
Pagi hari Kinanti yang sedang menyapu halaman dikejutkan oleh kedatangan Anya secara tiba-tiba. Gadis itu berlari menyambut sang Kakak dan memeluknya erat.
"Mbak, kenapa tidak bilang mau ke rumah?" Matanya menjelajahi keadaan sekitar, "Kak X mana?" tanya Kinanti penasaran.
"Kita masuk dulu, ya? Mbak lelah sekali." Pinta Anya.
"Ahh, benar. Ayo, masuk dulu," Kinanti mengambil koper besar Anya dan membawanya masuk ke dalam rumah.
Gadis itu meletakan koper dan tas Anya di kamar mereka, sementara Anya langsung duduk bersandar di ruang televisi.
Ia lalu keluar dari kamar dan duduk di sebelah sang Kakak. "Mbak, mau istirahat dulu di kamar? Wajah Mbak pucat sekali, kantung mata Mbak juga sangat kentara," Ia menelisik keadaan Kakaknya yang terlihat kurang sehat.
"Cuma kurang tidur." Jawab Anya singkat.
Kinanti tahu, bahwa ada yang tak beres dengan Anya, namun ia tak ingin meminta penjelasan terlebih dahulu. Biarlah Kakaknya sendiri yang bicara duluan, lagi pula ia baru saja sampai. Gadis itu memilih ke dapur untuk mengambilkan Anya minum.
"Mbak sudah makan? Hari ini Jagat yang memasak sebelum berangkat ke Kampus," suara Kinanti terdengar dari dapur.
"Nanti saja." Jawab Anya singkat. Wanita itu berdiri dari tempat duduknya dan berjalan masuk ke dalam kamar.
Kinanti datang seraya membawa secangkir teh manis hangat. "Diminum dulu, Mbak," ujarnya. Anya menerima teh tersebut dan meminumnya sampai setengah gelas.
"Nan, Mbak istirahat dulu, ya? Nanti malam kalau sudah enakan Mbak akan cerita, sembari menunggu Jagat pulang." Kinanti mengangguk. Dia membantu Anya merebahkan diri di kasur dan menyelimutinya.
"Ahh, satu lagi. Jika Kakak Iparmu menelepon, tolong jangan diangkat ya, De? Mbak mohon,"
Benar dugaan Kinanti. Pasti ada sesuatu yang terjadi di antara keduanya. Gadis itu jadi bertanya-tanya, sebesar apa pertengkaran kedua Kakaknya itu hingga membuat Anya kabur dari rumah?
Kinanti hanya dapat menahan pertanyaannya di ujung lidah untuk saat ini. "Iya, Mbak." Jawab gadis itu. "Kalau butuh apa-apa, panggil aku saja ya, Mbak?" lanjutnya.
Anya tersenyum seraya menganggukan kepalanya.
...***...
__ADS_1
Axton menggebrak meja administrasi rumah sakit kedua kalinya. Pria itu hampir saja membuat keributan jika Ian dan Delia tidak menahannya. Beberapa security bahkan sudah tampak mendatangi mereka, jika saja Ian tidak memberi isyarat untuk mundur.
"Kita pulang dulu, X. Lihat sekitar, kau sudah jadi bahan tontonan orang-orang. Mereka hampir saja mengenalimu!" Ian berbisik marah. Tangannya menahan dada Axton yang hendak melompat ke dalam bagian administrasi.
Delia membungkukan tubuhnya dalam-dalam, meminta maaf pada pihak rumah sakit dan memohon agar tidak mempermasalahkan hal ini lebih lanjut. Gadis itu lalu pergi sembari menyeret Axton, bersama Ian.
Sesampainya mereka di dalam mobil, Axton membuka masker dan topinya lalu melempar barang tersebut dengan kasar. Mulutnya mengeluarkan kata-kata kotor seraya meninju jendela mobil berkali-kali.
Axton baru saja menyelesaikan administrasi Anya. Ia ingat, wanita itu meninggalkan rumah sakit saat menunggu obat, otomatis ia belum menyelesaikan administrasinya.
Axton mengambil kesempatan itu. Dia datang ke sana untuk membayar biaya pengobatan Anya seraya mengorek informasi dari sana. Namun hasilnya nihil!
Ia marah pada Anya. Bagaimana bisa wanita itu memohon pada pihak rumah sakit untuk tidak memberikan informasi apapun, kepada siapapun terkait kedatangannya ke sana, termasuk pada dirinya.
Anya bahkan tidak menyantumkan nomor lain pada data diri selain hanya kedua nomornya sendiri. Ia juga baru tahu Anya memiliki dua nomor.
Axton pikir, kembali ke sana bisa membuatnya tahu akan kondisi yang dialami Anya.
Satu-satunya petunjuk yang Axton miliki adalah bill rumah sakit. Anya mengunjungi seorang dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultasi Ginjal dan Hipertensi.
