Cinta Anya Untuk X

Cinta Anya Untuk X
Akhir hubungan Axton dan Hana


__ADS_3

Axton dan Anya masuk ke dalam lift menuju lantai 16 Apartemen mereka. Axton berinisiatif mengajak Anya pulang. Dia beralasan Anya butuh istirahat. Callista tidak dapat melarang, oleh sebab itu, dia berkata akan datang ke Apartemen mereka besok.


Ting!


Pintu lift terbuka.


"Masih sakit?" tanya Axton.


Anya menggelengkan kepalanya, "Sudah lebih baik." Jawab wanita itu jujur. Mereka lalu keluar dari lift dan berjalan menuju unit Apartemen yang mereka tinggali.


Setelah menekan password pintu rumahnya, (untuk lebih memudahkan, pria itu mengganti kunci rumah dari sidik jari ke password) Axton menggandeng lengan Anya dan memapah wanita itu ke dalam.


Keduanya mengernyit tatkala mendapati sepasang stiletto wanita tertata apik di atas keset depan pintu.


"Hana?" batin Anya. Hatinya mendadak pilu. Wanita itu melepaskan diri dari Axton dan meminta pria itu untuk jalan duluan.


Dan benar saja, Hana tengah duduk angkuh di sofa seraya melipat kedua tangannya.


Axton lupa, bahwa Hana masih memegang kartu akses ke lantai Apartemennya.


Melihat kedatangan Axton dan Anya, Hana kontan berdiri. Wanita itu masih melipat kedua tangannya di dada. Matanya menatap sinis ke arah Anya dan Axton.


Anya gugup, dia merasa seperti tengah dipergoki istri sah karena telah mengajak pergi Suaminya.


"Serasi sekali pasangan ini," ujar Hana mendekati Anya. Wanita itu berjalan mengelilingi Anya dan berhenti tepat di hadapannya.


"Senang ya rasanya tak lagi diperlakukan semena-mena?" Hana tersenyum sinis. "Aku penasaran, bagaimana bisa seorang Axton yang sebelumnya berperangai bengis padamu tiba-tiba menjadi selembut ini?" lanjut wanita itu.


"Sudah kau apakan dia?" Hana mendekati wajah Anya. Wanita itu kontan mencium bau alkohol dari mulut Hana. Ia reflek memalingkan wajahnya.


"Jawab aku, hmm," Hana memelankan suaranya. Seringai sinis terlihat di wajah cantik model itu.


Anya hendak menjawab tetapi Hana tiba-tiba menginterupsinya. "Aa, aa, aaa ...," ia menggerak-gerakan telunjuknya di depan Anya. "Aku tahu," Wanita itu merangkul bahu Anya dan memaksanya mendekat. "Kau pasti sudah memberikan tubuhmu secara cuma-cuma, kan?"


Anya membelalakan matanya. Tak mungkin Hana tahu permasalahan mereka, dan ... apa yang ia maksud dengan cuma-cuma. Dia korban di sini.


Axton menarik tangan Hana yang berada di bahu Anya. "Beristirahatlah," pinta Axton pada Anya, yang langsung diiyakan wanita itu.

__ADS_1


Baru saja Anya hendak melangkah, Hana tiba-tiba menarik kasar tangan wanita itu dan menampar pipinya sekuat tenaga. Dia bisa saja terjerambab jika Axton tidak memeganginya.


"Apa-apaan kau!" hardik Axton.


"Kau yang apa-apaan! Kenapa sekarang kau begitu menaruh perhatian padanya, hah?" Hana balik menghardik Axton. Hatinya panas melihat sang kekasih malah membantu Anya berdiri. Matanya bahkan dengan jelas melihat raut kekhawatiran pria itu.


"Kita bicarakan di luar." Axton mengambil tangan Hana, bermaksud mengajaknya keluar Apartemen.


Hana menolak. Wanita itu meraung dan menampar Axton. "Jangan bilang kau sudah memiliki perasaan padanya! Kau hanya milikku seorang Axton!"


Anya menutup mulutnya.


Axton bergeming. Raut wajahnya datar seperti biasa.


Dengan menangis tersedu-sedu Hana kembali membuka suara, "Sudah cukup aku mengalah selama ini. Aku mencoba bersabar saat Ayahmu, yang jelas-jelas tidak menyukaiku berusaha menjauhkan kita dengan menikahkanmu bersama wanita itu! Meski sakit, yang bisa kulakukan hanya menunggu tanpa kepastian. Aku berharap kesetiaan yang aku tunjukan padamu dapat terbayar nantinya."


"Tapi apa yang kulihat sekarang? Kau jatuh pada pesona wanita brengsek itu. Janjimu untuk selalu mencintaiku rupanya hanyalah kebohongan belaka, Axton!"


