Cinta Anya Untuk X

Cinta Anya Untuk X
Sikap Axton


__ADS_3

Seharian ini Hana dibuat kesal dengan tingkah laku Axton yang uring-uringan. Rencananya untuk bermesraan dengan Axton sepuasnya di Apartemen mereka kandas begitu saja akibat kelakuan kekasihnya itu.


Seharian ini, yang dilakukan Axton bersamanya hanya mengutak-atik ponselnya dan marah-marah tak jelas. Kadang ia juga terdengar mengumpati seseorang yang Hana tidak tahu.


Berkali-kali Hana mencoba merayu Axton, namun pria itu tetap bergeming. Dia beralasan bahwa tubuhnya butuh istirahat, setelah menginap di lokasi syuting selama tiga hari untuk menjadi bintang tamu di acara variety show.


Hana luar biasa jengkel, terlebih pada sikap Axton yang cuek dan hanya memerhatikan ponselnya. Hana tak tahu apa yang dia tunggu. Wanita itu bergerak ta sabar, dengan cepat ia mengambil ponsel Axton dan duduk di pangkuan pria itu.


"Ck! Kembalikan," pinta Axton dengan raut wajah luar biasa kesal.


Hana tidak menggubris permintaan Axton, wanita itu malah melempar ponsel kekasihnya ke atas tempat tidur lalu menahan kedua tangan Axton di belakang kepalanya.


"Jangan acuhkan aku, memang Kakak tidak rindu padaku?" tanya Hana manja. Axton membuang mukanya sebelum kembali menatap Hana.


"Rindu, tapi aku sedang lelah. Jadi, bisa lepaskan aku?"


Bukannya mendengarkan, Hana malah semakin merapatkan tubuhnya pada Axton. Wanita muda itu menggerakan pinggulnya lebih intim di pangkuan Axton lalu menciumi telinganya seraya berbisik sensual, "Jika aku tidak mau melepaskanmu, bagaimana?"


Axton terdiam sejenak. Dengan gerakan secepat kilat ia mengangkat Hana dan menggendongnya. Hana reflek mengeratkan kedua kakinya pada pinggang Axton sembari berteriak kegirangan.


Pria itu membanting Hana ke atas tempat tidur kemudian menindihnya. Wajahnya perlahan mendekati Hana yang kini telah memejamkan matanya. Ia sudah bersiap menerima apapun yang Axton berikan.


"Aku yang akan melepaskanmu," bisik Axton pada telinga Hana. Tangan pria itu meraba atas kepala Hana dan mengambil ponselnya yang tadi dilempar oleh wanita itu.


Ia segera berdiri, "Beristirahatlah, aku akan kembali." Setelah mengatakan hal demikian, Axton melangkahkan kakinya meninggalkan Hana yang kini tengah meneriakinya dengan kata-kata kotor.


Axton membunyikan klaksonnya dengan tidak sabar. Ia ingin cepat-cepat sampai di rumah untuk bertemu Anya. Gadis itu benar-benar tidak pernah mengiriminya pesan lagi.


Pria itu tidak bisa menahan kesabarannya. Jika saja Hana tidak menghubunginya terus menerus dan memaksanya untuk pulang ke Apartemennya, dia pasti sudah ada di rumah sekarang.


...***...


Anya tersenyum menatap puding dan brownies lumer yang baru saja selesai dibuat. Besok ia dan Axton akan datang ke rumah utama keluarga Caldwell. Gadis itu berencana membawa kue dan puding buatannya itu ke sana.


Rencananya, sang Ayah mertua dan Ibu mertuanya akan menghabiskan waktunya di Negeri Kincir Angin. Maxim ingin mencari ketenangan sekaligus pengobatan atas penyakit jantungnya di sana. Dia sudah memercayakan urusan Perusahaan di sini sepenuhnya pada Callista. Callista juga tidak akan sendirian memikul beban tersebut, Maxim sudah menyuruh orang kepercayaannya untuk mendampingi Callista.

__ADS_1


Anya bangga, diusia yang masih sangat muda, Callista sudah dapat menangani salah satu Perusahaan raksasa keluarga Caldwell. Walau disatu sisi ia juga menaruh prihatin pada adik iparnya itu, sebab seharusnya, Axton lah yang mengurusi Kantor Pusat dan Callista yang akan mengurus Kantor Cabang di Kota lain. Namun apa daya, Axton lebih memilih terjun ke dunia entertainment.


