
"Iyo, Mbak."
Tepat ketika Dian hendak keluar, Jagat bersama seorang pria bule berwajah tampan masuk dari arah ruang televisi. Pria itu hendak memapah Anya ke kamarnya.
Dian termangu sesaat kala melihat sosok tersebut. Raut wajahnya tengah berpikir keras.
"Kak, ini Dian tetanggaku. Dia sering membantuku selama di sini. Dan, Yan, ini suamiku," Anya memperkenalkan Dian pada Axton, begitu pula sebaliknya.
Axton menggangguk sopan. "Terima kasih sudah menjaga istri saya." Katanya kalem.
"Iya, sama-sama." Jawab Dian reflek tanpa mengalihkan pandangannya dari Axton. "Tapi kok sepertinya, muka Masnya familiar ya?" tanyanya bingung. Dian memang tidak sempat melihat wajah suami Anya saat di rumah sakit. Ia dan Ibu-ibu lainnya bergegas pamit pulang ketika Kinanti mengajak Axton bicara di suatu tempat.
Axton tertawa canggung sementara Anya dan Kinanti meringis.
"Mirip sekali dengan publik figur yang sering saya lihat di televisi, loh," ungkap Dian. Matanya menelaah Axton dari atas ke bawah. "Iya, mirip."
Jagat membuka suaranya. "Mirip X ya, Mbak?" tanyanya dengan seringai jahil.
"Loh, iya! Mirip sekali seperti pinang dibelah dua."
Jagat tertawa. Anya menegur Jagat melalui matanya, lalu tersenyum pada Dian.
"Hanya mirip saja mungkin." Kilah Anya. Ia tak ingin identitas Axton terbuka. Reputasi Axton bisa turun jika publik mengetahui ia telah menikah dengan Anya, padahal dulu mereka mati-matian membantah kabar itu.
Namun tanpa disangka, Axton malah mengulurkan tangannya pada Dian. " Saya X," ucapnya memperkenalkan diri.
Dian mematung. Matanya perlahan melotot. "HA?"
...***...
Axton membantu Anya mengeringkan rambutnya menggunakan hair dryer. Dengan lembut ia menyisiri setiap bagian rambut sang istri.
"Apa tidak apa-apa jika Dian tahu identitas Kakak?" tanya Anya khawatir.
"Tidak apa-apa." Jawab Axton kalem.
"Kontraknya?"
__ADS_1
"Sudah berakhir."
"Tapi yang publik tahu, kau bersama Hana."
Axton menghentikan kegiatannya sejenak. Matanya menatap pantulan Anya dari cermin rias. "Apa yang kau khawatirkan?" tanyanya.
"Semuanya! Terutama karirmu yang sudah susah payah kau bangun." Anya tertunduk. "Aku akan baik-baik saja jika harus bersembunyi selamanya."
Axton memutar tubuh Anya menghadapnya. "Aku tidak bisa memungkiri bahwa akan ada beberapa cibiran yang datang nantinya. Namun itu tidak akan berlangsung lama. Lagi pula, aku akan perlahan-lahan mengurangi kegiatanku sebagai publik figur, sebab aku berencana membantu Callista di Kantor." Jelas Axton. "Jadi kau tak perlu khawatir." Senyumnya mengembang.
"Tapi–" belum selesai Anya bicara, Axton sudah memutar tubuhnya menghadap meja rias kembali. Dia memegang kedua bahu Anya. "Ingat, kau tak boleh memikirkan hal macam-macam. Dan aku ingin menikmati setiap momen bersamamu tanpa mengkhawatirkan hal lain. Kau juga bisa kan?"
Anya mengangguk ragu. Axton kembali menyisir dan mengeringkan rambut Anya.
...***...
Siang hari Axton menerima telepon dari si pemilik mobil yang ia sewa. Beliau berterima kasih sebesar-besarnya pada Axton, sebab selain membawa mobil tersebut ke bengkel, ia juga menggantinya dengan satu buah unit mobil MPV keluaran terbaru, yang baru saja sampai di rumah si penyewa.
