
Maxim, Theresa dan Callista kembali ke Jakarta keesokan harinya, sementara tinggal dua hari lebih lama di sana.
Selama berada di kediaman keluarga Anya, Axton benar-benar berperilaku selayaknya seorang Suami yang sangat mencintai Istrinya. Walau itu hanya sandiwara belaka, namun tetap saja membuat Anya merasa bahagia. Gadis itu menikmati tiga hari kebersamaannya dengan pria itu.
Anya mengantar Axton ke depan rumah. Tak lupa menyapa Ian yang tengah menunggu Axton di teras.
"Aku akan menunggu di mobil," ujar Ian yang segera pergi meninggalkan tempat, menuju ke taksi online yang telah dipesan.
Axton menatap sekeliling, ada beberapa pasang mata yang mengintip dari balik dinding rumah mereka. Jarak rumah yang hanya sejengkal-sejengkal memungkinkan mereka mendengar hal apapun dari balik dinding rumah.
Axton menghela napasnya. Jujur, dia sedikit risih dengan suasana rumah Anya yang ramai dan seperti tidak memiliki privasi.
Anya yang dapat melihat gerak gerik Axton, segera membuka suaranya, "Maa–"
"Hubungi aku jika perlu sesuatu," Axton memotong perkataan Anya. Pria itu mencium kening Anya mesra.
Beberapa pekikan genit kontan terdengar samar di telinganya. Ia berusaha tak memerdulikannya.
Axton juga berpamitan pada Kinanti dan Jagat.
"Jaga diri kalian," pesannya.
"Iya, Kak." Jawab Jagat diiringi anggukan Kinanti.
Axton segera pergi meninggalkan mereka tak lama kemudian. Anya tetap berdiri di sana sampai mobil tersebut benar-benar menghilang dari pandangannya.
Anya berencana akan berada di sana sampai tahlilan hari ke tujuh. Dia ingin menemani adik-adiknya lebih lama di sana. Tadinya, Anya dan Axton mengajak mereka untuk pindah dan tinggal di Jakarta, namun mereka menolak dengan alasan tak ingin meninggalkan rumah peninggalan mendiang kedua orang tua mereka.
__ADS_1
Walau dengan berat hati, Anya menyetujuinya. Dia tak perlu mengkhawatirkan kedua adiknya sebab ada banyak kerabat dan tetangga yang baik, yang pasti akan senantiasa ada untuk mereka.
Perihal peninggalan Bu Rastini, Anya menyerahkan semua pada kedua adiknya. Ia sama sekali tidak mengambil bagian di dalamnya.
Semula Kinanti dan Jagat bersikeras menolak keinginan Anya. Sang ibu sudah berwasiat untuk membagi tiga semua peninggalan beliau, tetapi Anya mengancam tak akan mau lagi berbicara pada mereka jika keduanya tak mau menuruti Anya. Anggap saja Anya sudah mengambil bagiannya dan memberikan itu semua pada mereka. Mau tak mau Kinanti dan Jagat menuruti kemauan sang kakak.
Soal biaya kuliah, Axton menawarkan diri membiayai keduanya sampai lulus. Anya tak dapat berkata-kata ketika Axton menatapnya tajam, seolah memperingati gadis itu untuk tidak membantah perkataannya.
...***...
Axton sampai di Apartemen seorang diri. Hana sedang berada di Singapore dan baru akan kembali dua minggu kemudian.
Matanya menatap sekeliling Apartemen. Biasanya, ketika dia sampai di rumah, Anya akan segera berlari menyambutnya dengan senyuman termanis yang gadis itu miliki. Walau setelah itu Anya hanya akan menangis akibat perlakuan kasar darinya, namun tak menyurutkan sedikitpun niat Anya untuk tetap mengulangi hal yang sama keesokan harinya.
Axton juga menikmati hari-harinya selama di kediaman keluarga Anya. Dia sampai tak mampu membedakan apa perlakuannya pada Anya beberapa hari terakhir ini benar-benar hanya sandiwara belaka atau bukan.
"Bodoh!" umpatnya dalam hati.
...***...
