Cinta Anya Untuk X

Cinta Anya Untuk X
Kim Hana


__ADS_3

Setelah menandatangani surat tersebut, Anya kembali ke fitting room, atau kamarnya saat ini. Gadis itu menumpahkan segala emosinya di sana. Ia menangis tersedu-sedu, meratapi betapa menyedihkannya hidup setelah kepergian kedua orang tuanya.


Jujur saja, jauh di dalam lubuk hatinya, ada sedikit rasa penyesalan karena sudi menerima tawaran Maxim. Tetapi di sisi lain, Anya tak mampu menolak, sebab selain Maxim adalah salah satu orang terdekat keluarga mereka, Axton juga merupakan cinta masa kecilnya.


Pertemuan yang sering dilakukan oleh kedua orang tua mereka dahulu membuat Anya acapkali bertemu Axton. Meskipun mereka tidak berteman dekat, tetapi dari sanalah perlahan-lahan tumbuh rasa suka di hati Anya.


Entahlah bagaimana perasaannya kini pada pria itu. Apa murni hanya karena Maxim alasannya, hingga dia bersedia dinikahi, atau karena hatinya masih tertaut pada Axton?


Suara ketukan pintu terdengar beberapa kali. Anya buru-buru menghapus jejak-jejak airmata dan segera menghampiri pintu.


Axton melempar beberapa helai pakaian kotor ke kaki Anya sembari menatapnya sinis, "Bawa ke laundry room untuk kau cuci besok. Dan siapkan minum juga, Hana akan datang kemari." Tanpa menunggu jawaban dari Anya, pria itu segera meninggalkannya menuju ruang televisi. Terlihat ada beberapa buku dan lembaran-lembaran tebal tersusun rapi di atas meja.


Anya memunguti pakaian kotor yang tercecer di lantai. Matanya menatap Axton nanar, sebelum akhirnya ia berjalan, menuruti perintah pria tersebut.


Anya dengan hati-hati membawa nampan yang berisi dua gelas minuman dingin dan sepiring cookies. Gadis itu dengan canggung menghampiri Axton yang tengah sibuk membaca halaman demi halaman kertas-kertas tebal tersebut.


Dengan suara bergetar Anya memanggil Axton, "Ka, minumannya sudah siap."


Axton bergeming. Anya mengatupkan bibirnya sebelum kembali bersuara, "Aku taruh di meja, ya?" tanyanya.


Tak ada jawaban dari Axton. Pria itu terlihat sangat serius membaca.


Anya tampak salah tingkah. Dia menimbang-nimbang, apakah akan menaruh nampan tersebut begitu saja atau menunggu Axton dengan terus berdiri sembari memegangnya.


Anya akhirnya berinisiatif menggeser beberapa tumpuk lembaran yang ada di meja dan meletakan nampan tersebut di atasnya.


"A–aku permisi," katanya sembari melangkah meninggalkan Axton.


Baru beberapa langkah Anya berjalan, tiba-tiba terdengar suara benda jatuh dan teriakan Axton.


"****!!"


Rupanya nampan tersebut jatuh dan cairan berwarna merah yang berada di dalam gelas tumpah membasahi karpet bulu dan juga beberapa surat kontrak kerja serta naskah-naskah iklan yang tengah Axton baca.


Anya membelalakan matanya. Dengan sigap dia menghampiri meja untuk membersihkan tumpahan-tumpahan tersebut.


"Wanita sialan!" hardik Axton. Pria itu berdiri di hadapan Anya yang tengah menunduk ketakutan. Seluruh tubuhnya terlihat gemetar.


"Kau tahu seberapa penting kertas-kertas itu untukku, hah?" suara Axton memenuhi seisi ruangan.


"Ma–maaf, aku tadi sud–" Anya tergagap. Air matanya tak bisa dibendung lagi.


Dengan kasar Axton mengambil kertas-kertas yang telah basah itu, lalu melemparnya keras ke wajah Anya. Pria itu juga tak ragu melempar salah satu buku tebal yang terdapat di sana.


Anya terhuyung ke belakang. Ujung buku itu mengenai sudut bibirnya.

__ADS_1


"Harga dirimu bahkan tak bisa dibandingkan dengan kertas-kertas itu!" teriak Axton penuh amarah.


Suara pintu depan terbuka, seorang gadis cantik terlihat memasuki rumah.


Melihat ada sesuatu yang tidak beres, Hana segera lari menghampiri mereka.


"Ada apa ini?" tanyanya. Matanya menjelajah menatap meja ruang televisi yang terlihat sangat berantakan. Wajahnya terkejut bukan main.


"Ya Tuhan, kertas-kertas itu–" pekik Hana seraya berjongkok, hendak memunguti.


"Jangan," Axton merendahkan nada suaranya. "biarkan dia yang membersihkan semua kekacauan ini."


"Bersihkan semua dan keringkan kertas-kertas itu! Jika sampai besok kertas tersebut tidak kering, kau akan terima akibatnya!" sahut Axton seraya meninggalkan Hana dan Anya menuju lantai dua.


Sepeninggal Axton, Hana menatap Anya khawatir.


