Cinta Anya Untuk X

Cinta Anya Untuk X
Sialan!


__ADS_3

Star-sky Entertainment memberi kabar melalui akun media sosial resmi mereka, bahwa salah satu artis yang bernaung di bawahnya, X, akan menjadi Brand Ambassador sebuah produk ponsel keluaran terbaru dari Mahendra Electronics Group yang akan launching beberapa hari lagi. Sebelum memberikan pengumuman, Axton telah melakukan pemotretan cover dengan sebuah majalah untuk mempromosikan produk tersebut.


Kini Axton tengah mempersiapkan diri untuk syuting iklan.


Beberapa kru terlihat sibuk mondar mandir, sementara Axton menunggu di ruang ganti sembari membaca skrip yang harus dihafalkan.


"Syuting akan dimulai sepuluh menit lagi," salah seorang kru masuk ke dalam ruangan Axton dan memberitahu Ian.


Ian mengangguk, pria itu lalu mengisyaratkan Axton untuk keluar dari ruangan.


Axton tak lagi terkejut tatkala melihat Daffa berdiri di antara kerumunan orang seraya memerhatikan para kru yang tengah bersiap.


"Tumben sekali ya, Pak Daffa ikut turun langsung. Biasanya Mbak Siska yang selalu wara-wiri," Axton tiba-tiba saja mendengar pembicaraan salah seorang karyawan yang berdiri tak jauh dari tempatnya.


"Mungkin karena Brand Ambassador kali ini publik figur yang tengah naik daun, jadi Pak Daffa ingin melihat langsung bagaimana cara kerja X. Pak Daffa pasti sudah membayarnya mahal."


Mendengar tanggapan karyawan yang lain membuat Axton kontan mencibir pelan, "Cih!"


"Suasana hatimu tampaknya sedang tidak baik, X," Daffa datang menghampiri Axton. Di tangannya terdapat sekaleng minuman dingin yang akan ia berikan untuk Axton.


"Ya." Jawab Axton singkat tanpa sudi menerima pemberian Daffa.


Daffa tersenyum kalem. "Aku berharap padamu." Katanya seraya mengambil tangan Axton dan meletakan minuman kaleng tersebut padanya.


"Jangan lupa, persahabatan kita dipertaruhkan di sini," ujar Daffa selanjutnya sambil berlalu pergi.


Axton menahan diri untuk tidak muntah di tempat. Jelas sekali dia mendengar ada nada ejekan yang keluar dari mulut Daffa.


"Lima menit lagi!" seru Anton, sang Sutradara, memberi pengumuman.


***


Anya memerhatikan Callista yang sedang sibuk memasak di dapur tanpa bantuan para koki. Callista memang meminta mereka agar tidak mengganggu.


Setelah mengantar Kinanti dan Jagat ke Bandara semalam, Callista memohon pada Axton dan Anya untuk menemaninya di rumah. Terlebih, gadis itu sudah terlanjur mengambil cuti selama tiga hari.


Sebenarnya Callista sudah meminta Kinanti dan Jagat untuk pulang lebih lama, namun, temu janji dengan salah satu dosen killer Kinanti tidak dapat ditunda. Salahnya sendiri yang baru bisa mengambil cuti di hari yang tidak tepat, sebab jadwalnya kemarin benar-benar padat. Kendati demikian, ia masih bisa menikmati masa-masa cutinya bersama sang Kakak Ipar.


"Kau ternyata lebih pintar memasak dibanding aku," puji Anya tulus. Terkagum pada Callista yang begitu lihai menggunakan berbagai macam alat masak yang belum tentu Anya bisa.


"Jangan merendahkan diri begitu Mbak, siapapun akan tahu betul siapa yang lebih pintar memasak." Jawab Callista tanpa mengalihkan pandangannya pada wajan. Gadis itu tengah menggoreng ikan, salah satu menu yang akan ia sajikan untuk makan malam.


Anya tersenyum. "Apa yang bisa Mbak bantu? Mbak tak ingin diam saja dan hanya memerhatikanmu memasak."


Callista mengangkat ikan tersebut perlahan-lahan, menunggu sebentar sampai seluruh minyak yang ada di ikan tersebut tersaring lalu meletakannya di piring.


"Mbak bantu mengawasiku saja." Jawab gadis itu seraya tersenyum ramah.


Anya mengalah. Callista memang termasuk anak yang mandiri. Meski keluarganya memiliki segalanya, sejak kecil Callista tetap berusaha melakukannya sendiri. Salah satu hal baik yang diajarkan sang Ibu pada gadis itu.


Anya akhirnya hanya bisa memerhatikan Callista yang sibuk mondar mandir di dapur.

__ADS_1


***


"Cut!" teriakan Anton, sang Sutradara, sekali lagi menggema. Kali ini beberapa keluhan terdengar samar dari para kru.


Ini sudah take ke 84 yang Axton lakukan. Anton, sang Sutradara, sebenarnya melihat tak ada yang salah dengan set maupun akting Axton. Pria itu bisa membawakannya dengan sangat baik dan profesional. Namun entah mengapa, ada saja yang tidak pas menurut Daffa, dari mulai penambahan properti syuting, ekspresi Axton yang dirasa kurang, bahkan tata pencahayaan yang katanya berlebihan.


Pria itu juga sudah membuat Axton berganti pakaian sebanyak empat kali.


"Coba diambil dari sudut sebelah sini." Daffa menyuruh salah seorang kameramen bergeser ke tempat yang Daffa maksud. Pria itu lalu melihat ke layar dan menggeleng lagi.


