
"Kau gila, X!" hardik Ian. Ia memandang wajah sahabatnya dengan penih amarah. Ian tidak habis pikir, bagaimana bisa seorang Axton berubah menjadi seorang pria tak berhati seperti ini.
Dia sangat mengenal Axton. Meski terlihat dingin dan senang menjaga jarak dengan orang lain, namun Axton memiliki hati yang sangat baik. Jadi bagaimana mungkin pria itu tiba-tiba berubah menjadi seseorang yang begitu bengis hanya dalam waktu sesaat? Apa lagi kebengisan itu ia lampiaskan pada seorang wanita. yang tak lain Istrinya sendiri.
Axton memang menikahi Anya atas dasar paksaan dari Ayahnya. Tapi tetap saja, bukan berarti dia bisa bebas menyakiti hati dan fisik gadis itu. Jika Axton ingin melampiaskan amarahnya, mengapa tidak pada sang Ayah? Selain menjadi pria brengsek, ia jugabternyata seorang pria pengecut yang hanya bisa menyiksa seorang gadis tak berdosa.
"Jika kau terus menyakiti Anya, aku pun setuju jika pria itu mengambilnya darimu!" sahut Ian tanpa merasa bersalah.
Axton yang duduk di samping Ian lantas menarik kaos sahabat baik sekaligus Manajernya itu. "Apa-apaan kau!" hardiknya.
Ian menyeringai. "Kau yang apa-apaan!" pria itu menepis kasar cengkraman Axton pada kaosnya.
"Apa yang membuatmu begitu marah melihat Anya bersama pria lain? Ingat, kau tidak pernah menganggapnya ada selama ini!" Ian berkata dengan lantang. Perkataannya menghantam telak dada Axton.
Axton menunduk, kedua tangannya terkulai lemas. "Aku hanya tidak suka milikku disentuh orang lain." Jawabnya dengan nada suara lebih rendah. Matanya terlihat sendu.
Ian tertawa sinis. "Lantas, bagaimana dengan dirinya yang selalu melihatmu bersama Hana? Dia bukan gadis bodoh yang tidak bisa berpikir."
"Rasa cintanya padamu yang terlalu besar membuat gadis itu benar-benar buta, ternyata. Disaat wanita lain mungkin akan menghajar habis-habisan Suami dan pacarnya, Anya malah hanya memilih diam dan menerima takdir hidupnya, memiliki seorang Suami bedebah seperti dirimu." Kata Ian panjang lebar.
"Kau tak pantas cemburu pada pria lain, ketika dirimu bahkan tidur dengan wanita lain, X." Ian bangkit dari tempat duduknya. "Pikirkan alasan yang sebenarnya, mengapa kau bisa seemosi ini pada Anya? Apa benar hanya sebatas Anya adalah milikmu yang tak boleh disentuh siapapun atau ... ada hal lain yang tidak kau sadari."
Pria itu menatap prihatin sang sahabat yang kini tengah menyembunyikan wajahnya di atas meja sembari menjambak rambutnya sendiri. "Sebelum semuanya terlambat." Ian melangkah meninggalkan Axton untuk beristirahat.
"Pulanglah, lihat kondisi istrimu," Axton masih bisa mendengar kata-kata terakhir Ian, sebelum pria itu menjauh dari sana.
...***...
Bi Rahmi mengelap seluruh tubuh Anya dengan gerakan sehalus mungkin. Ia tak ingin majikan mudanya kembali mengerang kesakitan, sebab hampir seluruh tubuh gadis itu terasa sangat sakit walau hanya dengan gerakan sederhana.
Setelah selesai membasuh tubuh Anya dengan handuk basah, wanita itu membantunya memakai pakaian lalu menyuapinya makan.
__ADS_1
Dihari kedua kondisi Anya sudah jauh lebih baik. Bengkak di wajahnya sudah mulai mengempis dan lebam-lebam juga sudah mulai terlihat samar, tidak akan ketara jika tidak dilihat dengan seksama. Bi Rahmi rajin memakaikan salep yang ia beli sendiri dari apotek. Hanya, nafsu makan Anya saja yang masih belum kembali. Gadis itu hanya mampu menelan paling banyak tiga sendok makan, dikarenakan tenggorokannya terluka akibat terlalu banyak berteriak. Anya juga belum bisa mandi sendiri. Air dingin membuat gadis itu merasakan ngilu yang teramat sangat di sekujur tubuhnya.
Selama dua hari ini Bi Rahmi juga belum melihat batang hidung Axton. Tuannya itu sama sekali belum kembali ke Apartemen. Entahlah, ia tak ingin repot-repot memikirkan kemana perginya pria kejam itu, fokusnya kini hanya pada Anya.
Menjelang tengah malam Axton baru pulang ke Apartemen. Bi Rahmi yang tertidur beralaskan kasur lipat di sebelah ranjang Anya langsung terbangun, wanita itu menolak ketika Anya mengajaknya tidur di kasur yang sama.
