
Hana tak kalah terkejut. Wanita itu berusaha menekan sebisa mungkin raut wajahnya agar terlihat biasa-biasa saja.
Seperti mendapatkan kembali kekuatannya, Anya berdiri dari kursi. Matanya fokus menatap Hana, enggan mengalihkannya pada Axton.
Bukannya marah atau menangis, Anya malah tersenyum lembut. Itu adalah senyuman paling manis dan cantik yang pernah Axton lihat. Senyuman paling menenangkan, sekaligus menyakitkan baginya.
Tanpa berkata apa-apa, Anya melewati keduanya dengan kepala tegak. Langkahnya tak sedikitpun goyah, tetapi Axton bersumpah, setetes airmata tertangkap indera penglihatannya!
Tidak!
Bukan seperti ini.
Seharusnya Anya marah padanya. Seharusnya wanita itu menangis meraung, meneriaki, bahkan menampar dirinya. Bukan malah memperlihatkan ketegarannya, karena itu hanya akan membuat hati Axton semakin tercabik-cabik.
Tangan kanan Hana bergerak mendekat. Baru saja ujung jarinya menyentuh tangan kiri Axton, pria itu sudah berlari mengejar sang istri tanpa menoleh sedikitpun ke arahnya.
Hana tertegun. Tawa kecil keluar dari mulut wanita itu, sementara matanya telah basah.
Dia terlalu sombong.
Dia terlalu percaya diri.
Sampai kapanpun, Axton tak akan pernah kembali padanya.
***
Axton berlari hingga ke tepi jalan raya. Matanya tak lepas mengamati setiap jalan dan orang yang berlalu lalang di sana.
Nihil! Anya tak terlihat di manapun. Wanita itu hilang dari pandangannya dalam sekejap mata.
Anya menutup mulutnya dengan kedua tangan rapat-rapat. Takut-takut, Axton mendengar hembusan napas wanita itu. Ia bersembunyi di balik sebuah standing banner di salah satu gang.
Anya tersentak ketika Axton meninju keras tiang listrik yang berada di depannya, sebelum pergi meninggalkan tempat tersebut.
Axton mengambil mobilnya dan pergi meninggalkan Hana begitu saja. Ia harus bergegas menemui Anya. Ia ingin meluruskan semuanya. Ia ingin ... Anya menghajarnya agar rasa sakit yang tengah ia rasakan sedikit berkurang.
***
Di dalam taksi Anya menangis tanpa suara. Kendati membuat napasnya semakin sesak, wanita itu tetap menggigit bibirnya sekuat tenaga hingga terluka, demi meredam suara isak tangisnya.
__ADS_1
Sekarang ia tahu, mengapa Axton selalu pulang larut malam selama beberapa waktu ini. Sekarang ia tahu, jika mereka masih saling bertemu meski telah berpisah. Dan yang terpenting, sekarang ia tahu, bahwa ... tak pernah satu kalipun dia singgah di hati pria itu.
Anya merasa bodoh. Seharusnya ia sadar diri. Axton tidak akan begitu saja melepaskan Hana dari genggamannya. Hana adalah wanita pertama yang pria itu cintai. Maka, sudah pasti sama seperti dirinya, Axton juga tak akan semudah itu melupakan Hana.
Anya mengorek ujung kukunya sampai terlepas, agar kedua tangannya berhenti gemetar. Dia terus mengorek kuku-kuku tersebut meski darah sudah mulai keluar dari sana. Seolah mati rasa, ia tak memerdulikan rasa sakit yang mulai mendera beberapa bagian tubuhnya tersebut. Baginya, ini tak sebanding dengan rasa sakit pada hatinya.
Taksi yang ia tumpangi tiba-tiba berhenti di pinggir jalan. Doni, pria muda yang menjadi supir taksi Anya itu, segera menghentikan laju mobilnya ketika melihat Anya menangis.
Dia memang telah memerhatikan Anya sejak tadi lewat kaca spion tengah.
Doni menoleh ke belakang. Matanya menatap Iba wanita cantik tersebut. "Mbak, Saya memang tidak tahu apa yang telah Mbak hadapi, tapi saya harap, apa yang saya lakukan ini dapat membantu Mbak," ujarnya sembari membuka pintu mobil.
"Menangislah sekeras mungkin, jika itu bisa meringankan sedikit beban di hati Mbak. Saya akan menunggu di luar, hingga Mbak merasa baikan." Katanya lagi sebelum menutup pintu dan berdiri menjauh, membelakangi mobil.
Sedetik setelah supir tersebut menutup pintu, disaat itu pula lah Anya menangis meraung-meraung sembari memukul keras-keras dadanya. Wanita itu menumpahkan segalanya di dalam sana.