"Tidak ... tidak," gumamnya.


"X, coba agak maju ke depan sedikit," pinta Daffa. Axton mau tak mau menuruti perintah pria tersebut.


"Ahh, tidak. Lebih baik mundur ke tempat tadi saja."


Wajah Axton memerah. Dia sudah siap menerjang Daffa jika saja Ian tidak memelototi dirinya.


Axton kembali ke tempat sebelumnya. Daffa kemudian menyuruh kameramen tadi kembali ke tempat semula.


"Yak, begini saja lebih baik. Ayo, kita ulang lagi," tanpa merasa berdosa, Daffa berteriak semangat sementara pada kru mengeluh terang-terangan.


Sudah dibuat mengulang puluhan kali, Daffa juga melarang mereka untuk menyimpan hasil dan harus mengulang semua dari awal jika terjadi kesalahan.


Terlebih, apanya yang lebih baik? Posisi ini adalah posisi awal. Posisi yang sebelumnya sudah mereka lakukan!


Hawa panas terasa menguar dari tubuh Axton. Dia bukannya tidak tahu bahwa Daffa kini tengah mengerjainya habis-habisan.


"Ok, semua siap! 3, 2, 1, action!"


***


Bak menang olimpiade, seluruh kru berteriak kegirangan setelah Daffa mengatakan bahwa take kali ini sempurna.


"Maaf, maaf," ujarnya sembari cengengesan. "Sebagai permintaan maaf saya, kalian boleh makan malam sepuasnya, biar Siska yang urus." Katanya sembari memberikan credit cardnya pada Siska.


Gemuruh para kru kembali terdengar nyaring.


Axton baru akan berjalan menghampiri Daffa yang kebetulan bertemu pandang dengannya, tetapi Ian menahan bahu pria itu.


"Mana yang kau pilih, menuruti hawa napsumu atau mempertahankan martabatmu di depan orang banyak?" suara Ian terdengar tegas kali ini. Ia tak ingin Axton membuat semua usaha mereka berantakan.


Alih-alih menjawab, Axton membanting handuknya dan pergi meninggalkan Ian.


***


"Beristirahatlah selama dua hari ini X. Kita akan sangat sibuk nanti." Axton yang berjalan di sampingnya hanya mengeluarkan gumaman tak jelas.


Delia membukakan pintu mobil untuk Axton.


"Terima kasih untuk hari ini X," Axton menoleh ke belakang.

__ADS_1


Daffa berdiri seorang diri tak jauh dari sana.


Dia bergeming sesaat sebelum kemudian berjalan menghampiri Daffa. Sekuat tenaga pria itu menahan segala gejolak yang mulai meronta. Benar kata Ian, ia tak boleh membuat usaha semua orang hari ini sia-sia.


"Ya." Jawab Axton santai.


"Selamat beristirahat, kau pasti lelah," mendengar kalimat yang diucapkan Daffa kontan membuat Axton tertawa sinis.


"Tidak akan selelah ini, jika seseorang yang tidak kompeten turut campur didalamnya."


Daffa tak menanggapi perkataan Axton. Pria itu malah mendekati Axton dan berbisik dingin padanya.


"Kudengar Anya terluka dan baru sembuh total. Ingat X, aku tak akan pernah menarik ucapanku. Meski Anya tak ingin, aku akan tetap mengambilnya darimu jika kau terus membuatnya menangis."


Setelah berkata demikian, Daffa menepuk pundak Axton dua kali dan pergi menuju mobilnya yang berada persis di sebrang mobil mereka.


Axton mengepalkan tangannya.


"Breng***!"


***


Anya dan Callista sedang asyik berbincang di halaman depan rumah ketika sebuah mobil yang mereka tunggu sejak tadi akhirnya tiba.


Axton turun dari mobil dengan wajah penuh emosi sementara Ian mengikutinya dari belakang. Joseph membantu Delia menuruni beberapa barang milik Axton.


"Assalamualaikum," sindir Callista yang tidak ditanggapi Axton.


Gadis itu mengambil tangan Axton dan mencium tangannya. Begitu pula dengan Anya yang berdiri di sebelah Callista.


Anya salah tingkah tatkala melihat tatapan Axton yang seolah-olah ingin mencabik-cabik dirinya.


Apa lagi yang salah? Seingatnya, dia tidak pernah membuat Axton marah. Lagi pula, pria itu tak lagi memerlakukannya kasar semenjak kejadian tempo lalu.


Anya melirik Ian, namun Ian hanya menjawab dengan gelengan kepala.


"Ada apa?" tidak tahan dengan situasi tersebut, Anya akhirnya bertanya pada Axton.


Axton tetap diam.


"Ingat X, aku tak akan pernah menarik ucapanku. Meski Anya tak ingin, aku akan tetap mengambilnya darimu jika kau terus membuatnya menangis."


Ancaman Daffa benar-benar mengganggu pikirannya saat ini.


Emosi Axton kembali bangkit. Ia tak akan sudi melepaskan Anya untuk Daffa. Pria itu tidak akan membiarkan Daffa menang darinya.


GREB!


Mata Anya terbelalak ketika Axton secara tiba-tiba memeluk dirinya erat. Pria yang jauh lebih tinggi darinya itu sedikit membungkuk, guna menyembunyikan kepalanya dilipatan leher Anya. Menghirup dalam-dalam harum tubuh wanita yang hampir setahun ini telah menjadi istrinya.


Membuatnya menyadari satu hal, aroma tubuh Anya begitu memabukan.

__ADS_1


Dan dia ... tak ingin kehilangan hal ini.


__ADS_2