Axton menarik sudut bibirnya sedikit. Hana terdiam, ia heran, bukannya merasa bersalah, pria itu malah tersenyum sinis padanya.


"Setia yang bagaimana maksudmu, Hana?" Axton mengambil ponselnya dari dalam saku jaket, mengutak-atik sebentar lalu melempar ponsel itu ke hadapan Hana.


Sebuah foto terpampang jelas di ponsel tersebut.


Hana membelalakan matanya. Itu fotonya bersama dengan salah seorang pria paruh baya.


Demi menyembunyikan rasa paniknya, Hana tertawa ringan. "Hahaha, apa yang salah dari foto ini? Dia hanyalah salah satu sponsor tempatku bernaung. Aku tak mungkin menolak ajakannya untuk makan bersama."


Axton masih tersenyum. Ia menyuruh Hana untuk menggeser foto-foto tersebut.


Tangannya gemetar ketakutan ketika mendapati ada banyak sekali foto dirinya dan pria itu di ponsel Axton. Bahkan, foto dirinya yang tengah berciuman mesra di dalam mobil juga ada di sana.


"Foto sebelumnya kudapat dari Callista yang memergokimu, sedangkan foto selanjutnya, aku mencari tahu sendiri." Terang Axton.


"Awalnya, aku tidak mempercayai apa yang Callista tunjukan. Seperti katamu, itu hanyalah foto biasa. Namun, hal tersebut lama-lama mengusik jam tidurku, sampai akhirnya aku membayar seseorang untuk membuntutimu." Telinga Anya yang peka mendengar dengan jelas ada getaran pada setiap kata yang Axton lontarkan.


"Aku juga tahu kau telah berbohong perihal pertemuan Anya dan Mantan Kekasihnya."

__ADS_1


Anya terkejut mendengar ucapan Axton.


Hana membanting ponsel Axton hingga hancur berantakan. "Brengsek kau!" hardiknya.


"Seharusnya kau tahu, aku menjalin hubungan dengan pria lain itu karena dirimu! Kalau saja kau tidak menikahi gadis sialan itu, aku tak akan menderita sendirian! Aku lelah menunggumu, brengsek!" Hana berteriak histeris.


"Jangan jadikan pernikahanku sebagai pembelaan diri. Kau sudah bersamanya bahkan sebelum bersama denganku. Semua bukti ada di dalam ponsel yang kau hancurkan itu, dan aku memegang kopiannya."


Axton berusaha tetap tenang setelah berkata panjang lebar. Sebenarnya, Axton sudah agak lama mendapat foto tersebut dari Callista. Tetapi, karena dia tak ingin begitu saja mempercayai sang adik, Axton akhirnya mencari tahu sendiri perihal hubungan keduanya.


Pria itu ternyata telah lebih dulu menjalin hubungan dengan Hana jauh sebelum kebersamaan mereka. Entah, apa yang Hana inginkan darinya hingga sampai hati mempermainkan mereka berdua.


Meski dibohongi, tetap saja tak mudah bagi Axton untuk melepaskan Hana begitu saja. Maka dari itu, Axton memilih menjauh dari wanita itu terlebih dahulu, sembari mencari waktu yang tepat untuk bicara.


Syukurlah, meski awalnya Axton ingin membicarakan hal ini baik-baik, setidaknya dia tak lagi harus memendam lukanya lebih lama.


Hana tak mampu berkata apa-apa lagi. Wanita itu hanya berteriak-teriak histeris seperti orang gila.


"BEDEBAH KAU AXTON! BEDEBAH!"


Dengan langkah panjang, Hana menghampiri Anya yang berdiri di belakang Axton. Wanita itu menampar sekaligus menjambak rambut Anya dan hendak membenturkan kepalanya ke lantai.


Axton dengan sigap membantu Anya melepaskan diri.


"KAU GILA!" teriak Axton.


"Ya, aku memang gila!" teriak Hana. "Aku gila karena dirimu, Kak." lanjutnya dengan suara yang lebih rendah.


Wanita itu duduk bersimpuh seraya menangis tersedu-sedu.


Anya menangis tanpa suara. Meski Hana salah, tapi tetap saja dia tak tega melihat Hana seperti itu. Ia yakin, walau mulanya Hana mungkin hanya mempermainkan perasaan Axton, tetapi ... ia bisa ikut merasakan, bahwa Hana kini benar-benar mencintai pria itu.


Tatapan mata Hana ... sama persis dengannya.


Axton menelepon security. Tak butuh waktu lama, dua orang security Apartemen datang ke unit mereka dan segera membawa Hana keluar. Pria itu juga memerintahkan security tersebut untuk mengambil kartu akses yang dimiliki Hana.


Hana memandang pilu keduanya. Tak sedikitpun wanita itu mengalihkan pandangannya sampai keluar dari pintu Apartemen.

__ADS_1


__ADS_2