
Axton heran mengapa di sepanjang perjalanan pulang, Anya hanya terdiam bak manekin. Gadis itu memang pendiam dan tidak akan banyak bicara saat bersamanya sekarang, namun ia merasa ada hal berbeda keluar darinya kali ini.
Meski risih dengan sikap Anya, Axton menahan diri untuk tidak bicara. Ia tetap fokus menatap jalanan.
Sesampainya di rumah, tanpa berkata apapun Anya segera masuk ke ruang fitting room Axton. Sejak kejadian terakhir Axton menyiksanya, Anya kembali pindah ke tempat itu, terkecuali barang-barangnya yang masih tetap berada di kamar Axton. Dia tak ingin repot jika adik-adik atau adik iparnya berkunjung tiba-tiba ke sana.
Axton menatap langit-langit kamarnya dengan raut wajah gelisah. Raut wajah Anya yang terlihat kesal membuat hatinya merasa tidak nyaman. Entah mengapa ia jadi merasa sangat bersalah pada gadis itu.
"Apa, sih!" maki pria itu pada dirinya sendiri sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
Pagi harinya Axton berangkat ke lokasi syuting setelah menghabiskan sarapan yang Anya buat. Pria itu berpesan pada Anya agar tidak keluar rumah selain berbelanja. Ia tidak ingin Anya berkeliaran lagi di luar, apa lagi bersama seseorang yang tidak dia sukai.
Anya mengangguk patuh bagai robot. Ia tidak membantah sedikitpun perintah Axton.
"Ya, selesai berbelanja aku akan langsung pulang."
Jawaban Anya membuat Axton mengangguk puas. Ia pun pamit dan pergi meninggalkan Apartemen.
...***...
"–wortel, buncis, daging, ayam daaan ... sepertinya sudah," Anya memeriksa kembali catatan belanjaan yang ia buat.
Setela semua belanjaan sudah lengkap dan sesuai dengan yang ada di daftar, gadis itu segera mendorong trolly-nya menuju kasir.
Anya menghela napas pasrah. Antrian di kasir lumayan panjang, dan dia harus menunggu sekitar lima orang lagi sebelum sampai gilirannya.
"Aww!" pekik Anya saat sebuah trolly tiba-tiba menabrak tubuhnya dari belakang. Anya yang kesal segera berbalik untuk menegur sedikit si empunya trolly.
Ia tak bisa menyembunyikan raut terkejutnya ketika mendapati seseorang yang sangat ingin ia hindari, berada tepat di sana.
"Mas Daffa,"
...***...
Keduanya kini berada di salah satu kafe dekat supermarket.
"Kau benar baik-baik saja? Suamimu sama sekali tidak melakukan hal-hal yang buruk?" tanya Daffa ketiga kalinya. Dia tidak percaya begitu saja pada perkataan Anya, mengingat perlakuan kasar Axton pada gadis itu tempo hari.
"Sudah kubilang tidak, Mas. Kami hanya bertengkar beberapa hari, setelah itu ... baik-baik saja, seperti biasanya." Kilah Anya. Dia tak ingin lagi mengingat-ingat kejadian waktu itu.
Daffa terdiam, pikirannya melayang pada saat ia secara tiba-tiba mencium bibir Anya.
Daffa sadar betul, ia telah berbuat lancang dan kurang ajar. Namun, ia tidak bisa menahan dirinya untuk tidak melakukan hal tersebut. Rasa cintanya pada Anya sejenak membuat pria itu lupa, jika Anya adalah wanita yang sudah bersuami.
"Maafkan sikapku yang kurang ajar," ujar Daffa.
Anya menunduk dan mengangguk pelan. "Ya." Jawabnya singkat.
"Aku minta maaf atas kelancanganku, Anya, tetapi aku tidak akan pernah menyesal telah melakukannya. Bahkan konsekuensi yang kudapat dari tindakanku tempo hari tidak akan membuat perasaanku serta merta hilang begitu saja." Kata Daffa panjang lebar.
Anya mengernyitkan dahinya, "Maksud Mas, apa?" tanya gadis itu.
