
"Baiklah, kami akan segera mengabari kalian."
Anya bernapas lega saat sesi interview telah selesai. Dia sangat berharap dapat bekerja di kantor ini karena selain dekat dari rumah, jam kerjanya juga tidak terlalu panjang.
"Anya," panggil salah seorang wanita yang menjadi pengujinya tadi.
"Ya, Bu,"
"Nilaimu yang paling tinggi diantara yang lainnya. Apa kau siap jika langsung bekerja nanti?" tanya wanita tersebut seraya menatap perban kecil yang menutupi pelipisnya.
"Iya, saya sangat siap, Bu. Ini hanya luka kecil, besok sudah bisa saya buka perbannya." Jawab Anya yakin.
Saat pertama Anya datang para penguji memang sempat menanyakan perihal luka yang terdapat di pelipis Anya dan gadis itu berkata bahwa dia terjatuh saat bangun dari tempat tidur.
"Baiklah, terima kasih,"
"Sama-sama, Bu, saya permisi," Anya membungkukan badannya sebelum pergi meninggalkan ruangan.
***
"Ini terlihat sangat mewah dan bagus Tante," Hana menunjuk salah satu gambar rumah yang terdapat di brosur. Rumah modern dengan banyak kaca besar disana.
"Pilihan yang bagus Nona, harganya pun masih tergolong murah di kelasnya." seorang agen property segera memberikan pendapat setelah melihat pilihan Hana.
Theresa memperhatikan betul apa yang Hana pilih. "Boleh juga pilihanmu, sayang." Mendapat pujian seperti itu, Hana menyunggingkan senyumnya. Senang rasanya bisa sedikit membumbung hati Ibu dari kekasihnya itu.
Hari ini Theresa meminta Hana untuk menemaninya mencari rumah. Wanita itu memang lebih senang berinvestasi dalam bentuk bangunan. Sebab harga bangunan sudah pasti akan selalu mengalami kenaikan setiap tahunnya.
Mereka juga sering sekali menghabiskan waktu bersama. Theresa sangat menyukai Hana. Wanita itu bahkan memberikan restunya pada Hana dan Axton. Tapi sayang, sang suami malah menjodohkan anak sulung kesayangannya tersebut pada anak mendiang sahabatnya, sebagai bentuk balas budi.
Dia sadar keluarga Caldwell memang banyak berhutang budi pada keluarga Handoko. Tapi bukankah masih banyak cara untuk membalas kebaikan mereka, selain menikahkan keduanya?
Theresa benar-benar tidak mengerti jalan pikiran suaminya.
"Loh, Mbak Anya?" ujar Hana, tatkala matanya tiba-tiba melihat Anya keluar dari salah satu ruangan.
Anya yang mendengar namanya dipanggil menoleh ke arah suara. Matanya membelalak saat mendapati ibu mertuanya tengah duduk bersama Hana dengan salah seorang sales perumahan.
Anya seharusnya sudah tidak kaget lagi. Tiga tahun mereka bersama, bukan tidak mungkin hubungan Hana dan orang tua Axton menjadi sangat dekat, seperti yang sekarang ia lihat.
"Ma," panggil Anya seraya mengulurkan tangannya.
Theresa mengambil ujung tangan Anya dan langsung menariknya cepat saat Anya hendak mencium tangannya.
Hana menarik sedikit sudut bibirnya. "Mbak sedang apa di sini?" tanyanya ramah. Jelas sekali ia berusaha bersikap baik di mata Theresa.
"Aku habis interview." Jawab Anya sembari tersenyum.
"Oh, kau jadi bekerja? Tidak mampu mengurus rumah tangga atau bagaimana?" tanya Theresa sinis.
__ADS_1
Anya tersenyum maklum, "Hanya mengisi waktu luang agar tidak jenuh, Ma."
"Jadi anakku membuatmu jenuh, ya?" Theresa meninggikan suaranya sedikit. Matanya menatap tajam Anya.
Anya menghela napas pelan. "Bukan itu maksud Anya, Ma."
"Alaaah, sudah pergi sana!" usir Theresa, sembari menggerak-gerakan tangannya, agar Anya pergi dari sana.
"Tan, kita ajak Mbak Anya makan siang saja dulu, bagaimana?" Hana meraih tangan Theresa lembut.
"Tidak usah sayang, Tante hanya ingin berdua denganmu." Jawab Theresa penuh kelembutan.
Anya mengembangkan senyumnya. Matanya menatap nanar tangan Theresa yang tengah menepuk-nepuk lembut tangan Hana.
"Baiklah, aku pulang dulu Hana, Ma," Anya menyodorkan tangannya kembali, namun kali ini Theresa tidak menyambutnya. Dengan sedikit menahan malu Anya menarik tangannya dan pamit undur diri.
"Kamu baik sekali padanya sayang, padahal dia adalah istri kekasihmu," ucap Theresa setelah Anya pergi.
"Tak ada yang bisa kulakukan selain berdamai dengan keadaan, Tan." Jawab Hana dengan wajah sedih.
"Bersabar ya sayang, Tante pasti akan membuat kalian bersatu. Tunggu saja." Janjinya pada Hana. Calon menantu yang memang wanita itu inginkan.
Hana menahan bibirnya agar tidak tersenyum lebar.
"Mau bagaimanapun, aku lah pemenangnya." batinnya.
"Syarat apa Nyonya?" merasa mendapat durian runtuh, orang tersebut bertanya dengan nada antusias.
"Jangan terima gadis yang barusan itu, bekerja di tempat ini."
...***...
