
Dia adalah Dania Tjokro Hadiningrat, Ibu dari Elang, mantan istri Ayahnya, sebelum menikah dengan Ibu kandungnya.
Wanita berkulit sawo matang itu memeluk Anya singkat. "Kau sedang hamil, Anya? Kapan menikah? Bunda kok tidak dikabari? Mana suamimu?" Dania memberondong Anya dengan berbagai macam pertanyaan. Dia memang sudah menganggap Anya sebagai anaknya sendiri, meski hubungan mereka tidak sedekat itu. Setidaknya, dia tidak memperlakukan Anya seperti Elang.
Baru saja Anya akan membuka suaranya, tiba-tiba seseorang datang menginterupsi. "Mbak Anya," sapa Bude Jum, pemilik sekaligus pengelola Panti Asuhan Kasih.
Anya membelalak. Bukan pada kehadiran Bude Jum, melainkan pada seseorang yang berdiri di sebelahnya. Pria bertubuh tinggi besar, Kakak satu Ayahnya, Elang.
Jantung Anya berdegup kencang. Tangannya mulai terasa dingin. Wanita itu menunduk ketakutan.
Elang mengerutkan dahinya. Ia memandang Anya, menelisiknya dari atas ke bawah sebelum tersentak kaget.
"Pak Elang, Bu Dania, kenalkan ini warga baru kami, Savanna. Dia adalah salah satu warga yang rajin memberi makan siang pada anak-anak Panti setiap hari jum'at."
Bude Jum mengalihkan pandangannya pada Anya. "Anya, mereka adalah Donatur terbesar Panti Asuhan ini,"
Anya mematung. Tubuhnya nyaris tak dapat digerakan.
"Anya," Dian datang menghampiri Anya dan memegang pundaknya.
"A–iya,"
"Kami sudah saling mengenal." Suara Elang yang sedikit serak membuat Anya menelan salivanya.
"Benarkah? Kebetulan sekali. Maaf, kalau boleh tahu, hubungan kalian dengan Anya a–" Bu Jum tak sempat menyelesaikan pertanyaannya karena Anya sudah memotong.
"Majikan Ibu saya dulu adalah Ibu Dania dan Bapak Elang, Bude."
Dania tersentak. Ia hendak protes tetapi Anya memberi isyarat lewat senyumannya.
"Sudah lama sekali, Bu, Pak," Anya membungkukan badannya dalam-dalam. Tangannya terulur mencium tangan Dania, lalu beralih pada tangan Elang.
Tesss!
Setetes airmata jatuh di punggung tangan Elang.
__ADS_1
"Ahh, maaf Pak, tangan Bapak jadi kotor!" pekik Anya. Dia buru-buru mengelap punggung tangan Elang menggunakan ujung baju lengan panjangnya.
"Maaf, akhir-akhir ini mood saya sedikit sensitif. Terlalu senang bertemu dengan seseorang yang saya kenal di sini membuat saya terharu." Kata Anya sembari mengusap airmatanya.
"Kalau begitu saya permisi pulang dulu, ingin istirahat." Anya menoleh ke arah Bude Jam. "Maaf ya Bude,"
"Tidak apa, Anya. Bude panggil Pak Tris dulu supaya mengantarmu. Sebentar,"
"Tidak perlu Bude, jaraknya kan tidak terlalu jauh. Permisi," Anya bergegas pergi dari sana, mengabaikan panggilan Bude Jum dan Dian.
Elang hanya memandang punggung Anya yang kian lama kian menjauh dengan tatapan tak terbaca.
Di sepanjang perjalanan, Anya menangis sesenggukan. Selama ini ia selalu hidup sendirian, jadi, rasanya bahagia sekali bisa bertemu seseorang yang memang satu darah dengannya. Ia rindu sekaligus takut pada Elang.
Sejak dulu, ia memang selalu takut pada pria itu. Dulu, saat dia masih duduk di bangku taman kanak-kanak, Ibunya memberitahu, jika dia sebenarnya memiliki Kakak laki-laki yang usianya terpaut tujuh tahun di atasnya.
Hatinya senang bukan main. Hampir setiap malam Anya akan selalu bertanya pada kedua orang tuanya, kapan mereka akan dipertemukan. Sebab Anya ingin memamerkan Kakaknya tersebut pada seluruh teman-temannya. Karena selama ini dia iri melihat teman-temannya memiliki saudara, tidak seperti dirinya.
Ketika akhirnya Sigit, sang Ayah, mengajak Anya bertandang ke rumah Dania. Gadis kecil itu sudah membayangkan hal apa saja yang akan ia lakukan bersama sang Kakak. Dia juga sudah menyiapkan setangkai bunga matahari yang diletakan di dalam pot gerabah hasil kerja kerasnya, untuk Elang.
Kendati ketakutan, Anya berusaha tidak menangis. Ia malah tertawa dan berkata, bahwa pot bunga tersebut memang sebaiknya dibuang karena bentuknya yang tidak simetris dan jelek.
