Cinta Anya Untuk X

Cinta Anya Untuk X
Undangan makan malam.


__ADS_3

Ponsel terbaru keluaran Mahendra Electronics Group meledak di pasaran. Tak sampai satu minggu launching, hampir satu juta unit ponsel telah habis terjual.


Daffa menyadari, selain karena beberapa fitur canggih yang mereka upgrade di ponsel terbaru ini, kehadiran Axton sebagai Brand Ambassador juga menambah daya tarik para konsumen, terutama di kalangan para remaja.


Bersamaan dengan itu, berita perihal putusnya hubungan Axton dan Hana menjadi sorotan publik. Berbagai media cetak maupun elektronik memuat kabar tersebut di halaman utaman mereka. Bahkan beberapa media tak bertanggung jawab membumbui berita tersebut dengan mengatakan bahwa itu adalah salah satu strategi marketing pihak Axton demi mendongkrak penjualan ponsel yang ia bintangi.


Axton tidak mengambil pusing. Saat para wartawan berbondong-bondong mendatangi Kantor Star-sky Management untuk meminta konfirmasi, dia dengan santai membantah perihal settingan yang dituduhkan beberapa media dan dengan lantang mengiyakan kabar putusnya dengan Hana.


"Lalu apa alasan Anda putus dari Kim Hana, padahal kalian sudah menjalin hubungan selama tiga tahun?" ujar salah satu wartawan pada Axton.


"Siapa yang memutuskan mengakhiri hubungan kalian terlebih dahulu?"


"Bagaimana dengan Kim Hana sekarang?"


"Apa kalian masih tetap berhubungan baik setelahnya?"


Merasa tak puas, para Wartawan kembali memberondongi Axton dengan berbagai pertanyaan.


"Kalau bukan strategi marketing, apa jangan-jangan kabar soal pernikahan Anda dengan perempuan lain itu benar adanya?"


Kendati terkejut atas pertanyaan salah satu Wartawan wanita, Axton mencoba terlihat biasa-biasa saja.


Tanpa berkata apa-apa lagi, ia pergi meninggalkan kerumunan dan masuk ke dalam Kantor, dibantu beberapa penjaga yang memang Ian sewa.


"Kau baik-baik saja?" tanya Ian.


"Hmm." Gumam Axton.


"X," Richard yang hendak keluar Kantor bersama Asisten Pribadinya kontan memanggil Axton saat melihat pria tersebut.


Dia menghampiri Axton dan memeluknya erat. "Kerja bagus X," puji Richard. "Abaikan desas-desus yang lain dan fokus pada pekerjaan, ok?" Axton mengangguk.


"Ah, Pimpinan Mahendra Electronics Group mengundang kita makan malam besok. Kau harus datang bersamaku,"


"Tak bisa diwakilkan oleh Ian saja?" Axton bertanya malas-malasan.


"Jangan begitu X, ini adalah makan malam pribadi. Daffa sendiri yang secara sukarela meluangkan waktunya untuk kita. " Richard menepuk pundak Axton sekali. "Jadi, jangan sampai telat," ujarnya seraya menatap Ian juga.


Ian menganggukan kepalanya.


Setelah berkata demikian, Richard pergi meninggalkan mereka. Pria itu sempat menunggu para penjaga mengusir wartawan-wartawan tersebut sebelum akhirnya dengan leluasa keluar dari Kantor bersama Juni, Asisten Pribadinya.


Axton mendecih. Justru karena itulah ia tak ingin menghadiri makan malam tersebut.


***


Anya hanya bisa menganga ketika melihat berita di layar kaca, perihal salah satu produk ponsel yang tengah diminati. Bukan soal produknya yang laris manis di pasaran, melainkan siapa Pimpinan dari Mahendra Electronics Group, perusahaan yang mengeluarkan ponsel tersebut.


Dia memang tak banyak tahu soal Daffa, maka dari itu, tak heran jika dirinya terkejut mengetahui bahwa Daffa adalah orang dibalik suksesnya Mahendra Electronics Group.

