Cinta Anya Untuk X

Cinta Anya Untuk X
Cemburu.


__ADS_3

Axton, Anya, Callista, Maxim dan Theresa tiba di Bandara. Hari ini ketiganya akan mengantar orang tua mereka pergi.


"Kalian benar tidak ingin pindah ke rumah utama?" tanya Maxim sekali lagi pada Axton dan Anya. Pria itu memang menawari anak dan menantunya untuk pindah ke sana sekalian menemani Callista, sebab ia dan istrinya memang berencana untuk tinggal di Negeri Kincir Angin dalam waktu yang lama.


"Tidak, Pa. Kami hanya akan sesekali untuk menginap di sana." Jawab Axton yang disetujui Anya.


Callista berkacak pinggang, "Sudah, Pa, aku bukan anak kecil lagi. Lagi pula rumah tidak akan pernah sepi." Katanya merujuk pada para pelayan yang berjumlah belasan di sana.


Maxim mengalah. Pria itu sedikit memberi wejangan agar mereka saling menjaga diri, terutama Callista.


"Jaga istri dan adikmu, X, bantu Callista sesekali di kantor. Kau sudah berjanji, bukan?" Maxim menepuk pundak Axton.


Pria itu mengangguk. Dia memang sudah berjanji pada sang Ayah akan membantu Callista dalam mengurusi urusan kKantor jika memang diperlukan, dengan syarat tidak menginjakan kakinya di sana. Axton terpaksa melakukannya, sebab biar bagaimanapun Callista pasti butuh bimbingan selain dari orang kepercayaan Maxim.


Mereka saling berpelukan.


Anya memeluk erat Ibu mertuanya, "Mama juga harus jaga kesehatan di sana, ya?"


Theresa yang hari ini terlihat lebih pendiam hanya bisa menganggukan kepalanya.


"Jangan tidur terlalu larut ya, Ma. Jika malam telah datang, cepatlah tidur dan istirahatkan tubuh Mama, agar esok hari mentari menyambut Mama–"


"–dengan senyuman manisnya."


Anya terhenyak. Gadis itu terkejut mendengar Theresa meneruskan kalimatnya. Kalimat yang berasal dari Theresa sendiri saat ia dan Maxim akan pergi meninggalkan Indonesia dulu, sama seperti saat ini. Anya tidak menyangka Theresa masih mengingatnya.


Theresa sama terkejutnya dengan Anya. Wanita itu reflek meneruskan kalimat Anya. Keduanya saling menatap selama beberapa saat sebelum akhirnya tertawa kecil.


Menyadari tingkahnya, Theresa kembali memasang wajah ketus seperti biasa.


Anya memeluk Theresa kembali. Dia tidak akan bertanya soal itu. Dia tahu Theresa pasti tidak ingin membahasnya. Biarlah jika sang Ibu mertua tidak mau mengaku tentang ingatan mereka dulu, yang penting Anya sudah tahu bahwa Theresa tidak begitu saja melupakannya.


Anya tidak tahu, bahwa kini Theresa tengah mati-matian menahan air matanya.


Selesai mengantar keduanya, Callista, Axton dan Anya berpisah. Callista kembali ke Kantor, sementara Axton dan Anya pulang ke rumah.


Di perjalanan Axton mendapat telepon dari Ian untuk segera datang ke studio. Axton benar-benar lupa kalau siang ini memiliki jadwal pemotretan dengan salah satu Brand pakaian ternama.


"Satu jam lagi aku akan ke sana. Aku harus pulang terlebih dahulu." Kata Axton. Ia masih harus mengantar Anya pulang sebelum ke sana.


"Tidak ada waktu, 15 menit lagi kita harus mulai, X!" pekik Ian dari balik telepon.


"Ck! Bilang pada mereka aku akan terlambat sampai di sana." Axton menutup teleponnya.

__ADS_1


Anya yang penasaran memutuskan untuk bertanya. "Ada apa, Kak?"


"Aku lupa ada janji hari ini."


"Oh, ya sudah kalau begitu, aku turun di sini saja dan pulang naik bus." Anya merasa tak enak jika Axton terlambat karena harus mengantarnya pulang terlebih dahulu.


"Tidak apa, aku akan mengantarmu dulu sampai lobi."


Telepon kembali berdering. Ian setengah berteriak menyuruh Axton untuk segera sampai di sana.


"Aku harus mengantarnya pulang dulu!" Axron tak kalah kesal.


"Terlalu lama, bro! Ajak saja Anya atau mereka akan memutus kontrak kita!" seru Ian sembari menutup teleponnya.


"****!" perkataan Ian membuat Axton emosi. Pria itu tentu tidak ingin pihak Brand memutuskan kontrak dan menggantikannya dengan orang lain. Kerjasama dengan mereka adalah hal yang sangat dia inginkan saat ini.


Mau tidak mau, Axton membawa Anya serta bersamanya.


"Diam dan ikut saja aku!" jawabnya ketika Anya bertanya mau ke mana tujuan mereka.


...***...


Lokasi Studio Foto mendadak heboh ketika melihat kedatangan Axton bersama seorang gadis cantik yang mereka ketahui bukan Hana.


Beberapa wartawan yang memang menunggunya di depan studio berusaha mendekati Axton untuk menanyakan identitas Anya.


