Cinta Anya Untuk X

Cinta Anya Untuk X
Surat Perjanjian


__ADS_3

Suhu kamar yang dingin membuat Anya tidak bisa tidur dengan nyaman. Beberapa kali tubuhnya tampak menggigil kedinginan. Selama tinggal bersama Bu Rastini, Anya jadi terbiasa tidur dengan kipas angin meja. Dia seakan lupa bagaimana rasanya tidur di ruangan ber-AC.


Anya terpaksa bangun dari tidurnya. Seluruh tubuh gafis itu pegal luar biasa karena harus tidur meringkuk di sofa. Ia memilih mandi air hangat untuk menyegarkan diri, disaat Axton masih tertidur pulas di atas ranjang yang nyaman.


Setengah jam kemudian Anya keluar dari kamar mandi. Netranya melirik ke arah tempat tidur yang dihuni Axton. Tempat itu rupanya sudah kosong, mungkin Axton sudah turun duluan untuk sarapan.


***


"Mbak Anya, di sini, Mbak," Callista, adik iparnya melambaikan tangan pada Anya yang tengah sibuk menoleh ke segala arah. Ketika mengetahui siapa yang tengah memanggilnya, Anya bergegas menghampiri tempat tersebut.


"Selamat pagi," sapa Anya pada seluruh keluarga suaminya.


"Pagi." Hanya Papa mertua dan adik iparnya saja yang menjawab Anya dengan ramah.


"Jadi, bagaimana X? Untuk sementara saja." Papa kembali bersuara. Tampaknya beliau sedang membicarakan sesuatu dengan Axton.


"Istrimu pasti setuju. Iya 'kan, Anya?"


Mendengar pertanyaan yang datang tiba-tiba dari sang Mertua membuat Anya hanya bisa memasang wajah kebingungan.


"Kalau mereka tidak mau tinggal dengan kita tidak usah dipaksa, Pa." Theresa, Mama Mertua Anya berkata dengan wajah ketus. Beliau adalah satu-satunya orang di keluarga inti yang tidak setuju dengan pernikahan Axton dan Anya. Sejak awal mereka bertemu, wanita itu sudah menunjukan gelagat tak sukanya pada Anya. Sikapnya benar-benar berbeda dengan yang dulu, saat keluarga mereka masih dekat. Beliau bisa dikatakan, sudah seperti orang tua kedua Anya.


Anya akhirnya menangkap maksud dari perkataan Maxim.


"Aku bagaimana Kakak saja, Pa." Jawab Anya kalem seraya melirik Axton yang tampak asyik menyesap kopinya.


"Kami akan langsung pulang ke rumah." Kata pria itu sejurus kemudian. Ada raut kekecewaan yang terpatri di wajah Maxim. Anya yang melihat segera menimpali, bahwa mereka akan sering-sering mampir ke rumah utama. Maxim tersenyum senang.

__ADS_1


"Kalau kau tidak sering-sering ke rumah juga tak apa, yang terpenting itu X. Ya, sayang?" Mama menepuk lembut telapak tangan Axton. Meski hatinya terasa linu mendengar perkataan Theresa, namun Anya tetap tersenyum lembut. Sepertinya dia harus mulai terbiasa dengan sikap Ibu Mertuanya tersebut.


Tak lama, Bu Rastini, Kinanti dan Jagat bergabung bersama mereka. Disaat itu juga, sikap Theresa berubah menjadi lebih ramah pada Anya.


...***...


"Berbakti dan layani Suamimu dengan baik ya, Nduk? Jangan lupa untuk sering-sering memberi kabar." Bu Rastini memeluk Anya erat. Beliau meneteskan airmatanya. Jujur, ia merasa sangat berat harus berpisah dengan anak angkat yang sudah ia anggap sebagai anak kandungnya sendiri.


Anya membalas pelukan sang Ibu. Gadis itu menangis, mengucapkan puluhan kali terima kasih karena telah sudi merawatnya selama ini. Dia juga bergantian memeluk Kinanti dan Jagat yang tampak tidak rela melepas kepergian Kakak mereka.


"Mbak, kalau ada apa-apa, jangan sungkan bilang padaku, ya?" ujar jagat padanya. Anya tersenyum seraya mengelus kepala sang adik yang sudah jauh lebih tinggi darinya.


"Sejak kapan kau jadi setinggi ini?" tanya Anya takjub. Bukannya menjawab, Jagat malah kembali memeluk Anya seerat mungkin.


