
"Kau baik-baik saja? Kenapa hanya diam?" Tanya
Christian.
Aku tergagap, segera ku fokuskan tatapanku pada makanan di
hadapanku. Sebuah makanan lezat dan pasti mofıo/, yang aku tidak tahu namanya.
Ku raih sendok dengan anggun, Deril pernah
mengajarkanku ketika kami berada di Tegucigalpa. Walau ragu dan
tak berminat, aku menyantap makanan tersebut dalam diam.
Christian melakukan hal yang sama denganku, ia menyantap
makanannya dalam diam. Keheningan mulai menyelimuti kami. Tak ada percakapan
satu sama lain.
Ini seperti bukan kencan, rasanya ini seperti makan siang.
Aku mendesah tak nyaman. Bagaimana kencan sebenarnya? Apakah seperti ini? Hanya
menyantap makanan dalam diam?
"Sharon." Ujar Christian ketika ia telah selesai
menyantap makanannya.
Aku mengangkat wajahku, menatap kedua bola matanya dengan
sendu. Ia tampak tersenyum kecut.
"Apa kau terpaksa melakukan
ini?" Lirihnya. Ya tuhan!
Aku
menggeleng dengan cepat, "Te-tentu tidak!"
Ujarku tegas.
"Aku rasa, sebaiknya kita pulang saja." Desahnya.
"Chris--"
Ia memotong ucapanku, "Kau tau aku berharap bahwa aku bisa mengatakan hal yang mengganjal, tapi kau hanya diam. Aku merasa sangat tak di hargai."
__ADS_1
Tatapan matanya tampak sedih. Aku mendesah tak
nyaman.
"Christian.. ” panggilku setengah berbisik.
"Jika kau tak bisa, kau tak perlu melakukannya dengan
terpaksa." Ia bangkit lebih awal mengulurkan tangannya ke arahku,
"Ayo kita pulang."
Aku menerima
uluran tangannya. Ku ikuti langkah
lebarnya.
Ketika kami dalam perjalanan pulang-kembali ke asrama, aku masih dengan lamunanku. Tepatnya, kembali hanyut dengan lamunanku. Aku
kembali melupakan kehadiran Christian di sampingku.
"Sesuatu yang mengganggu di dalam hatimu itu dapat membunuhmu dengan
perlahan jika kau tak segera mengatasinya." Ujarnya tiba-tiba.
apapun.
"Apa yang kau fıkirkan, Sharon?" Ia menatap lurus ke arah jalanan, "Apa kau masih
memikirkan mantan kekasihmu?"
Ya..
"Tidak, aku hanya ragu dengan perasaanku padamu."
Lirihku.
"Aku akan menunggu, sampai kau siap dengan pilihanmu."
Aku menatapnya dengan mata sendu.
Aku tak
bisa.. Lirih
batinku.
__ADS_1
Sharon menatap layar ponselnya. Sejenak ia menarik nafas panjang,
kemudian dengan perlahan gadis itu memencet tombol hijau. Tak berapa lama,
telfon pun tersambung.
Gadis itu menunggu dengan resah, dalam hati ia berharap Deril menjawab telfonnya. Entah kenapa ia ingin sekali-maksudnya-Sharon sangat
berharap. Ia terus mondar-mandir seraya
mendekatkan ponsel ke telinganya.
Tak berselang lama, sang empu pun mengangkat telfon. Sharon mendesah lega ketika sambutan
"Halo" berdengung di telinganya. Tanpa sadar ia tersenyum lebar.
"Sharon? Ada apa?" Bisik suara di sebrang sana
terdengar lelah.
"A-apa kau tak kesini? Maksudku-mengunjungiku?" Sharon tergagap.
"Hm.. " Deril
bergumam, "Pukul berapa sekarang?" "Eh?
Err-maaf kalau aku mengganggu."
"Apa kau ingin membicarakan sesuatu? Aku akan kesana
kalau begitu."
"Jika kau lelah, kau tak perlu kesini. Tak masalah."
"Tunggu, aku segera kesana." Deril memutus
sambungan telfon begitu saja. Sharon menatap layar ponselnya dengan gugup. Ia
terduduk lemas di atas ranjang. Di liriknya jam di dinding, waktu menunjukkan
pukul 12 Malam.
Seharusnya ia melihat waktu tadi, ia salah! Deril pasti sedang beristirahat. Tapi, ada hal penting yang ingin ia bicarakan
dengan pria itu.
Waktu seakan-akan berputar cepat bagaikan roda, Deril yang beberapa menit lalu rasanya-ia telfon-kini telah berada di hadapannya. Dengan
tampang kusut dan lelahnya, Deril membaringkan tubuhnya di atas ranjang bekas 'Verline'.
__ADS_1