
Bi Rahmi mengusap air matanya berulang kali. Wanita paruh baya itu menatap miris istri dari majikannya yang tengah tertidur pulas. Badan Anya sangat panas. Gadis itu juga sempat mengigau, menyebut-nyebut nama Ibunya berulang kali.
Hari ini sebenarnya bukan jadwal Bi Rahmi datang ke Apartemen Axton, tetapi kemarin Anya sudah memintanya untuk menemani gadis itu berbelanja mingguan.
Wanita itu pikir, dia akan kembali disambut dengan senyuman cerah Anya seperti biasa. Namun ternyata dia salah, Anya didapati tak sadarkan diri di dekat kursi makan. Dengan buru-buru Bi Rahmi segera menelepon Axton. Tak lupa ia juga memberitahu pria tersebut untuk menelepon ibu Anya, sebab gadis itu tidak mau berhenti menyebut-nyebut nama beliau.
Siang harinya Axton menelepon Bi Rahmi dan memerintahkan wanita tersebut untuk memindahkan Anya ke kamar tidurnya, beserta pakaian-pakaiannya.
Bi Rahmi segera mengerti, bahwa orangtua Anya mungkin akan segera datang. Wanita itu sudah tahu apa yang terjadi pada rumah tangga mereka, sebab beberapa kali Axton memerlakukan Anya kasar di depannya.
Semula Bi Rahmi ingin melaporkan kelakuan Axton pada Maxim, tetapi Anya memohon padanya dengan amat sangat untuk terus merahasiakan semua yang terjadi. Anya tidak ingin memperburuk kondisi Maxim yang akhir-akhir ini sedang sakit-sakitan. Maka, dengan terpaksa Bi Rahmi menuruti permintaan Anya.
Bi Rahmi kembali meletakan kompres di dahi Anya. Ia mengusap rambut gadis itu dengan lembut dan hati-hati.
Meski mereka belum terlalu lama saling mengenal, tetapi Bi Rahmi tahu betul, bahwa Anya memiliki hati yang sangat baik. Dia menyayangi gadis itu. Terlebih gadis itu sangat mengingatkannya pada almarhumah Rini, anaknya yang telah meninggal tiga tahun lalu.
"Maafkan Bibi yang tidak bisa berbuat apa-apa," tangis Bi Rahmi terdengar pilu.
Benar saja, malam harinya Bu Rastini dan Kinanti datang bersama Axton.
Setelah memberitahu kondisi Anya pada Bu Rastini, beliau langsung naik ke kamar Axton di lantai dua. "Ya Allah, Nak," wanita itu menatap Anya dari ujung kepala sampai ke ujung rambut. Ia kemudian memeluk Anya seerat mungkin.
Anya membuka matanya, "Ib–u," ucapnya lemah.
"Iya, Nak, ini Ibu,"
"Anya kangen Ibu dan adik-adik," katanya sembari mencoba bangun dari posisi tidurnya.
"Sudah, jangan memaksakan diri." Bu Rastini menahan tubuh Anya dan membaringkannya kembali.
"Ibu tahu semua dari Nak Axton. Seharusnya kau tak perlu memaksakan diri bekerja sampai sakit seperti ini." Bu Rastini mengambil alih tugas Bi Rahmi mengompres Anya.
Anya tidak menanggapi perkataan Bu Rastini. Kepalanya benar-benar terasa sakit.
Bi Rahmi menatap sedih Anya. Axton ternyata telah berbohong pada keluarga Anya. Ingin sekali wanita itu memberitahukan semua yang telah terjadi padanya, namun sudah pasti Axton tidak akan tinggal diam.
"Maafkan, Bibi," batinnya menangis.
...***...
__ADS_1
Menjelang tengah malam Bi Rahmi baru pergi meninggalkan Apartemen. Kini hanya tinggal Axton, serta Bu Rastini dan Kinanti yang menemani Anya di kamar.
"Apa harus malam-malam begini syutingnya, Nak?" tanya Bu Rastini khawatir. Pria itu menyuruh Bu Rastini dan Kinanti untuk tidur di kamarnya, karena mereka hanya memiliki satu kamar, sementara dia akan kembali syuting.
"Benar, Bu. Maafkan aku tidak bisa menemani Anya." Jawab Axton tersenyum.
"Baiklah, hati-hati dan jaga kesehatanmu, ya?"
"Iya, Bu," Axton pamit dan mencium tangan Bu Rastini. Dia juga mengelus rambut Kinanti, "anggap rumah Kakak, rumahmu juga, ya?"
Kinanti mengangguk senang.
Axton lalu berjalan menghampiri Anya yang tengah menunduk. Gadis itu tidak berani menatap Axton. Wajah bengis Axton masih terngiang-ngiang di benaknya.
