Cinta Anya Untuk X

Cinta Anya Untuk X
Anya Hipotermia


__ADS_3

...Alur maju-mundur. Diharapkan baca dengan teliti....


...Terima kasih ^^...


.


.


.


Setelah beberapa lama Anya menangis meraung-raung, gad– wanita itu terdiam mematung, pandangan matanya terlihat sangat kosong.


Axton ingin sekali mengeluarkan suaranya, namun entah mengapa tak mampu ia lakukan. Pria itu memilih beringsut, hendak mendekati Anya, tetapi Anya menunjukan gestur menghindar.


Anya bergeming sekian menit sebelum akhirnya mendudukan diri di tepi ranjang. Axton bisa melihat bagaimana wanita itu menahan rasa sakit yang mungkin ia rasakan di tubuh bagian bawahnya.


Anya perlahan membungkukan tubuhnya, mengambil sebuah kemeja milik Axton yang tergeletak sembarang di lantai lalu memakainya. Dia tidak mungkin keluar dari kamar dengan tubuh polos, sementara pakaiannya telah sobek dan tidak bisa digunakan.


Tanpa berkata apa-apa lagi, Anya segera berdiri dan berjalan tertatih menuju pintu kamar.


Krak! Krak!


Anya tetap berjalan, seolah tak menghiraukan rasa sakit pada kaki-kakinya yang telah menginjak pecahan cangkir di lantai.


Jejak-jejak kaki Anya yang penuh darah tercetak jelas di lantai, mengiringi kepergian wanita itu.


"****! ****! ****!" umpat Axton seraya meninju nakas yang berada di sampingnya berkali-kali.


***


Axton turun dari kamar setelah bebenah diri. Tak lupa, ia juga membereskan lalu membuang seprai, pakaian dan pecahan cangkir ke tempat sampah kamarnya.


Melihat majikannya turun, Bi Rahmi yang telah datang berlari tergopoh-gopoh menghampiri Axton.


"Pak, sudah hampir satu jam saya datang dan sepertinya Ibu belum juga keluar dari kamar mandi. Saya sudah ketuk-ketuk dan memanggilnya, tetapi Ibu tidak membalas. Perasaan saya jadi tidak enak, Pak." Bi Rahmi tidak bisa menyembunyikan raut kecemasan di wajahnya.


Axton mempercepat langkahnya menuju kamar mandi dan mengetuk-ngetuk pintu. Pria itu juga menggerak-gerakan handle pintu dengan kasar, namun terkunci dari dalam.


Takut terjadi sesuatu pada Anya, Axton berinisiatif mendobrak pintu kamar mandi.


BAGGH!


BAGGH!


BRRRAGGH!


Pintu kamar mandi terbuka setelah percobaan ketiga.


"Ibuuuuuu!" teriak Bi Rahmi.


***


Anya tertatih menuruni tangga. Tangannya merambati dinding agar keseimbangan tubuhnya tetap terjaga. Tak dipedulikannya rasa sakit yang menjalar di telapak kaki maupun bagian sensitifnya. Tubuhnya seolah-olah telah mati rasa.


Anya sempat terjatuh tatkala tiba di anak tangga paling bawah, namun dia perlahan bangkit lagi dan lanjut berjalan sampai ke kamar mandi.

__ADS_1


Wanita itu membaringkan tubuhnya di bath up, tak lupa menyalakan shower agar bisa menyamarkan suara tangisannya.


Anya kembali menangis meraung-raung, menjerit-jerit kemudian tertawa seperti orang gila. Berharap apa yang telah terjadi padanya hanyalah sebuah mimpi buruk belaka.


Apa yang salah darinya?


Dosa apa yang telah dia lakukan, hingga ia harus menebusnya dengan cara seperti ini?


Apa yang Tuhan inginkan darinya? Tak cukupkah membuat kedua orangtua kandung serta orangtua angkatnya pergi?


