
Verline mengangguk lalu memilih untuk membeli tas itu. la segera melangkah menuju kasir dan membayamya.
Gadis itu menyerahkan paper bag tersebut ke arah Sharon.
"Kau tak keberatan 'kan membawakannya untukku?"
"Err.. tentu saja!" Dengan senang hati Sharon menerima paper bag dari tangan Verline.
Begitu banyak yang Verline beli. Gadis bermata hijau bening itu tak tanggung-tanggung membeli 5 dress sekaligus. Dan semuanya... Sharon yang memilih.
Sharon merasa kebingungan, kenapa dia?
Gadis itu bisa saja 'kan menentukan apa yang disukainya?
Sharon berjalan terseok-seok seraya membawa belanjaan milik Verline. Verline tampak melangkah lebih awal menuju parkiran. Dengan susah payah Sharon mengikuti langkah lebar gadis itu.
"Sini, biar kusimpan di dalam bagasi."
Sharon menyerahkan seluruh paper bag di tangannya. Verline memasukkannya ke dalam bagasi mobil. Lalu mereka masuk ke dalam mobil.
"Apa kau lapar?" Tanya Verline.
Sharon hanya menggeleng, "Ti... Tidak."
"Jujur saja, kita telah berbelanja begitu banyak. Kau tak perlu sungkan, Sharon!" Verline memutar stir. Mobil mulai menjauhi parkiran. Entah akan mengajaknya kemana gadis itu. Buktinya, arahnya sangat jauh dengan jalur menuju Asrama.
Sharon memperhatikan tangan gadis itu. Apa dia suka nge-gym? Lihat ototnya? Tangannya seperti pria!
"Aku memang senang nge-Gym.. ” gadis itu tersenyum menampakkan gigi putihnya yang berjejer rapih.
__ADS_1
Sharon manggut-manggut. Lalu ia kembali hanyut ke dalam indahnya kota Madrid. Kota kelahirannya.. sebenarnya bukan di Madrid. la terlahir di kota biasa. Bukan biasa, tepatnya kota kumuh. la terlahir di Tegucigalpa, Honduras, Cortes. Kota yang populasinya tidak terlalu tinggi seperti Madrid.
"Apa kau menyukai Madrid?" Tanya Verline.
"Kulihat kau terus memperhatikannya!"
Sharon tersenyum malu-malu. "Kotanya indah... "
Verline tak menjawab ucapan gadis itu. Ia lebih memilih memarkirkan mobilnya di suatu tempat. Gadis itu mengajak Sharon untuk turun.
"Plaza mayor?!" Sharon berseru.
Ya tuhan.. dari dulu ta ingin pergi kesini!
Gadis itu tersenyum lebar. Kakinya terus melangkah membawanya masuk dalam alun-alun tersebut.
Plaza mayor adalah alun-alun berbentuk persegi panjang yang terletak di pusat kota Madrid, Spanyol. Rata- rata bangunan disini memiliki arsitektur yang serupa dan terdiri empat tingkat. Lantai pertama ditempati oleh cafe dan pertokoan, sementara tiga tingkat sisanya merupakan bangunan tempat tinggal, apartment, dan hotel.
"Apa kau pernah kesini?" Tanya Verline. Ia mengikuti langkah Sharon.
Sharon menggeleng, "Ini pertama kalinya bagiku!"
Gadis itu tak henti-hentinya tersenyum lebar.
Gadis itu tampak manis ketika tersenyum. Sosok gadis latin yang tampak ceria.
Mereka terus berjalan menyusuri alun-alun plaza mayor. Sharon tak membeli apapun dan hanya sekedar melihat-lihat. Ia tak memiliki uang. Sedangkan Verline, gadis itu membeli beberapa benda dan di serahkan pada Sharon.
"Untukmu." Gadis itu menyerahkan gula kapas ke arah Sharon.
__ADS_1
Sharon menerimanya dengan senang hati. Gadis itu memakannya dengan perlahan.
"Aku tak menyangka kau sebaik ini." Sharon
tersenyum.
"Benarkah?" Verline menautkan kedua alisnya. "Ya, kau begitu baik membawaku kesini." "Hm.. " Verline hanya bergumam.
Tentu saja karena aku ingin imbalan Nona..
"Apa kau orang Spanyol?" Tanya Sharon hati-hati.
"Eh?!" Verline mengernyit, "Bukan! Aku pindahan dari Amerika."
"Oh.. "
"Memangnya kenapa?"
"Kau tak terlihat seperti gadis Latin biasanya. Ya, mata hijau. Mungkin agak asing, kami para gadis hanya memiliki mata cokelat."
"Memangnya apa urusanmu dengan mata hijau-ku?" Verline mendengus, "Aku menyukai mataku. Mereka berbeda dengan yang lain."
"Ya, maaf. Aku tidak bermak—"
"Lupakan." Verline beranjak bangkit, gadis itu menepuk bajunya. "Lain kali tidak perlu membahas soal mataku!"
"Maaf." Gumam Sharon menyesal.
__ADS_1
tbc