
"Bagaimana keadaan adik saya, dok?" tanya Elang khawatir.
"Tekanan darah Ibu Savanna sangat tinggi. Tubuhnya juga kelelahan. Beruntung bayinya tidak apa-apa, tetapi Ibu Savanna harus bedrest total di rumah sakit sampai pendarahannya berhenti. Untuk lebih membantu, sebaiknya Beliau jangan dibiarkan banyak pikiran." Elang dan Bu Ida mendengarkan penjelasan sang dokter dengan seksama.
"Kami akan memindahkannya ke ruang perawatan. Silahkan Bapak mengurus administrasinya terlebih dahulu,"
"Baik, dok. Terima kasih," ucap Elang.
Dokter yang diketahui –dari name tagnya– bernama Nia itu mengangguk seraya tersenyum. "Kalau begitu, saya permisi,"
Sepeninggal dokter Nia, Elang meminta Bu Ida menemani Anya di dalam selagi ia mengurus administrasi.
Bu Ida masuk ke ruang UGD. Matanya menatap nanar Anya yang sedang terbaring lemah di ranjang. "Ya Allah, Nak,"
Kendati begitu, Bu Ida boleh berlega hati sebab Anya sudah terlihat sedikit lebih baik dari pada sebelumnya.
Perlahan, Anya membuka matanya. "Bu," ucap Anya lirih. "Aku di mana?" tanyanya.
"Di Rumah Sakit, Nak. Pak Elang membantu Ibu membawamu ke sini." Jawab Bu Ida. Beliau menepuk-nepuk tangan Anya lembut.
"Bayiku, Bu! Bayiku!" raut wajah Anya berubah panik seketika. Ia kontan meraba-raba perutnya.
Bu Ida reflek memegang kedua bahu Anya. "Tidak apa-apa, sayang. Bayimu baik-baik saja. Sekarang, istirahat dulu ya,"
"Syukurlah," gumam Anya lega. "Maafkan Ibu, ya?" ujar Anya sembari mengelus perut buncitnya. Dia lalu menoleh menatap Bu Ida. "Maafkan Anya ya, Bu? Sudah terlalu banyak merepotkan,"
Bu Ida mengelus rambut Anya penuh sayang. "Jangan bicara seperti itu. Kau tidak boleh memikirkan hal-hal berat. Cukup pikirkan kesehatanmu dan bayimu saja, ya?"
Anya mengangguk patuh. Netra cokelatnya berkaca-kaca. Sekuat tenaga, ia harus sehat demi sang anak.
Tak perlu menunggu waktu lama, Anya kemudian dipindahkan ke ruang VIP. Rumah Sakit di daerah itu hanya memiliki kelas VIP sebagai kelas tertinggi. Elang tak ingin mengambil resiko jika harus memindahkan Anya ke Rumah Sakit lain.
"Ibu sudah menelepon Jagat dan Kinanti, mereka sedang dalam perjalanan kemari." Kata Bu Ida sembari bersiap pergi.
"Ibu mau ke mana?" tanya Anya.
"Ibu pulang dulu untuk mengambil pakaianmu." Wanita paruh baya itu menoleh ke arah Elang. "Pak, kalau tidak keberatan saya titip Anya dulu, bisa?"
__ADS_1
Anya meringis tak enak. "Sendiri saja tidak apa-apa, Bu. Pasti Pak Elang sangat sibuk."
"Kalau sendirian, nanti kamu butuh apa-apa, bagaimana?"
"Aku akan tidur." Jawab Anya. Ia merasa tak nyaman jika harus ditinggal berdua dengan sang Kakak. Terlebih, Elang sedari tadi hanya diam seraya menatap dirinya lekat-lekat. Membuat nyali wanita itu sedikit menciut.
"Tidak apa-apa. Silahkan kalau Ibu mau pulang dulu," Elang membuka suaranya. Bu Ida mengangguk dan berterima kasih. Beliau lalu pergi meninggalkan mereka berdua.
Suasana terasa sangat canggung selepas Bu Ida pergi. Elang hanya duduk diam di sofa, melipat kedua tangannya, sambil menatap Anya dengan pandangan yang sulit dibaca. Membuat wanita itu sulit memejamkan matanya sedetikpun.
Sadar akan tingkah Anya, Elang bangkit dari tempat duduknya. Dia menghampiri Anya lalu duduk di kursi yang berada di sebelah bednya.
"Kau butuh sesuatu?" tanya Elang. Suara sang Kakak sontak membuat bulu kuduk Anya meremang. Dengan takut-takut Anya menggelengkan kepalanya tanpa suara.
Seluruh tubuh Anya tiba-tiba bergetar tatkala Elang membenarkan selimutnya. Menyadari hal itu, sorot mata Elang melunak. "Tidurlah," titahnya dengan suara lebih rendah.
Anya mengangguk sebelum akhirnya memejamkan mata.
...***...
