
Anya membantu Mbok Sum memotong-motong semangka di dapur, lalu membawanya ke ruang tamu sebagai pencuci mulut.
"Silahkan Pak Elang, Pak Kevin," Anya meletakan sepiring semangka dingin tersebut di hadapan mereka. Ruang tamu sudah sepi dari anak-anak Panti, sebab selepas makan dan sholat, mereka harus tidur siang.
"Kevin saja, Nyo–"
"Anya saja," potong Anya.
Mulut Kevin sontak terkatup. Ia ragu menyebut nama Anya secara langsung.
Anya terseenyum maklum. Dia tampaknya mengerti akan keraguan Kevin, Pria itu pasti sudah tahu banyak perihal dirinya.
"Anya," Anya tertawa kecil mendengar Kevin akhirnya mau menyebut namanya.
Bude Jum, Bu Ida dan Bimo bergabung bersama mereka untuk berbincang-bincang. Sebenarnya hanya Bude Jum, Bu Ida dan Kevin saja yang lebih banyak bicara sementara Bimo sibuk dengan ponselnya, sedangkan Anya dan Elang hanya sesekali menanggapi.
Menjelang sore hari Elang dan Kevin pamit pulang. Mendung mendadak menghiasi wajah Anya. Meskipun mereka tidak saling berkomunikasi secara langsung, namun Anya tetap senang dengan keberadaan sang Kakak. Dia juga sudah tidak setakut saat awal bertemu tadi.
"Sering-seringlah mampir ke sini sebelum pulang ke Jakarta ya, Pak?" ujar Bude Jum.
"Jika sempat saya akan datang kemari. Sampaikan salam saya untuk anak-anak," Elang menyalami satu persatu orang di sana.
Tiba giliran Anya. Ia pikir Elang juga akan menyalaminya seperti yang lain, namun ternyata tidak. Pria itu hanya menyentuh sedikit ujung tangan Anya sebelum menariknya kembali.
Hati Anya mencelos. Untung saja posisi berdirinya berada di depan, jadi tidak ada satupun yang melihat hal itu selain Kevin yang memang berdiri di sebelah Elang.
Anya tetap menahan bibirnya agar tetap tersungging manis. Bertahun-tahun Elang membenci dirinya, sudah pasti tak akan semudah itu ia menerima Anya.
"Hati-hati, Pak Elang, Kevin," hanya Kevin yang menjawab pesan Anya. Mereka menunggu hingga keduanya pergi sebelum ikut pamit pulang juga.
Sesampainya di rumah, Anya terduduk di sofa sembari memegang dadanya yang terasa nyeri. Matanya telah berjaca-kaca tetapi ia menahan diri agar tidak menangis.
Dia sudah hafal perlakuan Elang sejak dulu, jadi seharusnya ia tidak boleh sakit hati. Beruntung Elang hanya memperlakukannya seperti tadi.
Kendati begitu airmata tetap saja berhasil menerobis pertahanan Anya. Entahlah, siapa yang ia tangisi sebenarnya, Sikap Elang atau kondisi kesehatan Axton.
Pikirannya tiba-tiba teralih pada ayah dari bayinya. Jujur, Anya mengkhawatirkan Axton. Apa yang membuat pria itu sakit? Apakah makannya teratur? Apa ia rutin memeriksakan kesehatannya ke dokter?
...*...
"Pak, wanita hamil harus menjaga emosinya agar tetap stabil," ucap Kevin tiba-tiba. Matanya melirik pada kaca spion tengah, menatap pantulan Elang dari sana.
Elang memandang jalanan dari balik jendela mobil, Meski matanya fokus melihat sekitar, tetapi isi kepalanya tidak sedang berada ditempat.
"Aku tahu." Jawabnya sembari termenung.
...*...
Anya duduk bersimpuh di depan sebuah nakas kecil dalam kamarnya. Wanita itu mengambil ponsel lamanya yang sudah beberapa bulan ini sengaja dia matikan. Selama tinggal di sana, Anya membeli ponsel dan nomor baru agar bisa tetap berkomunikasi dengan kedua adiknya tanpa masalah.
Anya beranjak menuju ruang televisi. Ponselnya mati total, jadi dia harus mengisi daya terlebih dahulu.
