
"Mbak, ke sana, yuk? Kayaknya bajunya bagus-bagus, deh," ujar Callista seraya menggandeng tangan Anya menuju salah satu toko baju ternama. Anya hanya bisa mengikuti sang adik dengan pasrah.
Awalnya Anya sudah membayangkan akan menghabiskan waktunya seharian dengan menonton drama, karena ada Bi Rahmi di rumah yang akan menggantikan tugasnya.
Bayangan betapa sempurnanya hari bermalas-malasan Anya seketika bubar, ketika Callista tiba-tiba datang dan memaksanya untuk ikut berbelanja.
"Baju Mbak sudah banyak yang kuno. Kita juga akan membelikan baju-baju yang bagus untuk Kinanti dan Jagat." Bujuk Callista saat Anya menolak keras ajakannya.
Tidak berhasil dengan bujuk rayunya, Callista tidak kehilangan akal. Gadis itu mengancam akan terus mengekori dirinya seharian ini, meskipun Anya sedang berada di kamar mandi sekalipun.
Hafal bagaimana sikap adik Iparnya itu, Anya mau tak mau mengalah dan mengikuti kemauannya
Dan di sinilah mereka sekarang, di dalam salah satu Mall terkenal di Ibu kota. Mereka memasuki toko baju ke-lima.
Sejujurnya Anya merasa risih, sebab beberapa pasang mata tampak memerhatikan mereka dengan seksama. Bagaimana tidak, Callista membawa serta enam orang bodyguardnya untuk menemani mereka. Bahkan para bodyguard itu sudah memegang satu goodie bag di masing-masing tangan mereka. Dan Callista masih saja belum puas membelanjakan uangnya.
Setelah mampir ke toko ke-enam, Callista dan Anya makan di salah satu restoran jepang ternama yang ada di sana.
Anya melamun sejenak. Rasanya sudah lama sekali dia tidak merasakan hidup seperti ini. Sejak hidup sederhana bersama Ibu angkatnya, Anya mendadak lupa semua rasanya.
"Mbak, lihat itu!" lamunan Anya buyar saat Callista memekik tertahan. Tangannya menunjuk pada seseorang yang berada jauh di ujung.
Anya mengikuti arah pandang Callista. Matanya menyipit untuk melihat lebih jelas siapa yang Callista maksud.
"Hana, Mbak," beritahu Callista tak sabaran. "Bermesraan dengan siapa dia?" tanyanya kemudian.
Benar apa yang dikatakan Callista, di ujung meja yang letaknya lumayan jauh, mereka dapat melihat Hana sedang bermesraan dengan seorang pria paruh baya yang masih terlihat gagah.
Sepengetahuannya, Axton dan Hana masih berpacaran. Kemarin Anya bahkan masih bisa mendengar kata-kata manis Axton yang ditujukan untuk Hana via telepon.
Callista segera mengambil ponselnya dari dalam tas kemudian membidik kedua manusia itu.
"Gotcha!" serunya kegirangan.
"Aku akan melaporkan ini pada Kakak, agar dia tahu gadis seperti apa Hana itu. Aku heran, bisa-bisanya Mama menyukai gadis itu."
Anya tidak menanggapi. Terserah apa mau Callista, dia tidak akan melarangnya.
Malam hari Anya baru pulang ke Apartemen. Gadis itu keheranan melihat seisi rumah yang masih gelap gulita. Dia menyalakan senter pada ponselnya dan berjalan perlahan menuju ruang televisi untuk meletakan beberapa barang belanjaannya, sebelum akhirnya menyalakan lampu satu persatu.
__ADS_1
Gadis itu kemudian naik ke lantai atas untuk menyalakan lampu.
Sesampainya di depan kamar, Telinga Anya menangkap suara aliran air yang berasal dari dalam kamar Axton. Gadis itu segera masuk ke dalam menuju kamar mandi.
Anya memekik ketakutan setelah melihat Axton tergeletak tak berdaya di lantai kamar mandi sembari memegang perutnya.
Gadis itu mematikan aliran air dan memangku kepala Axton.
"Kak? Kak? Kau kenapa?" tanya Anya seraya menepuk-nepuk pipi Axton.
"S–sak–kit." gumam Axton terbata-bata. Anya memerhatikan tangan Axton yang tengah mencengkram perutnya sendiri.
Setelah berkata demikian, Axton terkulai lemas. "Kak, sadar! X? X?" Anya menangis ketakutan. Gadis itu berteriak sekali lagi memanggil nama Axton. Tetapi pria itu tak juga merespon. Kepalanya kemudian menoleh kesana kemari untuk mencari sesuatu. Dia menemukan ponsel Axton di atas wastafel. Gadis itu mengambilnya dan membuka kunci menggunakan sidik jari Axton.
Dia menelepon Ian dan memintanya untuk datang ke rumah.
Anya bersusah payah mengangkat tubuh Axton ke atas ranjang. Dia tak peduli seluruh kamarnya basah, yang penting dia bisa menyelimuti Axton yang sekarang tengah menggigil kedinginan.
Ian datang beberapa menit kemudian bersama seorang dokter. Rumah Ian memang tak jauh dari sana.