"Sama-sama, Pak. Maaf sekali lagi, saya tidak bisa ikut mengantar ke sana karena harus menjaga istri saya." Kata Axton.
"Tidak apa-apa, Nak, tidak apa-apa. Semoga istri dan anak Nak Delano sehat-sehat ya? Sampaikan salam Bapak untuk istrinya," Axton mengangguk dan berterima kasih.
Mereka berbincang sedikit lebih lama sebelum si Bapak penyewa mengakhiri perbincangannya terlebih dahulu.
Anya berjalan keluar rumah menghampiri Axton. "Sudah selesai urusannya, Kak?" tanyanya.
"Sudah." Jawab Axton. Ia tertawa kecil.
"Kenapa?" Anya mengerutkan dahinya.
"Si pemilik mobil adalah sepasang suami istri paruh baya. Beliau kesusahan menyebut namaku, jadi aku meminta mereka memanggil nama tengahku saja. Rasanya aneh dan lucu, mengingat aku tak terbiasa dipanggil seperti itu."
Axton tersenyum.
"Mbak Anya kok di luar? Sudah boleh bangun dari tempat tidur?" Bude Jum, Bu Ida dan beberapa tetangga datang ke rumah Anya seraya membawa berbagai macam makanan.
"Asal tidak kemana-mana tidak apa-apa Bude." Jawab Anya ramah.
"Ini toh suami Mbak Anya?" tanya salah seorang tetangga yang lain. Axton menyapa mereka sopan.
"Ganteng ya suaminya, kayak bule." Kelakar Indah, salah seorang tetangga Anya yang terkenal paling medok logat bicaranya.
"Selama aku di sini, mereka lah yang senantiasa membantuku." Anya bicara pada Axton. Axton mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya.
"Nah, Begini enak toh dilihatnya. Akur, apik. Makanya Nak, besok-besok kalau kerja jangan jauh-jauh, supaya Mbak Anya tidak ngambek sampai enggan bertemu sampean. Kan repot jadinya. Apa lagi sampai berantem di Rumah Sakit. Ndak bagus dilihat orang." Bu Ningsih yang terkenal ceplas ceplos mengomentari Axton. Pria itu kontan menatap Bu Ningsih dengan raut wajah bingung, lalu beralih menatap Anya yang berpura-pura tidak menyadarinya.
"Omong-omong, namanya siapa Mas? TKI di mana? Kok tampang bule gini kerjanya jadi TKI, mending jadi artis toh, Mas." Bu Ningsih tertawa diikuti ibu-ibu lain.
Axton tertawa garing sembari menggaruk tengkuknya. Ia sama sekali tidak mengerti akan maksud dari pertanyaan Bu Ningsih.
"Ihh, ibu-ibu, kok aku ditinggal sih!" dari arah luar, seorang gadis ABG berlari menuju rumah Anya.
"Ini Mbak titipan dari Ibu. Ibu lagi di pasar, jadi aku disuruh duluan." Ayu, nama gadis tersebut, menyerahkan plastik berukuran sedang berisi buah-buahan pada Anya.
"Terima kasih ya, Yu,"
"Nggih, Mbak." Matanya beralih pada sosok Axton yang berdiri tak jauh dari Anya.
Ayu terperanjat. Gadis itu reflek memundurkan langkahnya sembari berteriak nama Axton keras-keras.
__ADS_1
Tak butuh waktu lama sampai rumah Anya nyaris penuh karena para tetangga saling berdatangan. Mereka sangat penasaran akan sosok Axton dari dekat.
"Pantes mukanya familiar. Kita di sini suka lihat Nak X di televisi, loh," Axton hanya tertawa menanggapi beberapa ocehan tetangga.
Beruntung ia tinggal di lingkungan yang baik. Mereka berinisiatif menutup mulut tanpa diminta. Tetapi sebagai upah tutup mulut, Axton harus mau melayani permintaan foto mereka semua.
