Cinta Anya Untuk X

Cinta Anya Untuk X
Kedatangan Kinanti dan Jagat (1)


__ADS_3

"Mbak, busnya sudah datang!" teriak Jagat seraya melambaikan tangan ke arah Kinanti yang sedang membeli beberapa cemilan untuk mereka diperjalanan.


Gadis itu segera membayar cemilan-cemilan tersebut sebelum berlari kecil sembari menyeret kopernya.


"Cepat, Mbak!" teriak Jagat sekali lagi.


"Bawel! Busnya juga tidak akan kemana-mana!" seru Kinanti membalas perkataan Jagat.


Sekarang mereka tengah berada di Terminal Bus dan akan berangkat ke Jakarta. Kemarin Callista menelepon Kinanti dan meminta keduanya untuk menghabiskan akhir pekan di sana. Gadis itu juga menyuruh mereka untuk tinggal bersamanya, sebab tidak mungkin menginap di rumah Anya dan Axton yang hanya memiliki satu kamar.


Setelah memastikan koper mereka telah aman di dalam bagasi, Kinanti dan Jagat masuk ke dalam Bus dan menyamankan diri di sana.


Callista yang tahu bahwa mereka akan melakukan perjalanan jauh menggunakan Bus sempat memaksa membelikan tiket pesawat agar mempersingkat waktu, namun Kinanti menolaknya. Ia beralasan ingin menikmati perjalanan ini, sebab sudah sejak lama mereka tidak melakukan perjalanan jauh menggunakan Bus.


Setelah seluruh penumpang naik, tak lama kemudian Bus segera berangkat.


"Mbak Anya pasti kaget," ucap Jagat sembari tersenyum geli membayangkan bagaimana raut terkejut sang Kakak mengetahui mereka datang ke sana tanpa memberitahunya.


***


Sudah hampir setengah jam Axton tiba kembali ke apartemen, namun tak juga kunjung keluar dari mobil. Pria itu tengah memejamkan kedua matanya sambil sesekali membentur-benturkan kepala ke sandaran kursi.


Telepon dari Bi Rahmi yang mengabarkan bahwa Anya sudah sadar membuat hatinya bimbang. Haruskah ia turun dari sana dan bertemu dengan Anya? Bagaimana jika wanita itu tiba-tiba berteriak histeris melihatnya?


Apa jawaban yang akan ia berikan pada Bi Rahmi jikalau wanita paruh baya itu bertanya mengapa Anya bereaksi demikian?


Drrt.. Drrt..


Drrt.. Drrt..


Ponsel Axton kembali bergetar.


Axton membuka mata dan melihat ke layar ponsel.


Pria itu mendengkus kesal melihat sebuah nama yang tertera di layar ponsel. Nama seseorang yang tidak ingin ia temui dulu untuk saat ini.


Siapa lagi kalau bukan Hana? Ini sudah kelima kalinya Hana mencoba menelepon. Tak lupa, ia juga telah berkali-kali mengirimkan pesan singkat ke ponselnya.


Axton tahu, Hana tidak akan berhenti sebelum Axton meresponnya, maka dari itu, meski enggan Axton akhirnya mengangkat panggilan telepon Hana.


"Sayang, kenapa pesanku tidak dibaca? Mengapa teleponku tidak diangkat-angkat? Mengapa mengabaikanku?" tanya Hana beruntun. Kentara sekali dari nada suaranya bahwa ia sedang kesal.


"Aku sibuk." Jawab Axton singkat.


"Aku tahu jadwalmu, Sayang. Hari ini kau pulang ke apartemenku, kan?" tanya Hana lagi.

__ADS_1


"Tidak tahu." Jawab Axton dingin. Entah mengapa mendengar suara Hana kini begitu memuakan di telinganya.


"Apanya yang tidak tahu? Pokoknya, kau harus pulang. Vi****** Sec*** baru saja merilis lingerie terbaru, aku membelinya dan ingin memerlihatkannya padamu," ucap Hana, suaranya berubah menjadi lebih sensual.