Malam hari.
Axton masuk ke dalam apartemen dengan terburu-buru. Matanya nyalang menatap Anya yang sedang asyik menonton televisi. "Hei! Siapkan dirimu, kita pergi ke rumah orang tuaku."
Mendapat perintah seperti itu Anya segera melesat ke dalam kamar untuk berganti pakaian. Dia tak ingin repot-repot bertanya, karena sudah pasti bukan jawaban yang akan dia dapatkan.
Maxim memanggil Axton dan Anya untuk makan malam di rumah utama. Semenjak resmi menjadi istri Axton, Anya tidak pernah lagi menginjakan kakinya di rumah utama. Bahkan sewaktu belum menikah, dia hanya berkesempatan sekali ke sana.
...***...
"Anakku yang tampan," Theresa berlari menghambur kepelukan Axton, "Mama, rindu sekali."
Axton membalas pelukan sang Ibu, tak lupa memberikan kecupan manis di pipi beliau. "Maaf, Ma, aku sibuk syuting." Jawab Axton kalem.
"Mama mengerti, Nak." Matanya beralih pada Anya. Jelas sekali terlihat, jika Theresa memaksakan senyum ramahnya pada gadis itu.
Theresa kemudian mengajak mereka menuju ruang makan. Anya terkejut ketika mendapati Hana tengah duduk di sana bersama Maxim.
__ADS_1
"Ahh, tadi Mama sedang bersama Hana melihat-lihat rumah, jadi sekalian saja Mama ajak dia ke rumah untuk makan malam bersama kita. Tidak apa-apa kan, sayang?" tanya Mama lembut.
Axton menganggukan kepalanya seraya tersenyum, begitu pula dengan Anya.
"Lain kali, ajak juga Anya, Ma," Maxim membuka suaranya.
Theresa berdehem sejenak sebelum mengiyakan perkataan sang Suami. Ia tidak mungkin menolak terang-terangan.
"Bagaimana kabarmu, Nak?" tanya Maxim kemudian, saat Anya mencium tangannya. Pria itu mengelus lengan menantu perempuannya dengan penuh sayang. Melihat itu dada Hana serasa terbakar.
"Aku baik, Pa. Papa bagaimana?"
"Seperti yang kau lihat." Maxim tersenyum.
Setelah beberapa saat mengobrol ringan, mereka pun makan malam bersama, lalu kemudian melanjutkan obrolan di ruang keluarga.
Maxim tidak dapat bergabung lebih lama, sebab dia harus banyak beristirahat. Maklum, karena selama dua minggu ini dirinya terus melakukan perjalanan dinas tanpa henti.
"X, bagaimana drama yang akan kau bintangi?" tanya Theresa, selepas mwngantar Maxim ke kamar mereka.
"Syuting baru dimulai tadi pagi." Jawab Axton.
Mata Theresa tampaj berbinar-binar. "Bagaimana dengan Hana? Kesibukan apa yang kau lakukan saat ini, sayang?"
"Besok aku akan terbang ke New york untuk ikut fashion week di sana, Tan." Jawab Hana bangga. Tanpa Anya sadari, mata wanita itu melirik sinis ke arahnya.
"Waaah! Bangga sekali Mama pada kalian berdua. Andai kalian bersama, pasti sempurna sekali hidup kalian."
Mendengar hal tersebut hati Anya mendadak pilu. Matanya memandang sendu pada Axton, Hana dan Theresa yang tampak begitu asyik mengobrol tanpa memedulikan kehadirannya. Kentara sekali ia dianggap orang asing di sini.
Setelah mengobrol sejenak mereka bertiga akhirnya pamit pulang. Theresa menyuruh Axton untuk mengantar pulang Hana terlebih dahulu. Semula Hana menolak karena merasa tidak enak, tetapi Theresa bersikeras memaksa.
"Sampaikan salam pada Papa, Ma," ujar Axton seraya masuk ke dalam mobil.
"Iya sayang." Jawab Theresa ramah. Wanita itu memperhatikan Anya dan Hana yang menghampiri pintu mobil bersamaan.
Melihat Anya hendak duduk di kursi depan, Theresa buru-buru menghampiri dan menarik gadis itu keluar. Dia lalu menggiring Hana untuk duduk di depan. Tangannya kemudian mencengkram lengan Anya dan menghempaskannya ke kursi belakang sebelum akhirnya menutup pintu.
Anya memegang lengannya yang terasa sakit akibat cengkraman kuat Theresa.
"Hati-hati di jalan." Theresa melambaikan tangannya sampai mobil mereka hilang dari pandangannya.
Di sepanjang perjalanan Anya hanya memandang keluar jendela mobil. Matanya nanar menatap sekumpulan pemuda pemudi yang tengah bersepeda sembari tertawa riang. Ada juga sepasang orangtua dengan seorang anak mereka yang tengah mengobrol di halte sembari menunggu bus datang.
Anya iri! Rasanya, Tuhan begitu tak adil pada hidupnya. Setelah kehilangan kedua orang tua dan dibenci kakak tirinya, kini Anya harus menjalani biduk rumah tangga yang penuh akan siksaan.
Apa yang Tuhan inginkan sebenarnya? Dosa apa yang sudah dia perbuat di masa lalu, hingga dia harus menjalani hidup seperti ini?
Anya tersentak kala air mata tiba-tiba jatuh membasahi pipinya. Dia buru-buru menghapus air matanya sebelum Axton maupun Hana melihatnya. Dia tak boleh terlihat lemah. Dia tak boleh terlihat rapuh.
__ADS_1