
Tak berapa lama, mobil Axton berhenti di depan sebuah gerbang besar nan megah berwarna keemasan. Kinanti dan Bu Rastini tidak bisa menahan decakan kagum ketika melihat kemegahan tersebut. Adik perempuan Anya itu bahkan tak dapat menutup mulutnya selama beberapa detik. Walau mereka sudah pernah bertandang ke sana saat pertemuan pertama Anya dan Axton, tetap saja keduanya tak bisa bersikap biasa-biasa saja.
"Ini aku," setelah Axton berkata demikian melalui interkom, gerbang besar tersebut perlahan-lahan terbuka. Axton menjalankan mobilnya kembali.
"akhirnya kalian datang juga!" seru Theresa dengan wajah sumringah ketika mereka semua keluar dari dalam mobil. Wanita itu segera memeluk erat keempatnya, kemudian menggandeng tangan Bu Rastini untuk masuk ke dalam rumah.
Maxim menyambut hangat keluarga besannya di ruang tengah. Pria itu juga dengan sangat ramah menanyakan perihal dunia perkuliahan anak-anak Bu Rastini.
"Do'akan kami ya, Tuan? Agar kami bisa lulus dengan nilai yang memuaskan," ujar Kinanti.
Maxim menggeleng-gelengkan kepalanya, "Panggil aku, seperti Kakakmu memanggilku," pinta Maxim.
Kinanti mengangkat alisnya, raut wajah gadis itu sejenak kaku. Matanya menoleh pada Bu Rastini yang dibalas dengan gelengan kepala.
Melihat itu, Maxim kembali bersuara, "Kita sudah bukan orang lain. Biar bagaimanapun juga, kalian adalah keluarga Anya yang sekarang."
Mata teduh dan senyuman ramah pria itu membuat Kinanti melemaskan otot-otot wajahnya. "Iya, emm– Pa,"
Maxim tertawa mendengarnya kemudian mengelus kepala Kinanti lembut. Sejak dulu, Maxim memang menyukai sifat kedua anak kembar itu sedari kecil. Bu Rastini mendidik dan merawat mereka dengan sangat baik.
Obrolan mereka terhenti saat Kepala Koki memberitahu, bahwa makan malam telah siap.
"Bagaimana keadaanmu, Anya?" tanya Theresa ramah disela-sela makan malam mereka.
"Sudah jauh lebih baik, Ma." Jawab Anya.
"Syukurlah. Kau harus lebih memerhatikan kesehatanmu ya, Sayang?" Theresa menepuk-nepuk punggung tangan Anya yang berada di sampingnya.
Mendapat perlakuan seperti itu. hati Anya tiba-tiba menghangat. Meski yang dilakukan Theresa semata-mata hanya sandiwara belaka, namun dia tak bisa memungkiri perasaan bahagia yang menyelimuti dirinya saat ini.
"Iya, Ma." Jawab Anya dengan suara hampir bergetar.
"X, kau itu harus lebih memerhatikan kesehatan istrimu. Anya sakit sudah pasti karena kau selalu menomor satukan kegiatan syuting dan pemotretanmu itu," Theresa memicing, matanya menatap Axton dengan pandangan marah yang dibuat-buat.
Axton menghela napasnya berat, "Mmm ...." gumamnya.
"Saya tahu betul, Nak Axton memperlakukan Anya dengan baik. Anak ini hanya terlalu banyak bekerja. Sejak dulu dia memang senang sekali menghabiskan waktunya bekerja."
Mendengar perkataan Bu Rastini, Maxim mengangkat kepalanya. Setahunya, Anya tidak diterima bekerja, lalu bagaimana Bu Rastini bisa berkata, bahwa Anya sakit akibat terlalu banyak bekerja?
"Anya, bukankah kau tidak lolos interview beberapa waktu yang lalu?" tanya Maxim penasaran.
Axton berdehem, sementara Theresa terlihat kikuk.
Anya yang melihat gelagat aneh dari Ayah Mertuanya segera membuka suara, "Iya, Pa, aku melamar pekerjaan lagi di tempat lain dan baru diterima seminggu yang lalu. Karena aku karyawan baru, jadi aku harus sering-sering lembur."
Mendengar jawaban demikian, Maxim mengangguk-anggukan kepalanya. "Kalau mereka terlalu menekanmu, katakan saja, biar Papa yang temui atasanmu,"
__ADS_1
"Tidak perlu, Pa, terima kasih," Anya meringis tertawa.
"Lalu bagaimana sekarang?" tanya Bu Rastini. "Sebaiknya kamu di rumah saja mengurus Suamimu, Nak. Kalau kamu sakit lagi, yang ada kamu hanya akan menyusahkan Suamimu." Nasihat Bu Rastini.
"Iya, Bu, aku tidak akan lama di sana." Jawab Anya dengan nada tenang. Meski dia sedang berbohong, tetapi Maxim, Bu Rastini dan Kinanti tidak menyadari kebohongannya sama sekali. Mungkin karena terbiasa bersama Axton, membuat dirinya jadi pandai berakting juga.
Anya kembali menyantap makanannya dalam diam. Dia tidak menyadari, bahwa ada seseorang yang tengah menatapnya dengan raut wajah tak terbaca.
Selesai makan malam bersama, mereka kembali mengobrol di ruang tamu sembari menyantap kudapan.
Sesekali tawa Theresa dan Bu Rastini menggema menghiasi ruang tamu. Tampaknya kedua wanita tersebut tengah membicarakan sesuatu hal yang sangat seru.
Anya dapat melihat kedekatan keduanya.
"Andai semua itu bukan sandiwara." batin Anya sendu.