Suara tangisannya terdengar sampai keluar mobil, membuat Pria muda yang tengah membelakangi mobil itu, menundukan kepalanya dalam-dalam.
***
Suara bantingan pintu mengejutkan Bi Rahmi yang sedang membersihkan dapur. Axton masuk ke dalam rumah dengan langkah terburu-buru. Tujuannya adalah kamar Anya.
"Ibu belum pulang, Pak. Biasanya jam-jam segini Supermarket memang sedang penuh." Jawab Bi Rahmi.
"Memang kenapa, Pak?" tanya Bi Rahmi kemudian.
Axton tidak menghiraukan pertanyaan wanita paruh baya tersebut. Pria itu secepat kilat kembali keluar rumah.
***
Hana pulang ke rumah dengan berderai airmata. Silvana yang menyambutkan kontan bergegas memeluk anak semata wayangnya itu.
"Ada apa sayang? Ada apa?" tanya Silvana khawatir.
"Haaa! Sakit, Mom! SAKIIIIIT!" Hana menangis meraung-raung.
Silvana melepaskan pelukannya dan memegang kedua bahu Hana. "Apa yang sakit, Nak?" tanyanya sembari memerhatikan seluruh tubuh Hana, guna memastikan bagian tubuh yang sang anak maksud.
Hana tidak menjawab. Wanita itu makin mengeraskan isak tangisnya.
__ADS_1
***
Sudah dua jam Axton mengelilingi seluruh tempat yang sekiranya Anya datangi, namun ia belum juga berhasil menemukan Anya. Ponsel sang istri pun sengaja dimatikan. Dia juga sudah menelepon Callista untuk menanyakan keberadaan Anya, namun hasilnya sama saja. Nihil! Anya tak ada di manapun.
"Dimana kau?" batinnya putus asa.
Anya belum paham betul seluk beluk Kota ini, jadi tidak mungkin baginya untuk pergi terlalu jauh. Tetapi, kemana lagi dia harus mencari?
***
Anya berjalan mengendap-endap menuju kamarnya. Syukurlah Axton belum pulang dan Bi Rahmi sudah tidak ada.
Wanita itu berlari kecil ke lantai atas untuk membereskan semua barang-barangnya.
Ia kemudian membuka lemari dan menurunkan koper miliknya. Anya mematung sesaat tatkala melihat sebuah testpack berada di dalam koper tersebut. Anya ingat, ia pernah menyembunyikan benda itu di sana.
Anya mengambil testpack tersebut dan menggenggamnya erat sebelum meletakannya kembali ke dalam koper. Ia harus bergegas sebelum Axton tiba.
Ya, Anya telah memutuskan untuk pergi menjauh dari Axton.
Baginya, pergi sekarang atau nanti sama saja, ia akan tetap meninggalkan rumah ini. Jadi buat apa menunggu lebih lama, jika ia bisa pergi sekarang juga?
Selesai membereskan semua barang-barangnya, Anya turun ke lantai bawah sembari menyeret kopernya.
Ditatapnya lama-lama seisi Rumah itu. Rumah yang telah menjadi tempat tinggalnya selama setahun belakangan. Rumah yang seharusnya ia benci, sebab menjadi saksi atas segala kepahitan yang ia hadapi.
Rumah milik seseorang yang ia cintai.
Matanya menjelajah ke setiap sudut bagian dan baru berhenti pada sebuah objek yang terpajang di atas meja televisi.
Itu adalah foto pernikahan mereka. Ia ingat betul, Maxim pernah menyuruh Axton mencetak foto pernikahan mereka sebesar mungkin untuk dipajang di dinding ruang televisi, namun Axton menolak. Pria itu tak sudi melakukannya. Alhasil foto kecil inilah yang ia cetak.
Anya mengambil foto tersebut dan mengelusnya sebentar sebelum meletakannya kembali dengan posisi tertutup.
Ingatannya tiba-tiba melayang pada Maxim, Ayah Mertuanya yang berada jauh dari sini.
Anya tak berani membayangkan bagaimana reaksi Beliau, setelah tahu perpisahan mereka. Ia juga tak berniat memberitahu Maxim. Biarlah itu menjadi tugas Axton. Anya terlalu takut mendengar kekecewaan sang Mertua.
Anya menghapus airmata yang hampir keluar dari pelupuk matanya. Dia sudah cukup menangis tadi, jadi, tak akan ada lagi linangan airmata saat ia berjalan keluar dari rumah ini.
__ADS_1
"Selamat tinggal," ucap wanita itu seraya menyeret kopernya pergi.