Cinta Anya Untuk X

Cinta Anya Untuk X
Kepergian Anya (2)


__ADS_3

Anya tengah sibuk membereskan pakaiannya ke dalam koper. Ia juga mengambil beberapa pakaian lamanya yang masih tersimpan apik di dalam lemari.


Hari ini, Anya berencana pergi ke Kota M. Dia sudah bertekad akan hidup mandiri di kota tersebut, seraya melupakan semua kepahitan yang ia alami selama satu tahun terakhir ini.


Semula, ia merasa tak yakin dapat hidup sendirian di sana. Wanita itu tidak memiliki pengalaman apapun soal perantauan. Sebelum kedua orang tuanya meninggal, Anya hidup bergelimang harta di rumah megahnya. Dia tak pernah menginjakan kaki keluar dari rumah tanpa ditemani seseorang. Setelah tinggal bersama Bu Rastini pun, Anya tidak pernah pergi sendirian. Ada Jagat dan Kinanti yang selalu senantiasa menemani dirinya.


Tapi kali ini ia bertekad menanggung semua beban sendirian sebagai bentuk tanggung jawab. Anya tak ingin melibatkan Jagat dan Kinanti. Kehidupan mereka sejatinya berada di sini, berbeda dengannya yang tak lagi memiliki kehidupan, sejak kedua orang tuanya meninggal.


Toh, tempat yang ia tuju juga tidak terlalu jauh, hanya berjarak sekitar dua sampai empat jam dari sini. Terlebih, wanita itu tidak sepenuhnya tinggal sendiri. Orang tua dari teman kuliah Jagat memiliki usaha kontrakan di daerah tersebut. Dan Jagat sudah menghubungi mereka guna memberitahukan kedatangan Anya.


Wanita itu menatap perutnya yang kini sedikit menonjol. Dia juga sengaja menyembunyikan kehamilannya dari Kinanti dan Jagat. Anya baru akan memberitahu keduanya, ketika ia sampai di kota tersebut. Mencegah agar Kinanti dan Jagat melarangnya pergi.


"Sehat-sehat ya, Nak," ucapnya tersenyum, sembari mengelus perutnya.


"Mbak, ini permen jahenya," Kinanti masuk tanpa permisi ke dalam kamar, membuat Anya panik dan kembali sibuk memasukan pakaiannya ke koper.


"Terima kasih," ucapnya seraya menerima tiga toples permen jahe yang dibeli sang adik.


"Mbak benar hanya masuk angin biasa? Atau mau aku panggil tukang urut dulu?" tanya gadis itu. Dia menatap sang Kakak perihatin, pasalnya sedari pagi, Anya memuntahkan seluruh makanan yang ia makan. Wanita itu baru berhenti muntah ketika mengunyah permen jahe. Maka dari itu, Kinanti diminta membeli banyak permen jahe untuk stok Anya.


"Lambung Mbak memang sedang bermasalah, tapi bukan masalah serius," ujarnya berbohong.


Kinanti memicingkan matanya, mencari-cari kebohongan di mata sang Kakak.


"Mbak sudah siap? Mobil travel akan datang sebentar lagi," Jagat berdiri di ambang pintu kamar.


Diam-diam Anya menghela napas lega akan kehadiran Jagat yang menginterupsi obrolan mereka.


"Ayo," ajak Anya setelah memasukan toples-toples permen jahe tersebut ke dalam koper.


Baru saja mereka hendak pergi keluar, suara dua orang pria yang sangat dikenal Anya tiba-tiba terdengar.


Anya membelalakan matanya. Ia panik setengah mati mengetahui Axton dan Ian datang menyusulnya ke sini. Anya meminta Kinanti dan Jagat keluar untuk menemui mereka, sementara ia akan bersembunyi di halaman belakang. Wanita itu akan menyusup keluar lewat pintu dapur.


Kinanti dan Jagat membukakan pintu rumah dan menyambut keduanya.


Tanpa senyum ramah atau uluran tangan dari mereka membuat Axton yakin, sedikit banyak, mereka mengetahui sesuatu.


"Ada apa, Kak?" tanya Jagat dingin.

__ADS_1


"Kakak kalian ada di sini, kan?" tanya Axton ramah, berusaha tak memperlihatkan raut kesedihannya ditatap bak seorang musuh oleh kedua adik iparnya sendiri.


"Tidak ada. Memang ke mana Mbak Anya? Bukankah ia tinggal dengan Kakak?" Jagat balik bertanya.


Axton terdiam mematung.


"Bukankah kalian sudah tahu dari Mbak Anya sendiri?" Ian mengambil suara.


"Kapan?" kali ini Kinanti balik bertanya.


Anya mengendap-endap keluar dari rumah menuju halaman belakang. Ia berniat mengintip Axton dan Ian dari samping rumahnya.


"Sebaiknya Kakak pulang, kami akan pergi ke kampus," Jagat mengusir Axton secara halus.


Bukannya pergi, Axton malah merangsek masuk ke dalam rumah. Pria itu berteriak memanggil-manggil Anya seraya menjelajahi seluruh ruangan. Memastikan keberadaan sang istri.