Setelah menunggu kira-kira satu menit, Anya mulai menyalakan ponselnya.
Matanya membelalak mendapati ponselnya bergetar tanpa henti. Ia harus menunggu kira-kira tiga menit sampai ponselnya berhenti bergetar. Ada sekitar 774 panggilan tak terjawab dan 988 pesan masuk dari beberapa nomor yang ia kenal. Anya membukanya secara acak.
Dia membaca pesan dari Ian, Callista, Delia, Theresa dan Maxim juga. Bahkan, Daffa pun beberapa kali mengirim pesan ke ponselnya. Inti dari pesan mereka sama, yaitu menanyakan keberadaan dirinya. Anya lalu beralih pada pesan Axton yang paling banyak. Ada sekitar 521 pesan-pesan pendek yang dikirim pria itu.
Anya juga membukanya acak.
...21 Juni 20xx...
Axton❤ (+628xxxxxxxxx)
Kau di mana? Aku ingin bicara. Kutunggu di rumah.
^^^16.30^^^
Kenapa kau tak menjawab teleponku? Kau di mana? Jawab teleponku!
^^^16.34^^^
Jangan main-main denganku, Anya!
__ADS_1
^^^16.50^^^
Kenapa seluruh pakaianmu tak ada? Mau kemana kau?
Angkat teleponku, Anya!
^^^20.01^^^
ANYA! JANGAN MAIN-MAIN DENGANKU SIALAN!
^^^22.14^^^
...30 Juni 20xx...
Anya!
^^^00.01^^^
...2 Juli 20xx...
Jika kau memang ingin mengakhiri sesuai surat perjanjian kita, temui aku. Selama kau belum menemuiku, jangan berharap kau dapat bebas dari genggamanku. Aku tak akan pernah menggugatmu!
^^^14.21^^^
...17 Juli 20xx...
Anya, nyalakan ponselmu, angkat teleponku.
^^^12.31^^^
...18 Juli 20xx...
Nyalakan ponselmu, brengsek!
^^^17.11^^^
...5 Agustus 20xx...
Kau benar-benar wanita sialan! Apa yang kau bawa selain barang-barangmu hingga aku menjadi seperti ini, hah!
...19 Agustus 20xx...
Anya ....
^^^02.44^^^
Anya ....
^^^03.01^^^
...23 Agustus 20xx...
Anya, kumohon, nyalakan ponselmu sebentar saja.
^^^02.01^^^
...2 September 20xx...
Anya,
^^^18.21^^^
Aku merindukanmu.
^^^18.28^^^
Airmata Anya mengalir membasahi pipinya kala membaca pesan terbaru Axton. Itu adalah pesan sehari sebelum ia dirawat di rumah sakit hari ini.
Kedua tangan Anya kontan memeluk ponsel tersebut. Bibirnya merapalkan kata-kata penguat untuk diri dan bayinya.
Drrrt.. Drrrt!
Anya terperanjat kala ponselnya tiba-tiba bergetar.
__ADS_1
Nama Callista terpampang di layar ponsel. Gadis itu rupanya sering mengecek pesan yang dikirimkannya ke nomor Anya.
"Bagaimana ini?" batin Anya panik.
...***...
Senyum Callista merekah tatkala melihat pesan yang dikirim ke nomor Anya telah dibaca. Kakak Iparnya itu mengaktifkan ponselnya. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada, Callista keluar dari ruangan Axton untuk menghubungi Anya.
"Mau ke mana?" tanya Ian. Pria itu sedang mengupas buah apel untuk Axton yang baru saja terbangun dari tidurnya.
"Ada urusan." Jawab Callista cepat sembari berlari keluar ruangan.
Nada sambung segera terdengar. Anya benar-benar mengaktifkan teleponnya.
"Please, Mbak, please, angkat," gumam Callista.
"Assalamualaikum," suara Anya terdengar lembut dari balik telepon.
Callista nyaris memekik kegirangan sebelum menyadari tempatnya. "Waalaikumsalam, Mbak. Ini Mbak Anya, kan? Apa kabar, Mbak?" tanya gadis itu dengan nada tak sabaran.