Daffa mengambil tangannya Anya yang tengah memegang gelas minuman. Anya berusaha menarik tangannya, akan tetapi Daffa reflek menahannya..
Pria itu menggenggam tangan Anya dan mengelusnya pelan.
Anya salah tingkah. Ini tidak benar! Dia tidak boleh lagi membiarkan pria itu bersikap semaunya seperti waktu itu.
__ADS_1
"Mas, banyak orang! Aku tak ingin–"
"Pergi darinya dan hiduplah denganku, Anya," perkataan Daffa selanjutnya membuat Anya membelalakan matanya.
"Ap–"
"Cukup dengan sekali lihat, aku bisa tahu bahwa pernikahanmu tidak bahagia? Apa yang terjadi? Kalian dijodohkan atau ... ada sesuatu hal yang mengharuskan kalian melaksanakan pernikahan itu?"
"Jangan sok tahu, Mas! Pernikahanku baik-baik saja." Anya meninggikan suaranya sedikit. Ia berusaha menyembunyikan raut wajahnya yang terkejut karena Daffa dapat dengan tepat menebak apa yang terjadi pada pernikahannya.
Gadis itu mencoba menarik tangannya kembali, namun Daffa dengan sigap menahannya lagi.
Pria itu kemudian memegang cincin pernikahan yang selalu tersemat di jari manis Anya, lalu tertawa miris.
"Melihat bagaimana dia memperlakukanmu demikian membuat aku mengurungkan niat untuk berhenti mengejarmu, Anya," Daffa menatap tajam Anya. Ia dapat merasakan remasan tangan Daffa menguat.
"Buktikan bahwa kau bahagia. Jika tidak, aku akan mengambilmu darinya secara paksa!" Kata pria itu dengan sungguh-sungguh.
...***...
Prang!
Axton kembali melempar gelas kelimanya.
Pria itu sekali lagi melihat dua lembar foto yang diberikan Hana padanya. Foto Anya dan Daffa yang tengah berada di salah satu kafe.
Selama ini Hana memang menyuruh orang untuk memata-matai Anya di luar. Ia tahu apa yang telah terjadi pada Anya dan Axton beberapa waktu lalu di alun-alun Kota bersama pria bernama Daffa. Wanita itu memang berniat menyingkirkan Anya tanpa harus mengotori kedua tangannya.
Dada Axton terasa sangat panas ketika melihat di dalam foto tersebut, Daffa tengah memegang dan mengelus tangan Anya mesra.
"BRENGSEK!" umpatnya.
"Kau tahu, hampir setiap saat Anya bertemu dengannya ketika keluar rumah."
Axton masih mengingat kata-kata Hana, yang tentu saja sebenarnya adalah sebuah kebohongan belaka.
...***...
Suara pintu depan terbuka.
Anya terkejut saat mendapati seisi rumah telah berantakan. Ada banyak pecahan gelas di mana-mana. Gadis itu segera melangkah dengan hati-hati seraya menghampiri Axton terduduk di ruang makan.
"Ada apa, Kak?" tanyanya khawatir. Tangannya meraih tangan kiri Axton yang telah mengeluarkan banyak darah .
Axton menepis tangan Anya. Pria itu kemudian melempar kedua foto tersebut di atas meja.
"Apa ini?" tanya Axton sinis.
Anya mengambil lembaran foto tersebut. Foto yang diambil tadi sore ketika ia secara tidak sengaja bertemu dengan Daffa.
"I–ini tidak seperti kelihatannya, Kak!" sanggah Anya yang kontan mendapat tawa sinis dari Axton.
"Katakan, sudah berapa kali kau janjian bertemu dengannya di luar?" tanya Axton seraya mencengkram kuat rahang Anya.
"Aaakkkh!" Anya mencoba melepaskan tangan Axton dari rahangnya.
"Jawab!"
__ADS_1
"Ba–baru sekali i–ini, Kak, itupun karena A–aku t–tidak sengaja bertemu d-dengannya tadi." Jawab Anya terbata-bata seraya menahan kesakitan.