"Mbak Theresa, bolehkah saya meminjam toiletnya?" suara Bu Rastini membuyarkan lamunan Anya.
"Silahkan Mbak, silahkan. Tapi karena toilet lantai bawah sedang dalam perbaikan, jadi Mbak bisa gunakan toilet di kamarku saja."
"Apa, tidak apa-apa?" tanya Bu Rastini, merasa sungkan.
"Tidak apa-apa." Jawab Theresa ramah. Wanita itu kemudian memanggil salah satu maid untuk memandu Bu Rastini ke lantai atas.
"Masuk saja, Bu, toiletnya ada di dalam." Kata seorang maid yang mengantar Bu Rastini.
"Aku akan menunggu di sini, Bu. Oh iya, mari tasnya biar saya pegang," tawar maid itu.
Bu Rastini menyerahkan tas tangannya lalu masuk ke dalam kamar.
Matanya membola ketika mendapati kamar yang luar biasa luas dan mewah. Ukurannya mungkin dua kali lipat lebih luas dari pada rumahnya di desa saat ini.
Sejenak wanita itu terpukau, sebelum akhirnya menyadarkan diri.
Tak ingin berlama-lama di sana, dia segera masuk ke dalam kamar mandi.
Butuh waktu lama bagi Bu Rastini untuk menggunakan toilet, sebab toilet tersebut tak sama seperti toilet di rumahnya.
Setelah selesai menggunakan kamar mandi, wanita itu mengucapkan terima kasih.
Mereka pamit tak lama kemudian.
"Menginap saja di sini, Mbak, besok supir akan membawakan barang-barang kalian di Apartemen, lalu mengantar kalian langsung ke bandara. Lebih cepat dari pada kereta api." Theresa sedikit memaksa, namun Bu Rastini yang merasa tak enakan, menolak tawaran besannya tersebut. Dia merasa, dijamu dengan sangat baik saja sudah cukup baginya.
Mereka akhirnya pergi.
"Terima kasih ya, Nak Axton, karena sudah mau direpotkan Ibu?"
__ADS_1
Axton yang sedang fokus menyetir mobil menganggukan kepalanya. "Tidak ada yang merepotkan, Bu." Jawabnya.
Bu Rastini tersenyum. Tidak ada lagi pembicaraan di dalam mobil, hingga lima belas menit kemudian ponsel Axton berdering berkali-kali.
Axton segera mengangkat teleponnya dengan satu tangan.
Setelah berbicara sejenak, dia lalu menghentikan mobilnya di tepi jalan.
"Mama menyuruhku untuk kembali ke rumah secepatnya." Katanya memberitahu.
"Ada apa, Kak?" tanya Anya yang tiba-tiba merasa sangat gelisah.
"Kalau begitu, ayo kita kembali," ujar Bu Rastini.
Axton segera memutar balik mobilnya menuju kediaman orang tuanya kembali.
Setelah mereka tiba di sana, Theresa rupanya sedang menangis meraung-raung. Dengan berurai air mata, ia meminta maaf pada Bu Rastini. Wanita itu berkata, bahwa dia tak bermaksud menuduh mereka bertiga.
Axton menanyakan apa yang telah terjadi. Jantung Anya berdegup kencang, ketika Theresa memberitahu jika salah satu cincin berlian hadiah ulang tahun dari Maxim telah raib dari tempatnya.
"Mama yakin tidak terselip? Sudah memeriksa seluruh orang yang ada di sini?" tanya Axton tegas.
"Sudah! Mama sudah memeriksa mereka satu persatu, tapi tidak ada!" Jawab Theresa histeris. Wanita itu kemudian menoleh pada Anya, Bu Rastini dan Kinanti. "Aku mohon maaf, tetapi bisakah aku memeriksa barang bawaan kalian. Aku tahu ini sangat memalukan, tapi ...," Theresa tak meneruskan kalimatanya.
Maxim meradang. Istrinya sudah keterlaluan. Mereka adalah menantu dan keluarganya. "Ma, mereka keluarga kita! Tak pantas bagi kita mencurigai keluarga sendiri!" pekik Maxim penuh amarah.
"Aku tahu, aku tahu! Tetapi, itu adalah salah satu barang kesayanganku darimu, Pa. Harganya pun tidak main-main!" Theresa meninggikan suaranya.
Tak ingin melihat kedua besannya bertengkar, Bu Rastini segera menyerahkan tasnya dan tas milik Kinanti. Tak lupa, tas Anya ikut digeledah.
"Tidak apa-apa, saya tidak keberatan. Biar kita sama-sama enak."
Theresa memasang wajah tak enak, "Sekali lagi, saya mohon maaf ya, Mbak," ujarnya sembari terisak-isak
Bu Rastini mencoba menenangkan Theresa.
Leo, Kepala pelayan rumahnya segera memeriksa tas ketiganya, namun tidak terdapat cincin berlian yang Theresa maksud, di tas manapun.
"Kau harus meminta maaf karena telah mempermalukan keluarga Anya!" sentak Maxim.
Theresa segera memeluk Bu Rastini dan mengatakan maaf berulang-ulang kali. Bu Rastini mengelus punggung Theresa sembari berucap, tidak apa-apa.
"Baiklah, sebaiknya kami pulang, ini sudah hampir larut malam."
Setelah berpamitan kembali dan berjalan menuju pintu keluar, tiba-tiba terdengar suara benda jatuh dari saku jaket Bu Rastini.
Mata semua orang terperanjat ketika melihat sebuah benda kecil yang berkilauan, menggelinding menuju kaki Theresa.
__ADS_1
Bu Rastini menutup mulutnya, seakan tak percaya apa yang tengah dia lihat.