
Callista memandang sendu kakaknya yang kini terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Axton rupanya mengalami depresi sedang yang menyebabkan kondisi daya tahan tubuhnya menurun.
Sang Ibu yang duduk tepat di sebelah Axton, menjaganya semalam suntuk tanpa tidur sama sekali.
Callista memegang pundak Ibunya. "Ma, gantian ya? Mama harus istirahat di rumah."
Theresa menggelengkan kepala. "Mama masih kuat. Kau harus ke Kantor sebelum terlambat," ujar Theresa tanpa mengalihkan pandangannya dari Axton.
"Papa yang menggantikanku libur. Om Faidhan sudah menunggu." Katanya merujuk pada supir pribadi keluarga mereka yang sedang berdiri di ambang pintu.
"Tapi Kakakmu masih belum mau bangun. Mama mau menunggu hingga bangun dulu," ucap Theresa lirih.
"Kakak tidak apa-apa, Ma. Dokter kan memang memberinya obat tidur agar bisa beristirahat. Nanti kalau Kakak sudah bangun, aku akan langsung menelepon Mama. Aku janji," Callista tersenyum. Kedua tangannya memegang bahu Theresa dan membantu sang Ibu berdiri.
"Kau sudah tahu keberadaan Kakak Iparmu?" tanya Theresa.
Wajah Callista berubah mendung. Gadis itu menggelengkan kepalanya. "Aku sudah menemui Jagat dan Kinanti juga, tetapi mereka bersikeras tidak mengetahui keberadaan Mbak Anya." Jawab Callista.
Melihat gelagat Theresa yang mulai panik, Callista kembali bersuara. "Mama tidak perlu khawatir, aku sudah menyuruh orang-orangku untuk mengawasi gerak-gerik mereka. Sekarang Mama beristirahat dulu di rumah, ya?"
"Kabari Mama jika Kakakmu sudah bangun," Callista mengangguk. Gadis itu memapah Theresa sampai ke depan pintu. "Titip Mama ya, Om,"
Faidhan mengangguk sembari mengambil lengan Theresa dengan hati-hati.
Setelah memastikan keduanya pergi, Callista duduk di tempat Theresa sebelumnya. Ia membetulkan selimut Axton dan memeriksa kantong infusnya yang tinggal setengah.
"Cepat bangun Kak, kau membuat semua orang khawatir."
...***...
"Kabar mengenai kondisi kesehatan Axton yang menurun dibenarkan oleh Richard David, CEO Star-sky Entertainment tempat Axton bernaung."
Gambar televisi memperlihatkan Richard yang berdiri di tengah-tengah kerumunan wartawan.
"Bagaimana kondisi kesehatan X saat ini?"
"Apa syuting iklan terbaru X akan mengalami penundaan?"
"Apa benar X sedang mengalami kesehatan mental?"
Beberapa wartawan infotainment mencecar berbagai macam pertanyaan pada Richard.
"Doakan saja X lekas sehat kembali. Saya harus pergi, permisi," tanpa berkata apa-apa lagi, Richard segera pergi meninggalkan kerumunan dibantu beberapa pengawal pribadinya.
"–a, kotaknya,"
"–nya, kotaknya,"
"Anya," Anya tersentak saat merasakan bahunya disentuh pelan oleh Bu Ida. Wanita itu memandang Bu Ida dengan wajah bingung.
Bu Ida melirik nasi kotak yang Anya pegang.
"Eh–" tanpa sadar Anya rupanya meremas nasi kotak tersebut sekuat tenaga hingga nasi beserta lauk di dalamnya berantakan.
"Aku bersihkan dulu," Bu Ida menahan Anya yang hendak berdiri dari tempatnya.
"Biar Ibu saja, kau masukan kotak-kotak tersebut ke dalam plastik ya? Anak-anak Panti pasti sudah menunggu," ujar wanita itu sembari tersenyum lembut.
__ADS_1
"Maaf ya, Bu, aku kurang fokus." Anya meringis.
"Tidak apa,"
Bu Ida segera mengambil nasi kotak yang tidak berbentuk itu dari tangan Anya dan membawanya ke dapur. Untung saja Anya selalu melebihkan beberapa kotak untuk berjaga-jaga.
Seperti biasa, setiap hari jum'at Anya dibantu Bu Ida dan Dian memasak untuk dibagi-bagikan ke 30 anak-anak Panti Asuhan Kasih beserta para pengurusnya yang berjumlah 7 orang. Dia juga memasang spanduk kecil di lapak dagangannya yang berisikan pengumuman jika setiap hari tersebut minuman yang ia jual gratis.
Dian keluar dari dapur membawa segelas minuman teh hangat untuk Anya, "Minum dulu Mbak,"
Anya menerima teh tersebut lalu menyeruputnya sedikit demi sedikit.
"Mbak kenapa bisa tidak fokus?" tanya Dian penasaran. Bu Ida berkata, Anya terpaku kala menonton tayangan infotainment perihal berita Axton.
"Tidak apa-apa." Jawab Anya tersenyum.
"Aku juga kasihan Mbak," Anya mengerutkan keningnya ketika mendengar pernyataan Dian.
"X, model tampan yang sekarang merambat ke dunia akting. Terlalu banyak bekerja mungkin, jadi sekarang dia harus terbaring di rumah sakit."
Anya mengangkat alisnya tinggi-tinggi. "Kau sering menonton dirinya?" tanyanya penasaran.