Anya kontan terbelalak saat Axton secara tiba-tiba mencium keningnya lembut dan berkata, "Aku pergi dulu,"
Meski semua hanya akting belaka, pipi Anya tetap bersemu merah.
Selepas Axton pergi, Bu Rastini membuka suaranya, "Terlihat sekali Suamimu sangat mencintaimu, Nduk,"
Anya ingin sekali menangis mendengar penuturan Ibunya. Andai Ibunya tahu bagaimana kehidupan pernikahan yang ia jalani selama ini ...
"Mbak, rumah Kak X besar banget!" pekik Kinanti kegirangan.
"Jangan sentuh barang-barang Kakak Iparmu, Nduk," Bu Rastini memberi peringatan. Kinanti memajukan bibirnya.
"Kamu itu anak kuliahan, jangan seperti anak kecil." sambung Bu Rastini.
"Tidak apa-apa, Bu," Anya bersuara. Dia tahu betul adik-adiknya tidak akan berbuat sembrono.
"Jagat titip salam untukmu. Dia kesal sekali setelah tahu Ibu dan Kinanti akan datang kemari," Bu Rastini tersenyum ketika mengingat tingkah anak laki-lakinya. Semula Jagat ingin sekali membolos kuliah selama beberapa hari kedepan, tetapi setelah ingat bahwa mata kuliah besok tak bisa dilewati, akhirnya Jagat hanya bisa bersungut-sungut.
"Kamu sendiri bukannya tidak libur, Nan?" tanya Anya.
"Tugas masih bisa kususul, Kak, dan aku tak mau Ibu berangkat seorang diri." Kilahnya yang langsung mendapat sentilan ringan Anya.
Bu Rastini tertawa melihat kedekatan mereka berdua.
...***...
__ADS_1
Waktu sudah menunjukan pukul 1 malam, tetapi Anya masih juga belum bisa tertidur. Gadis itu menoleh ke sebelah menatap ibu dan adiknya yang sudah tertidur pulas.
Matanya menyusuri wajah Bu Rastini dengan seksama.
Walau usia beliau masih diawal 50 tahun, namun beberapa kerutan di sudut mata dan dahinya sudah mulai terlihat sangat jelas. Belum lagi rambut beliau yang sudah mulai memutih.
Beban hidup membuat penampilan sang Ibu menua lebih cepat.
"Sejak kapan Ibu jadi setua ini?" gumamnya pelan. Air mata mengalir dari sudut mata Anya.
Hatinya merasa bersyukur, meski Bu Rastini bukan orang tua kandungnya, tetapi Anya bisa merasakan limpahan kasih sayang yang sama seperti Kinanti dan Jagat.
"Ikatan orang tua dan anak bukan hanya berasal dari darah yang sama, Nduk," ucapan Bu Rastini masih terekam jelas diingatan Anya.
Entah apa jadinya, jika Bu Rastini tidak mengambilnya, sesaat setelah kedua orang tuanya meninggal? Bisa jadi, sekarang dia hidup di jalanan tanpa siapapun.
Anya beringsut mendekati Bu Rastini. Gadis itu kemudian memeluk erat sang Ibu yang sedikit bergerak akibat pelukannya.
"Anya sangat mencintai Ibu ... sangat,"
...***...
Anya kembali sehat setelah dua hari berisitirahat. Mungkin, selain obat-obatan yang rutin dia konsumsi, kehadiran keluarganya di sini juga sangat membantu memulihkan kondisinya.
Sekarang mereka sedang berada di dalam mobil Axton menuju rumah Mertuanya. Maxim mengundang keluarga Anya untuk makan malam bersama di sana.
Di sepanjang perjalanan, Kinanti tidak pernah berhenti mengoceh atas apapun yang ia lihat melalui jendela mobil. Bu Rastini bahkan sampai harus menyentil dahi Kinanti agar tidak mengganggu konsentrasi Axton yang sedang menyetir.
Anya ikut melirik ke arah Axton. Takut-takut jika ocehan adiknya membuat pria itu memendam amarah.
Axton terdiam sejenak, sebelum akhirnya membuka suara, "Tak apa, Bu," katanya sembari melirik Bu Rastini dan Kinanti lewat spion tengah.
"Nanti, jika Kakak ada waktu, kita jalan-jalan kemanapun yang kau mau. Bagaimana?" tawar Axton ramah.
"Mau Kak, mau!" seru Kinanti bersemangat, yang langsung dihadiahi lirikan maut Bu Rastini.
"Jangan manjakan gadis ini, Nak Axton," ujar Bu Rastini. Kinanti segera mencibir lbunya.
"Tidak apa-apa, Bu,"
__ADS_1
Hati Anya menghangat. Axton memang benar-benar seorang publik figur profesional. Siapa yang menyangka semua itu hanyalah Akting belaka? Dia jadi membayangkan, bagaimana rasanya jika semua ini bukanlah sandiwara? Pasti hidupnya teramat sangat bahagia.