Reaksi orang-orang di dalam studio juga tak kalah heboh melihat kedatangan mereka berdua.


Anya merasa ditelanjangi ketika sebagian besar kru di sana menatapnya dari atas ke bawah sembari berkasak-kusuk. Dia jadi ikut memerhatikan dirinya, merasa bahwa pakaian dan dandanannya sama seperti biasanya.


Mendapat perlakuan demikian membuat Anya benar-benar merasa risih. Gadis itu tidak terbiasa. Dia ingin sekali pulang sendiri, namun mengingat di depan banyak sekali orang, Anya yakin dia malah akan terjebak di sana.


Axton segera meninggalkan Anya kemudian berbisik pada Ian. Ian menganggukan kepalanya dan segera menghampiri Anya seraya membawa sebuah kursi.


"Duduk dulu Anya," tawarnya. Anya menerima kursi tersebut dan mengucapkan terima kasih.


"Maaf jika situasi ini membuatmu tidak nyaman. Ini hanya akan berlangsung sebentar. Kau bisa menunggu di sini atau berkeliling melihat-lihat sekitar guna mengusir kebosanan."


"Aku di sini saja," jawab Anya sembari tersenyum canggung.


Berkeliling di situasi seperti ini? Tentu Anya tidak akan melakukannya.


Ian tersenyum lalu menepuk pundak Anya, "Baiklah, aku tinggal dulu, ya?" Anya mengangguk. Pria itu kemudian pergi meninggalkan Anya setelah meminta air minum dan sedikit cemilan pada salah satu office boy yang sedang berada di sana.

__ADS_1


Sepeninggal Ian, beberapa orang gadis yang memakai id card menyapa Anya dan menanyakan identitas gadis itu. Mereka adalah staf yang bekerja di sana.


"Mbak. kalau boleh tahu, Mbak siapanya Kak X, ya?" tanya salah seorang gadis.


"Soalnya, setahu kita kekasih Kak X itu Mbak Hana." Seorang gadis yang lainnya menimpali.


Suara gadis-gadis di sana pun mulai saling bersahutan satu sama lain. Mereka tidak canggung mengeluarkan tebakan akan identitas Anya. Bahkan ada yang dengan kurang ajar mengatakan bahwa dia adalah simpanan Axton.


Anya menghela napasnya, sedih juga mengetahui bahwa dia memang simpanan pria itu.


"Aku adiknya X." Jawab Anya kalem.


Gadis -gadis di sana terdiam, seperti tengah memikirkan sesuatu.


"Sepertinya Mbak berbeda sekali dengan Mbak Callista yang kita lihat," seloroh salah seorang gadis.


"Aku adik sepupunya." Jelas Anya yang kontan mendapat jawaban "oh" secara serempak dari mereka.


"Hei! Sudah, bubar semua, kalian menakutinya. X sudah siap, kalian bisa kembali bekerja." Anya bernapas lega ketika melihat Ian datang sembari membawa nampan berisi beberapa kue dan sekaleng soda.


Para gadis itu kompak mengeluh sebelum akhirnya membubarkan diri.


"Terima kasih," ucap Anya meringis.


"Tidak masalah. Panggil aku jika butuh sesuatu," ujar Ian sembari meletakan nampan tersebut.


Anya mengangguk.


Pemotretan X dimulai. Anya menahan diri untuk tidak tersipu melihat ketampanan pria itu. Melihat sikap profesional Axton membuat Anya merasa bangga.


Dahinya seketika mengernyit saat seorang wanita cantik terlihat memasuki set dan bergabung dengan Axton.


Anya tahu wanita itu. Siapa yang tidak kenal dengan Cassandra Schwarz? Model papan atas berdarah Jerman yang tengah naik daun. Kepopuleran wanita itu bahkan disebut-sebut mengalahkan Hana.


Sandra terlihat sangat memukau dengan gaun malam berwarna hitam membalut tubuh rampingnya. Gaun itu memiliki potongan dada sangat rendah serta belahan samping yang mencapai bawah pinggulnya. Tampak serasi dengan Tuxedo hitam yang Axton kenakan.


Dalam sekejap Axton dan sandra berpose sangat mesra.


Anya kontan membuang muka ketika melihat tangan wanita itu masuk ke dalam Tuxedo Axton dan bertengger di dadanya, sementara tangan Axton memegang paha Sandra yang terbuka dan mendekapnya mesra.


Ia menghembuskan napasnya beberapa kali guna menghilangkan rasa panas yang hinggap di dadanya. Gadis itu paham jika yang Axton lakukan hanyalah tuntutan pekerjaan. Toh, dia bukan siapa-siapa bagi Axton. Jadi seharusnya, dia bisa terbiasa melihat hal-hal seperti itu, mengingat Hana pasti melakukan hal yang lebih bersamanya.


Namun, Anya tidak bisa menyangkal jika saat ini ia merasa sangat cemburu.

__ADS_1


"Hei," Sandra menyadarkan lamunan Axton yang tengah memandangi seseorang di kejauhan. Tangan Sandra yang semula berada di dada Axton merambat mesra menuju leher dan pipinya. Wanita itu mengarahkan wajah Axton agar kembali menatapnya. "Fokus," kata Sandra seraya tersenyum.


Axton kembali fokus dan berpose lebih mesra.


__ADS_2