Belum lagi, kebencian yang dia dapat dari sang Kakak juga harus dia terima.


Anya kembali tertawa terbahak-bahak, meski airmata jelas mengalir deras, bercampur dengan air yang keluar dari shower.


Haruskah dia mati agar semua penderitaan ini berakhir?


Anya semakin merebahkan dirinya di bath up hingga wajahnya ikut tenggelam. Dia membiarkan shower tetap terbuka walau air telah meluber ke mana-mana.


***


"Awas, Kak! Matamu bisa copot kalau lama-lama memerhatikannya?" ujar Callista tiba-tiba seraya menyenggol lengan Anya.


Anya berhenti menganyam bunga liar yang akan ia bentuk menjadi sebuah bandana cantik. Matanya menatap Callista terkejut.


Walau tangannya terlihat sedang menganyam, tetapi matanya sedari tadi menatap seseorang yang sedang duduk sendirian di teras rumahnya.


Dia ketahuan.


"Ha?" responnya, berpura-pura tidak mengerti akan maksud Callista.


Anya menyerah. Bersama Callista, dia memang tidak dapat menyembunyikan apapun.


"Jangan bilang-bilang, ya?" pinta Anya memelas seraya meletakan telunjuknya di bibir.


"Sogokannya, ya?" Callista tertawa, sementara Anya mengangguk pasrah.


Setelah puas tertawa Callista kembali membuka suaranya, "Memang apa yang Kakak suka dari laki-laki seperti Kak X?"


Anya mengatupkan bibirnya sembari menatap langit yang hari ini sedang cerah.


"Entah." Jawabnya singkat.


Callista tertawa lagi.


"Kenapa?" tanya Anya heran.


"Konon katanya, kalau kita suka sama seseorang tanpa alasan yang jelas, itu artinya cinta kita tulus. Karena cinta memang tidak butuh alasan, bukan?"


Perkataan gadis berusia 13 tahun itu membuat Anya tergelak. Dari mana ia dapat kata-kata dewasa seperti itu.


"Sok tahu sekali kau," kekehnya.


"Eh, tentu aku tahu. Papa sering sekali mengatakan hal tersebut pada Mama di depan kami." Mereka tertawa bersama.


"Kapan Kakak ingin memberitahu Kak X?" tanya Callista penasaran. Anya terdiam. Matanya kembali memandangi laki-laki yang sedang fokus dengan console game di tangannya.

__ADS_1


Bertahun-tahun mereka saling mengenal, Anya tahu betul Axton tak pernah menganggapnya lebih dari seorang adik. Apa lagi, sikapnya yang dingin membuat Anya yakin bahwa tak ada peluang baginya untuk menyatakan perasaan pada Axton. Lagi pula, ia tak ingin menghancurkan ikatan yang mereka bangun selama ini, jika Axton tahu bahwa ia menganggap dirinya lebih dari seorang Kakak.


***


"Breaking News! Sebuah pesawat Gxxxxx Ixxxxxxxx boeing 777-xxx dengan nomor penerbangan GA XXX mengalami hilang kontak hari ini pada pukul 12.55 WIB, setelah 30 menit mengudara. "


"Pesawat dengan penumpang berjumlah 178 orang dan 12 awak kabin tersebut lepas landas pada pukul 12.25 WIB dan di jadwalkan akan sampai pada pukul 19.45 WIB di Bandar Udara Internasional Haneda, Jepang."


"Hingga berita ini diturunkan, belum didapat informasi perihal dimana titik lokasi pesawat tersebut hilang kontak."


Praaang!


Bu Rastini menjatuhkan nampan yang ia bawa. Jantungnya seperti jatuh dari tempat mendengar berita tersebut. Nomor pesawat itu sama persis dengan pesawat yang ditumpangi kedua majikannya.


Duugg!