"Pastilah Mbak, dia idola sebagian besar warga sini." Jawab Dian seraya memamerkan gigi-gigi putihnya.
Anya terkikik kecil.
"Siapa yang tidak mengidolakan pria seperti dirinya, seorang publik figur yang baik dan memiliki segudang penghargaan. Mbak juga suka 'kan? Sampai kaget begitu mendengar kabar tentang sakitnya," ujar Dian.
Anya terdiam seketika.
"Ya, dia publik figur yang baik ... tetapi, suami yang buruk." batin Anya.
Anya berdiri dari tempatnya, "Ini sudah semua, tinggal dimasukan ke plastik saja."
Bimo segera mengambil alih pekerjaan Anya. Mereka langsung terlupa obrolan sebelumnya.
...*...
Mereka sampai di Panti sepuluh menit kemudian. Bimo segera mengeluarkan nasi kotak tersebut dari mobil Karimun Estilo mereka, dibantu Pak Tris. Sementara Bu Ida dan Anya masuk ke dalam Panti.
"Ada tamu sepertinya, Bu," ujar Anya tatkala melihat ada sebuah mobil SUV mewah terparkir di halaman Panti, yang tampaknya familiar.
"Iya sepertinya,"
Bude Jum segera keluar menyambut Anya dan Bu Ida.
"Terima kasih sekali ya, Anya, kau begitu baik pada anak-anak Panti. Mbak Ida juga, saya sangat berterima kasih sekali, padahal kalian pasti repot, apa lagi Anya sedang hamil."
"Saya hanya bantu membawakan ke sini, Mbak." Jawab Bu Ida, sedangkan Anya lagi-lagi melarang Bude Jum berkata demikian.
"Baiklah, kita masuk dulu saja ya, kebetulan ada tamu penting," Bude Jum mempersilahkan Anya dan Bu Ida masuk.
"Ahh, kalau begitu kita langsung pamit saja ya Bude," Anya merasa tak enak hati. Bu Ida mengangguk setuju.
"Tidak apa-apa, kalian mengenal tamunya. Yuk, masuk," Bude Jum merangkul lengan Bu Ida dan mengajaknya masuk ke dalam, mau tak mau Anya mengikuti mereka.
Suara gemuruh anak-anak Panti langsung terdengar kala melihat kedatangan Anya dan Bu Ida. Beberapa dari mereka bahkan menarik Anya untuk bergabung bersama.
__ADS_1
"Bunda, Paman itu membawa banyak sekali mainan untuk kami. Sekarang, ia sedang membantu kami merakit beberapa mainan yang tidak dapat kami rakit sendiri." Beritahu Azam, salah satu anak Panti berusia 7 tahun.
Anak-anak Panti memang memanggil Anya dengan sebutan Bunda.
Anya tersenyum mendengarnya. Ia mendekat ke arah kerumunan tersebut.
Namun langkahnya kontan terhenti ketika mengetahui siapa Paman yang dimaksud Azam.
Elang dengan kemeja tergulung sampai siku tengah sibuk merakit beberapa action figure. Sementara di dekatnya, duduk seorang pria berkulit putih dengan wajah oriental.
Baru saja Anya hendak pergi dari sana, Elang sudah melihatnya terlebih dahulu. Mereka bertatapan selama beberapa saat sebelum suara Bude Jum yang menyuruh anak-anak Panti makan terdengar memenuhi ruangan.
"Paman, ayo makan dulu, Bunda sudah membawa banyak makanan untuk kita." Beberapa anak Panti segera melupakan mainan mereka. Anak-anak memang menyukai masakan Anya, maka dari itu hari juma'at adalah hari yang paling ditunggu-tunggu, sebab mereka bisa merasakan masakan sang Bunda.
Elang yang baru saja berdiri nyaris terhuyung ketika anak-anak tersebut menarik tangannya. Tak lupa, mereka juga menarik seorang pria yang bersama dengannya.
"Eh, Pak Elang, kebetulan sekali," ujar Bu Ida begitu melihat Elang.
"Ayo, kita makan dulu," ajak Bude Jum.
"Tidak perlu, Bu, kami akan makan siang di luar." Jawab Elang sembari meminta Jasnya yang tersampir di lengan Kevin, Asisten Pribadinya.
"Tidak boleh menolak rezeki, lagi pula Anya selalu menyediakan nasi kotak lebih. Ayo, dimakan," tanpa menunggu persetujuan Elang, Bu Ida menyerahkan dua nasi kotak tersebut.
"Makan bersama terasa lebih nikmat dari pada hanya berdua." Anya datang menghampiri mereka. Senyumnya tersungging, meski jantungnya kini tengah berdegup tak karuan.
Elang mengalah, ia menerima nasi kotak tersebut dari tangan Kevin dan duduk di antara anak-anak Panti.
Anya memandang haru, pasalnya baru kali ini Elang memakan makanan darinya. Sewaktu kecil, ia memang sering memberikan kotak bekal untuk Elang, namun Elang tidak tahu. Pernah sekali Elang mengetahui dari mana asal kotak bekal tersebut, namun hasilnya, Elang membuang kotak bekal itu ke tempat sampah.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Maafkan typo, tanda baca atau kata-kata yang masih berantakan. Saya akan memperbaikinya setelah Novel ini Tamat.
__ADS_1
Jangan lupa, like, komen dan rate ya teman-teman. Favoritkan juga bagi yang belum.
Terima kasih. ^^