Cinta Anya Untuk X

Cinta Anya Untuk X
Pertemuan Axton dan Anya


__ADS_3

Menjelang siang hari Dania dan Elang tiba di Rumah Sakit. Semalam Elang mengabari Dania perihal kondisi Anya. Dan tanpa pikir panjang Dania langsung mengambil penerbangan pertama di pagi hari.


Dengan telaten wanita itu menyuapi Anya dan membersihkan wajahnya. Sedangkan untuk mandi belum dapat Anya lakukan, sebab dia masih belum diperkenankan turun dari ranjang.


Menjelang siang hari, Bu Ida, Bude Jum, Dian dan beberapa tetangga rumah datang menjenguk Anya. Suasana yang cukup ramai membuat Anya merasa sangat senang. Wanita itu bahkan sesekali ikut menimpali candaan Bu Irma, tetangganya yang dikenal jenaka.


"Bunda belum dengar alasanmu menolong Anya," bisik Dania pada Elang yang tengah duduk di sampingnya. Keramaian membuat obrolan mereka tidak terdengar.


"Kebetulan saja." Jawab Elang singkat.


Dania mengangkat alisnya jenaka. "Serius?"


"Ck!" Elang berdecak kesal. "Aku tak mau dia sampai mati." Jawab pria itu.


Dania tidak terkejut mendengar jawaban kasar Elang. Anak satu-satunya itu memang dikenal memiliki lidah tajam. Maka dari itu, alih-alih terkejut atau marah, wanita paruh baya itu malah menepuk keras lengan kekar Elang.


"Bund!" pekik Elang. Matanya melotot ke arah sang Ibu, mencoba mengintimidasi meski ia tahu itu tak akan mempan padanya.


Dania hanya mengangkat bahu sementara matanya menyoroti Anya, enggan menatap sang putra.


"Omong-omong, Bu Dania dan Bapak Elang baik sekali sudah sudi membawa Anya kemari. Sekali lagi, terima kasih ya, Bu, Pak," Bude Jum memotong pembicaraan Anya dan para ibu-ibu lainnya.


Dania berdiri dari sofa kemudian menghampiri Anya. "Tidak perlu berterima kasih ibu-ibu. Justru sayalah yang harus banyak-banyak terima kasih karena telah menjaga adik Elang selama ini."


Suasana hening seketika tatkala Dania selesai bicara. Anya menatap canggung wajah para Ibu yang tampak syok.


Dania membuyarkan suasana hening dengan tawa kecilnya. Wanita yang masih terlihat cantik di usianya itu kemudian bercerita tentang hubungan kedua anaknya. Tidak semua, hanya intinya saja, termasuk beberapa cerita yang mau tak mau dimodifikasi sedikit, terutama saat pertemuan pertama mereka.


Anya mengambil suara. Dia beralasan, hubungan mereka yang tidak terlalu dekat membuat Anya tak ingin terlibat jauh dengan Dania dan Elang.


Ibu-ibu di sana mengangguk paham. Mereka maklum, karena biar bagaimanapun Elang dan Anya hanya saudara seayah, jadi wajar rasanya jika hubungan mereka tidak seakur kakak beradik lainnya.


"Syukurlah, setidaknya Mbak Anya tidak lagi sendirian disaat suaminya pergi merantau." Kata Bude Jum. Para Ibu menyetujui perkataan Bude Jum.


"Maaf, Bapak siapa?" Salah seorang penjaga suruhan Elang terdengar berbicara entah pada siapa.


Elang memang menaruh dua orang pengawalnya untuk berjaga di depan pintu. Kinanti yang memintanya semalam, tanpa memberitahukan alasannya. Elang yang tak ingin repot-repot bertanya, mengiyakan saja permintaan Kinanti. Toh, dia merasa ada bagusnya juga. Jika Anya butuh sesuatu, kedua pengawalnya bisa dimintai pertolongan.


"Biarkan aku masuk," suara seorang pria terdengar familiar di telinga Anya.


"Maaf, Pak, tolong identitas anda?"

__ADS_1


"Tidak perlu. Minggir,"


BRAAAK!


Sesuatu menabrak pintu ruangan Anya. Jagat, Kinanti dan Elang sontak berdiri. Baru saja Jagat hendak melangkah ke arah pintu, Elang sudah menghadangnya. Ia memberi mereka isyarat untuk diam.


"Kurang ajar! Siapa kau? Berani-beraninya membuat keributan di sini!" salah seorang pengawal Elang yang lain bersuara.


"Istriku ada di dalam!"


Deg!


Jantung Anya seolah jatuh ke kaki. Tak salah lagi, itu adalah Axton. Bagaimana bisa pria itu berada di sini?


Mata Anya menatap horor ke arah pintu.


Menyadari perubahan raut wajah sang anak, Dania bergegas memeluknya. "Ada apa, Nak?" tanya wanita itu khawatir.