Anya telah kembali ke rumah dan menjalankan harinya seperti biasa lagi. Tak ada yang berubah dari hidupnya. Axton tetap menjadi pribadi yang kasar dan dingin padanya, begitu pula dengan Hana dan Theresa.
Ahh, ada yang sedikit berubah dari Theresa. Alih-alih bersikap sinis, Ibu Mertuanya itu hanya akan menganggap Anya tak ada jika mereka sedang bertemu.
Selain itu, Callista jadi lebih sering berkunjung ke kediaman mereka.
Seringnya intensitas Callista datang ke sana membuat gadis itu mengetahui rahasia besar yang ada di dalam rumah tangga Axton dan Anya.
__ADS_1
Callista marah besar. Dia melabrak Hana dan menampar gadis itu secara membabi buta. Dia juga memaki Axton dan mengancamnya akan melaporkan semua ini pada sang Ayah.
Anya melarang keras perbuatan Callista, dia memohon dengan amat sangat padanya untuk merahasiakan semua ini. Anya tak ingin kesehatan Ayah mereka memburuk jika mengetahui kenyataan yang ada.
Callista mengalah namun dengan satu syarat, Hana tidak diijinkan lagi menginjakan kakinya di Apartemen mereka.
"Terserah jika kalian ingin melanjutkan hubungan menjijikan ini di luar, tetapi jangan kalian bawa ke rumah ini! Jika aku tahu kau masih menginjakan kakimu di sini, aku tak akan segan-segan menghilangkanmu tanpa pernah ditemukan siapapun!" tunjuknya pada Hana penuh amarah. Axton tersentak begitu melihat butiran air mata lolos dari mata biru sang adik. Apa yang membuat Callista begitu sakit hati atas sikapnya pada Anya? Setahunya, mereka hanya berteman biasa, apa lagi mereka baru saja bertemu setelah sekian lama tak saling memberi kabar.
Hana gemetar ketakutan. Callista yang dia kenal adalah seorang gadis lembut yang tidak suka mencampuri urusan orang lain. Namun entah mengapa, ia kini jadi begitu menjadi sangat menakutkan di matanya.
Tahu bagaimana besarnya pengaruh keluarga Caldwell, Hana memilih mengalah. Gadis itu berjanji tidak akan lagi menginjakan kakinya di rumah Axton. Selagi mereka masih bisa bertemu di luar tentu tidak akan jadi masalah bagi Hana.
Setelah mengusir Hana dan Axton, Callista membantu Anya untuk pindah ke kamar Axton. Gadis itu tak dapat berkutik, ketika diam-diam dia datang dan mendapati Anya tidur di fitting room dengan futon tipis.
Batinnya miris mengetahui selama ini Anya hanya berpura-pura bahagia setiap kali dia datang.
Callista mengajak Anya duduk di ranjang Axton.
"Kau benar-benar gadis yang bodoh sejak dulu, Mbak!" umpatnya pada Anya. Callista tahu sejak dulu Anya menaruh perasaan pada Axton, meskipun pria itu memperlakukannya dingin.
"Aku benar-benar tak rela kau diperlakukan seperti itu oleh si brengsek, X!"
"Callis," tegur Anya. Tangan gadis itu merangkul kemudian memeluk adik Iparnya tersebut. Seharusnya di sini, dialah yang ditenangkan.
"Jika kau tak mati-matian melarangku, aku akan membeberkan semuanya. Dia harus tahu apa yang sudah kau lakukan pada hidupnya!"
Anya melepas pelukannya dan menatap gadis itu penuh sayang. Tangannya dengan lembut menghapus air mata Callista. "Biarkan seperti ini adanya. Aku ingin Kakakmu membalas perasaanku murni karena dia memang menumbuhkan perasaannya, bukan karena hal lain. Jika dia memang tetap tak bisa mencintaiku, setelah kontrak ini habis maka aku akan ikhlas pergi dari hidupnya."
__ADS_1
"Mbak Anyaaa," raung Callista. Gadis itu menerjang Anya dan memeluknya seerat yang ia bisa. Entah terbuat dari apa hati Anya. Seharusnya Axton beruntung ada seseorang yang tulus mencintainya selama bertahun-tahun. Bahkan rela berkorban demi hidupnya.