"Aku tidak tahu."


Mendengar nada suara Axton yang datar lantas membuat Hana berteriak marah. Wanita itu merasa seolah Axton telah mencampakannya beberapa waktu ini, padahal seharusnya mereka bisa kembali seperti dulu setelah tahu kebejatan Anya.


"Jangan sebut-sebut nama gadis itu." Axton memperingati Hana, tatkala wanita itu dengan gamblang menyalahkan Anya atas sikap Axton padanya kini.


"Kenapa memangnya? Apa jangan-jangan semua itu benar?" tanya Hana.


"Apa Anya benar-benar berselingkuh darimu dengan mantan pacarnya dulu?" Axton tak tahu bahwa wanita itu sekarang sedang tersenyum penuh kemenangan.


Hana tak ingin berhenti. Ia berniat memprovokasi Axton. "Sudah kubilang bahwa dia bukan gadis baik-baik. Kau harus segera menceraikanny–"


"Diam!" Axton menghardik Hana.


Hana bergeming sesaat, terkejut dengan sikap Axton yang malah menghardiknya.


"Hei, jal*** itu yang berkhianat di belakangmu, mengapa aku yang kena getahnya!" Hana setengah berteriak. Dia sakit hati mendengar Axton membentak dirinya, hanya gara-gara wanita sial yang sudah menghancurkan mimpinya untuk menjadi menantu keluarga Caldwell.


"Diam, Hana! Untuk saat ini aku tak ingin mendengar apapun darimu!" desis Axton.


Sebelum menutup teleponnya Axton kembali berkata dingin pada Hana, "kalau bukan karenamu, Anya tidak akan seperti ini!" lalu membanting ponselnya ke kursi belakang.


"Bang***! Bang***!" sekuat tenaga priaitu memukul kemudinya seraya mengumpat kasar!


***


"Alhamdulillah," gumam Bi Rahmi penuh kelegaan tatkala melihat termometer di tangannya menunjukan angka 36,4°c.


"Aku ingin tidur di kamar bawah, Bi," pinta Anya dengan suara lemah. Bibir dan ujung-ujung jari gadis itu tidak lagi membiru.


"Jangan, Bu, biar di sini saja, lagi pula di bawah bukan kamar, Bu." Bi Rahmi menahan Anya yang mencoba bangkit dari ranjang. Wanita paruh baya itu memaksa Anya untuk tetap berbaring.


Setelah memastikan Anya kembali berbaring, Bi Rahmi lantas bergegas mengambilkan semangkuk bubur di dapur dan menyuapi Anya.


***


Amsterdam, Belanda.


Maxim mengubah posisi tidurnya lagi. Ia memunggungi sang istri sembari memeluk gulingnya, namun lagi-lagi matanya tak juga terpejam.


Dia sebenarnya sudah sangat mengantuk, tetapi otaknya tidak bisa berhenti berpikir.

__ADS_1


Theresa kembali membuka matanya, melihat sang suami yang kini terduduk bersandar pada kepala ranjang.


"Kenapa lagi, Pa? Benar-benar tidak bisa tidur?" tanya Theresa. Wanita itu menguap, ini adalah kali ketiga ia terbangun dari tidurnya.


Maxim mengangguk seraya berkata bahwa perasaannya tengah luar biasa gelisah. Mula-mula sekali ia memikirkan kedua anak dan menantunya semalaman ini hingga membuatnya tidak dapat memejamkan mata.


Hati pria itu semakin tidak karuan ketika tak ada satupun dari mereka yang menjawab panggilan teleponnya, padahal seharusnya di sana sudah pagi hari.


"Sibuk, Pa, pasti Callista sudah berangkat ke kantor dan Axton sedang syuting. Anya juga bukan orang yang akan membawa ponselnya kemana-mana," ucap Theresa, menenangkan sang suami.


"Sebaiknya Papa kembali tidur, mereka pasti akan balik menelepon. Atau kita bisa menghubungi mereka lagi nanti."


