
"Ada apa?" tanya Elang tanpa basa-basi.
"Bagaimana Anya?"
"Dokter belum datang dan berhenti menggangguku. Kau baru saja meneleponku sepuluh menit yang lalu!" pekik Elang penuh emosi.
"Kalau begitu aku akan menerobos masuk ke sana." Axton berkata sungguh-sungguh.
"Kubunuh kau."
"Beritahu aku,"
Elang menghela napasnya. Mencoba meredam kekesalan yang hampir saja memuncak. "Ya. Dan jangan menelepon sebelum aku kabari!"
"... terima kasih ... Mas,"
"Berhenti memanggilku seperti itu. Menjijikan!" Elang menutup sambungan teleponnya secara sepihak.
Axton mengatupkan bibirnya geram. Jika tak ingat pria itu adalah Kakak dari Anya, ia juga tak 'kan sudi memanggil Elang dengan sebutan itu.
Tak lama, dokter Maya datang ke ruangan Anya. Beliau bersama beberapa perawat membawa alat USG yang ukurannya lebih kecil dari biasanya.
Elang mengintip dari ambang pintu ruangan. Ragu-ragu, apa harus ikut masuk ke dalam atau lebih baik menunggu di luar saja.
"Bapak tidak mau lihat keponakannya?" tanya dokter Maya dengan raut wajah jenaka.
"Saya di luar saja." Jawab Elang meringis.
Tanpa aba-aba, Dania segera menarik tangan Elang agar masuk ke dalam.
"Maaf ya, Bu," salah satu perawat menaikan baju Anya sebatas perut lalu mengoleskan gel dingin di perutnya. Dokter Maya segera mengambil transducer.
"Wah, dia sedang meringkuk." kata sang dokter. Anya menatap layar monitor dengan wajah sumringah, begitupun dengan yang lainnya.
Elang bahkan tidak berkedip. Matanya memandang takjub sesosok mahluk mungil aneh yang terlihat di layar monitor.
"Usianya sudah 21 minggu 3hari, beratnya 376gram, dan panjangnya ...," dokter Maya mengukur panjang janin Anya. "28 centimeter."
"Kita dengar detak jantungnya ya," ujar dokter Maya kemudian.
Tak lama suara detak Jantung si bayi terdengar menggema ke seluruh ruangan Anya.
"Detak jantungnya bagus dan air ketubannya juga banyak. Sayang sekali ia masih malu-malu menunjukan jenis kelaminnya." Dokter Maya tersenyum.
"Jadi anak dan cucu saya baik-baik saja 'kan, dok?" tanya Dania antusias.
"Iya, Bu. Pendarahan sudah berhenti dan flek pun tak ada. Seperti yang saya katakan tempo lalu.
Jika kondisi Bu Anya tidak memungkinkan, ia harus menjalani Cervical Cerclage guna mencegah keguguran atau kelahiran premature. Apa lagi ternyata kondisi serviks Bu Anya terlalu lunak. Tetapi saya mau menunggu sampai usia kehamilan 24 minggu dulu, jika ditemukan resiko baru kita akan lakukan tindakan." dokter Maya menjelaskan panjang lebar.
"Lalu bagaimana, dok? Anak saya harus menunggu selama itu di sini atau boleh pulang ke rumah?" tanya Dania lagi.
"Ibu Anya sudah boleh pulang ke rumah. Namun harus tetap bedrest ya? Jangan lakukan pekerjaan berat. Jangan bangun dari tempat tidur jika memang tidak diperlukan. Cukup nikmati saja moment ini."
__ADS_1
Anya mengangguk patuh. Dania berterima kasih pada sang dokter.
"Kalau begitu saya urus surat kepulangan Ibu Anya dulu, beserta beberapa obat yang harus dibawa pulang."
...***...
Ting!
Sebuah pesan masuk ke ponsel Axton.
[Anya sudah boleh pulang.]
[Jangan coba-coba datang kemari!]
Axton tak mengindahkan peringatan Elang. Pria itu bergegas mengajak Ian pergi ke Rumah Sakit.
...***...
Siang harinya Anya sudah diperkenankan pulang ke Rumah. Dania mendorong kursi roda Anya, sementara Kinanti dan Jagat membantu membawa barang-barang sang Kakak.
Dari jauh, Axton dan Ian tampak sedang memperhatikan mereka diam-diam dari balik salah satu mobil. Sebongkah perasaan rindu membuncah kala indera penglihatannya menangkap sosok sang istri yang sudah begitu lama ia rindukan. Sosok yang ingin sekali ia dekap saat ini juga.
Namun apa daya, Axton harus tetap menjaga jarak demi kondisi Anya dan anaknya. Dia menahan kakinya sekuat mungkin agar tidak berlari menerjang Anya.
Matanya tak kunjung lepas semilipun dari sosok Anya. Ia takut jika berpaling sedikit saja, Anya sudah hilang dari pandangannya.
