
"Jangan sampai kau hilangkan atau jual lagi naskah ini X." Salah seorang kru senior memberikan setumpuk kertas pada Axton.
Axton mendengkus kesal. Setelah sempat dimaki-maki oleh salah satu petinggi suatu produk akibat menghilangkan kertas kontrak kerjasama mereka, kini dia harus menerima sindiran lainnya.
Axton segera membaca naskah tersebut sembari mengisi waktu istirahat disela-sela pemotretannya.
Naskah yang dipegang Axton tak setebal naskah drama lainnya, karena dia hanya akan berakting di drama seri mini berjumlah lima episode. Semula pria itu menolak tawaran salah satu rumah produksi untuk mengambil peran dalam drama mini seri garapan mereka, tetapi Ian, sahabat sekaligus manajernya bersikeras meminta Axton untuk menerima tawaran tersebut.
Jengah dengan rengekan Ian maka dengan terpaksa Axton menerimanya.
"Satu menit lagi, ayo!" seru Pak Danu, seorang photographer profesional majalah ternama tempat Axton bernaung.
"Kak," Delia, asisten pribadinya dengan cepat memakaikan kemeja putih pada Axton. Semua kancingnya dibiarkan terbuka, memperlihatkan tubuh Axton yang tercetak sempurna.
Pria itu memulai sesi pemotretannya yang ketiga.
Anya tersenyum puas menatap pakaian-pakaian yang telah dia cuci dan jemur. Gadis itu memandang seisi apartemen yang sudah bersih dengan tatapan bangga.
*Kling*.
Sebuah email masuk ke ponsel Anya.
*Undangan Tes dan Interview PT. XXX XXX*
*Selamat Pagi*,
*PT. XXX XXX mengundang saudara/i untuk hadir pada proses test dan interview kerja pada* :
*Hari* : Rabu
*Tanggal : 20 Oktober* XXXX
*Jam : 08.00 WIB – Selesai*
*Lokasi* : *Jalan Kejaksaan No.16, Jakarta Timur.
(Perumahan Cecillia Residence*)
*Note* :
*1. Mohon membawa Hardcopy surat lamaran kerja, Curriculum Vitae, Transkip Nilai, dan Ijazah*.
*2. Mohon menggunakan pakaian rapi, bersih dan sopan*.
*3. Mohon datang 10 menit sebelum waktu* *test yang diberikan*.
*Silahkan konfirmasi kehadiran anda dengan replay undangan ini, format* :
*Nama\_Posisi yang dilamar\_Hadir/Tidak Hadir*.
*Terima kasih*,
*Rio Dewantara*
*HRD PT. XXX XXX*
Anya memekik kegirangan setelah membaca email yang masuk ke ponselnya. Seminggu yang lalu dia melamar pekerjaan atas seijin Axton dan Maxim, papa mertuanya.
Awalnya Maxim tidak menyetujui keinginan Anya untuk bekerja, tetapi Anya dengan keras hati memohon padanya untuk diijinkan bekerja. Dia tak ingin hanya bermalas-malasan di rumah.
Gadis itu memang terbiasa mandiri. Sejak lulus dari SMA Anya sudah bekerja sembari kuliah guna membantu perekonomian keluarga bu Rastini. Anya tahu diri jika posisinya di sana hanyalah menumpang. Maka dari itu dia tidak bisa hanya berdiam diri dan membiarkan Bu Rastini berperan sebagai kepala keluarga sendirian.
Perihal harta peninggalan orang tuanya, semua telah diambil oleh kakak tirinya, Elang. Yang dia bawa saat keluar dari rumah itu hanyalah tabungannya, tabungan ibunya dan sebuah mobil keluarga milik sang ayah, yang akhirnya terpaksa dia jual untuk melunasi biaya sekolahnya serta adik-adiknya.
Kali ini ia memang bukan bekerja untuk uang, melainkan untuk mengisi waktunya disaat Axton tidak berada di rumah. Maka dari itu pekerjaan yang dia pilih tidak terbilang padat. Jam kerjanya hanya dari jam 8 pagi sampai jam 2 siang, di salah satu perumahan elit sebagai agen properti. Pengalamannya yang pernah menjadi sales salah satu *dealer* mobil mewah pasti akan sangat berguna.
"Semoga keberuntungan berpihak padaku." gumamnya senang.
...\*\*\*...
*BRAAK*!
__ADS_1
Suara tendangan terdengar dari pintu masuk. Anya buru-buru bangkit dari kursi ruang televisi dan menghampir asal suara tersebut.
Axton terlihat dipapah oleh dua orang asing yang tidak Anya kenal. Pria itu tampak sempoyongan. Dia pasti tengah mabuk.
"Ahh, kau pasti Anya, 'kan?" salah seorang dari mereka bertanya pada Anya begitu melihatnya.
"Aku Ian, manajer X, dan ini Delia, asisten pribadinya."
"Oh," gumam Anya.
"X mabuk, kami akan mengantarnya ke kamar." Kata Ian. Pria berkulit sawo matang itu tampak kepayahan membopong Axton yang lebih tinggi darinya, sementara Delia sudah lebih dulu permisi menuju kamar Axton untuk meletakan barang-barang pria itu.
"Biar kubantu," tawar Anya. Gadis itu dengan sigap menghampiri sisi lain tubuh Axton. Baru saja ia menyentuh sedikit lengannya, Axton sudah menghardik keras.
"Jangan sentuh aku, brengsek!"
Anya terkejut mendapat hardikan dari Axton.
"Aku hanya ingin membantu," lirihnya.
Dengan tampang teler Axton menatap Anya penuh kemarahan. "Enyah dari sini adalah bantuan yang aku inginkan!" tangannya yang bebas menempeleng kepala Anya.
