Cinta Anya Untuk X

Cinta Anya Untuk X
Anya pingsan


__ADS_3

"Aku akan meninggalkan kalian berdua di sini. Awas! Jangan seperti anak-anak. Aku akan mengawasi kalian dari jauh," Callista menatap garang Axton dan Ian bergantian. Gadis itu tidak tahan dengan tingkah keduanya yang selama seminggu ini selalu saling menghindar. Mereka memang tetap profesional di tempat kerja, tetapi saat di rumah, tingkah mereka bisa membuat kepala Callista pening tak karuan.


Ditambah lagi, perubahan diri Axton yang sangat drastis. Pria itu tak lagi rajin mengurus diri. Janggutnya dibiarkan tumbuh dan rambutnya dibiarkan memanjang. Pola makannya berantakan sehingga ia kehilangan berat badan 5 kilogram hanya dalam waktu sesingkat itu. Jika saja Callista tidak mulai turun tangan, mungkin Axton akan berubah menjadi fosil.


Dia sebenarnya prihatin akan kondisi Kakaknya. Jelas sekali terlihat, bahwa Axton begitu sangat kehilangan sang istri. Itulah mengapa Callista menyuruh orang-orang kepercayaannya untuk segera mencari keberadaan Kakak iparnya.


Ia yakin, Anya juga merasakan hal yang sama dengan Axton. Meski mungkin, pergi dari rumah adalah hal yang paling Anya inginkan saat ini, namun tetap saja, di hati wanita itu pasti ada sedikit rasa sesal karena telah pergi meninggalkan Axton.


*


Selepas ditinggalkan Callista, Ian dan Axton hanya berdiam diri. Tak ada yang berniat membuka suaranya satu sama lain.


Ian tampak berpikir. Mereka tak bisa terus-terusan bertingkah konyol nan kekanak-kanakan seperti ini. Harus ada yang mengalah, dan itu adalah dirinya sendiri.


"Aku akan membantumu mencari Anya," Ian membuka suaranya, "aku memiliki tanggung jawab untuk itu." lanjutnya.


"Tidak perlu." Jawab Axton lugas.


"Aku sudah menyuruh beberapa orang mencari jejak Anya," Ian kembali membuka suaranya.


"Sudah kubilang tak perlu!" nada suara Axton meninggi.


"Aku tak meminta persetujuanmu,"


Perkataan Ian membuat Axton sukses mengalihkan pandangannya. "Kau tak punya hak melakukan itu,"


"Aku juga punya andil dalam hal ini! Dan kita tak bisa terus menerus bertengkar. Marah padaku sampai kiamatpun tak akan membuat Anya kembali ke rumah!" Pekik Ian. "Kita harus mencarinya bersama," Ian merendahkan suaranya diakhir kalimat.


Suasana kembali hening. Mata Axton mengamati setiap inci wajah Ian yang masih terlihat sedikit lebam.


Ia menghela napasnya. Benar juga, marah pada Ian adalah sesuatu yang percuma. Seharusnya, dia tak boleh membagi fokusnya selain hanya pada Anya.


"Maafkan aku,"


"Sorry," Keduanya tiba-tiba berbicara nyaris berbarengan. Mereka tertawa kecil setelahnya.


Jujur, belasan tahun menjalin persahabatan, tak mudah bagi Axton untuk memusuhi Ian, begitupun sebaliknya.


"Sekali lagi maafkan aku, X," Ian menunduk, rasa bersalah lagi-lagi menyelimuti hati pria itu.


"Aku juga." Axton tersenyum. Tangannya terulur di hadapan Ian, "Tolong, bantu aku mencarinya," Setengah beban terangkat dari pundak Ian. Ia berjanji dalam hati untuk menemukan istri sahabatnya itu secepat mungkin.

__ADS_1


...***...


"Ini anak manis," Anya memberikan satu porsi kentang goreng yang terkemas rapi di dalam paper bag pada gadis berusia 5 tahun bernama Nina, pelanggan sekaligus tetangganya.


"Bilang apa, Nina?" Sang Ibu, yang seusia dengan Anya memberi isyarat pada anaknya.


"Telima kasih Tante Anya yang cantik," ujar gadis tersebut dengan logat cadelnya.


Anya berjongkok, menyamakan tinggi tubuhnya dengan Nina, lalu mengusap kepala gadis itu. "Sama-sama Nina."


Dian, Ibu dari Nina menengadahkan kepalanya ke atas. Sekumpulan awan sudah mulai terlihat menggelap. "Sepertinya malam ini akan hujan, sebaiknya kau segera menutup daganganmu, Savanna," ujarnya mengingatkan.


"Ahh, benar juga."


"Baiklah, kalau begitu kami permisi. Bilang dadah sama Tante Anya, Sayang," Nina melambaikan tangannya pada Anya seraya berjalan pergi.


Setelah Dian dan Nina pergi, Anya segera menutup lapak dagangannya. Tak lupa ia juga menyapu dan membuang sampah.