Anya mengintip dari luar jendela kamarnya. Wanita itu dapat melihat dengan jelas kala Axton berusaha masuk ke dalam kamarnya.


"Sudah kubilang tak ada siapapun!" Jagat menghardik Axton seraya menyeret pria itu keluar. Tinggi tubuhnya yang tidak terlalu jauh dari Axton memudahkan Jagat menyeret paksa Kakak iparnya itu.


Krees!


Langkahnya Axton terhenti kala ia merasa telah menginjak sesuatu di lantai. Dia membungkukan tubuhnya untuk mengambil benda tersebut.


Jagat berdecak kesal.


"Tolong beritahu aku, ke mana Anya," meski suaranya sedikit lantang, namun mata pria itu memancarkan kesedihan.


Jagat melirik Kinanti. Gadis itu menggelengkan kepala.


"Mbak Anya hanya datang sekali kemarin, setelah itu dia pergi lagi entah kemana. Dia bilang akan mengabari kami nanti. Jadi percuma saja Kakak memaksa kami memberitahu, karena kamipun tidak tahu keberadaannya sekarang," ujar Kinanti berbohong.


Axton menunduk, ia meremas bungkusan permen tersebut. "Baiklah. Tolong beritahu aku, jika dia memberi kabar." Tanpa menunggu jawaban dari kedua adik iparnya, Axton berjalan meninggalkan rumah bersama Ian.


Beberapa saat kemudian, mobil mereka terdengar menjauh dari sana.


Kinanti kontan jatuh terduduk di lantai. Jantungnya berdegup kencang seolah-olah ia sedang menghadapi bahaya. Anya muncul dari pintu depan dan berlari memeluk keduanya.


"Maafkan Mbak," ucapnya pada sang adik.

__ADS_1


...***...


Di sepanjang perjalanan pulang, Axton hanya berdiam diri. Mata pria itu memandang kosong ke arah jendela mobil. Ian menatapnya perihatin sekaligus bimbang. Ada sesuatu yang sebenarnya sedang ia pikirkan sejak kepergian Anya.


Ia merasa, kepergian Anya ada sangkut pautnya dengan obrolan mereka beberapa waktu lalu, saat ia mengantar Axton pulang dalam keadaan mabuk. Dan Ian, merasa bertanggung jawab akan hal itu.


"X," panggil Ian pelan. Axton tak menghiraukan panggilan tersebut.


"X, aku ingin bicara soal Anya," Ian mencoba menarik perhatian Axton. Pria itu hanya melirik sedikit lalu mengalihkan pandangannya lagi ke depan.


Ian menghembuskan napasnya sebelum menghentikan mobil yang mereka sewa di pinggir jalan. Ian sudah siap jika Axton mengamuk setelah mendengar penjelasannya.


"Aku memberitahu Anya alasan dibalik surat perjanjian yang kau buat. Semuanya. Dari soal rencanamu berkarir di Paris bersama Hana. Kukatakan, itu adalah rencana impianmu sejak lama. Lalu alasan lain Ayahmu yang tidak diketahuinya, yaitu, pernikahan kalian guna mencegah hubunganmu dengan Hana. Maka dari itu, kupikir, keputusan Anya memilih pergi bukan hanya karena surat perjanjian tersebut, melainkan apa yang ia ketahui dibaliknya. Ia tak ingin menghalangi mimpimu." Ian menjelaskan panjang lebar. Axton terkejut bukan main. Tubuhnya terasa kaku, tak mampu bergerak.


"Maafkan, aku," Pria itu menundukan kepalanya.


Mendengar permintaan maaf Ian, Axton segera tersadar. Dengan cepat pria itu keluar dari mobil dan membuka kasar pintu bagian Ian.


Begitu Ian terjatuh di aspal, Axton langsung menghajarnya bertubi-tubi. Ian tidak melawan atau menghindar. Ia mengakui dirinya terlalu ikut campur.


Axton baru berhenti menhajarnya tatkala Ian sudah terlihat kepayahan. Bibir dan mata pria itu membiru. Darah juga keluar dari sudut bibirnya.


"Kau bedebah, Ian! Bedebah!" umpat Axton.


"Aaaarrrghhh!" Axton berteriak sembari menendang pintu mobil. Dia lalu menghentikan taksi yang lewat dan pergi meninggalkan Ian begitu saja.


...***...


"Segera kabari kami jika kalian sudah bertemu ya, Mbak?" Kinanti dan Jagat bergantian memeluk Anya.


Anya membalas pelukan mereka. "Iya. Kalian jaga diri baik-baik ya? Mbak akan sering-sering mengunjungi kalian,"


Anya naik ke dalam mobil travel dan duduk tepat di samping jendela. Kinanti dan Jagat melambaikan tangannya.


Supir pun segera menjalankan mobilnya.


Anya memejamkan mata sejenak, lalu menarik napasnya beberapa kali. Ia sudah siap menghadapi hidup baru yang mungkin akan lebih berat, sebab harus tinggal seorang diri.


Tidak! Ia tidak sendirian.

__ADS_1


Anya mengelus perutnya penuh kasih sayang. Ada bayinya yang akan menemani. Anya optimis hidupnya akan lebih bahagia bersama sang anak.


"Ibu sangat menyayangimu,"


__ADS_2