Cinta Anya Untuk X

Cinta Anya Untuk X
Kedatangan Kinanti dan Jagat (2)


__ADS_3

Axton perlahan membuka pintu apartemen. Bukan Bi Rahmi yang menyambut kedatangannya, melainkan Ian dan Delia.


"Ada apa?" tanya Axton tatkala melihat raut wajah Ian.


"Anya sakit?" bukannya menjawab, Ian malah balik bertanya. Matanya memicing curiga pada Axton.


Kali ini, apa lagi yang telah diperbuat sahabatnya itu hingga Anya tidak dapat turun dari ranjang dengan kedua kaki dibalut perban.


Axton tidak menjawab, Pria itu memilih berjalan melewati Ian menuju ke dapur. Dia meletakan obat yang dibelinya di atas meja dapur lalu mengambil segelas air minum.


Ian baru saja akan memaki Axton jika Delia tidak mengisyaratkan sesuatu.


Benar juga! Ada hal yang jauh lebih mendesak saat ini.


Ian berjalan menghampiri Axton lalu meletakan ponselnya tepat di hadapan pria itu.


Breaking News!


Axton Delano Caldwell yang selama ini diketahui tengah berkencan dengan Kim Hana, dikabarkan telah menikahi seorang gadis yang bukan kekasihnya.


Gadis yang bukan berasal dari dunia entertainment itu terlihat menemani Axton ketika ia menjalani pemotretan sebuah Majalah terkenal beberapa waktu lalu.


Star-sky Entertainment, agensi yang menaungi Axton sampai saat ini belum memberi tanggapan. Richard David, pemilik sekaligus CEO Star-sky bahkan tidak dapat dihubungi ketika ZonaGo mencoba meminta konfirmasi.


Axton teperanjat, dengan sigap ia mengambil ponsel Ian dan membacanya sekali lagi.


Matanya nyalang menatap sederetan tulisan di ponsel Ian. Bagaimana bisa media menyimpulkan hal tersebut hanya karena ia pernah membawa Anya ke tempat pemotretan tempo hari? Pasti ada orang yang dengan sengaja membocorkan rahasia ini ke media, apa lagi kejadian ini sudah beberapa waktu berlalu.


"Cari tahu siapa yang telah membocorkannya ke media,"


"Aku memang sedang menyelidikinya. Aku juga sudah meminta pihak ZonaGo agar menurunkan berita tersebut." Jawab Ian. "Kau harus segera ke kantor," ucapnya kemudian.


Axton memijat keningnya. Belum selesai masalahnya dengan Anya, datang lagi masalah baru yang berkaitan dengan wanita itu.


Tak berapa lama, Bi Rahmi datang ke dapur seraya membawa mangkok bubur yang telah kosong.


"Bapak sudah pulang? Ibu baru saja selesai makan." Beritahu Bi Rahmi.

__ADS_1


"Aa." Jawab Axton. Pria itu menoleh sejenak ke arah Ian dan Delia. "Batalkan semua jadwalku hari ini dan ... tunggu sebentar," katanya seraya berlalu sambil membawa sebungkus obat yang ia beli tadi.


Pria itu memantapkan hatinya, dia tidak mungkin menghindari Anya, terlebih mereka tinggal satu atap.


Anya yang sedang duduk di ranjang tersentak kaget tatkala Axton masuk ke dalam. Wanita itu kontan saja menunduk ketakutan, sementara tangannya sibuk memilin selimut yang sedang ia kenakan.


Axton berjalan ke arahnya lalu meletakan sebungkus obat yang ia bawa di atas nakas, sebelah Anya. "Minum obatmu," ujar pria itu. Dia tertegun sejenak ketika melihat tangan Anya tengah gemetaran.


Axton duduk di tepi ranjang dan berkata pelan, "Maaf,"


Anya sontak mengangkat kepalanya, membeku sejenak setelah mendengar perkataan Axton.


Jujur, ia tidak tahu harus bagaimana menanggapi permintaan maaf Axton. Anya tak pernah menyangka Axton akan dengan mudah mengucapkan kata maaf, padahal ia pikir, Axton pasti akan memintanya untuk melupakan apa yang telah terjadi di antara mereka.


Entah tulus atau tidak permintaan maaf tersebut, Anya tetap merasakan kesejukan di hatinya. Inilah yang dia butuhkan, bukan kata penghiburan dari orang lain, melainkan permintaan maaf dari pria itu sendiri.


"Soal surat perjanjian itu ...," Axton ragu melanjutkan perkataannya. Anya mengerutkan kening, mencoba mencari tahu apa yang ingin pria itu katakan dari raut wajahnya.


Ahh, Anya paham.