"Minggir!" dengan langkah gemetar Anya menyingkir guna memberi ruang pada keduanya. Ian memasang tampang tak enak hati saat melihat Anya. Dia tak habis pikir Axton benar-benar membencinya istrinya sendiri.
Meski matanya telah panas, Anya tetap mengembangkan senyumnya pada Ian.
Setelah membaringkan Axton di kamar, Delia dan Ian kembali ke bawah.
"Jangan ambil hati atas tindakan X, kau tentu lebih tahu dia dari pada kami." Kata Ian mencoba menabahkan Anya.
"Kami pulang dulu ya, Mbak," pamit Delia kemudian.
"Hati-hati di jalan, terima kasih,"
Selepas kepergian mereka, Anya memberanikan diri menghampiri Axton di kamarnya. Dia tidak peduli jika nanti Axton kembali marah padanya.
Gadis itu membuka pintu kamar Axton dan berjalan perlahan. Ini adalah kali pertama Anya masuk ke dalam kamar Axton. Gadis itu sedikit takjub akan interior kamar pria itu. Dia seperti memasuki sebuah museum Lego mini. Rupanya pria itu sangat menyukai Lego.
Matanya beralih pada Axton yang sedang terbaring di atas tempat tidur. Pria itu masih mengenakan sepatunya. Anya segera melepas sepatu pria itu perlahan-lahan, agar tidak membuat Axton terkejut.
Setelah selesai melepas sepatu, Anya mengambil handuk kecil hangat untuk menghapus keringat yang membasahi wajah Axton.
Sejenak matanya terpaku menatap wajah tampan Axton. Bagi Anya, garis wajah Axton yang telah dewasa terlihat lebih tegas, selebihnya, Axton tetap terlihat seperti dulu. Tidak berubah sama sekali.
Seperti terhipnotis akan parasnya, Anya tanpa sadar mendekatkan diri hingga hidung mereka nyaris bersentuhan.
"*\*\*\*\**!" gumaman Axton menyadarkan Anya seketika. Gadis itu buru-buru menarik diri dan keluar dari sana.
"Apa yang baru saja kulakukan? Dasar Anya bodoh!" Makinya setelah berada di luar kamar Axton.
...\*\*\*...
Pukul 6 pagi Anya sudah terbangun. Gadis itu segera memulai aktifitasnya, membersihkan rumah. Setelah itu dia akan mandi dan membuatkan sarapan.
Axton turun satu jam kemudian. Pria itu sudah tampak rapi dengan setelan kasualnya.
__ADS_1
Seperti tak ada siapapun, Axton berjalan melewati Anya menuju pintu keluar.
"Ka, sarapan dulu," Anya bersuara. Axton tak mengindahkan perkataan Anya. "Oh iya, aku ingin minta ijin keluar sebentar untuk *interview*, tempatnya hanya sepuluh menit dari sini."
Axton bergeming. Dia terus berjalan sembari sibuk mengutak-atik ponselnya. Tingkahnya seperti tidak ada siapapun di sana.
"Ka," langkah kaki Anya terdengar menghampiri Axton.
"Ahh, aku tadi sudah membersihkan sepatumu," ujar Anya kemudian.
Axton reflek menghentikan langkahnya. "Jangan lancang menyentuh barang-barangku!"
Anya terdiam membisu. Gadis itu menundukan wajahnya.
"Bukan urusanku kau mau ke mana. Dan yang perlu kau ingat, aku tidak akan pernah memakan masakan yang kau buat dengan tangan kotormu itu!" selesai berkata demikian, Axton kembali melangkahkan kakinya.
Hatinya Anya terasa nyeri bukan main. Meskipun Axton tidak pernah mencintainya, tetapi, bisakah pria itu memperlakukannya dengan manusiawi?
"Aku istrimu, sudah sepatutnya aku melayani suamiku." Anya memberanikan diri bersuara.
Mendengar perkataan Anya membuat Axton berbalik menghampirinya dan mencengkram kuat pipi gadis itu.
"Jangan pernah mengatakan hal menjijikan seperti itu lagi atau kuhabisi kau!" ancamnya.
Seraya menahan sakit Anya membuka matanya, menatap mata biru Axton yang tengah memandangnya dengki.
"Aku istrimu dan kau adalah suamiku." Entah dari mana keberanian untuk berkata seperti itu datang pada Anya. Gadis itu bahkan sempat terkejut dengan tindakannya sendiri.
Axton tertawa terbahak-bahak. Pria itu melepas cengkraman tangannya pada pipi Anya dan menghempaskan gadis itu ke lantai.
Dengan sigap dia kemudian menjambak keras rambut Anya.
"Apa perlu kuingatkan sekali lagi soal surat perjanjian kita?" tanya Axton dengan seringai sinis.
"Jangan ikut campur urusanku dan yang telah kau lakukan ini termasuk hal yang tak seharusnya kau campuri."
"Aarggh!" Anya meringis kesakitan sebab Axton mengencangkan jambakannya.
"Mengerti?" tanya Axton tak sabar.
Anya berusaha menganggukan kepalanya.
"Jawab dengan mulutmu!"
"Argh! A–aku me–mengerti." Jawab Anya susah payah.
*DUAAAGGH*!
Axton membenturkan kepala Anya ke kursi makan sebelum melepaskan jambakannya.
Tanpa memerdulikan tangisan Anya, pria itu pergi meninggalkan apartemen.
Anya menangis tersedu-sedu. Darah tampak mengalir keluar dari pelipisnya. Sakit yang ada pada fisik Anya tidak sesakit apa yang ada pada hatinya.
Gadis itu memukul-mukul dadanya keras, berharap dapat menghilangkan rasa sakit yang tengah didera.
__ADS_1