Cinta Anya Untuk X

Cinta Anya Untuk X
Kontrak Kerjasama


__ADS_3

"Pagi, Pak," sapa beberapa staf kantor ketika berpapasan dengan Pimpinan mereka.


"Pagi."


"Pagi, Pak," sapa salah seorang Office Boy yang baru saja keluar dari ruangannya.


"Pagi."


"Pak, rapat sudah bisa di mulai 10 menit lagi," Siska, sekretaris pribadi Daffa bersuara tatkala Pimpinan tempatnya bekerja itu datang. Wanita itu mengikuti Daffa masuk ke dalam ruangan.


"Ok." Jawab pria itu singkat. Dia melepas Jasnya dan menggantung Jas tersebut lalu berjalan menghampiri mesin kopi yang terletak tak jauh dari meja kerjanya.


Pria itu memang suka membuat kopi sendiri. Dia bahkan lebih suka makan di kantin karyawan dari pada harus merepotkan sekretarisnya itu dengan memintanya membelikan makanan.


Bagi karyawan-karyawannya, Daffa adalah Pemimpin yang bijaksana dan ramah.


"Star-sky juga sudah memberi jawaban terkait kontrak kerjasama yang kita tawarkan. Mr. Richard setuju dan siang ini, Anda akan temu janji dengan Beliau saat jam makan siang." Siska menyerahkan beberapa dokumen terkait kerjasama dengan Star-sky pada Daffa.


Daffa tersenyum puas. Perusahaannya yang bergerak di bidang elektronik berhasil menggaet salah satu publik figur ternama untuk dijadikan Brand Ambassador. Terlebih, orang tersebut memang sangat diinginkan Daffa.


***


Richard, Axton dan Ian duduk bersama di salah satu restoran mewah untuk makan siang dengan salah satu pimpinan perusahaan Mahendra Electronics Group. Perusahaan yang mengajukan kerjasama dengan mereka.


Mahendra Electronics Group adalah salah satu Perusahaan terbaik yang ada di Negeri ini, tentu Richard tak ingin kehilangan kesempatan. Maka dari itu, tak butuh waktu lama baginya untuk menyetujui ajakan kerjasama tersebut.


Dan ini juga akan menjadi pengalaman pertama Axton membintangi sebuah produk elektronik.


Sembari menunggu, Axton membaca sekali lagi kontrak kerjasama yang diterima Richard karena dia memang belum membacanya secara keseluruhan.


"Maaf menunggu lama," sebuah suara yang tampaknya tidak asing terdengar di telinga Axton.


"Tidak masalah." Richard berdiri, menyambut jabatan tangan Daffa dengan wajah sumringah, sementara Axton dan Ian terkejut bukan kepalang ketika mengetahui siapa Pimpinan Mahendra Electronics Group.


Napas Axton terdengar memburu. Dia mengingat-ingat lagi sebuah nama yang tertera di kontrak kerjasama.


Muhammad Daffa Mahendra.


Axton salah mengira. Dia pikir, itu hanya sebuah nama yang kebetulan sama. Pria itu memang tidak mengetahui nama lengkap Daffa.

__ADS_1


Pantas saja, mencari tahu tentang pria yang ada di hadapannya ini begitu sulit ditemukan. Inilah penyebabnya.


Daffa tersenyum miring, merasa sangat puas melihat bagaimana reaksi Axton. Tangannya masih setia menunggu Axton menyambutnya.


Namun, bukannya menjabat tangan Daffa, Axton malah menarik dasi pria tersebut sekuat tenaga.


"Bajixxxx!" umpatnya.


"X!" Richard, Ian dan Siska berusaha melepas cengkraman tangan Axton. "Hentikan!" teriak Richard. Wajah pria itu memerah menahan emosi.


Daffa mencengkram tangan Axton yang berada di dasinya lalu kemudian mendekatkan bibirnya pada telinga Axton. "Hei! Kau bisa mencoreng nama baik Star-sky," ucapnya pelan namun terdengar menusuk.


Seolah tersadar, pria itu menoleh ke arah Richard yang tengah menatapnya nyalang, lalu melepas kasar cengkraman tangannya pada dasi Daffa.


"Batalkan kerjasama ini, aku yang akan membayar dendanya." Kata Axton tanpa basa basi sembari bersiap untuk pergi dari sana.


"Apa-apaan kau!" seru Richard.


Ian mendekati Axton dan membisikan sesuatu ke telinganya.


Axton kontan membelalakan matanya.


