Cinta Anya Untuk X

Cinta Anya Untuk X
Pengakuan Daffa


__ADS_3

Axton menyadari, sejak Hana membeberkan rahasia kecil mereka, Anya menjadi sedikit lebih pendiam. Kepribadian Anya mengingatkannya pada saat pertama kali mereka bertemu dan baru menikah.


Anya tetap menjalankan tugasnya seperti biasa, namun kini dia jarang sekali berbicara padanya.


Adakalanya Anya terlihat sangat bahagia ketika pulang dari suatu tempat. Axton ingat Anya memiliki seorang teman yang berasal dari kampung halamannya. Tetapi sampai saat ini, dia sama sekali tidak tahu bagaimana rupa orang itu, dan dia juga tidak berniat untuk mencari tahu.


Seperti saat ini, kentara sekali gadis itu berusaha tak memekik kegirangan, setelah mendapat ijin darinya untuk keluar rumah. Anya berkata, bahwa ia akan pergi ke alun-alun kota sebentar.


Axton sadar dia tidak pernah sekalipun mengajak Anya jalan-jalan keluar. Status pernikahannya yang rahasia membuat Anya harus terpenjara dalam sangkar emas ini.


Axton menutup teleponnya. Callista memberi perintah pada Axton untuk mengangkat telepon dan membalas setiap pesan dari Anya. Tak ingin hal tersebut menjadi rumit, Axton menuruti saja perintah sang adik. Axton sangat menyayangi Callista, sejak kecil ia akan selalu menuruti kemauan Callista tanpa terkecuali.


...***...


"Kau seperti baru keluar dari gua saja," kelakar Daffa saat melihat Anya begitu berbinar-binar menatap keramaian yang ada di sekitarnya. Andai tak ingat umur, mungkin Anya sudah berlompatan kesana kemari seperti kelinci.


"Sejak tinggal di sini aku memang tidak pernah ke mana-mana, selain Mall dan Pasar Swalayan." Jawab Anya yang enggan memutus kontak matanya pada sederet lampu warna-warni yang menghiasi sepanjang jalan alun-alun Kota.


"Serius? Kau sudah hampir satu tahun tinggal di sini. Apa Suamimu tidak pernah mengajakmu berkencan. Setahuku, pengantin baru akan tetap melakukan kebiasaan-kebiasaan saat mereka masih berpacaran." Daffa menatap Anya keheranan.


"Masalahnya, aku tidak pernah berpacaran dengan pria itu," batin Anya meringis.


"Dia sibuk bekerja." Jawab Anya singkat. "Mas ada gulali, beli yuk," gadis itu mengalihkan pembicaraannya dengan menarik tangan Daffa menuju penjual gula-gula kapas yang berada tak jauh dari sana.


...***...


Axton melamun memikirkan Anya. Tak banyak yang ia pikirkan soal gadis itu. Hanya satu, yaitu sosok teman lama yang kerap Anya sebut-sebut. Dia penasaran bagaimana rupa orang itu, hingga membuat Anya begitu bahagia setiap kali mereka bertemu?


"Pak, kita mampir ke alun-alun Kota," Pinta Axton pada supir pribadinya.


"Baik, Pak." Jawab Pak Joseph patuh.


Ian tersenyum, tadi saat di lokasi pemotretan, dia memang mendengar jelas percakapan Axton dengan Anya. Sudah bisa dipastikan pria itu tengah mengkhawatirkan sang Istri.


Karena alun-alun Kota dekat dengan rumah Delia, Axton mengantar Delia pulang terlebih dahulu, jadi gadis itu tidak perlu repot-repot bolak-balik.


...***...

__ADS_1


Anya dan Daffa kini duduk di sebuah bangku taman dekat alun-alun. Pria itu senang dapat membuat Anya bahagia malam ini, walau hanya dengan berjalan-jalan dan makan seafood di kedai tendaan sederhana. Selera gadis itu benar-benar masih sama seperti dulu.


