Cinta Anya Untuk X

Cinta Anya Untuk X
Amarah Axton


__ADS_3

Anya terkejut bukan kepalang. Ia tidak menyangka Axton datang ke sana dan melihat semuanya. Gadis itu sintak berteriak histeris kala Axton melancarkan tinjuannya pada Daffa. Ia segera bergegas menghampiri Daffa yang terduduk tak berdaya di atas rumput. Darah segar mengalir dari sudut bibir pria itu.


Orang-orang yang tengah berada di sana berbondong-bondong datang untuk melihat kejadian tersebut. Namun Joseph dan Ian melarang mereka, dengan mengatakan bahwa itu hanyalah urusan sepele. Bisa runyam jika mereka mengenali wajah Axton.


Axton mendecih. Dadanya terasa sangat panas tatkala melihat Anya malah menghampiri pria itu, alih-alih menenangkan dirinya.


"Jadi inilah yang kau lakukan selama ini di belakangku? Besar sekali nyalimu bermain dengan seorang pria di ruangan terbuka!" sahut Axton penuh amarah.


Anya menggelengkan kepalanya kuat-kuat, "Ini tidak seperti yang Kakak lihat!" serunya meyakinkan. Air mata sudah mengalir deras membasahi pipi gadis itu.


"Pembohong yang handal! ****** sepertimu memang harus diberi pelajaran!" Axton menarik tangan Anya kasar, tak peduli Anya berteriak mengaduh kesakitan.


Daffa segera berdiri dan menahan tangan Anya. Dia tidak habis pikir, bagaimana bisa Axton sekasar itu pada istrinya sendiri, padahal jelas-jelas disini dia lah yang bersalah.


"Hei! Jangan kasar pada istrimu," ujar Daffa seraya mengeratkan pegangannya pada Anya.


Axton menoleh melihat pergelangan tangan Anya yang tengah digenggam oleh Daffa.


Axton meradang. Tingkah mereka seolah seperti ia yang sedang berbuat jahat. Pria itu melepas tangan Anya kasar lalu menarik kerah kemeja Daffa kembali. "Dia istriku! Aku punya hak atas dirinya, jadi jangan berani-berani kau ikut campur rumah tanggaku atau aku akan membunuhmu!" ancam Axton.


Daffa balas memandang Axton bengis. Dari caranya memperlakukan Anya, Daffa bisa menilai bagaimana kehidupan rumah tangga mereka. Perasaan curiganya ternyata adalah sebuah kebenaran. Dia jadi tidak rela melepaskan Anya begitu saja.


"Jika kau mencoba menyakitinya walau hanya seujung kuku, aku akan datang merebutnya darimu!" seru Daffa sembari melepas cengkraman tangan Axton pada kerah kemejanya.


"Coba saja jika kau mau aku menghabisimu!" setelah berkata demikian, Axton segera menarik tangan Anya dan menyeretnya ke mobil. Pria itu merebut kunci mobil yang tergantung di saku kemeja Joseph dan meninggalkan keduanya di sana.


Axton melempar tubuh Anya di kursi depan.


Daffa berjalan sempoyongan menuju mobilnya. Pria itu berkali-kali meninju stir mobil sembari mengumpat, hingga tangannya lebam.

__ADS_1


Daffa kenal orang itu. Dia adalah X, model terkenal yang sekarang tengah naik daun. Dia juga sangat mengenal keluarga Caldwell. Keluarga Caldwell adalah salah satu penyokong terbesar Perusahaan keluarganya. Dia tidak menyangka Suami Anya adalah orang berpengaruh.


Daffa mencoba menelepon Anya. Pria itu lebih mengkhawatirkan Anya ketimbang dirinya sendiri. Dia takut akan terjadi sesuatu pada gadis itu.


Drrt ... drrt ...


Drrt ... drrt ...


Suara getaran ponsel Anya terdengar. Axton mengambil paksa ponselnya guna melihat siapa yang menelepon.


Dadanya kembali panas saat melihat nama Daffa yang tertera di layar ponsel Anya. Dengan sekali gerakan, Axton segera membuka jendela mobil dan membuang ponsel tersebut ke jalan.


"Kak!" Anya berteriak histeris sembari menangis sesenggukan.


"Kau menangisi ponselmu atau pria brengsek itu, hah?"


Anya gemetar ketakutan. Sepanjang perjalanan gadis itu hanya bisa menangis dan menangis.


"Katakan padaku, sudah berapa lama kalian bermain di belakangku?" tanya Axton penuh emosi. Ia berjongkok menatap tajam Anya yang terduduk ketakutan lantai. Tubuhnya tidak berhenti gemetar.


