Cinta Anya Untuk X

Cinta Anya Untuk X
Kebenaran palsu


__ADS_3

Mata Axton terbelalak tatkala membaca sederetan kalimat singkat itu. Ian yang melihat Axton mematung segera mengambil ponsel pria itu. Ia tak kalah terkejutnya, membaca pesan dari adik ipar, Bos sekaligus sahabatnya tersebut.


Ian segera menyadarkan Axton, pria itu tidak ingin orang-orang di sana sadar akan tingkah laku Axton. "Bersikaplah biasa, X. Pergilah duluan, aku akan memberitahu para kru untuk menunda pemotretanmu."


"Thanks, bro," tanpa diminta dua kali, Axton segera melangkah pergi, meninggalkan lokasi.


Beberapa saat kemudian Maxim menelepon Axton dan menyuruhnya untuk langsung ke Bandara. Pria itu akan pergi bersama adik dan kedua orang tuanya.


Sepanjang perjalanan menuju Bandara, Theresa tidak bisa tenang. Tangannya telah basah oleh keringat, dan matanya juga tidak fokus.


Wanita itu tidak pernah menyangka jikalau jebakan yang ia buat untuk memberi pelajaran pada Anya melalui keluarganya, akan berakibat sefatal ini. Ia pikir, besannya itu memiliki mental sekuat Anya.


Ya, selama ini dia tahu perbuatan Axton pada Anya dari Hana. Melihat betapa kokohnya Anya disakiti sedemikian rupa oleh Axton, membuat Theresa mencobanya juga pada keluarganya, mungkin saja dengan begitu mereka akan malu dan memilih mundur. Tetapi ternyata, hasil dari rencananya benar-benar diluar dugaan.


Tidak ingin masalah semakin runyam, demi menghilangkan kecurigaan, wanita itu segera memecat maid yang waktu itu mengantar Bu Rastini ke dalam kamarnya dengan kompensasi yang sangat besar. Dengan sogokan uang yang tidak sedikit itu, akhirnya maid tersebut setuju dikambing hitamkan.


Tepat setelah mendengar kabar Bu Rastini meninggal, maid tersebut berakting seolah-olah ia mengakui segala perbuatannya.


Apa yang dilakukan Maxim ketika mengetahuinya? Dia segera memecat maid tersebut tanpa gaji dan pesangon.


Melihat ada yang tidak beres dengan gelagat sang Istri, Maxim pun menegurnya, "Kenapa, Ma?"


Theresa terkejut, wajahnya pias. "A–ah, t–tak apa, Pa." Jawabnya terbata. "Aku hanya merasa bersalah pada keluarga Anya. Tidak sepatutnya aku mengatakan hal yang menyakiti hati Mbak Rastini. Kita juga terlambat mengetahui kebenarannya." Kilah Theresa.


Maxim tak menggubris perkataan Theresa, dia kembali fokus menatap jalanan.


...***...


Mereka berempat sampai di kediaman keluarga Anya malam harinya. Rumah sederhana itu rupanya telah ramai oleh banyak pelayat, yang menghadiri acara tahlilan almarhum Bu Rastini.


Melihat ada empat orang asing datang dengan pakaian mentereng, bersama beberapa orang berjas yang mengikuti mereka dari belakang, membuat para tetangga berbisik-bisik penasaran. Mereka memang tahu Anya sudah menikah, tetapi belum pernah sekalipun gadis itu pulang dengan sang Suami ke kampung halamannya.

__ADS_1


"Iya, itu suami Mbak Anya dan keluarganya, Pak, Bu." Jagat yang terlihat lebih tegar menjawab beberapa pertanyaan para tetangga. Pria muda itu kemudian menyambut kedatangan keempatnya.


Jagat mengambil tangan Maxim dan menciumnya. "Maaf rumah kami berantakan, Tuan," Maxim bisa melihat mata Jagat yang sembab. Pria hitam manis itu memaksakan senyumnya saat menyambut mereka.


"Bukan Tuan. Kami Papa, Mama dan Kakak-kakakmu."


Dengan canggung Jagat mengangguk dan mengulang perkataannya.


Maxim memeluk erat dan mengatakan hal-hal positif untuk menguatkan Jagat. Jagat berterima kasih. Ia tak dapat membendung air matanya lagi.


Jagat kemudian beralih pada Theresa. Pria muda itu sedikit kaku saat mencium tangan Theresa. Dapat dirasakan, ada sedikit remasan kuat ketika ia menggenggam tangan Theresa.


Tak lupa dia mencium tangan Axton dan juga Callista yang terpaut empat tahun di atasnya. Axton memeluknya dan meminta maaf karena tidak segera mengangkat telepon. Jagat memaklumi kesibukan kakak iparnya.


"Jagat, kemana Kakak-kakakmu?" tanya Maxim sebab sama sekali tidak melihat keberadaan Anya dan Kinanti.


"Mereka sedang ada di kamar Ibu, Pa. Mbak Kinanti baru saja siuman dari pingsannya, sedangkan Mbak Anya sedang ditenangkan beberapa kerabat. Mari masuk," Jagat memersilahkan keempatnya untuk masuk.


Axton dan Callista mendapati Anya duduk tak berdaya di ambang pintu salah satu kamar. Mata gadis itu terlihat sangat bengkak dan sembab. Kentara sekali dia banyak menangis dan tidak tidur selama berhari-hari.