Daffa benar-benar seorang pebisnis licik. Mau tidak mau, dia harus menerima kerjasama yang telah dibuat ini.


***


Axton berusaha menahan diri untuk tidak bangun dari tempat duduknya dan meninju wajah sombong Daffa.


Ia benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang ada di otak Richard, hingga dengan mudah menyetujui permintaan Daffa yang keterlaluan.


Bagaimana tidak, di dalam surat perjanjian kerjasama tersebut, jika pihak Star-sky, terutama Axton membatalkan kontrak secara sepihak, maka Star-sky harus membayar denda tersebut sebesar 30 persen keuntungan saham yang didapat oleh perusahaan Richard tersebut.


Axton juga merasa bodoh, sebab dia belum sempat membaca seluruh isi surat kontrak itu. Dia memang memercayakan semuanya pada Ian kali ini. Sedangkan Ian juga tidak mengetahui jika Daffa adalah Pimpinan Mahendra Electronics Group. Karena selama ini dia hanya bertemu dengan sekretarisnya, Siska.


Mereka melakukan rapat kecil sembari makan siang di sana. Berbincang-bincang mengenai produk Mahendra Electronics Group yang akan Axton pegang.


Namun seperti yang dapat dilihat, pria itu sama sekali tidak mau ikut bergabung padahal ia adalah Pemeran Utamanya.


"Baiklah kalau begitu, kita bisa memulai pemotretan besok, dilanjut syuting iklan dua haru kemudian." Daffa mengakhiri pembicaraan. Pria itu kemudian berdiri, diikuti oleh Richard, Ian dan Siska.

__ADS_1


Ian menarik lengan Axton untuk ikut berdiri.


"Terima kasih," ucap Daffa.


"Kami yang berterima kasih." Jawab Richard. "Dan atas nama Axton, saya juga meminta maaf perihal insiden sebelumnya," ujar pria itu rendah hati.


"Ahh, tidak masalah. Semoga dengan adanya kerjasama ini, hubungan pertemanan kami yang semula terputus bisa kembali terjalin." Jawab Daffa ramah.


Daffa memang sengaja berbohong pada Richard soal pertengkaran mereka tadi. Dia berdalih bahwa Axton dan dirinya dulu adalah teman dekat yang renggang akibat suatu masalah.


Daffa mengulurkan tangannya pada Axton. "Senang dapat bekerja denganmu, X," ujarnya.


Axton bergeming sesaat sebelum akhirnya menerima uluran tangan Daffa. Pria itu sedikit meremas tangan Daffa hingga membuatnya meringis kesakitan.


"Hmm." Jawabnya singkat.


Selepas kepergian Daffa, Richard mengeluarkan amarahnya. Dia memaki-maki Axton yang dianggap tidak profesional.


"Mau sepelik apapun masalah kalian. Pekerjaan tetaplah pekerjaan. Kau tidak boleh menyampur adukan masalah pribadimu dengan pekerjaan. Paham X?"


Hanya gumaman tak jelas yang terdengar keluar dari mulut Axton. Ia tidak bisa balik memarahi Richard padahal batinnya sudah bersumpah serapah.


Setelah puas memarahi Axton, Richard pergi meninggalkan mereka. Ia harus mengurusi hal lain lagi.


"Ayo," ajak Ian. "Kau harus bersiap untuk Fansign sore ini."


Tanpa berkata apa-apa Axton berjalan mendahului Ian menuju ke mobil.


Ian hanya bisa menghela napasnya. Wajar sebenarnya melihat sikap Axton demikian. Jika ia jadi Axton, ia mungkin akan merasakan hal yang sama.


Bekerja sama dengan seseorang yang paling dibenci bukanlah hal yang mudah, dan Axton harus dapat melakukannya dengan baik.


Ian juga tahu bahwa Daffa pasti sengaja melakukan semua ini. Dia ingin menunjukan dirinya pada Axton.


***


Anya baru saja selesai makan siang dan tengah membersihkan piring kotor di dapur. Setelah itu ia akan bersiap untuk pergi ke rumah Callista.


Malam ini Kinanti dan Jagat akan kembali pulang ke kampung halaman mereka, maka dari itu dia ingin menghabiskan hari ini bersama kedua adiknya tersebut sampai waktu keberangkatan tiba.

__ADS_1


"Ayo, Pak," ujar Anya pada Joseph yang menunggu di depan pintu. Axton memang sengaja menyuruh Joseph mengantar Anya ke rumah utama sebelum kembali ke lokasi. Pria itu akan langsung menyusul Anya dan Callista ke Bandara malam nanti.


__ADS_2