Maxim pernah berkata, bahwa beliau menaruh harapan besar agar suatu saat nanti Axton dapat merubah pikirannya dan mau mengambil alih salah satu Perusahaan keluarga, meskipun itu hanya sebuah Kantor Cabang.


Setelah meletakan puding dan kue tersebut di sebuah kotak yang cantik, Anya menaruhnya di kulkas.


"Selesai." Katanya puas. "Aku akan berganti baju lalu tidur." sambungnya.


Anya menutup pintu kulkas dan berbalik.


GREB!


Anya tersentak, seseorang tiba-tiba memeluknya sesaat setelah ia membalikan badan.


Tangannya terkulai tak berdaya. Axton kini tengah merengkuhnya seerat mungkin


Anya tak mampu bergerak maupun bersuara. Lidahnya kelu dan tubuhnya berubah kaku.


Apa yang terjadi pada Axton? Mengapa tiba-tiba ia menjadi pria seperti ini? Kemana Axton yang kejam dan selalu menatapnya jijik? Kemana Axton yang tidak sudi disentuh olehnya?


Anya tersenyum sinis. Dia yakin ini hanya akal-akalan Axton saja karena besok mereka akan bertemu keluarganya. Axton tentu tidak ingin hubungan mereka terlihat kaku di hadapan keluarganya, terutama di depan sang ayah.


"Aku lapar," katanya tiba-tiba.


Anya mengernyitkan dahinya.


"Bisa buatkan aku makanan?" tanyanya seraya membuka-buka kitchen set.


Anya semakin dibuat keheranan. Selama ini Axton tidak pernah mau memakan masakan yang ia buat. Lalu mengapa tiba-tiba Axton ingin memakan masakannya?


Apa selama tiga hari berada di laut membuat otaknya terkikis panas matahari?


Apa dia harus mengingatkan, apa yang pernah dikatakan padanya?


"Kau bukannya tidak ingin memakan masakanku?" tanya Anya dengan nada datar.

__ADS_1


TAK!


Axton melempar beberapa bahan makanan yang kontan langsung ditangkap oleh Anya.


"Buatkan aku Omurice. Aku menunggu,"


Setelah berkata demikian Axton pergi meninggalkannya untuk mandi dan berganti pakaian.


"Apa-apaan dia!" batin Anya kesal.


Setengah jam kemudian Axton sudah turun dari kamar, menuju meja makan dengan wajah yang lebih segar.


Sepiring Omurice yang menggugah selera telah tersaji di sana, tanpa Anya di manapun. Gadis itu rupanya sedang mandi di lantai bawah.


Pria itu mengambil piring tersebut dan juga segelas air lalu membawanya ke ruang televisi.


Anya baru saja keluar dari kamar mandi dan hendak naik ke kamar jika Axton tidak memanggilnya.


"Bisa temani aku di sini?"


Anya menunjuk dirinya. Belum paham siapa yang sedang diajak bicara pria itu.


"Siapa lagi kalau bukan kau?"


Gadis itu bergeming sesaat sebelum akhirnya ikut duduk di sofa. Ia mengambil jarak dua meter dari Axton. Axton berusaha untuk tidak menghela napas jengkel.


Axton lalu memulai makannya dengan lahap, yang mau tak mau membuat Anya menyunggingkan senyumnya sedikit. Jauh di dalam lubuk hati Anya, ada rasa keharuan tak terkira mengingat betapa banyak usaha yang sudaj ia lakukan agar Axton mau memakan masakannya, meski hanya beberapa butir nasi.


Anya akui, meski sekarang dia bersikap dingin, tetapi debaran jantungnya saat bersama Axton masih sama menggila.


Anya tidak memungkiri, bahwa dia begitu menderita telah mengabaikan Axton. Namun dia juga tidak ingin merasakan sakit lagi jika Axton kembali bersikap seperti dulu, terlebih sampai menyiksanya.


Anya hanya ingin menguatkan diri, agar ketika pernikahannya berakhir nanti, dia tidak begitu sulit melupakan Axton.


Tapi mengapa, disaat ia sedang mati-matian bersikap demikian, Axton malah menunjukan sikap yang entah Anya sendiri juga tidak mengerti maksudnya.

__ADS_1


Tidak ada alasan masuk akal apapun yang terlintas dipikiran Anya, selain hanya pria itu tidak ingin hubungan mereka yang sebenarnya diketahui oleh Maxim. Dan yang jelas, terlihat sekali bahwa Axton tengah membuat hatinya terombang-ambing.


Anya bersumpah ... tidak akan terjebak oleh permainan Axton.


__ADS_2