Anya tertawa geli melihat betapa canggungnya Axton di kelilingi para wanita yang berebut ingin berdiri di sampingnya.
...***...
"Maaf ya, kau jadi kerepotan tadi," ucap Anya sedikit tak enak. Para tetangga baru pulang hampir menjelang sore hari setelah salah seorang anak menyusul Ibunya dan meminta Beliau pulang.
Mereka kini tengah menonton televisi berdua sembari menunggu Kinanti, Jagat dan Ian pulang. Axton meminta tolong Ian dan Jagat untuk mengambil koper mereka di Hotel. Kinanti ikut sekalian untuk berbelanja bahan makanan.
Axton menyamankan dirinya di pangkuan Anya. Sesekali ia mengelus perut Anya dan menciumnya ringan. "Justru, sepertinya aku menikmati momen tadi. Anggap saja itu adalah bentuk terima kasihku pada mereka karena telah menjagamu dengan baik selama aku bekerja sebagai TKI."
Anya tertawa malu. Ia masih mengingat betul bagaimana para Ibu begitu sangat antusias menceritakan identitas suami yang Anya karang pada Axton. Untung saja mereka mengerti akan kebohongan Anya.
"Aku pasti rindu pada mereka, nanti."
"Kita masih bisa berkunjung ke sini. Aku berjanji akan sering-sering membawamu kemari."
Mendengar perkataan Axton, raut wajah Anya berubah sumringah, "Benarkah? Terima kasih,"
Axton tersenyum. "Tidak ingin istirahat?" tanyanya kemudian.
Anya menggeleng. "Aku sudah terlalu lama berbaring. Lagi pula tubuhku sudah tidak apa-apa."
Suasana hening kemudian. Mereka fokus menonton televisi sampai iklan Axton terpampang di sana.
"Kakak tahu, selama aku di sini, aku jarang sekali menonton televisi." Beritahu Anya tiba-tiba.
"Kenapa?" tanya Axton penasaran.
"Karena aku tak ingin melihat wajahmu." Jawab Anya jujur. "Melihat wajahmu hanya semakin membuat perasaanku tak karuan. Jadi, semaksimal mungkin aku menghindari semua hal yang berkaitan dengan dirimu."
"Tetapi adakalanya aku harus ikut menonton televisi saat Bu Ida sedang menemaniku di sini. Atau ketika sedang menyiapkan nasi box untuk anak-anak panti, seperti waktu itu. Dari sana aku tahu, kau pernah dirawat Rumah Sakit." Netra coklatnya menatap Axton. "Apa karena aku?"
Axton bangkit dari posisinya. Tangannya mengelus pipi Anya yang sudah sedikit berisi. "Bukan. Itu hanya karena aku terlalu banyak bekerja." Jawabnya berbohong. "Kita sudah sepakat untuk tidak memikirkan hal yang tidak perlu, bukan?"
Anya mengangguk seraya meminta maaf. Axton membawa Anya ke dalam dekapannya.
Dengan gerakan selembut mungkin, Axton menciumi pucuk kepala Anya, lalu merambat ke kening, mata, hidung dan pipi wanita itu. Bukan kecupan menuntut, melainkan kecupan-kecupan ringan yang mampu membawa kesejukan di hati Anya.
Gerakan Axton seketika terhenti, tatkala Bibirnya kini hanya berjarak beberapa centimeter dari Bibir Anya.
"Bolehkah?" Axton meminta ijin. Anya mengangguk malu-malu sebelum memejamkan matanya. Axton tersenyum kecil mendapati pipi wanita itu telah merona.
Axton ikut memejamkan matanya. Tangan pria itu turun ke leher belakang Anya.
Anya bisa merasakan hembusan napas Axton yang sedikit menggebu.
"Aku mencintaimu," ucap Axton sebelum akhirnya mendaratkan bibirnya pada bibir sang istri.
"Ehem,"
DUAAGHH!
Suara bariton seseorang membuat Anya reflek menendang Axton sekuat tenaga hingga terjungkal ke sisi seberang.
__ADS_1