"Pak," meski marah pada Axton, Bi Rahmi tidak bisa terang-terang memperlihatkannya.
"Bibi boleh pulang, biar aku yang menjaganya," pinta Axton.
Bi Rahmi bergeming. Keraguan menghantam benaknya Wanita itu takut jika Axton melakukan sesuatu lagi pada Anya yang kondisinya masih babak belur seperti itu.
"Aku tidak akan melakukan apapun padanya. Bibi boleh datang seperti biasa." Melihat keyakinan di mata Axton, Bi Rahmi akhirnya mengalah. Wanita itu membereskan kasur lipat yang sebelumnya ia gunakan lalu meminta ijin pulang.
Axton menaiki tempat tidur sepelan mungkin, mencegah agar Anya tidak terbangun dari tidurnya. Ia menelisik setiap bagian wajah dan tubuh gadis itu. Hatinya mencelos tatkala mengetahui terdapat banyak luka dan lebam yang tercetak di sana. Semua adalah hasil perbuatannya.
Tangan Axton mengusap lembut beberapa luka yang terdapat di wajah dan lengan Anya. Anya merintih halus namun tidak terbangun.
"Aku benci padamu! Aku melakukan ini semua untuk membuatmu menyerah dan membuatmu membenciku, hingga akhirnya kau memilih pergi jauh dari hidupku."
Pria itu merapatkan dirinya pada Anya dan memeluknya. Axton menutup matanya dan ikut tertidur.
...***...
Anya terkejut bukan main ketika mendapati Axton tengah tidur bersama dirinya. Tanpa memedulikan rasa sakitnya, Anya bangun dari posisinya tidurnya.
Meski Anya mencoba biasa-biasa saja, namun entah mengapa seluruh tubuhnya gemetar hebat. Sekelebat bayangan saat Axton menyiksanya tempo hari kembali berseliweran.
Anya tersentak kala Axton membuka kedua matanya. Kedua tangan gadis itu saling menggenggam panik. Sekujur tubuhnya tiba-tiba terasa dingin.
Anya menunduk, pandangan matanya tidak fokus.
__ADS_1
Melihat gelagat Anya, Axton ikut terduduk. Pria itu mengambil tangan Anya dan menggenggamnya agar tangan gadis itu berhenti gemetar.
Anya reflek melepaskan tangan Axton, gadis itu bangun dari tempat tidur menuju kamar mandi dengan langkah tertatih. Anya menyembunyikan dirinya di sana.
Tahu bahwa Anya takut bertemu dengannya, Axton memilih pergi dari rumah setelah berganti pakaian, tanpa mandi
Sebelum pergi, pria itu berdiri di depan pintu kamar mandi, tempat Anya bersembunyi.
Anya menyandarkan tubuhnya di balik pintu.
Axton memegang knop pintu tanpa suara. Anya tahu Axton tengah berada di sana, suara langkah kakinya saat mendekat, begitu jelas terdengar tadi.
Anya menutup mulut menggunakan kedua tangannya. Ia tidak ingin Axton mendengar suara isak tangisnya. Ia takut Axton akan mendobrak pintu dan kembali menyiksanya, jika ia terdengar menangis.
Axton tidak melakukan apa-apa. Sekian menit berlalu begitu saja. Tak lama kemudian, Anya mendengar suara langkah kaki menjauh dari sana.
Anya menjatuhkan dirinya ke lantai. Ia lega Axton telah pergi dari sana. Gadis itu tak siap bertemu dengannya.
...***...
Sejak saat itu hubungan keduanya menjadi semakin dingin dan renggang. Lebih tepatnya, Anya kini menjaga jaraknya sejauh mungkin dari Axton.
Anya tetap menjalankan aktifitasnya seperti biasa. Dia juga tetap menyiapkan segala kebutuhan Axton, hanya saja mereka tidak akan berkomunikasi jika itu tidak menyangkut hal-hal penting. Anya bersikap layaknya seorang robot yang patuh pada tugasnya.
Kebiasaan Anya yang rajin mengirimi Axton pesan pun, kini tak pernah dilakukannya lagi.
Anya juga tidak pernah keluar rumah dan hanya menghabiskan waktunya dengan menonton drama seperti dulu. Untuk mengisi kebosanan dia memiliki hobi baru, yaitu membuat berbagai macam cemilan dan kue-kue. Bi Rahmi senantiasa membantunya di dapur.
Axton mengakui, ada sesuatu yang hilang saat ini. Pria itu tidak nyaman dengan sikap Anya yang demikian. Axton ingin Anya menganggunya, menangisinya atau kurang ajar padanya. Dia ingin Anya tersenyum menyambut kepulangannya.
Dia ... merindukan Anya.
__ADS_1