
Setelah puas berpelukan, kini ketiganya duduk di dekat Anya sembari mengobrol panjang lebar. Mereka juga sepakat mengambil cuti kuliah sampai Anya pulih total.
"Tidak perlu, Mbak 'kan tidak apa-apa." Anya melarang Kinanti dan Jagat bolos demi dirinya.
"Kami yang apa-apa, Mbak. Sudah, pokoknya Mbak harus dalam pengawasan kami, selama kami di sini. Kita akan datang kemari setiap hari sampai Mbak sembuh. Ya Mbak Kinan?" ujar Jagat sembari meminta persetujuan pada kakak kembarnya, Kinanti.
Kinanti mengangguk semangat. Anya menghela napas pasrah. Jika kedua adik kembarnya sudah keras kepala seperti ini, ia tidak bisa berbuat apa-apa. Toh, saat ini ia memang butuh ditemani.
"Berterima kasih pada Kak Callista dan jangan sampai menyusahkannya, mengerti?" nasihat Anya. Ia merasa berhutang budi pada Callista yang dengan senang hati menawarkan rumah utama sebagai tempat singgah kedua adiknya selama di Jakarta. Bahkan Callista lah yang mengundang keduanya untuk datang menghabiskan akhir pekan di sini.
"Iya, Mbak." Jawab keduanya. Tepat setelah kedua adiknya menjawab, Axton masuk ke dalam kamar. Rupanya ia telah pulang.
Pria itu tersenyum menyambut kedatangan Kinanti dan Jagat. Syukurlah, setidaknya Anya tidak akan kesepian.
Kinanti dan Jagat mencium tangan Axton bergantian. Axton mengajak mereka berbincang sejenak sebelum undur diri untuk mandi.
"Kami ke bawah dulu ya, Mbak?" ujar Kinanti, sebab tak enak jika mereka masih berada di kamar sementara Axton tengah mandi.
Anya mengangguk.
Kinanti dan Jagat memilih menonton televisi ditemani Bi Rahmi yang hari ini menginap di sana. Wanita itu baru saja selesai menyiapkan makan malam.
"Duluan makan saja, Nak Kinan, Nak Jagat," ujar Bi Rahmi, mengingat mereka baru saja melakukan perjalanan jauh, sudah pasti kini keduanya tengah kelaparan.
"Nanti saja, Bi," tolak Kinanti halus. Ia ingin menunggu kedua kakaknya agar bisa makan malam bersama.
Axton keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih segar. "Sudah lebih baik?" tanyanya pada Anya sembari menatap kedua kaki wanita itu.
Anya mengangguk tanpa suara. Axton mendekati Anya dan mengecek suhu tubuhnya menggunakan Thermogun.
Wajahnya terlihat lega mengetahui suhu tubuh Anya telah normal, bibirnya juga sudah tidak pucat lagi. Hanya tinggal menunggu kakinya sembuh total.
"Tunggu sebentar, aku akan meminta Bi Rahmi untuk membawakanmu makanan," ujar Axton.
Anya menggeleng, "Sudah lama aku ... tidak makan bersama adik-adikku." Katanya canggung.
__ADS_1
Axton mengangkat sebelah alisnya.
Suasana hening sesaat sampai akhirnya Axton berinisiatif menggendong Anya untuk turun ke bawah. Axton membungkukan tubuhnya dan menyelipkan kedua tangannya di punggung dan kaki Anya. Reflek Anya mengalungkan tangannya pada leher Axton agar tidak terjatuh.
Wangi tubuh Axton seketika menyeruak memenuhi indera penciuman Anya. Wangi yang Anya sukai, begitu menyegarkan dan menenangkan.
Anya juga bisa melihat dari dekat paras tampan Axton. Dan satu-satunya hal yang paling ia sukai dari wajah Axton adalah mata birunya. Meskipun mata tersebut sering sekali menatapnya bengis, namun menurutnya, mata biru Axton adalah salah satu dari sekian banyak keindahan yang Tuhan ciptakan.
Entahlah disatu sisi ia masih menyimpan kemarahan pada pria itu, tetapi disisi lain ia tak bisa memungkiri bahwa hatinya masih tertaut.
***
Kinanti dan Jagat hanya bisa melongo tatkala Axton turun seraya membawa Anya dalam gendongannya.
Anya pura-pura tidak melihat perubahan wajah kedua adiknya. Ia dengan santai meminta Axton menurunkannya di sofa ruang televisi.
Setelah menurunkan Anya dan menyangga kakinya di atas sofa kecil, pria itu meminta Bi Rahmi untuk membawa makanan mereka ke sini agar Anya bisa turut serta makan bersama.