Maxim menyetujui perkataan sang istri. Benar, mereka pasti sibuk dengan kegiatan masing-masing. Dia seharusnya tak memikirkan hal-hal buruk, yang hanya akan menambah beban pikirannya.


Theresa membantu Maxim merebahkan diri dan menyelimuti sang suami. Wanita itu menautkan tangannya pada lengan pria itu dan bersiap untuk kembali tidur.


"Ma?" panggil Maxim. Theresa menatap wajah sang suami, tanda bahwa ia merespon panggilannya.


"Apa kau masih tidak menyukai Anya?" tanya pria itu.


Theresa menghentikan kegiatannya. "Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?" wanita itu malah balik bertanya.


"Tidak. Aku hanya ingin melihat kebersamaan kalian seperti dulu. Melihat sikapmu pada Anya selama ini berubah, membuatku sedikit menyesali keputusanku menikahkan mereka." Kata Maxim panjang lebar.


Theresa melepas tautan tangannya kemudian duduk. Netra coklatnya memandang Maxim sekilas sebelum mengalihkannya ke arah lain.


Theresa menyadari sikapnya selama ini pada Anya. Dia memang tidak menginginkan gadis itu untuk menjadi menantunya. Dulu saat Maxim mengutarakan niatnya mencari Anya dan akan menikahkan gadis itu dengan Axton, Theresa menentangnya habis-habisan.


Ia tahu keluarganya banyak berhutang budi pada keluarga Handoko, namun bukan berarti Maxim bisa seenaknya memutuskan langkah apa yang ditempuh untuk membalas kebaikan mereka.


Axton adalah anak laki-laki kebanggaannya. Sejak dulu, Theresa lah yang selalu mengatur bagaimana hidup kedua anaknya harus berjalan, terutama Axton yang dia harapkan bisa menjadi penerus perusahaan keluarga Caldwell kelak.


Namun harapannya harus pupus seketika saat Axton dengan lantang menolak dan malah melempar tanggung jawab tersebut pada sang adik, lalu memilih terjun ke dunia entertainment.


Maka dari itu, setidaknya dia ingin Axton memiliki istri dari keluarga yang benar menurutnya.


Dan Anya bukanlah gadis istimewa lagi di matanya setelah kepergian Sigit dan Ratna. Dia hanyalah seorang gadis yatim piatu biasa. Dia tidak memiliki prestasi apapun di sekolah setelah hidup dengan Bu Rastini. Hubungannya dengan Elang bahkan tidak pernah baik-baik saja. Dia juga bukan gadis yang bekerja di kantoran. Terlalu banyak hal yang membuat Anya terlihat sangat tidak pantas bersanding dengan Axton di mata Theresa.


Akan tetapi ia harus kembali mengalah tatkala Maxim mengulas kembali pengorbanan Anya lima tahun yang lalu pada anak mereka, Axton. Itulah yang membuat Theresa begitu membenci Anya. Ia menduga Anya sengaja melakukan itu untuk mengunci Axton agar bisa mengembalikan hidupnya seperti dulu. Gadis yang awalnya terbiasa hidup bergelimang harta bukan tidak mungkin merindukan hal-hal tersebut.


Namun hatinya sedikit goyah ketika Anya dengan percaya diri mengajaknya berbincang berdua tepat dua hari sebelum keberangkatannya meninggalkan Indonesia. Wanita itu bahkan sampai menangis tatkala Anya mengembalikan Dream Cathcer pemberiannya bertahun-tahun lalu. Ia tak habis pikir Anya sudi menyimpannya sekian lama.


Theresa menghembuskan napasnya sekali. "Aku tidur duluan ya, Pa?" tanpa menunggu respon sang suami, Theresa merebahkan diri, memunggungi pria itu lalu memejamkan matanya.


Maxim tersenyum. Dia tahu betul sang istri tidak sepenuhnya membenci Anya.

__ADS_1


__ADS_2