"Mbak di mana?"
Anya tertawa merdu, "Mbak baik-baik saja. Mbak tidak kemana-mana. Bagaimana kabarmu, Papa dan Mama?" tanya Anya. Dia sengaja tidak menyebut nama Axton.
"Kami semua baik-baik saja. Papa dan Mama sudah pulang. Papa marah sekali mengetahui kepergianmu. Beliau juga sudah tahu perihal surat perjanjian yang Kak X buat. Seharusnya kau katakan padaku sejak awal, Mbak," ujar Callista panjang lebar.
Anya terdiam sejenak. "Sampaikan maaf Mbak pada Papa dan Mama. Katakan pada mereka Mbak sudah hidup dengan baik di sini," ucap Anya lirih.
"Di sini mana? Mbak di mana? Kak X sakit, Mbak. Setidaknya beritahu aku saja, Mbak tinggal di mana, aku berjanji akan merahasiakannya dari siapapun." Callista terdengar memelas.
"Nanti akan Mbak beritahu. Titip Kakakmu ya, Callis," ujar Anya. "Tolong jaga dia,"
"Tidak mau! Aku tidak mau menjaganya, itu bukan tugasku. Itu tugas Mbak!" pekik Callista marah.
"Maafkan Mbak," setelah berkata demikian, Anya menutup sambungan telepon secara sepihak.
"Mbak, halo? Mbak? Mbak Anya?"
"Ck! Sial," umpat Callista. Gadis itu berbalik untuk kembali masuk ke dalam ruangan Axton.
"Kak X?" Callista terkejut ketika mendapati Axton telah berdiri di ambang pintu ruangan sembari menatapnya tajam.
"Siapa itu?" tanyanya dingin.
Callista menghela napas pasrah. Rasanya percuma saja jika ia harus berbohong. "Ponsel Mbak Anya aktif, Kak, jadi aku berinisiatif meneleponnya tadi." Jawab Callista.
Axton segera merebut ponsel Callista dan kembali menelepon Anya. Namun ponsel wanita itu sudah tidak aktif.
"Sial!" Axton masuk ke dalam ruangan dan mengganti pakaiannya. Melihat itu, Ian menahan lengan Axton.
"Mau kemana kau?" tanya Ian.
"Waktuku terbuang di sini. Aku akan mencarinya dan menyeret wanita itu pulang!"
"Tidak bisa. Kau masih belum pulih benar."
"Persetan!" Axton memakai jaketnya asal dan bergegas pergi meninggalkan ruangan.
"X!"
"Kak!"
...***...
Maxim dan Theresa membeku mendengar penjelasan dokter Fransiska dan dokter Sandra. Bahkan Theresa sudah menangis tersedu-sedu. Rasa bersalah benar-benar menggulung-gulung benaknya.
Memasuki bulan ketiga Maxim belum juga menemukan Anya. Doni, orang kepercayaannya hanya mengetahui Anya pergi ke Kota lain. Mengikuti gerak-gerak kedua adiknya pun percuma. Mereka sama sekali tidak kemana-kemana selain hanya ke Kampus. Keduanya mungkin sudah menyadari, bahwa mereka sedang diawasi.
Tidak kehabisan akal, Maxim menemui Direktur Rumah Sakit tempat Anya check-up. Pria paruh baya itu menawarkan diri menjadi Donatur utama Rumah Sakit tersebut dengan satu syarat, ia diperbolehkan mengakses privasi pasien mereka, Savanna.
Butuh sedikit usaha bagi Maxim sebelum akhirnya Mr. Jhonson, Direktur Rumah Sakit tersebut menyetujuinya. Mereka pun dipertemukan dengan kedua dokter yang menangani Anya.
Maxim segera berdiri dari tempat duduknya seketika itu juga. Mereka berpamitan pada Mr. Jhonson dan kedua dokter tersebut.
__ADS_1
"Kita mau ke mana, Pa?" tanya Theresa setelah keluar dari ruangan Mr. Jhonson. Suara wanita itu terdengar serak karena banyak menangis.
"Menemui anak kesayanganmu untuk menghajarnya! Dia sudah membuat Menantu dan calon Cucuku menderita!"