Dia tahu Axton tidak ingin surat perjanjian yang mereka sepakati berantakan hanya karena hal ini. Dia juga telah memikirkannya sejak tadi. Perkataan Ian perihal rencana Axton dan Hana terngiang-ngiang dibenaknya.


Anya mengerti bagaimana rasanya menjalani hidup bersama seseorang yang tidak dicintai dan Anya tidak ingin Axton merasakan hal tersebut. Dia akan mengalah, sebab sejak awal, ini bukanlah tempatnya, melainkan tempat Hana.


Toh. mereka hanya melakukannya sekali, ia yakin tidak akan terjadi apa-apa setelah ini.


Axton menatap Anya tak percaya, pria itu hendak menanggapi perkataannya, namun Anya kembali membuka suara, "Tolong, bersikap seperti biasa, kau selalu seperti itu setiap kali habis menyiksaku, jadi melihatmu seperti ini membuatku merasa tidak nyaman."


Axton terdiam. Kendati nadanya terdengar biasa, namun Axton bisa merasakan hawa dingin dari setiap kata yang Anya lontarkan.


Pria itu kemudian berdiri, "Aku harus pergi, setelah ini kita akan bicara lagi." Katanya tenang, seolah mengabaikan rasa sakit yang entah mengapa datang menusuk relungnya.


"Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi." Anya menatap Axton dengan raut wajah datar. Rasa takut yang semula ia lihat dari wanita itu telah sirna.


Axton menekan giginya kuat-kuat, ia tak suka melihat Anya terlihat sok tegar. Tanpa berkata apa-apa lagi, dia memilih pergi meninggalkan wanita itu.


***

__ADS_1


"Sudah kubilang berulang kali, kau harus berhati-hati! Bagaimana bisa kau mengajaknya ke lokasi, sedangkan banyak mata yang berkeliaran di sana!" Richard melempar tabnya ke atas meja. Sebuah artikel perihal kabar pernikahan Axton terpampang jelas di sana.


"Sudah kuperingatkan sejak awal bahwa kau harus memikirkan masak-masak keputusanmu menikahi gadis itu," Richard memutari mejanya dan berjalan menuju Axton yang berdiri seraya memandang keluar jendela.


Pria itu bergeming. Dia tahu dia salah, maka dari itu, membiarkan dirinya dimarahi adalah langkah yang tepat. Tentu saja, tidak akan ada yang berani membantah atau membuka mulut jika Richard sedang marah.


"Ini bukan tentang statusmu, X, tak ada yang salah dengan hal itu. Yang salah adalah kau menikahi gadis lain alih-alih kekasihmu sendiri!" Richard meninggikan suaranya.


Pria itu menatap Axton marah, lalu menghembuskan napasnya berkali-kali demi meredam emosinya. Axton adalah salah satu artis terbaik yang ia miliki, oleh sebab itu, berat baginya untuk memberikan sanksi. Lagi pula, Axton sudah meminta ijin padanya sebelum menikah dan ia menyetujui itu.


"Aku akan mengatakan yang sebenarnya." Axton membuka suaranya.


"Kau gila!"


"Lantas?" tanya Axton datar.


Richard terdiam sejenak. "Biar aku yang melakukan konferensi pers. Kau ... kau ... jangan lakukan apapun!" seru pria itu sembari menunjuk-nunjuk Axton sebelum berlalu meninggalkan ruangannya.


Ian yang sedari tadi hanya diam mengamati keduanya, bergerak menghampiri Axton. "Apa yang akan kau lakukan?" tanyanya.


Axton meremas tirai jendela sekuat tenaga. Dia tahu, jika Richard sudah bertindak, ia tidak bisa membantah meski hal itu berlawanan dengan keinginannya.


***


Malam hari


Kinanti dan Jagat hanya bisa mematung tatkala melihat Anya dalam kondisi menyedihkan. Seharusnya kedatangan mereka menjadi kejutan untuk Anya, tetapi kondisi Anya yang malah mengejutkan keduanya.


"Ketidaksengajaan seperti apa hingga membuat kaki Mbak harus di perban penuh begitu?" tanya Jagat yang masih saja keheranan dengan alasan yang Anya berikan.


Terang saja, kedua telapak kaki sang kakak diperban sampai nyaris mata kaki, padahal dia tahu Anya tidak mungkin seceroboh itu.


Wanita itu mengabaikan pertanyaan Jagat. Ia malah merentangkan kedua tangannya dan mengisyaratkan pada mereka untuk mendekat.


Kinanti dan Jagat menyambut isyarat tersebut dengan hangat.


"Mbak rindu," ucap Anya lirih.

__ADS_1


"Kami pun," Jawab Kinanti yang diangguki oleh Jagat.


__ADS_2