"Pintar sekali kau berbohong!" Axton menjambak rambut Anya dan menyeretnya ke ruang televisi. Pria itu memaksa Anya berlutut menghadapnya.
"Sepertinya, kejadian tempo hari tak cukup membuat pria itu pergi darimu," ujar Axton murka.
"Katakan. apa yang harus kulakukan agar kalian berhenti saling bertemu?" Axton menarik rambut Anya semakin keras hingga membuat Anya mendongak.
"Aakkh!" Anya menahan tangan Axton agar tidak lebih keras menjambaknya. "T–tolong lepask–kan,"
Axton tertawa sinis, ia berjongkok menatap Anya dengan pandangan keji.
Entah kenapa dada pria itu terasa berdenyut sakit ketika melihat Anya berusaha tidak menangis, meski air mata sudah keluar membasahi pipinya.
Tess!
Tanpa sadar setetes air mata jatuh dari sudut mata Axton. Menyadari hal tersebut, Axton segera berdiri dan melepaskan jambakan tangannya pada rambut Anya.
"Aaarrghhh!" pria itu kemudian pergi meninggalkan Anya begitu saja.
...***...
Daffa berterima kasih pada salah seorang security paruh baya karena sudi membantunya naik ke lantai 16.
Anya meninggalkan ponselnya di mobil dan ia berniat mengembalikan ponsel tersebut. Untung saja salah seorang security dengan berbaik hati meminjamkannya kartu akses khusus setelah ia menjelaskan tujuannya ke lantai atas.
Ting!
Pintu lift terbuka. Daffa sedikit terperangah melihat lantai tersebut sedikit lebih mewah dari lantai-lantai sebelumnya. Pria itu menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri guna mencari lorong yang di tempati Anya.
"Sepertinya di sana,"
Daffa berjalan menyusuri salah satu lorong besar. Pria itu segera menghentikan langkahnya ketika melihat seorang pria yang begitu ia kenal keluar dari salah satu pintu Apartemen dengan raut wajah luar biasa murka.
Daffa refleks menyembunyikan diri.
Setelah merasa aman, ia melangkah menghampiri pintu Apartemen yang belum tertutup sempurna itu.
Pria itu perlahan masuk ke dalam Apartemen. Matanya terbelalak saat mendapati Anya tengah duduk terkulai di lantai ruang televisi dengan rambut acak-acakan, sementara pecahan gelas berserakan di mana-mana. Gadis itu tidak bergerak sama sekali
Daffa menghampirinya dan memegang kedua bahu Anya lembut
"Anya, kau baik-baik saja?"
Anya terkejut melihat Daffa berada di hadapannya. Gadis itu kontan memeluk Daffa dan mulai menangis sesenggukan. Ia tak ingin repot-repot memikirkan bagaimana Daffa bisa masuk ke dalam rumahnya. Yang jelas ia butuh seseorang saat ini.
Daffa mengangkat tubuh Anya dan mendudukannya di sofa. Air mata pria itu lolos ketika melihat kondisi Anya begitu mengenaskan. Dia juga dapat melihat rahang Anya sedikit membiru.
"Inikah yang ia lakukan padamu selama ini, Anya?" tanya Daffa seraya mengguncang pelan bahu gadis itu.
Anya tidak menjawab. Gadis itu malah mengencangkan suara isak tangisnya.
Daffa mengepalkan tangannya, raut wajah pria itu dipenuhi kemarahan. "Aku akan mencari bajingan itu dan membuat perhitungan!"
Baru saja Daffa berdiri, Anya sudah menarik tangannya. "Ku-kumohon jangan,"
Melihat tangan Anya gemetar hebat membuat Daffa mengurungkan niatnya. Pria itu memeluk Anya seerat mungkin dan menenangkannya.
__ADS_1
Berarti, firasatnya memang benar. Ada yang tidak beres dengan rumah tangga Anya dan ia telah melihatnya sendiri.
Secepat mungkin, ia harus membawa Anya pergi dari sini.