Tubuh Anya mendadak menggigil. Matanya memandang Dania penuh ketakutan. "Jangan biarkan masuk, Bund," lirihnya.


"Itu sepertinya suamimu, Anya," Dania juga mendengar pria di luar berkata bahwa istrinya ada di dalam.


Anya mencengkram lengan baju Dania seerat mungkin. "Jangan biarkan dia masuk, Bund. Aku mohon," airmata sudah menggenang di pelupuk mata Anya.


"Elang," Dania menatap anak laki-lakinya yang tengah bersiap membuka pintu.


Elang mengangguk. Pria itu lalu membuka pintu dan keluar secepat mungkin.


Dania masih memeluk Anya. Wanita itu terus-terusan mengatakan hal yang sama pada Ibunya.


"Sebenarnya ada apa Kinan? Jagat?" Dania menuntut jawaban dari kedua adik Anya.


...***...


"Ada apa ribut-ribut?" suara bariton Elang menghentikan Axton yang hendak kembali meninju salah satu pengawalnya.


Axton menghempaskan pengawal tersebut ke lantai. Elang tersentak, bukan pada kondisi kedua pengawalnya, melainkan pada wajah Axton yang terlihat sangat familiar di matanya.


Beberapa satpam berjalan menghampiri mereka namun Elang segera mengangkat tangannya, bermaksud menghalangi satpam-satpam itu.


"Biar saya yang urus." Suara dingin Elang membuat satpam-satpam itu tak berani berkutik. Mereka mundur perlahan.

__ADS_1


"Ada perlu apa sampai lancang membuat keributan di sini?" Elang mengulang pertanyaan yang sebelumnya diajukan salah satu pengawal.


"Istriku ada di dalam! Dan ... siapa kau?" Axton memandang tajam Elang.


Elang maju selangkah. "Siapa istrimu? Setahuku, kau belum menikah?" Kini dia ingat siapa Axton.


Axton tidak menjawab. Pria itu malah mencoba menerobos masuk. Elang reflek menahan dada Axton.


"Pergi dari sini!" desis Elang. Dia berusaha mengintimidasi Axton melalui tatapan matanya. Namun, bukannya takut, Axton malah menatap Elang balik.


Meski tinggi tubuh mereka sama tetapi tubuh Elang jauh lebih besar.


Ian melangkahkan kaki mendekati mereka berdua. Tangannya mencengkram halus pergelangan tangan Elang yang berada di dada Axton. "Cukup."


Tak!


Suara handle pintu ruangan Anya terbuka. Kinanti tampak keluar dari sana.


Suasana tegang mendadak hilang seketika saat Kinanti menyebut nama Axton.


...***...


Kini, Axton, Elang, Kinanti dan Ian berada di salah satu kedai kantin rumah sakit. Tak ingin ada keributan, Kinanti berinisiatif mengajak mereka bicara.


"Selama ini Mbak Anya hidup dengan baik meski harus tinggal sendirian di Luar Kota."Katanya memulai pembicaraan.


"Beruntung ia tinggal di wilayah yang sangat ramah. Para tetangga memperlakukannya sudah seperti saudara sendiri. Meski dalam keadaan hamil, hampir semua tugas rumah tangga dapat dilakukan Mbak Anya seorang diri."


"Dia sanggup memasang kanopi dari terpal untuk melindungi lapak dagangannya dari panas dan hujan. Dia sanggup memasak puluhan box untuk anak-anak Panti yang berada di sana. Dia sanggup berbelanja bahan dagangan ke pasar atau ke agen sendirian, dia sanggup berjualan, dan bahkan, dengan kepala tegak dia sanggup pergi ke dokter seorang diri, disaat ibu-ibu lain datang bersama suami mereka." Kinanti memberi jeda sejenak. Matanya berkaca-kaca.


"Meski ia telah kehilangan orang-orang terpenting dalam hidupnya dan dibenci oleh orang-orang yang dicintainya, Mbak Anya tetap mampu tersenyum. Senyumnya ... cantik sekali," Kinanti tersenyum hangat membayangkan wajah cantik sang Kakak.


Elang menunduk.


"Mbak Anya mungkin terlihat baik-baik saja dari luar. Tetapi, siapa yang tahu bahwa ia ternyata memendam kesakitannya lebih dalam dari pada siapapun. Kendati tubuhnya mampu melakukan segala hal, namun hatinya jauh lebih rapuh dari sebongkah kaca." Airmata mengalir membasahi pipi Kinanti.


Gadis itu menatap Kakak Iparnya sendu. "Kak," sorot matanya tengah memohon. "tolong, lepaskan Mbak Anya. Biarkan dia merasakan hidup bahagia yang sebenar-benarnya." Tangis Kinanti pecah detik itu juga.


Sekuat tenaga Axton mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih.


Dadanya nyeri luar biasa.

__ADS_1


Tes!


Setetes airmata jatuh dari netra biru Axton.


__ADS_2