"I–ini tidak se–seperti yang Kakak pikirkan." Jawab Anya terbata-bata.


"Memang apa yang dipikirkan seorang Suami ketika mendapati Istrinya bercumbu dengan pria lain, hah?" tanya Axton sinis. Tangannya tiba-tiba bergerak, merobek baju Anya hingga membuat belahan dada gadis itu sedikit terbuka.


"Katakan padaku, bagian mana yang sudah disentuh oleh si brengsek itu, hah? KATAKAN!" Axton berteriak bak orang kesetanan.


Anya berusaha menutupi bagian tubuhnya yang terbuka dengan kedua tangannya. Mulutnya terus saja berkata, bahwa yang Axton lihat hanya kesalahpahaman belaka.


Axton tidak mau mendengarkan. Setiap Anya mencoba menjelaskan, pria itu akan menampar wajahnya sembari mengumpat dengan kata-kata kotor.

__ADS_1


Axton mencengkram rahang Anya. Ia memasang wajah iblis yang belum pernah Anya lihat. "Ingat, gadis sial! Hanya aku yang boleh melakukan apapun padamu, HANYA AKU! Sedangkan kau ... kau tidak diperkenankan melakukan sesuatu yang tidak aku suka!"


Pria itu kemudian menjambak rambut Anya dan menyeretnya ke lantai atas. Tak peduli Anya harus terjatuh bangun dan membentur anak tangga akibat ulahnya.


Dia membawa Anya ke kamar mandi dan mengguyur tubuh Anya dengan air dingin sebanyak mungkin.


Setelah puas menyiksa gadis itu, Axton pergi meninggalkannya begitu saja. Dibiarkannya Anya menggigil kedinginan di lantai kamar mandi dengan kondisi basah kuyup.


Anya tergeletak begitu saja di kamar mandi. Dia terdiam tanpa suara dengan pandangan mata yang telah kosong. Hanya gemetar tubuhnya sajalah yang menandakan bahwa ia masih dalam kondisi sadar.


Anya ingin bangkit dan keluar dari sana, namun untuk menggerakan satu jarinya saja ia tidak memiliki tenaga sama sekali.


Bayangan wajah kedua orang tua kandungnya, beserta Ibu angkatnya hadir di depan mata Anya.


Gadis itu berusaha mengangkat tangannya guna menggapai wajah-wajah yang amat ia rindukan.


"Anya ... ikut," ucapnya dengan suara nyaris tak terdengar. Tubuhnya berhenti gemetaran. Kesadarannya perlahan menghilang.


Keesokan paginya, Anya ditemukan oleh Bi Rahmi. Wanita itu terkejut dan menangis sejadi-jadinya saat mengetahui kondisi Anya yang amat mengenaskan. Dengan susah payah Bi Rahmi membopong Anya ke atas tempat tidur. Dia menggantikan baju Anya yang sudah setengah mengering dan menyelimuti tubuh pucat itu dengan selimut tebal berlapis-lapis. Tak lupa, Bi Rahmi juga mematikan AC di kamar itu.


"Bu, kenapa jadi begini, Bu? Ya Allah!" tangis Bi Rahmi kembali pecah ketika mendapati ada banyak lebam tercetak sempurna di beberapa bagian tubuh Anya.


Gadis itu belum sadarkan diri. Bi Rahmi bingung harus melakukan apa? Bolehkah ia menghubungi Callista atau kedua adik Anya? Tetapi jika ia sampai menghubungi mereka, pasti masalah akan menjadi bertambah besar. Namun jika ia tidak segera menghubungi seseorang, keadaan Anya bisa jadi akan semakin memburuk.


Setelah berpikir matang-matang, Bu Rahmi memilih untuk menelepon Callista. Baru saja ia mencari kontak Callista di ponselnya, Anya sudah membuka kedua matanya.


"Jangan hubungi siapapun Bi, aku mohon," pinta Anya dengan suara lemah.


Bi Rahmi mengantongi ponselnya kembali lalu memeluk Anya. "Iya, Bu, iya. Ya Allah, alhamdulilah, ya Allah!" sahut wanita paruh baya itu penuh syukur.

__ADS_1


"Temani aku hari ini ya, Bi?" setetes air mata jatuh dari sudut mata Anya.


Bi Rahmi kontan mengangguk, mendengar permintaan Anya. Tidak perlu dimintapun, dia sudah pasti akan menemani Anya di sini.


__ADS_2