"Terima kasih ya, Mas, sudah mau mengajakku jalan-jalan?" Anya menoleh, menatap Daffa dengan penuh rasa terima kasih. Hati Daffa berkebit. Rasanya sudah lama sekali dia tidak mendapat tatapan demikian dari Anya.


"Sama-sama." Jawab Daffa tulus.


Daffa terdiam. Selama ini Anya sangat susah sekali terbuka perihal kehidupan pernikahannya. Gadis itu beralasan, bahwa sang Suami merupakan seseorang yang sangat dikenal publik, jadi dia tidak ingin privasi Suaminya terusik. Anya sangat menghormati pria itu.


Akan tetapi, Daffa juga dapat merasakan hal lain selain alasan tersebut, entah apa. Yang jelas, sikap tertutup Anya memiliki sedikit kecurigaan.


"Anya, boleh aku tanya?" tanya Daffa dengan mimik wajah serius.


"Tanya apa, Mas?" Anya mengalihkan pandangannya.


Daffa memutar tubuhnya menghadap Anya. "Apa kau bahagia menjalani biduk rumah tangga dengan Suamimu? Kau bahagia menikah bisa dengannya?" tanya pria itu, serius.


Anya bergeming. Dari ekspresinya, ia yakin Daffa membutuhkan jawaban yang sesungguhnya. "Mengapa tiba-tiba membahas pernikahanku?" Anya mencoba memutar pertanyaan Daffa dengan pertanyaan lainnya.


"Aku hanya ingin tahu. Kau begitu tertutup membicarakan pernikahanmu. Aku tahu Suamimu seseorang yang dikenal publik, tetapi rasanya ada bukan hanya itu alasan yang membuatmu enggan bercerita." Kata Daffa panjang lebar.


Anya terhenyak, Ia tak menyangka Daffa sangat peka terhadap dirinya. Pasalnya, Anya tak pernah menyinggung soal Axton sama sekali. Apa raut wajahnya benar-benar setransparan itu?


Anya menggeleng lalu tersenyum simpul. "Tidak ada. Kami hanya berjanji untuk merahasiakan pernikahan ini dulu sementara waktu, sampai kontrak salah satu proyek yang Suamiku kerjakan selesai." Jawab Anya berbohong.


Daffa menyipitkan matanya, berusaha mencari-cari kebohongan dari ucapan gadis itu. Sedangkan Anya mengalihkan pandangannya pada lampu-lampu jalan. Ia menghindari kontak matanya dengan Daffa.


"Kau mencintai Suamimu?" tanya Daffa sekali lagi.


Wajah Anya berubah seketika, tanpa pikir panjang gadis itu menjawab dengan tegas, "Ya, aku sangat mencintainya." Senyum tulus yang Anya tunjukan ketika mengatakan hal tersebut, membuat hati Daffa berdenyut sakit. Namun disaat yang bersamaan Daffa, juga melihat cahaya mata gadis itu sedikit meredup, seperti tengah menahan sesuatu.


"Baguslah. Ingat Anya, kau harus bahagia," ujar Daffa. "karena jika tidak, aku akan mengambilmu darinya." Perkataan Daffa selanjutnya membuat Anya kontan terkejut.


"Maksud, Mas?"


Daffa perlahan menggenggam tangan Anya. Anya tak bisa melepaskan diri karena Daffa langsung mengeratkan genggamannya. "Kumohon, hanya sebentar," pintanya.


Anya mengalah, ia membiarkan tangannya digenggam sang mantan kekasih.

__ADS_1


Setelah mengatur napasnya, Daffa mulai bercerita. Pria itu mengaku, selama menempuh pendidikan Pasca Sarjananya di Luar Negeri, dia tidak bisa berhenti memikirkan Anya. Pria itu menyesal hubungan mereka berakhir begitu saja. Dia sadar, dia masih memiliki rasa yang sama pada gadis itu.