Anya tidak menyerah. Dia akan selalu minta ikut kala Ayahnya pergi menemui Elang. Gadis kecil itu berusaha mendekatinya, menemaninya bermain atau mengajaknya bicara. Namun Elang tetap saja membenci Anya. Laki-laki muda itu bahkan tak segan-segan menyakitinya.
Sampai pada suatu hari, seperti biasa, Anya kembali datang berkunjung bersama sang Ayah demi menemui Elang. Kali ini Elang tidak menolak kehadiran sang adik, ia mengajak Anya bermain di bukit belakang rumahnya.
Anya senang bukan kepalang. Hasil jerih payahnya selama ini membuahkan hasil. Ia kini bisa dekat dengan sang Kakak.
"Kita mau main apa, Mas?" tanya Anya riang. Tangannya enggan melepas tangan Elang.
"Ikut saja," Elang membawanya jauh ke dalam bukit.
Tak berapa lama, mereka berhenti di salah satu punggung bukit tertinggi dari tiga bukit yang ada. Elang melepas tangan Anya.
"Jadi, kita mau main apa?" Anya tersenyum antusias.
__ADS_1
Bukannya menjawab Elang malah memandang Anya tajam. Begitu menusuk. Membuat Anya tiba-tiba merasa ketakutan.
"Kau adalah pengganggu! Kau adalah pendosa!" seru Elang dingin.
"Anya tidak mengerti kata-kata Mas Elang," ujarnya ketakutan. Tangannya menggapai tangan Elang, namun Elang menepisnya kasar.
"Dosamu adalah merebut Ayahku. Seperti Ibumu yang merebutnya dari Ibuku. Ayahku hanya boleh memiliki satu anak, yaitu: AKU!" setelah berkata demikian, Elang seketika mendorong Anya hingga jatuh menggelundung dari puncak bukit. Walau bukit itu hanyalah hamparan luas tanpa pohon, tetap saja berbahaya bagi seorang anak kecil yang usianya belum genap lima tahun.
Elang masih berada di sana selama beberapa saat sebelum akhirnya pergi. Dan Anya baru berhenti berguling ketika tubuh kecilnya membentur sebongkah batu.
Ketika sampai di rumah, laki-laki berusia 11 tahun itu dengan jujur mengatakan, bahwa ia telah mendorong Anya dari puncak bukit kepada Dania dan Sigit.
Sigit dan Dania kontan berlari dibantu beberapa Petugas Keamanan.
Anya ditemukan dalam kondisi tidak sadarkan diri. Dia dirawat selama hampir tiga bulan, sebab tulang rusuk keempatnya patah.
Sejak saat itu, Anya berhenti menemui Elang.
Lalu bagaimana perasaan Anya setelah kejadian nahas tersebut?
Dia memaafkan Elang. Anya tetap menganggapnya seorang Kakak. Meski ia hanya bisa memerhatikannya dari jauh, diam-diam memberikan kotak bekal lewat seseorang, atau membelikannya kado tanpa nama. Baginya, Elang tetaplah keluarga tercinta. Elang memiliki alasan tersendiri perihal kebenciannya dan Anya tidak bisa mencegah itu.
Bahkan, ketika Elang mengusirnya dari rumah dan mengambil seluruh harta sang Ayah, Anya tetap tak merubah perasaannya. Ia menyayangi Elang. Menurutnya, Elang memang pantas mendapatkan itu semua. Lagi pula ia tidak mengerti bagaimana caranya mengelola Perusahaan.
Sesampainya di rumah, Anya segera pergi ke dapur untuk mencuci wajahnya yang berantakan. Wanita itu berkali-kali menarik napas dan menghembuskannya, mencoba meredam degup jantungnya yang menggila.
Dia harap, Bude Jum atau siapapun yang mengenal dirinya, tidak memberikan alamat rumahnya pada Dania maupun Elang.
...***...
Dania menangis setelah mendengar penjelasan Bu Ida. Rupanya Bude Jum memberitahu Bu Ida perihal Dania dan Elang. Kebetulan Bu Ida ikut membantu di Panti.
Dania tak menyangka hidup Anya semenyedihkan ini. Harus tinggal seorang diri dalam keadaan hamil merupakan hal terberat bagi seorang wanita. Terlebih, suaminya adalah seorang TKI yang entah kapan bisa pulang.
Dania pikir, hidup gadis itu jadi jauh lebih baik ketika tinggal bersama Bu Rastini. Dulu, beberapa kali Dania mencoba memastikan keadaan Anya di tempat Bu Rastini, tetapi selalu saja ketahuan Elang. Pria itu akan langsung marah dan mengamuk padanya.
__ADS_1
Rasa bersalah benar-benar menggerogoti Dania. Dia merasa, seperti telah hidup di atas penderitaan Anya.