Pria itu harus segera mencari tahu.
...***...
Atas perintah Anya, Kinanti dan Jagat lagi-lagi mematikan telepon Axton. Pria itu sudah belasan kali menelepon keduanya dan mengirim pesan guna menanyakan kabar keberadaan Anya.
"Jadi, ada apa Mbak?" seolah tak terjadi apa-apa, Kinanti melanjutkan pertanyaannya yang sempat tertunda.
"Mbak akan berpisah dengan Kak X," perkataan pertama yang keluar dari mulut Anya mengejutkan kedua adiknya.
"Loh, kenapa Mbak? Memangnya sebesar apa masalah kalian?" tanya Kinanti tak sabar.
"Jangan-jangan Kak X sudah menyakiti Mbak 'kan!" Jagat terlihat geram. Wajahnya memerah menahan amarah. Pemuda itu memang sangat menyayangi kedua kakak perempuannya. Dia selalu melindungi mereka dalam keadaan apapun.
__ADS_1
"Tidak, bukan seperti itu. Kak X begitu baik memperlakukan Mbak. Ia adalah suami yang baik dan bertanggung jawab. Hanya saja, Mbak tidak tahan menikah dengan seorang publik figur seperti dirinya. Kalian tahu berita tentang Mbak kan? Mbak tak bisa terus-terusan menyembunyikan diri." Anya memberi alasan dengan menumpahkan kesalahan pada dirinya sendiri.
"Mbak yang kabur dan memilih pergi."
Kinanti dan Jagat hanya bisa mematung mendengar penjelasan Anya. Mereka tak tahu harus bereaksi seperti apa.
Anya juga menjelaskan, bahwa ia akan tinggal jauh di luar Kota dan menetap di sana agar Axton tidak dapat mencarinya. Ia memang sudah memikirkan masak-masak keputusan ini.
"Kita ikut ya, Mbak?" Kinanti berkaca-kaca.
Anya menggeleng. "Jaga rumah Ibu, jangan sampai rumah ini kalian jual, kecuali kalian benar-benar terdesak."
"Kalau begitu Mbak tidak boleh kemana-mana," Jagat membuka suaranya.
Anya tersenyum sendu. "Mbak, harap kalian adalah satu-satunya orang yang mau mengerti keadaan Mbak saat ini,"
Mendengar Anya mengatakan hal demikian, Kinanti kontan menghambur kepelukannya. Gadis itu menangis tersedu-sedu. Entah mengapa, Ia dapat merasakan ada sesuatu yang jauh lebih pelik dari alasan yang dikatakan Anya. Ini terlalu mengada-ada. Namun Kinanti tak dapat mendesak sang Kakak lebih jauh. Ia tak ingin malah menimbulkan pertengkaran di antara mereka.
...***...
Axton mengumpat di dalam lift. Panggilan teleponnya lagi-lagi diabaikan Kinanti dan Jagat. Ia yakin. Anya pulang ke rumah ibu angkatnya dan menyuruh mereka mengabaikan telepon dan pesan darinya.
Lift berhenti di lantai 16. Axton keluar dari sana dan berjalan gontai menyusuri lorong sebelum sampai di depan unit apartemennya. Dia masuk ke dalam apartemennya yang dalam keadaan gelap gulita. Pria itu kemudian menyalakan lampu satu persatu hingga seluruh ruangan kembali terang.
Matanya menjelajahi seisi rumah. Sepertinya sudah lama sekali ia tak merasakan pulang ke rumah dalam keadaan kosong. Kakinya lalu melangkah menuju kamar mandi lantai bawah, yang biasa Anya gunakan.
Masih ada beberapa barang milik Anya, seperti Handuk, dan sikat gigi, juga beberapa lotion dan sabun cair. Terlihat sekali, Anya buru-buru meninggalkan rumah.
Pria itu lalu pergi ke ruang televisi, menghampiri bingkai foto yang diletakan Anya tertutup dan membenarkan posisinya seperti semula.
Matanya menatap nanar potret Anya. Awalnya, ia pikir hatinya akan baik-baik saja sepeninggal Anya, apa lagi mereka akan segera bercerai dalam waktu dekat, sesuai surat perjanjian. Jadi tak akan ada bedanya jika Anya pergi sekarang atau nanti.
Namun ternyata, hatinya terasa sesak luar biasa. Ia merasa seperti telah kehilangan sesuatu yang sangat penting.
__ADS_1
Axton tak mengerti apa yang tengah ia rasakan. Ia tak mengerti mengapa kepergian Anya membuat hatinya begitu tersayat. Ia ingin Anya tetap di sini. Melihat wajahnya setiap hari, melihat senyum dan tingkahnya setiap hari. Ia malah tak keberatan, jika Anya sekarang mengganggunya dengan beberapa pesan sederhana yang sangat dibencinya.
Ia ... merindukan Anya.