
Ini adalah kali keempat Axton menemani Anya berwisata kuliner tengah malam. Ia menyadari perubahan yang terjadi pada diri istrinya itu. Memang tidak terlalu signifikan. Anya hanya lebih suka makan makanan tendaan yang dibuka di pinggir jalan. Selebihnya tidak ada. Sepertinya.
Demi menghilangkan penasaran, Axton bertanya pada Anya, mengapa ia sering kali makan di luar, padahal ada banyak makanan yang tersedia di rumah.
"Aku hanya ingin berwisata kuliner. Toh, tidak setiap malam aku keluar rumah." Jawab Anya sedikit ketus, sembari menyantap nasi uduk betawi porsi keduanya. Kelihatan sekali ia tak suka ditanya seperti itu.
"Kakak sendiri juga berubah," ujar wanita itu setelah menelan habis makanan yang berada di mulutnya. "akhir-akhir ini, kau selalu pulang larut malam, padahal schedule-mu minggu ini tidak terlalu padat."
Axton melotot. Tak disangka, Anya malah menggunakan pertanyaan tadi sebagai senjata untuk menyerangnya balik.
Ada kilat kegugupan terpancar dari wajah Axton, yang tertangkap indera penglihatan Anya.
"Ada Job dadakan." Jawab Axton tanpa pikir panjang.
"Ha?" Anya melongo.
Ingin sekali Axton menepuk keningnya sendiri. Bodoh sekali jawabannya.
"Jangan berpikiran macam-macam." Kata pria itu setenang mungkin.
"Macam-macam yang bagaimana? Memangnya, aku sedang mikir apa?" Anya bertanya dengan wajah polos.
Melihat itu, Axton malah kesal sendiri. "Sudah, diam!"
Anya menggendikan bahunya. Dalam hati, ia merasa senang bisa menggoda pria itu. Apapun alasan Axton yang sesungguhnya, ia tak akan mau ambil pusing. Biarlah Axton melakukan apapun, asal tidak di depannya.
Selesai makan Anya dan Axton bersiap kembali ke apartemen. Baru saja keduanya akan keluar dari tenda, sesosok pria yang sangat Anya kenal berdiri menghalangi jalan mereka.
"Mas Daffa?" Anya membuka suaranya terlebih dahulu.
"Ahh, Anya dan X rupanya. Apa kabar?" sapa Daffa. Pria tersebut ternyata datang bersama beberapa karyawannya.
"Pulang kerja, Mas?" tanya Anya ramah kala melihat Daffa masih memakai seragam kantornya lengkap.
"Tidak juga. Kantor kami mengadakan pesta kecil-kecilan sampai larut malam, dan sekarang aku mengajak mereka makan malam sebagai hadiah kecil." Beritahu Daffa. Anya mengangguk mengerti.
"Kalau begitu, selamat makan,"
Saat Anya hendak melangkahkan kakinya keluar, Daffa memanggil wanita itu. "Kenapa Mas?"
"Kuharap, kau ada waktu senggang minggu ini,"
__ADS_1
"Kurang ajar!" batin Axton. Berani sekali dia mengajak seorang wanita yang telah bersuami, di hadapan suaminya sendiri.
Axton maju selangkah, tetapi Anya dengan sigap menahan tangan pria itu. "Maaf ya, Mas, aku ada janji minggu ini." Jawab Anya seraya tersenyum.
Daffa tidak terkejut mendengarnya. Wanita itu memang berniat menjauhi dirinya. "Baiklah kalau begitu." Daffa memaksakan sebuah senyuman. Anya pun bergegas pergi dari sana. Ia tak ingin ada keributan di tempat umum.
Suasana di dalam mobil terasa sedikit mencekam menurut Anya. Kendati Axton tengah fokus menyetir, namun Anya dapat merasakan aura kemarahan pria itu.
"Bolehkah aku bertanya?" Anya membuka suaranya.
Axton menoleh sekilas sebelum mengalihkan pandangannya lagi ke depan. "Apa?"
"Mengapa kau begitu marah setiap kali aku berinteraksi dengan Mas Daffa?" tanya Anya tiba-tiba. Axton tersentak.
"Kau memang sudah mengatakan alasannya tempo lalu, tapi rasa-rasanya, seperti ada alasan lain yang tidak kuketahui."
Anya sontak menutup mulutnya rapat-rapat. Ia merutuki dirinya. Entah mendapat keberanian dari mana wanita itu, sehingga dengan percaya diri berkata demikian.
Selama beberapa saat keheningan menyergap keduanya. Anya menyesali perkataannya. Seharusnya dia bisa menahan diri.
Axton tertawa sinis. "Percaya diri sekali kau," ujar pria itu.