__ADS_1


Namun, bukan itu hal utama yang Anya pikirkan, melainkan, bagaimana bisa Daffa dan Axton bekerja sama?


Axton turun dari lantai atas. Matanya ikut melirik ke arah televisi yang Anya tonton. Dengan cuek ia melanjutkan langkahnya menuju dapur.


Anya mengikuti Axton dari belakang. "Aku tak tahu, Mas Daffa adalah orang dibalik Mahendra Electronics Group. Dan bagaimana bisa Kakak dan Mas Daffa menjalin kerjasama?" tanya Anya pada Axton yang sedang mengambil sebotol air dingin di kulkas lalu meneguknya.


Raut wajah Axton seketika berubah. Entahlah, dia sebenarnya selalu jengkel jika Anya menyebut Daffa 'Mas', sedangkan ia 'Kakak'.


"Kupikir kau sudah tahu banyak tentangnya, mengingat ia adalah mantan pacarmu." Jawab Axton sinis.


Mendengar jawaban Axton yang sinis, membuat Anya merengut, "Aku bukan seseorang yang hobinya mencari tahu tentang orang lain!"


Alis Axton berkedut. Akhir-akhir ini, wanita itu memang sering kali mengeluarkan kata-kata pedas jika berhadapan dengannya, tanpa rasa takut. Dan anehnya, dia sama sekali tidak bisa mengeluarkan amarahnya.


Anya berbalik pergi dan kembali duduk di ruang tv.


"Nanti malam, aku akan keluar untuk dinner dengan mereka?" Axton menyusul Anya.


"Siapa? Mas Daffa?" tanya Anya.


Axton bergeming sejenak sebelum akhirnya menjawab seraya berlalu menuju lantai atas, "Hmm."


Pria itu kemudian menghentikan langkahnya di anak tangga ketiga. "Bisakah, berhenti memanggil pria itu dengan sebutan 'Mas'? Aku risih mendengarnya!"


Anya mengangkat alisnya tinggi-tinggi.


Memangnya apa yang salah dengan sebutan itu? Daffa berdarah Jawa, jadi tidak mungkin ia memanggil pria itu 'Abang' atau 'Kakak', seperti ia memanggil Axton.


'Aiiih,' Anya sontak menggeleng. Axton memang memiliki darah Jawa dari sang Ibu, tetapi melihat perawakannya yang 90 persen ikut sang Ayah, membuat pria itu agak kurang pas dipanggil 'Mas'.


'Callista saja memanggilnya Kakak!" sahut Anya dalam hati. Jengkel.


***


Anya duduk termangu di mobil, sementara Axton tengah fokus menyetir. Mereka akan menghadiri undangan makan malam Daffa.


Awalnya, Anya menolak mati-matian ajakan Axton untuk ikut dengannya. Ia tahu betul, Axton ingin mengajak pria tersebut perang dingin. Namun, ia tak dapat berbuat apa-apa tatkala Ian malah ikut setuju.


Richard tidak bisa ikut bergabung, itulah mengapa Ian tak merasa keberatan mengajak Anya ikut bersama mereka. Alhasil, wanita itu mau tak mau menuruti ajakan keduanya.


Mereka telah sampai di depan sebuah Restaurant Bintang Lima. Axton keluar dari mobil, diikuti oleh Anya. Di belakang mereka, Ian keluar dari mobilnya bersama Delia.


Setelah memberikan kunci mobil pada Petugas Valet Parkir, keempatnya masuk ke dalam Restaurant tersebut.


Axton memberikan secarik kertas VVIP pada salah satu pelayan. Pelayan itu kemudian mengantar mereka ke salah satu ruangan tertutup di lantai dua.


Sebelum masuk ke dalam ruangan, Axton dengan erat menggenggam tangan Anya. Anya terkejut, kendati risih, ia tak mungkin melepas genggaman tangan Axton. Tak ada yang salah dengan yang pria itu lakukan.