Anya bangkit dari kasur dan membiarkan dokter memeriksa pria itu.
...***...
"Tekanan darahnya juga tinggi, saya akan meresepkan obat diuretik untuknya," sambung dokter tersebut.
"Baik, dok, akan kami lakukan. Terima kasih," ucap Ian.
"Kalau begitu saya permisi,"
"Biar saya antar," Ian menepuk bahu Anya lalu mengantar dokter tersebut ke depan pintu rumah.
Anya masuk ke dalam kamar dan duduk di tepi ranjang yang Axton tiduri. Tangannya mengusap peluh yang membasahi kening Axton. Ian datang tak lama kemudian. Anya meminta tolong Ian untuk menggantikan baju Axton sementara dia membuatkan bubur instan.
Anya membawa semangkuk bubur hangat instan untuk Axton. Pria itu sudah sadarkan diri.
"Kalau begitu aku permisi," pamit Ian setelah melihat Anya masuk. Anya kontan gelagapan. Jika Ian pulang, lalu siapa yang menyuapi Axton?
"Anya, tolong titip X, ya? Aku ada urusan penting, jadi aku harus pergi." Kata Ian seraya tersenyum kalem.
__ADS_1
Mau tak mau Anya mengangguk. "Terima kasih, Ian,"
Ian mengangguk mantap, pandangannya kemudian beralih pada Axton. "X, mulai sekarang jangan pernah bertingkah kecuali kalau kau ingin mati!"
Axton membuang muka.
Anya duduk di samping Axton dan bersiap untuk menyuapi Axton.
"Aku bisa makan sendiri." ketusnya, tak ingin membuka mulut.
"Tolong jangan buat ini jadi rumit. Aku hanya ingin merawatmu agar cepat sembuh." Anya ingin menampar mulutnya saat ini juga. Bisa-bisanya dia berbicara seperti itu. Pasti Axton berpikir, mentang-mentang dirinya sakit dia jadi kurang ajar.
Axton ingin mengumpat tetapi suara perutnya tiba-tiba berbunyi. Anya menahan diri untuk tidak tertawa.
Anya dengan telaten dan perlahan menyuapi Axton. Pria itu sama sekali tidak melihat raut kecanggungan dari Anya, padahal tanpa sepengetahuan Axton, Anya tengah mati-matian menahan debaran jantungnya yang mulai menggila.
Sesekali Axton memerhatikan wajah Anya. Matanya yang bulat dengan warna bola mata kebanyakan wanita Indonesia melekat pada diri Anya. Hidungnya kecil dan mancung dipadu bibirnya yang tidak terlalu tipis tapi juga tidak terlalu tebal, begitu pas di mata Axton. Belum lagi kulitnya yang kuning langsat.
Jika kebanyakan wanita yang dia lihat memiliki warna kulit yang tidak merata, akibat terlalu sering memakai pakaian terbuka, tidak begitu dengan Anya. Warna kulit gadis itu merata dari ujung rambut sampai ujung kaki, belum lagi bentuk tubuhnya–
"GILA!" umpatan Axton mengejutkan Anya yang sedang serius membersihkan mangkuk bubur.
"Siapa yang gila, Kak?" reflek Anya bertanya, matanya memandang Axton ingin tahu.
"Kau! Cepat selesaikan makannya, aku ingin tidur!" seru Axton cepat. Buru-buru Anya menyuapi sendok terakhir bubur itu lalu pergi meninggalkan Axton.
Axton mengusap wajahnya frustasi.
Gila! apa yang sedang dia pikirkan dan bayangkan? Baginya, hanya Hana gadis tercantik dan terseksi di matanya. Dan ia mencintai gadis itu sepenuh hati.
...***...
Kedua orangtua Axton datang keesokan harinya. Theresa sempet memarahi Axton untuk berhenti dari kebiasaannya meminum alkohol. Axton hanya menanggapi omelan ibunya itu dengan gumaman tak jelas.
"Jika kau ingin menyia-nyiakan orang yang dengan tulus memberikan ginjalnya padamu, terserah. Kau sudah berjanji bahwa hidupmu sejak saat itu bukan hanya untuk dirimu sendiri, tetapi juga untuk pendonor itu. Apa kau lupa dengan janjimu itu?." Perkataan Maxim sontak mengingatkan Axton pada kejadian lima tahun lalu.
Ya, lima tahun lalu Axton mengalami gagal ginjal. Satu ginjalnya rusak dan tidak berfungsi. Jika tidak segera dibuang akan memengaruhi fungsi satu ginjalnya yang lain.
Keluarga memutuskan untuk membuang ginjal Axton yang rusak. Semula dia harus siap menjalani hidup dengan satu ginjal yang tersisa. Tetapi Tuhan dengan baik hati mengirimkannya seorang pendonor yang cocok. Axton tidak mengetahui identitas pendonor tersebut, yang dia tahu hanya, jika pendonor itu adalah seorang wanita muda yang mengalami mati otak.
__ADS_1
Sebagai penghormatan darinya, maka setiap tahun Axton akan datang ke rumah sakit tempatnya menjalani operasi dulu, guna meletakan bucket bunga di sana.
"Aku ingat. Aku mengerti."