Anya bungkam. Hatinya mencelos. Ada rasa malu yang bercampur menjadi satu di relungnya.
Axton benar, Anya tak boleh berharap lebih. Ia tak boleh memimpikan hal yang mustahil. Kedekatan mereka akhir-akhir ini bukanlah pertanda, bahwa Axton telah membalas perasaannya. Ini semua murni karena Anya adalah barang kepunyaannya. Dan Axton tak akan sudi barangnya disentuh orang lain.
Anya menarik napasnya perlahan. Berusaha sekuat tenaga agar tidak menangis. Dia tak ingin terlihat menyedihkan di mata pria itu.
***
Siang ini adalah jadwal check up Anya dengan dokter Sandra. Wanita itu sudah berpakaian rapi dan siap berangkat.
"Titip rumah ya, Bi?"
"Iya, Bu. Ibu benar tidak mau saya temani belanja?" tanya Bi Rahmi sedikit khawatir. mengingat akhir-akhir ini Anya hampir selalu memuntahkan makanannya. Bi Rahmi tidak berani memprediksikan kondisi Anya, sebab setahunya, Axton dan Anya tidak tidur satu kamar.
"Tidak apa, Bi,"
***
Hana dan Axton harus menunggu di rumah sakit lebih lama, sebab dokter Hana masih berada di jalan.
__ADS_1
"Kita makan dulu, Kak," Wanita mengajak Axton ke salah satu kantin Rumah Sakit. Sembari menunggu sang dokter datang, mereka akan makan siang terlebih dahulu.
"Maaf ya, Kak, kita jadi harus menunggu lebih lama," ucap Hana disela-sela makan siang mereka.
"Tak apa." Jawab Axton sekenanya.
Lagi-lagi Hana kecewa. Pria itu memang sering menemaninya hingga larut malam sekarang. Bahkan, Axton akan langsung datang ke apartemennya sepulang dari lokasi syuting, jika ia menelepon.
Namun tidak seperti dulu, kentara sekali Axton terpaksa melakukan semua ini, hanya karena takut ia berbuat nekat seperti waktu itu.
Kendati demikian, Hana tidak peduli. Wanita itu membutakan mata dan menulikan telinganya, agar tetap bersama Axton. Biarlah ia egois, biarlah perasaan Axton kali ini tak berlabuh padanya, asalkan pria itu masih berada di dekatnya. Itu sudah lebih dari cukup.
Dia yakin seiring berjalannya waktu, perasaan Axton akan tumbuh seperti dulu.
***
Anya keluar dari ruangan dokter Sandra. Syukurlah, kondisinya sudah lebih baik setelah dia rutin mengonsumsi obat hipertensi dari dokter Sandra. Sang dokter juga sudah pasti mengonsultasikan terlebih dahulu pada dokter Fransiska agar obat tersebut aman dikonsumsi Ibu hamil.
"Terima kasih, Sus," Anya pamit pada Perawat yang mengantarnya sampai keluar ruangan.
Wanita itu kemudian masuk ke dalam lift menuju lantai satu.
Ia mengelus perutnya lembut. "Sehat-sehat di perut Ibu ya, Nak," ucapnya tersenyum. Setelah ini ia berencana akan berbelanja sedikit makanan, agar Bi Rahmi tidak mencurigai kepergiannya.
Ting!
Pintu lift terbuka. Anya keluar dari sana dan langsung berjalan menuju bagian Farmasi. Setelah memberikan secarik resep pada petugas Farmasi, Anya duduk di kursi tunggu paling depan.
Matanya memerhatikan layar monitor yang tertera di sana. Namanya muncul dengan lampu berwarna merah. Sekilas ia melihat nama Kim Hana persis di atas namanya.
Semula Anya tak berpikiran apapun. Kim Hana adalah nama yang umum, meskipun nama tersebut bukan berasal dari Indonesia. Jadi, dia yakin ada orang lain yang memiliki nama persis seperti mantan kekasih suaminya itu.
Namun keyakinannya patah seketika, kala matanya menangkap sosok Hana yang sedang berjalan menuju meja Farmasi bersama seorang pria yang sangat dia kenal.
Pria tersebut memeluk pinggang Hana mesra.
Anya mematung di tempat duduknya. Seluruh tubuhnya kaku tak bergerak, sementara bulu kuduk wanita itu meremang, seolah baru saja melihat hantu di sana.
Setelah mendengar penjelasan dari salah satu petugas Farmasi, Axton dan Hana berbalik pergi dari sana.
Dan disaat itulah, Axton bertemu pandang dengan Anya, yang sedang duduk sembari menatapnya tanpa suara.
__ADS_1