Cinta Atau Dendam

Cinta Atau Dendam
BAB 51


__ADS_3

"Kau baik-baik saja? Kenapa hanya diam?" Tanya


Christian.


Aku tergagap, segera ku fokuskan tatapanku pada makanan di


hadapanku. Sebuah makanan lezat dan pasti mofıo/, yang aku tidak tahu namanya.


Ku raih sendok dengan anggun, Deril pernah


mengajarkanku ketika kami berada di Tegucigalpa. Walau ragu dan


tak berminat, aku menyantap makanan tersebut dalam diam.


 


Christian melakukan hal yang sama denganku, ia menyantap


makanannya dalam diam. Keheningan mulai menyelimuti kami. Tak ada percakapan


satu sama lain.


Ini seperti bukan kencan, rasanya ini seperti makan siang.


Aku mendesah tak nyaman. Bagaimana kencan sebenarnya? Apakah seperti ini? Hanya


menyantap makanan dalam diam?


"Sharon." Ujar Christian ketika ia telah selesai


menyantap makanannya.


Aku mengangkat wajahku, menatap kedua bola matanya dengan


sendu. Ia tampak tersenyum kecut.


"Apa kau terpaksa melakukan


ini?" Lirihnya. Ya tuhan!


Aku


menggeleng dengan cepat, "Te-tentu tidak!"


Ujarku tegas.


"Aku rasa, sebaiknya kita pulang saja." Desahnya.


"Chris--"


Ia memotong ucapanku, "Kau tau aku berharap bahwa aku bisa mengatakan hal yang mengganjal, tapi kau hanya diam. Aku merasa sangat tak di hargai."

__ADS_1


 


Tatapan matanya tampak sedih. Aku mendesah tak


nyaman.


"Christian.. ” panggilku setengah berbisik.


"Jika kau tak bisa, kau tak perlu melakukannya dengan


terpaksa." Ia bangkit lebih awal mengulurkan tangannya ke arahku,


"Ayo kita pulang."


Aku menerima


uluran tangannya. Ku ikuti langkah


lebarnya.


Ketika kami dalam perjalanan pulang-kembali ke asrama, aku masih dengan lamunanku. Tepatnya, kembali hanyut dengan lamunanku. Aku


kembali melupakan kehadiran Christian di sampingku.


"Sesuatu yang mengganggu di dalam hatimu itu dapat membunuhmu dengan


perlahan jika kau tak segera mengatasinya." Ujarnya tiba-tiba.


apapun.


"Apa yang kau fıkirkan, Sharon?" Ia menatap lurus ke arah jalanan, "Apa kau masih


memikirkan mantan kekasihmu?"


 


Ya..


"Tidak, aku hanya ragu dengan perasaanku padamu."


Lirihku.


"Aku  akan  menunggu,   sampai kau siap dengan pilihanmu."


Aku menatapnya dengan mata sendu.


Aku tak


bisa.. Lirih


batinku.

__ADS_1


Sharon menatap layar ponselnya. Sejenak ia menarik nafas panjang,


kemudian dengan perlahan gadis itu memencet tombol hijau. Tak berapa lama,


telfon pun tersambung.


Gadis itu menunggu dengan resah, dalam hati ia berharap Deril menjawab telfonnya. Entah kenapa ia ingin sekali-maksudnya-Sharon sangat


berharap. Ia terus mondar-mandir seraya


mendekatkan ponsel ke telinganya.


Tak berselang lama, sang empu pun mengangkat telfon. Sharon mendesah lega ketika sambutan


"Halo" berdengung di telinganya. Tanpa sadar ia tersenyum lebar.


"Sharon? Ada apa?" Bisik suara di sebrang sana


terdengar lelah.


"A-apa kau tak kesini? Maksudku-mengunjungiku?" Sharon tergagap.


"Hm.. " Deril


bergumam, "Pukul berapa sekarang?" "Eh?


Err-maaf kalau aku mengganggu."


 


"Apa kau ingin membicarakan sesuatu? Aku akan kesana


kalau begitu."


"Jika kau lelah, kau tak perlu kesini. Tak masalah."


"Tunggu, aku segera kesana." Deril memutus


sambungan telfon begitu saja. Sharon menatap layar ponselnya dengan gugup. Ia


terduduk lemas di atas ranjang. Di liriknya jam di dinding, waktu menunjukkan


pukul 12 Malam.


Seharusnya ia melihat waktu tadi, ia salah! Deril pasti sedang beristirahat. Tapi, ada hal penting yang ingin ia bicarakan


dengan pria itu.


Waktu seakan-akan berputar cepat bagaikan roda, Deril yang beberapa menit lalu rasanya-ia telfon-kini telah berada di hadapannya. Dengan


tampang kusut dan lelahnya, Deril membaringkan tubuhnya di atas ranjang bekas 'Verline'.

__ADS_1


__ADS_2