"Maafkan Ka X ya, Mbak? Dia hanya tidak bisa mengontrol emosinya dengan baik. Dan surat-surat itu memang sangat berarti bagi karirnya."


Anya tak mampu mengeluarkan sepatah katapun selain anggukan pelan.


Gadis yang dia kenal sebagai kekasih Axton itu, berniat membantunya membersihkan kekacauan yang ia buat, namun Axton segera memanggilnya.


"Maaf Mbak, aku ingin membantu tapi–"


Dengan ucapan maaf terakhir, Hana segera berlari meninggalkan Anya seorang diri menuju lantai dua.


Anya kembali menangis.


"Kak, jangan keterlaluan. Biar bagaimanapun dia adalah istrimu. Lagi pula, kita masih bisa meminta kopian naskah dan kertas kontrak baru, kan?" kata Hana seraya duduk di samping Axton yang masih terlihat marah.


Axton tahu, tetapi dia ingin memberi Anya pelajaran. Meskipun mereka telah menikah, Axton tetap tak bisa mengurangi kebenciannya pada gadis itu. Terlebih, gara-gara kehadirannya, hubungan mereka berdua tak lagi berjalan mulus.


Pria itu menatap Hana dengan tetapan penuh cinta. Tangannya menggenggam tangan Hana erat.


"Kau tak cemburu padanya?" tanya Axton dengan suara lembut.


Hana tersenyum dan membelai pipi pria itu, "Aku tahu, perasaanmu hanya untukku." Jawab Hana merdu.


"Bertahanlah, ini tidak akan berlangsung lama." Setelah berkata demikian, Axton mencium lembut bibir Hana kemudian membawa gadis itu ke dalam pelukannya. Dia juga menciumi pucuk kepala Hana.


"Ya, aku akan menunggu." Hana mengembangkan senyumnya sesaat, sebelum raut wajahnya berubah datar tanpa sepengetahuan Axton.


Sementara itu, Anya kembali ke kamar dengan membawa tumpukan tebal kertas-kertas milik Axton.


Gadis itu berusaha mengeringkan kertas-kertas penting tersebut menggunakan hair dryer yang dia temukan di sana, tanpa memerdulikan luka di bibirnya yang masih terasa nyeri.

__ADS_1


Anya benar-benar ketakutan melihat kemarahan Axton. Dia tahu meski perangai Axton keras dan dingin, namun Axton tak pernah menggunakan kekerasan pada siapapun.


Axton telah berubah, atau–


–dia memang benar-benar tidak mengenali pria itu sebenarnya.


...***...


Pagi hari tiba. Anya sudah berdiri di depan kamar Axton sembari memegang kertas-kertas kontrak dan naskah pria itu. Meskipun sudah kering, namun terlihat sekali bahwa kertas tersebut sudah lusuh dan berwarna merah.


Axton dan Hana keluar dari kamar. Anya bisa melihat dengan jelas bagaimana pria itu menggandeng mesra tangan Hana.


Anya mencoba tak memerdulikannya.


"Kak, ini kertasnya," seraya menunduk, Anya menyerahkan tumpukan kertas tersebut pada Axton.


Axton menatap anya dingin, matanya sedikit terpaku pada sudut bibir Anya yang membiru.


"Tolol! Kau bisa mengeringkan kertas tersebut tapi tak bisa mengembalikannya seperti semula." Makinya kemudian.


Axton mengambil tumpukan kertas itu lalu menggulung dan memadatkannya. Setelah itu, dia memukul kepala Anya beberapa kali menggunakan benda tersebut. Anya reflek menutupi kepalanya dengan kedua tangan.


"Jangan kau tutupi, gadis tolol!" hardik Axton.


"Baru sehari aku bersamamu, hidupku sudah sial. Dasar wanita pembawa sial!"


Kali ini Anya membiarkan Axton memukulinya sekuat tenaga hingga beberapa bagian dari kertas-kertas itu sobek. Axton melepas genggaman tangannya pada Hana lalu menarik kerah kaos Anya agar gadis itu menatap wajahnya.


"Kak, sudah kak!" Hana mencoba menghentikan Axton. "Cukup! Kasihan Mbak Anya." Axton sama sekali tak mengindahkan perkataan Hana.


"Kak!" Hana meninggikan suaranya. "Aku akan marah dan tidak akan ke sini lagi!"


Ancaman yang Hana lontarkan sukses menghentikan perbuatan Axton.


Axton menatap Anya penuh emosi, napasnya terdengar memburu. "Jika bukan karena Hana, kau sudah mati di tanganku!"


Pria itu melempar tumpukan kertas tersebut hingga berhamburan di lantai lalu mendorong Anya keras-keras. Setelah itu dia pergi dari sana sembari menarik tangan Hana.


Mata Anya berkunang-kunang. Kepalanya terasa sangat sakit akibat pukulan Axton, apa lagi semalaman dia tidak tidur demi mengeringkan tumpukan kertas-kertas itu.


Anya menyenderkan tubuhnya di pintu kamar Axton.


Suara tangisan keluar dari mulut Anya sementara tangan kanannya meremas kaos sekuat tenaga.


'Yah, Bu, Anya mau ikut saja!' batinnya meraung.

__ADS_1


__ADS_2