Anya berdiri dari kursi roda dibantu Elang.
Mereka reflek bersembunyi ketika Anya tiba-tiba menoleh ke arahnya.
"Sepertinya, aku merasa seseorang sedang memerhatikan kita." Jawab Anya sembari menoleh ke kanan dan ke kiri.
"Perasaanmu saja." Elang membantu Anya naik ke dalam mobil. Tak lama mereka pun pergi dari sana. Begitu pula dengan Axton dan Ian.
Keduanya membuntuti mobil Elang sampai ke rumah kontrakan Anya. Mereka mengawasi rumah tersebut selama beberapa lama sebelum akhirnya pergi dari sana.
Tepat malam harinya, Maxim, Theresa dan Callista datang ke rumah Anya. Maxim dan Dania sudah saling berkomunikasi sejak beberapa hari yang lalu. Dan karena urusan Kantor mereka baru bisa pergi ke sana hari ini.
Begitu melihat Kinanti dan Jagat, Theresa langsung bersimpuh di depan mereka, kebetulan Anya sedang tidur setelah makan dan minum obat.
Sembari menangis sesenggukan Theresa menceritakan kejadian sebenarnya perihal Ibu mereka, Bu Rastini. Maxim dan Callista yang sudah tahu dari beberapa hari kemarin juga turut meminta maaf pada keduanya.
Kedua saudara kembar itu syok bukan main. Kinanti bahkan menangis meraung-raung sembari meneriaki Theresa.
Mendengar suara ribut-ribut dari luar, Anya terbangun. Wanita itu penasaran dengan apa yang sedang terjadi di sana.
"Mama minta maaf sekali lagi. Maafkan Mama." Suara Theresa yang menangis membuat Anya menghentikan langkahnya. Dia baru saja membuka pintu kamar sedikit.
"Maaf tak akan membuat Ibuku hidup lagi." Suara Kinan terdengar dingin. Gadis itu sudah tak lagi berteriak.
Anya mengerutkan keningnya, bingung akan maksud dari perkataan Kinanti.
"Kupikir memang lebih baik Mbak Anya berpisah dengan Kak X. Dia tak akan sudi memiliki Mertua yang telah membunuh Ibu angkatnya."
__ADS_1
Mata Anya membola.
"Ibuku mati dengan membawa sejuta perasaan bersalah karena mengira telah membuat malu Mbak Anya di hadapan keluarga suaminya. Padahal kenyataannya, besannya lah yang sudah menjebaknya!"
"Kalian tidak pantas menyandang keluarga terhormat!"
BRUK!
Sontak mereka semua menoleh ke sumber suara. Rupanya Anya tengah jatuh terduduk di ambang pintu.
Dania buru-buru menghampiri Anya. "Ya Allah, sayang, kenapa bangun?"
"Anya dengar, Bun," ujar Anya. Pandangan matanya mendadak kosong.
Dania terdiam. Ia bingung harus bereaksi seperti apa.
Theresa bangkit lalu mendekati Anya. Wanita itu memeluk Anya seraya menggumamkan kata maaf berulang-ulang kali.
"Hukum Mama saja, tapi jangan hukum X, Nak" Theresa memohon. Menangis tersedu-sedu.
Anya tidak merespon. Sekujur tubuhnya terasa dingin.
Takut terjadi apa-apa, Dania segera memanggil anaknya.
Elang yang ternyata sedang berada di luar bersama Axton dan Ian, bergegas masuk ke dalam. Axton tak kunjung melangkah. Ia terlalu terkejut mendengar semua pengakuan Theresa barusan.
Sesampainya di dalam Elang segera membopong Anya dan membaringkannya di ranjang. Pria itu kemudian mengusir mereka semua secara halus. Hanya Kinanti yang berada di kamar Anya.
Kinanti menangis di pelukan Anya. Disela-sela isak tangisnya Kinanti meminta maaf pada Anya karena telah bersikap kasar pada mertua sang Kakak.
Anya memaklumi. Ia mengerti kesakitan Kinanti. Biar bagaimanapun, kesedihannya tak bisa dibandingkan dengan kesedihan Kinanti dan Jagat, anak kandung Bu Rastini.
Maxim, Theresa dan Callista lantas berpamitan pada Dania, Elang dan juga Jagat. Di halaman rumah, Axton hanya menatap Maxim dan Callista sekilas. Pria itu enggan menatap Ibunya. Bersama Ian, ia pergi terlebih dahulu ke hotel.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Note:
Cervical cerclage atau Sirklase Serviks, atau lebih kita kenal Ikat Rahim adalah metode penjahitan pada daerah serviks melalui **** * ataupun pembedahan perut guna mencegah keguguran atau kelahiran premature, karena kondisi serviks yang terlalu lunak atau pendek (kurang dari 2,5centimeter).