Bu Rastini menoleh, beberapa orang pelayan segera berlarian menghampiri Anya yang tidak sadarkan diri. Gadis itu ternyata berdiri di belakang Bu Rastini dan ikut melihat berita itu.


***


Selepas kembali dari pemakaman, Anya mengurung diri di kamarnya. Gadis itu menghabiskan waktu berhari-hari di dalam kamar tanpa keluar sama sekali.


Beberapa hari kemudian, Elang, Kakak satu Ayah dengannya datang bersama sang Ibu. Pria muda itu mengusir Anya dari rumah dan mengambil alih seluruh perusahaan sang Ayah dan juga asuransi kedua orangtuanya. Anya tak punya pilihan, sebab berada di sana pun ia tak akan sanggup menjalani hidupnya seperti dulu. Dia juga tidak akan mampu mengurus perusahaan sang Ayah karena usianya masih terlalu muda.


"Anya tinggal sama Ibu saja di kampung, ya?" tawar Bu Rastini. Kebaikan hati keluarga Anya membuat Bu Rastini berniat mengurus Anya yang kini sebatang kara.


Anya menyetujui tawaran Bu Rastini. Dengan membawa seluruh tabungan yang dia punya, sebuah mobil dan juga buku tabungan milik sang Ibu yang memang diberikan padanya, Anya dan Bu Rastini pulang ke kampung halaman wanita itu dan memulai hidup baru di sana.


***


Axton berlari ke arah bath up lalu mengangkat Anya yang sudah tidak sadarkan diri. Bibir dan ujung-ujung jari wanita itu membiru, sedangkan tubuh polosnya sudah sedingin es.


"Ambilkan handuk, selimut atau apapun, cepat!" teriak Axton pada Bi Rahmi yang langsung berlari meninggalkannya.


Tak butuh waktu lama, Bi Rahmi datang membawa tumpukan selimut dan memberikannya pada Axton. Pria itu langsung menutupi seluruh tubuh Anya lalu menggendongnya ke kamar.


Dia memerintahkan Bi Rahmi untuk mematikan AC dan juga menelepon dokter keluarga.


Seorang Dokter beserta beberapa perawat datang beberapa saat kemudian untuk memeriksakan keadaan Anya.


Mereka segera memberikan oksigen yang telah dilembabkan lewat selang hidung, untuk menghangatkan saluran pernapasan dan juga meningkatkan suhu tubuh Anya. Pemberian cairan infus pun diberikan setelah sebelumnya dihangatkan terlebih dahulu.


Mereka juga melakukan operasi kecil untuk mengeluarkan pecahan-pecahan cangkir di telapak kaki Anya, sedang Bi Rahmi membantu memakaikan baju hangat padanya.


"Ya Allah, Bu," Wanita paruh baya itu menangis tersedu-sedu melihat keadaan majikan mudanya. Ia tak tahu apa yang telah terjadi pada mereka berdua, tetapi yang pasti, kejadian kali ini adalah kejadian terparah yang ia ketahui.


Wanita itu tidak berani membayangkan seberapa parah kejadian tersebut sampai membuat Anya menjadi demikian mengenaskan.


"Ibu Anya mengalami hipotermia ringan, suhu tubuhnya berada pada 35° celcius. Kami sudah melakukan pertolongan pertama, jika sampai dua jam kedepan suhu tubuhnya belum juga naik, tolong segera bawa ke rumah sakit agar bisa diberi tindakan secepatnya."


Axton mengangguk dan berterima kasih.


Setelah Dokter dan para perawat pergi, ia menyuruh Bi Rahmi untuk mengambil libur hari ini.


"Tolong, biarkan saya ikut merawat Ibu, Pak," pinta Bi Rahmi. Ia tidak akan tenang di rumah jika tidak bisa memastikan sendiri kondisi Anya.

__ADS_1


Axton menyetujuinya. Pria itu meminta Bi Rahmi menemani Anya sementara ia pergi keluar untuk menebus obat.


__ADS_2