Cinta Anya Untuk X

Cinta Anya Untuk X
Akhir Kisah.


__ADS_3

Anya menapaki apartemen milik Axton selangkah demi selangkah. Tangan halusnya menyentuh setiap furniture rumah yang bisa ia gapai.


Semua masih terlihat sama di mata wanita cantik itu. Walau hawanya memang terasa lebih suram dari pada yang terakhir ia ingat.


Anya masih merasa ini semua bagaikan mimpi. Bisa kembali ke sini merupakan hal yang sedikit sulit ia percayai sebenarnya.


Sebuah tangan besar menggenggam lembut tangan kiri Anya. "Rumah ini rindu akan pemiliknya," ujar Axton. Anya tersenyum manis. Ia membalas genggaman tangan suaminya sama erat.


Mereka berjalan masuk lebih ke dalam hingga sampai pada sebuah pintu yang sangat Anya kenali, ruang fitting room Axton. Wanita itu membukanya perlahan.


Suasana ruangan tersebut masih tetap sama. Yang membedakan hanya, tak ada lagi futon tipis yang Axton siapkan untuknya tidur. Anya menutup pintu ruangan teesebut lalu beralih menuju ruang televisi.


Wanita itu terperanjat tatkala mendapati sebuah bingkai berukuran 20RS terpajang di dinding ruang tamu.


Itu adalah foto pernikahan mereka.


Anya menoleh ke arah Axton. Matanya mulai berkaca-kaca. Dia berjalan mendekati bingkai foto tersebut. Meraba ujung fotonya dengan tangan yang sedikit gemetar.


"Beberapa minggu setelah kau pergi, aku mencetak foto ini." Axton membuka suara.


"Mengapa?" tanya Anya penasaran.


"Karena aku sadar, aku tak ingin kehilangan dirimu." Jawab Axton jujur. Pria itu meraih pipi ranum Anya dan mengecupnya singkat. Axton kemudian mengajak Anya naik ke kamar mereka.


Wanita itu menatap takjub suasana kamar yang tak lagi sesuram dulu. Semua koleksi Lego yang Axton milikipun tak lagi terlihat di sana.


"Kemana semua Legomu?" tanya Anya penarasan.


"Sudah kupindahkan."


"Ke mana?"


"Rumah baru kita. Selagi menunggu rumah baru kita selesai dibereskan, kau tidak keberatan tinggal di sini, kan?"


Anya mengernyit keheranan. "Memang kapan aku pernah keberatan?" tanyanya.


"Rumah ini memiliki kenangan yang buruk dan aku tidak mau memulainya di sini."


Anya memutar tubuhnya, menatap Axton yang jauh lebih tinggi darinya. Wanita itu meraih pipi Axton dan mengelusnya. "Aku tak masalah harus berada di manapun atau di situasi seperti apapun." Jelasnya.


"Bahkan jika tiba-tiba aku jatuh miskin?" tanya Axton asal.


"Aku sudah pernah hidup dalam kesusahan. Jadi, asalkan bersamamu, aku tidak akan keberatan."


Mendengar jawaban itu, Axton malah terkejut. Pria itu segera meraih tangan Anya yang berada di pipinya dan mengecupi seluruh permukaan telapak tangan sang istri.


Axton benar-benar merasa bahagia diberi kesempatan sekali lagi untuk bersama Anya. Dan ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan tersebut.


...***...


Axton tak dapat memejamkan matanya walau hanya sedetik. Ia takut Anya akan langsung hilang jika matanya terpejam. Pria itu memeluk Anya dari belakang dengan protektif, sambil sesekali mengelus perut buncit Anya penuh cinta.


Belum puas melakukan hal tersebut, ia menciumi rambut Anya dan menyelipkan wajahnya di belakang leher sang istri. Axton menyukai aroma Bunga Lavender yang menguar dari tubuh istrinya.


Axton terkekeh kala Anya bergerak gelisah, sebab terganggu dengan tindakannya.


"Aku mencintaimu," ucap Axton sebelum mencoba memejamkan mata.


...***...


Sinar mentari datang menyapa Axton dari balik jendela. Wajahnya yang terkena cahaya membuat Axton mau tak mau membuka matanya.


Tangannya sibuk meraba sisi sebelahnya.

__ADS_1


Kosong! Tak ada siapapun.


Secepat kilat Axton bangun dari tempat tidur dan berlari ke bawah.


Raut kelegaan terpancar dari wajah tampan pria itu tatkala mendapat sosok sang istri tengah membantu Bi Rahmi di dapur. Bergegas ia menghampiri Anya dan memeluknya dari belakang.


"Eh," Anya tersentak.


"Kupikir, kau hilang lagi."


Anya tertawa kecil.


"Ibu tidak akan kemana-mana lagi, Pak," Bi Rahmi bersuara. Menggoda majikannya.


Axton melepaskan pelukannya dan tersenyum canggung.


"Duduklah, sarapan sudah siap." Titah Anya. Axton menurut.


Mereka bertiga sarapan dengan tenang di meja makan. Bi Rahmi sempat menolak halus ajakan Anya untuk duduk di kursi yang sama, tetapi saat Axton juga memaksanya, ia bersedia. Bi Rahmi sangat senang melihat perubahan sikap Tuan majikannya tersebut.