Seminggu sudah Anya tinggal sendiri seraya menjajakan dagangannya di depan rumah. Meski penghasilan yang ia dapat jauh dari yang biasanya ia terima dari Axton, tetapi Anya tetap bahagia menjalaninya. Ada kepuasan tersendiri, mengingat itu adalah hasil jerih payahnya sendiri. Tentu ia lebih menghargai uang tersebut.


Baru saja Anya membuka pintu rumah, kepalanya tiba-tiba terasa berat. Ini pasti karena ia jarang makan dan lebih banyak bekerja.


"Anya, Ibu masak sop iga–"


DUG!


Bu Ida yang masuk ke halaman rumah Anya kontan berteriak histeris, ketika Anya kehilangan kesadaran dan jatuh di ambang pintu rumah.


......***......


Anya membuka matanya perlahan. Beberapa ibu-ibu yang menemaninya di kamar langsung mengucap syukur tatkala wanita itu telah sadar.


Anya mencoba duduk dari posisi tidurnya, namun Bu Ida segera menahan. "Rebahan saja dulu, Nduk,"


"Iya Anya, untuk tiga hari ini jangan berjualan dulu. Kau harus bedrest dan banyak makan." Kata Nia, salah satu tetangganya yang berprofesi sebagai dokter umum. Wanita itu memberikan beberapa bungkus obat dan vitamin untuk dikonsumsi Anya.


"Diminum ya," ujar dokter Nia. Anya mengangguk.


"Kapan terakhir kau memeriksakan diri ke dokter?" tanyanya.


Anya menggelengkan kepala, "Aku lupa," mendengar itu, dokter Nia menghela napasnya. "Selesai bedrest, aku akan buatkan janji dengan dokter SpOG di rumah sakitku. Kau harus datang,"

__ADS_1


Anya lagi-lagi hanya mengangguk. Dokter Nia kemudian pamit pulang seraya mengajak para ibu-ibu untuk pergi meninggalkan Anya, agar ia bisa beristirahat.


Anya berterima kasih sekali lagi pada mereka.


Hanya tinggal Anya dan Bu Ida yang ada di kamar. "Ibu sudah menelepon Jagat, mereka sedang dalam perjalanan kemari," beritahunya.


"Ibu temani sampai mereka datang ya?" Bu Ida menawarkan diri.


"Tidak perlu, Bu, aku sudah tidak apa-apa. Aku akan tidur sembari menunggu mereka datang," ucap Anya tersenyum.


"Baiklah, kalau ada apa-apa telepon Ibu, ya? Jangan lupa makan. Ada sop iga di dapur, sudah Ibu panaskan." Bu Ida menaikan suhu air cooler milik Anya dan menyelimuti wanita itu.


Anya kontan menitikan airmata. Diperlakukan sedemikian baik oleh Bu Ida, membuat wanita itu rindu pada kedua almarhum Ibunya.


"Kenapa menangis, Nduk?" Bu Ida menghapus airmata yang jatuh di pipi Anya.


"Tidak apa-apa, Bu, aku hanya rindu pada kedua Ibuku. Rasanya sudah lama sekali tak merasakan perhatian seperti ini."


Bu Ida memeluk Anya penuh sayang. Dia memang sudah menganggap Anya sebagai anaknya sendiri, meskipun baru saja kenal. Maklum, wanita itu hanya memiliki anak tunggal laki-laki yang memilih tinggal di asrama Kampus dan baru akan pulang saat akhir pekan saja. Sedangkan suaminya malah hanya bisa pulang sebulan sekali, karena harus bertugas di luar kota. Jadi, kehadiran Anya otomatis membuat rasa kesepian Bu Ida berkurang setengah.


"Sudah, sudah, jangan bersedih ya," Bu Ida mengusap lembut lengan Anya yang terbungkus selimut. Ia menguatkan Anya, walau dirinya juga sudah berkaca-kaca.


"Terima kasih sekali lagi ya, Bu,"


"Mau berapa ribu kali kau mengucapkan kata itu? Tidak bosan?" Bu Ida mencoba mencairkan suasana.


Anya menggeleng. Mereka lalu tertawa bersama.


...***...


Waktu sudah menunjukan pukul sembilan malam tatkala Kinanti dan Jagat mengetuk pintu rumah Anya.


Begitu pintu dibuka, mereka langsung memeluk Anya dan memberondong sang Kakak dengan berbagai macam pertanyaan, terutama soal kehamilannya yang sengaja disembunyikan dari keduanya.


Anya tertawa lembut menanggapi kedua adiknya itu. "Duduk dulu, kalian baru saja sampai. Untuk ceritanya, nanti saja ya? Mbak sudah kelaparan," ucap wanita itu.


Kinanti dan Jagat merengut, namun mereka tetap menurut. Kinanti segera beranjak ke dapur untuk mengambilkan makanan, sementara Jagat masuk ke dalam kamar tamu, meletakan tas mereka.


"Jumbo-jumbo sekali tas kalian, mau menginap berapa hari?" terselip nada gurauan dipertanyaan Anya.


"Sampai Mbak sehat!" suara Jagat di kamar dan Kinanti di dapur terdengar berbarengan. Anya hanya tertawa canggung. Sepertinya, dia tidak akan dibiarkan tidur malam ini, sebelum menceritakan semuanya kepada mereka.

__ADS_1


__ADS_2