Anya tengah melamun, ia tak memerdulikan para tetangga dan kerabat yang mencoba menenangkannya.


Axton berjongkok. Melihat ada seorang gadis cantik dan pria tampan bule menghampiri Anya, membuat orang-orang di sekitar Anya reflek memberi ruang.


Axton memegang bahu Anya lembut. Anya menoleh menatap Axton dengan pandangan rapuh luar biasa.


Padahal Axton telah terbiasa melihat air mata Anya. Dia juga sudah berkali-kali melihat kesakitan gadis itu. Dan itu sama sekali tidak pernah memengaruhinya selama ini. Tetapi mengapa kini hatinya terasa sakit saat melihat Anya sehancur ini, sekarang?


"Jangan duduk di sini, kau bisa sakit." Axton terkejut dengan nada suaranya sendiri. Kenapa dia berbicara selembut ini pada Anya? Ada apa dengannya?


Tak ingin menghiraukan apa yang ada dipikirannya, Axton segera menuntun Anya untuk bangun dan duduk di tepi ranjang. Kinanti terlihat tidur dengan gelisah.

__ADS_1


Beberapa tetangga dan kerabat keluarga datang mengerubungi Axton dan Callista untuk menanyakan identitas mereka. Axton tanpa ragu menjawab bahwa ia adalah suami Anya.


"Owalah iki toh suami Anya," tukas salah seorang tetangga Anya. Axton salah tingkah menghadapi ibu-ibu di sana, terlebih lagi, ada salah seorang ibu muda yang berkata jika ia mirip sekali dengan salah satu model yang tengah naik daun dan kini merambat ke dunia akting.


"Mungkin hanya mirip saja Mbak. Banyak kan, orang-orang yang sekilas mirip artis?" Callista mengambul suara. Gadis itu mengerling pada sang Kakak, senyum kecilnya merekah menenangkan.


"Iya sih, mana mungkin ada artis yang mau menikah dengan orang pinggiran seperti kami."


Baru saja orang tersebut hendak bertanya lagi, suara seseorang terdengar menggema.


"Assalamualaikum wr.wb,"


Para ibu-ibu tersebut segera membubarkan diri meninggalkan Axton, Anya, Callista dan juga Kinanti. Salah seorang dari mereka meminta Axton dan adiknya untuk tetap di sini menjaga mereka. Pria itu mengangguk patuh.


Anya merebahkan dirinya di samping Kinanti. Gadis itu mengelus rambut Kinanti dengan penuh kasih sayang sembari menggumamkan kata maaf berulang kali.


"Andai tahu akan jadi seperti ini, lebih baik Mbak menolak jadi bagian dari keluarga ini. Keberadaan Mbak hanya membawa kesengsaraan. Maafkan Mbak, Nan," ucapnya pilu.


Mendengar kalimat menyedihkan keluar dari bibir Anya. membuat Callista serta merta memeluk tubuh sahabat yang sekarang telah menjadi kakak iparnya itu. Sewaktu kecil, Anya dan Callista merupakan sahabat dekat, sebab usia mereka memang hanya terpaut satu tahun. Namun semenjak keluarga Anya meninggal, mereka tidak pernah bertemu lagi.


Bahkan setelah akhirnya Anya menikah dengan kakaknya pun, mereka hanya akan saling sapa seperti baru saling mengenal. Callista belum memiliki kesempatan untuk kembali bergaul lebih dekat dengan Anya dikarenakan kesibukannya mengurus Perusahaan keluarga mereka.


Selesai melakukan pengajian dan rumah telah sepi, mereka berbincang-bincang di ruang tamu.


Theresa menangis, meminta maaf pada ketiga kakak beradik tersebut karena telah menyakiti ibunya dengan perkataan yang tidak pantas. Dia juga mengatakan, bahwa maid yang mengantar Bu Rastini ke kamarnya lah yang mencuri cincin berliannya. Dia dengan sengaja memasukan cincin itu diam-diam ke dalam saku jaket Bu Rastini. Hal itu ia lakukan sebab merasa iri, setelah tahu Bu Rastini hanyalah orang kampung yang beruntung bisa bersanding dengan keluarga Caldwell.


Axton tidak terkejut mendengarnya, sebab Maxim telah memberitahu dirinya terlebih dahulu, saat bertemu di Bandara tadi.


Anya terhenyak. Dia tak percaya ada orang yang setega itu berbuat jahat pada Ibunya. Anya menarik napasnya perlahan. Ia tahu, marah tidak akan merubah fakta jika ibunya sudah tiada. Maka dengan bijak Anya mengatakan bahwa ini semua sudah takdir yang Allah berikan. Tak ada yang perlu dimaafkan dan disesali. Jika memang nama ibunya sudah bersih, dia tak akan mempermasalahkannya lagi.


"Kalian sungguh berhati besar. Sekali lagi maafkan Mama," Anya memeluk Theresa sembari menangis. Gadis itu telah bertekad untuk melupakan semua ini. Dia tak ingin membuat segalanya menjadi rumit. Tujuannya kali ini hanya ingin hidupnya, beserta hidup adik-adiknya tenang.

__ADS_1


__ADS_2