Selesai sarapan, Anya meminta ijin Axton untuk berjalan-jalan pagi. Semula Axton tidak mengijinkan. Mereka baru saja pulang dan kondisi Anya juga baru pulih benar. Namun karena Anya memaksa, Axton akhirnya mengalah, dengan syarat hanya 10 menit saja.


Mereka keluar menuju taman yang berada di lingkungan apartemen. Selama Anya tinggal di sini, ia tak pernah mengunjungi taman tersebut.


Wanita itu duduk di salah satu bangku taman bersama Axton. Para penghuni apartemen yang berada di sana terkejut saat melihat Axton bersama seorang wanita hamil sembari bergandengan tangan. Beberapa di antara mereka menyapa keduanya tanpa bertanya lebih lanjut.


"Kakak tidak apa-apa?" tanya Anya khawatir. Axton tidak lagi melakukan penyamaran seperti biasa. Wajahnya benar-benar terekspos tanpa masker dan topi.


"Aku yang harusnya bertanya. Siapkah kau dengan berbagai kesulitan yang mungkin akan datang?"


Anya mengangguk mantap. Tangannya meremas lwmbut tangan Axton.


"Anya," suara seorang pria menginterupsi keduanya.


Wajah Axton berubah dingin. Ia hampir saja beranjak dari sana jika Anya tidak menahannya.


"Kak, bolehkah aku meminta ijin?"


"Ijin apa?"


"Aku ingin berbicara dengan Mas Daffa untuk terakhir kalinya. Aku berjanji ini adalah hal terakhir." Raut wajah Anya tengah memohon. Ia pikir, ia harus mengajak Daffa bicara agar hatinya bisa sedikit lega.


Axton terdiam. Matanya menatap bengis sosok Daffa sebelum mengecup pipi Anya. "Aku akan mengawasinya dari sini."


Anya mengangguk. Ia beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Daffa.


"Apa kabar, Mas?" sapa Anya duluan.


Daffa bergeming sesaat. "Baik. Kau bagaimana? Ke mana saja selama ini?" tanya pria itu.


"Aku tinggal menyendiri sementara." Jawab Anya.


"Sudah berapa bulan?" tanya Daffa. Wajahnya terlihat sangat sedih. Melihat perut buncit Anya, berarti tidak akan ada harapan lagi untuknya.


"6 bulan." Anya tampak sumringah ketika membicarakan soal bayinya.


"Aku tidak tahu hubungan kalian sudah sejauh itu. Kupikir, aku masih memiliki kesempatan."


Anya tidak menjawab.


"Kelihatannya, X telah berubah." Daffa menoleh padanya, "Aku melihatmu benar-benar bahagia? Bahagia yang sebenarnya. Tak seperti waktu pertama kali kita bertemu." Kata Daffa.


Anya tersenyum. "Kuharap, Mas juga bahagia dengan wanita pilihan Mas nanti."

__ADS_1


Daffa menengadah, menatap sekumpulan awan putih yang menghiasi langit pagi ini.


"Kuharap juga begitu."


Anya menunduk. "Maafkan aku ya, Mas," ujarnya.


Daffa mengalihkan pandangannya. "Untuk?"


"Segalanya." Jawab Anya. "Dan ... terima kasih juga untuk segalanya."


"Akupun." Daffa menghela napasnya. "Maafkan sikapku yang mungkin membuatmu tak nyaman." ia tampak menyesal. "Semoga rumah tangga kalian selalu bahagia."


"Terima kasih." Anya tersenyum, lalu beranjak pergi.


Axton sudah berdiri dari posisinya. Pria itu menyambut uluran tangan Anya.


Daffa membungkukan badannya pada Axton. Axton membalas pria itu dengan anggukan singkat sebelum pergi dari sana.


Daffa tersenyum sedih. Matanya tak lepas menatap kepergian mereka berdua.


"Kau baik-baik saja?" tanya Axton saat mereka tiba di lift.


"Hmm," gumam Anya seraya mengangguk. "Hatiku sudah lega. Satu bebanku kembali terangkat."


...***...


Axton tak berhenti mengecupi pipi cubby Anya. Pria itu gemas tiap kali melihat pipi sang istri yang kini lebih berisi. Ingin sekali ia menggigit pipi kenyal itu.


Anya berkali-kali protes. Konsentrasinya menonton televisi buyar tiap kali Axton melayangkan kecupan kecil di pipinya.


Hap!


Baru saja Axton hendak menciumnya kembali, Anya sudah menyumpal mulutnya dengan sebutir anggur yang sedari tadi Anya makan sebagai camilan.


"Anggurnya manis 'kan?" Anya tertawa kecil melihat reaksi Axton. Matanya kembali fokus pada tayangan televisi.


"Tidak semanis dirimu." Axton menangkup wajah Anya dan memaksanya berhadapan.


"Apa–" belum sempat wanita itu menyelesaikan perkataannya, Axton sudah mencium bibir Anya dan memagutnya mesra. Mereka juga berbagi anggur yang Anya sumpal ke mulut Axton.


Anya memejamkan mata dan mengalungkan tangannya pada leher Axton. Wanita itu membalas perbuatan suaminya.


.


.


Selama mereka bernapas, pasti akan selalu datang berbagai ujian dan rintangan silih berganti. Tetapi kini, mereka siap menghadapinya bersama-sama.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


...END...


__ADS_2