Mereka berlima makan malam bersama di ruang televisi. Hati Bi Rahmi menghangat melihat Axton dengan telaten menyuapi Anya makan, kendati ia tahu hal tersebut mungkin merupakan bentuk kepura-puraan sang majikan karena ada kedua adik iparnya di sini, namun tetap saja tidak menyurutkan kehangatan yang Bi Rahmi rasakan.
"Kak X, Mbak," Jagat memanggil kedua kakaknya seraya menunjuk televisi. Dari awal keduanya memang tidak begitu memerhatikan televisi.
Sebuah tulisan di layar televisi terpampang jelas.
Konferensi Pers Star-sky terkait berita pernikahan Axton.
Anya membelalakan matanya, lalu menoleh pada Axton. Axton tak mengeluarkan sepatah katapun. Seharian ini Anya memang tidak memegang ponselnya dan tidak menonton televisi, otomatis ia tak mengetahui apapun, termasuk berita terkait dirinya.
"Selamat malam, semua," Richard David, CEO tempat Axton bernaung, berdiri di mimbar bersama Ian.
"Langsung saja, terkait berita yang tengah beredar saat ini, bahwa Axton telah menikah dengan seorang gadis yang bukan kekasihnya adalah TIDAK BENAR." Suara Richard terdengar tegas dan berwibawa.
"Perihal seorang gadis yang beredar dan ramai diperbincangkan merupakan adik sepupu Axton yang tinggal jauh di luar kota. Mereka memang baru bertemu setelah sekian tahun berpisah."
Suara-suara sumbang para wartawan yang berebut ingin mengajukan pertanyaan terdengar memekakan telinga, belum lagi blitz dari lampu kamera yang terlihat sangat mengganggu.
__ADS_1
"Tak ada pertanyaan." seru Richard dingin.
"Jadi kami harap kepada seluruh media cetak maupun elektronik untuk menurunkan berita hoax tersebut, atau kami akan membawanya ke jalur hukum atas pencemaran nama baik. Kami juga tengah mencari tahu siapa yang pertama kali mencetuskan berita itu."
Setelah mengucapkan terima kasih, Richard dan Ian segera meninggalkan tempat. Terlihat para wartawan berusaha mengejar keduanya, tampak tak puas dengan konferensi pers yang Richard lakukan.
Kinanti dan Jagat memerhatikan Axton dengan seksama. Mereka memang tahu sejak awal bahwa Axton harus menyembunyikan pernikahan ini, tetapi tetap saja rasanya tak pantas membohongi publik, apa lagi sampai mengancam mereka atas pencemaran nama baik.
Axton salah tingkah mendapati tatapan kedua adik iparnya. "Maaf," hanya itu yang dapat ia katakan.
Anya terperangah sejenak. Ini adalah kali kedua Axton mengucapkan kata ajaib itu. Tak ingin melihat Axton tersudut, Anya bermaksud membelanya.
"Di dunia entertainment, apapun yang kau lakukan akan ada hitam di atas putih. Sudah ada perjanjian kontraknya bahwa Kak X tidak boleh menikah dulu sampai batas waktu yang ditentukan. Kalaupun sampai menikah, ia harus membayar denda sesuai yang tertera di kontrak dan publik tidak boleh tahu." Anya menjelaskan dengan bahasa yang sederhana, berharap kedua adiknya dapat memahami alasan tersebut.
Kinanti dan Jagat bergeming sesaat.
"Serumit itu?" tanya Jagat kemudian.
Anya menoleh pada Axton. Axton mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Jagat.
"Haah, aku tak mengerti bagaimana dunia entertainment." tukasnya cuek seraya berdiri menuju ke dapur, sementara Kinanti menatap sang kakak perihatin.
"Ada apa, Kinan?" tanya Anya penasaran.
"Mbak sudah seperti istri kedua saja." ungkapnya yang langsung membuat Axton semakin salah tingkah.
Kinanti berdiri hendak menyusul Jagat ke dapur, "Tapi Kak X,"
Mendengar namanya disebut, Axton mengangkat alisnya. "Kakak benar-benar sudah putus dengan Kim Hana, bukan?" tanya Kinanti seraya menatap Axton lekat-lekat.
"Kalau belum, kenapa Kakakmu bisa menikahi Mbak, de," Anya membuka suaranya. Tak tega melihat Axton merasa tertekan.
Kinanti menggumamkan kata "Oh" lalu pergi menyusul Jagat ke dapur, diikuti Bi Rahmi.
Wajah Axton berubah lebih santai selepas kedua adik iparnya pergi. Anya nyaris tersenyum, karena baru kali ini melihat pria itu gugup.
__ADS_1