Setelah puas berpamitan pada kedua keluarga, Anya dan Axton pergi dari Hotel menuju Apartemen Axton. Semula Anya sempat ingin ikut mengantar Ibu dan adik-adiknya ke bandara, tetapi Bu Rastini melarang keras.


Satu jam kemudian mereka telah sampai di Apartemen Axton. Pria itu memindai sidik jarinya untuk membuka pintu kemudian masuk begitu saja ke dalam rumah. Anya mengikutinya dari belakang dengan susah payah karena harus menyeret dua buah koper dan sebuah tas kecil.


Apartemen yang Axton tinggali berbentuk persegi panjang. Begitu masuk dia langsung disuguhi dapur yang sangat mewah di sebelah kanan dan ruang makan modern di sebelah kiri. Ada juga ruangan bertuliskan 'laundry room' di dekat pintu masuk.


Axton berjalan melewati dapur, Anya membuntutinya dari belakang. Di sebelah dapur, Anya melihat toilet dan juga sebuah ruangan dengan pintu geser. Sedangkan di sebelah kiri terdapat tangga menuju lantai dua.


Matanya kemudian menatap takjub pada ujung ruangan yang ternyata adalah sebuah ruang televisi besar nan mewah. Terdapat beberapa alat olahraga juga di sana.


"Kau tidur di sana." Axton menunjuk sebuah ruangan dengan pintu geser, yang berada di dekat toilet. "Lantai dua adalah kamarku. Kau hanya boleh ke atas untuk membersihkannya."


Anya mengangguk patuh tanpa berkata-kata.

__ADS_1


"Asisten rumah tangga hanya akan datang seminggu sekali. Selebihnya kau kerjakan semua sendiri. Mengerti?" jelas Axton dengan nada dingin.


Anya menggigit kecil bibirnya seraya mengangguk kembali.


Axton kemudian menyuruh Anya untuk membereskan barang-barangnya di ruangan yang ia tunjuk, sebelum melangkahkan kakinya ke lantai atas. Namun sebelum itu, ia juga menyuruh Anya untuk menemuinya di ruang televisi setengah jam kemudian.


Selepas kepergian Axton, Anya melangkah masuk ke dalam ruangan. Betapa kagetnya gadis itu, ketika mengetahui bahwa ruangan tersebut bukanlah kamar, melainkan fitting room. Sepanjang matanya menjelajah, hanya ada pakaian-pakaian, sepatu-sepatu serta segala aksesoris milik pria tersebut. Matanya kemudian menemukan sebuah futon tipis yang tergulung rapi di pojok ruangan.


Mata Anya seketika panas. Sejak awal Axton memang menyiapkan ruangan ini untuk menjadi kamar tidurnya.


'Segitu tak sudikah ia tidur denganku?' batinnya pilu.


Airmata seketika lolos membasahi pipinya.


...***...


Belum lepas dari keterkejutannya soal kamar, Anya kembali dibuat sakit hati dengan surat perjanjian yang Axton sampaikan.


Gadis itu menatap surat tersebut selama beberapa saat. Ia bebar-benar tak habis pikir dengan apa yang ada du benak Axton. Buat apa dilakukan pernikahan jika mereka hanya akan menjalaninya selama satu tahun? Dia juga tidak diperkenankan mencampuri urusan Axton.


Terlebih, yang lebih menyesakan hati Anya, Axton akan tetap menjalin hubungannya dengan Kim Hana, seorang model majalah dewasa yang juga kekasih Axton selama tiga tahun ini.


Anya pun dilarang keras memberitahukan status mereka pada siapapun. Hanya para tamu undangan yang kemarin datang menghadiri acara pernikahan mereka lah, yang tahu jika dia telah menikah.


Anya menahan sudut bibirnya agar tetap tersenyum. Gadis itu tanpa ragu menandatangani surat tersebut dengan tangan gemetar. Meski menyakitkan, dia tidak dapat berbuat apapun. Mereka sudah terlanjur menikah, Anya tak bisa mundur begitu saja, terlebih lagi, ia memikirkan Maxim, Ayah Mertuanya.


Entahlah, Anya tidak berani memikirkan bagaimana hidupnya selama satu tahun kedepan dengan Axton. Dia hanya berharap, semoga dapat melaluinya dengan baik-baik saja.

__ADS_1


__ADS_2