Daffa dan Siska bersama Anton, sang Sutradara, berdiri menyambut kedatangan mereka. Walau sekilas raut terkejut terlihat dari wajah Daffa, tetapi Pria itu segera menyembunyikannya dengan baik.

__ADS_1


"Apa kabar, X?" tanya Anton ramah.


"Baik." Jawab Axton.


"Maaf, Richard tak bisa datang," Ian membuka suaranya.


"Tak apa. Beliau sudah mengabari tadi." Jawab Daffa tanpa melepas senyumnya.


"Boleh aku tahu, siapa wanita cantik yang datang bersamamu ini?" tanya Daffa ketika berjabat tangan dengan Axton. Kehadiran Siska di sana membuat mereka mau tak mau memainkan sandiwara murahan ini.


Anton tampak menaruh minat pada pertanyaan Daffa.


Axton tidak menjawab. Daffa mengalihkan pandangannya pada Anya dan menjabat tangan wanita itu.


"Anya, sepupu X." Anya memperkenalkan diri.


"Nama yang cantik, secantik orangnya." sahut Anton, seraya ikut mengulurkan tangannya.


Anya tersenyum menyambut ukuran tangan Anton. Tak lama, beberapa pelayan datang membawa berbagai macam hidangan yang menggugah selera.


Anya merasa terasing sendiri kala mereka semua sibuk membicarakan proyek yang kini sedang mereka kerjakan.


Ia hanya menunduk lesu sembari mengutak-atik makanannya tanpa sedikitpun memasukan makanan tersebut ke dalam mulut.


Delia yang berada di sebelah Anya menyenggol pelan lengan wanita itu, "Kalau Mbak tidak suka makanannya, biar kupesankan makanan yang lain,"


Anya menggeleng. "Tidak perlu, aku hanya sedang tidak berselera."


"Baru kali ini aku melihat seseorang mengajak sepupunya keluar makan malam, alih-alih mengajak kekasihnya." Anya mengangkat kepalanya saat topik pembicaraan tiba-tiba berubah.


"Tak ada yang salah dengan itu." Jawab Axton kalem.


"Ya, betul juga." Daffa tertawa renyah. "Tetapi baru kuingat, Nona Anya sepertinya adalah wanita yang disebut-sebut telah menikah dengan Anda, bukan? Dan setelah kulihat-lihat, sepupumu ini memang terlihat lebih pantas menjadi istrimu."


Axtin bergeming sejenak, "Sepertinya kita sudah sepakat untuk tidak membicarakan hal-hal diluar pekerjaan," sahutnya kemudian.


"Oww, sorry, aku tak dapat menahan diri." Daffa menyeringai seraya mengangkat kedua tangannya.


"Kalau begitu, kau pasti tidak keberatan jika aku ingin mengenal lebih jauh sepupumu, bukan? tanya Pria itu kemudian. Anton tertawa mendengarnya. Pria paruh baya itu menggoda Daffa, yang dijawab tawa renyah oleh Pimpinan Mahendra Electronics Group tersebut.


Darah Axton kontan mendidih. Daffa rupanya tengah terang-terangan memancing emosinya.


Baru saja ia akan menghardik Daffa jika saja tangan Anya tidak menahannya terlebih dahulu. "Aku ingin pulang," ujar wanita itu, meringis.


Axton menghela napasnya. "Maaf, sepertinya kami harus pulang duluan." Pandangannya beralih pada Ian dan Delia, "Kalian tetap di sini saja."


"Terima kasih atas undangan makan malamnya," Axton dan Anya berdiri.


"Baiklah. Terima kasih juga karena sudi memenuhi undangan ini." Ada raut kekecewaan yang tampak di wajah Daffa.

__ADS_1


Daffa kemudian menatap Anya ramah, "Senang berkenalan denganmu, Anya," ujarnya tersenyum.


Anya mengangguk dan berterima kasih. Mereka lalu pergi meninggalkan Restaurant.


__ADS_2