Rasa yang ia punya semakin hari semakin berkembang ketika Daffa menginjakan kakinya kembali ke tanah air. Daffa lupa di mana rumah Anya, maka dari itu dia memilih untuk mencari kabarnya melalui teman-teman sekolah Anya.


Mendengar bahwa Anya telah menikah benar-benar menghancurkan segala angan-angan yang telah Daffa bangun.


Tidak ingin memercayainya begitu saja. Dia mencari tahu sendiri kabar Anya. Dia mengerahkan segala cara untuk menemukannya dan tanpa disangka. mereka malah bertemu di Apartemen tersebut. Ternyata Anya begitu dekat dengannya selama ini.


Pertemuan mereka di Apartemen, yang Anya anggap kebetulan selama ini, juga merupakan kebohongan yang Daffa rencanakan. Dia bukan ingin bertemu sang adik di sana, melainkan dirinya.


Anya menutup mulutnya tak percaya. Gadis itu tidak sanggup berkata-kata. Anya tidak percaya masih ada pria sebaik Daffa yang mau mencintainya dengan tulus itu. Saat mereka berpacaranc Anya memang sangat menyayanginya, tetapi hati Anya tetap terpaut pada Axton.


"Maaf," Anya hanya mampu berkata demikian.


Daffa tertawa kecil. "Untuk apa meminta maaf? Justru aku lah yang harusnya meminta maaf,"


"Maaf jika pengakuanku membuatmu tidak nyaman Anya. Terserah jika setelah ini kamu memutuskan untuk membenciku, aku hanya tidak ingin tersiksa karena menyimpan segalanya selama ini."


Anya menggelengkan kepalanya. "Aku tidak merasa seperti itu, Mas. Aku hanya dapat mengatakan terima kasih untuk segalanya. Meskipun aku tidak dapat membalas perasaanmu, aku harap kita masih bisa berteman baik. Aku harap kau dapat menemukan seseorang yang tulus mencintaimu, Mas. Kau orang yang baik," kata Anya tulus. Mata gadis itu sedikit berkaca-kaca.


Daffa tersenyum seraya menggumamkan kata terima kasih. "Bolehkah aku minta sesuatu? Ini mungkin terdengar sangat kurang ajar, tapi aku berjanji akan melupakan perasaan ini setelahnya," pinta Daffa.


"Apa itu?"


Daffa menghela napas sejenak. "Bolehkah aku memeluk dan mencium keningmu, Anya? Ahh, walau terkesan kurang ajar, tapi demi Tuhan, aku tidak bermaksud begitu." Pipi Daffa memerah, menyesal rasanya telah mengutarakan permintaan konyol tersebut.


"Benar ya, setelah ini Mas harus melupakanku dan menganggapku hanya sahabat saja?" pertanyaan Anya menjadi angin segar untuk Daffa. Pria itu mengangguk kalem.


Daffa mendekat perlahan. Anya membiarkan pria itu memeluknya selama beberapa detik.


Anya mencoba mengenyahkan perasaan tak enaknya. Ia tidak bermaksud mengkhianati ikatan pernikahan mereka, dia hanya ingin membuat Daffa melupakan dirinya. Anya menganggap pelukan dan ciuman ini adalah bentuk kasih sayang seorang kakak pada adiknya.


Daffa melepaskan pelukannya pada Anya. Netra cokelat Daffa memandang Anya dalam-dalam, sementara tangan kanannya meraih dagu Anya.


Pria itu mendekatkan bibirnya pada dahi Anya, namun sebelum bibir itu mendarat sempurna di dahi sang gadis, Daffa menurunkan wajahnya.


Anya terbelalak. Daffa mencuri ciuman pertamanya.

__ADS_1


"Bedebah!"


Tanpa disangka, Axton menarik kerah kemeja Daffa dan meninju wajah pria itu hingga berdarah.


__ADS_2