"Ikuti mereka terus, jangan sampai kalian kehilangan jejak!" Axton menutup teleponnya.
Dan kini mereka sedang membuntuti kemana Kinanti dan Jagat pergi.
"Aku harus bertemu dengannya," gumam Axton pelan. Ian yang duduk di sampingnya hanya terdiam, tak berniat menanggapi gumaman Axton.
Matanya menatap sosok sang sahabat yang tidak lagi terlihat bugar. Bobot tubuhnya berkurang, belum lagi lingkaran hitam yang menghiasi kedua mata pria itu. Ian nyaris tidak dapat mengenali sosok Axton jika saja tak melihat warna matanya.
Ian sangat mengerti apa yang tengah Axton rasakan. Seberat apa beban rasa bersalah yang ditanggung Axton kali ini pun, dia sangat memahaminya.
Menyakiti seseorang yang ternyata telah mengorbankan setengah nyawanya pasti membuat batin pria itu terguncang. Namun demi mencari Anya, Axton harus menahan segalanya.
Maka dari itu, Ian tak bisa hanya berdiam diri. Dia akan menemani Axton bukan sebagai manajernya, melainkan sahabat baiknya.
...***...
Kinanti dan Jagat berdiri di ambang pintu ruangan Anya. Mata mereka berkaca-kaca tatkala mendapati kondisi sang Kakak. Dengan hati-hati, keduanya menghambur kepelukan Anya.
__ADS_1
"Mbak kenapa bisa seperti ini?" tanya Kinanti yang kini telah menangis. Anya menepuk-nepuk punggung kedua adiknya penuh sayang.
"Hanya kelelahan." Jawab Anya lembut.
Jagat melepas pelukannya. "Selepas dari sini, Mbak harus ikut kami pulang. Aku tidak akan mengijinkan Mbak tinggal sendirian lagi. Masa bodoh jika setiap hari kita diteror oleh orang-orang aneh. Aku yang pasang badan!" ucap Jagat tegas.
Anya terdiam. Dia bingung harus berkata apa. Disatu sisi Anya tetap ingin tinggal di rumah kontrakannya, tetapi disisi lain, ia memikirkan kondisi anaknya. Situasi Anya tidak memungkinkan dia untuk tinggal sendiri lebih lama. Dia butuh seseorang yang menemaninya di rumah.
Pintu ruangan terbuka, Elang masuk sembari membawa secangkir kopi instan yang ia beli dari kantin Rumah Sakit.
Kinanti dan Jagat mengerutkan kening. Mata mereka menatap Elang dari atas ke bawah, mencoba mengenali siapa orang asing yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan Anya.
"Kinan, Jagat, ini ...," Anya tampak berpikir. Ia bingung bagaimana mengenalkan Elang pada mereka. Anya takut salah bicara.
Melihat kebingungan Anya, Elang berinisiatif memperkenalkan diri. "Elang, Kakak Anya."
Kinanti dan Jagat terperanjat. Mereka ingat almarhum sang Ibu pernah bercerita soal Kakak laki-laki Anya. Setahu mereka, pria itu sangat membenci Anya. Dan karena dialah Anya harus hidup terlunta-lunta bersama mereka di kampung. Tapi kenapa tahu-tahu dia ada di ruangan ini?
Seakan memahami apa yang ada dipikiran kedua adiknya, Anya lantas berkata; "Ceritanya panjang."
"Kedua adikmu sudah datang, aku harus kembali ke Kantor." Elang mengunterupsi.
"Terima kasih bantuannya ya, Pak," ucap Anya seraya menunduk. Ia ragu harus mengulurkan tangannya atau tidak. Anya takut Elang akan mempermalukannya lagi seperti waktu di Panti.
Namun tanpa disangka, Elang malah mengulurkan tangannya terlebih dahulu ke hadapan Anya. Anya mengangkat kepalanya, menatap sorot mata Elang yang kini jauh lebih teduh.
Wanita itu menggenggam tangan Elang dan menciumnya.
Belum lepas dari keterkejutannya, Elang kini mengelus rambut Anya sambil berkata; "Makan dan beristirahatlah, besok Mas akan kembali ke sini."
Anya kontan menangis. Wanita itu menganggukan kepalanya semangat. Senyum tak lepas dari bibir wanita cantik itu.
Elang kemudian beralih pada Kinanti dan Jagat. Berpesan pada keduanya agar menjaga Anya selama dia tak ada.
"Mbak jangan menangis," Kinanti memeluk Anya setelah memastikan Elang keluar dari sana. Dia tahu betul airmata Anya bukanlah airmata kesedihan.
...***...
__ADS_1
Axton terdiam mematung kala mendengar laporan dari salah seorang suruhan Callista. Meski mereka tidak mengetahui siapa yang tengah dirawat di rumah sakit, tetapi pikiran Axton tak bisa lepas dari satu orang,
"Anya,"