Cinta Atau Dendam

Cinta Atau Dendam
BAB 5


__ADS_3

"Umm.." Verline melirik ke sekitamya dengan gerogi. Tentunya dengan gerogi yang dibuat-buat.


A yolah.. Aku masih normal.


Aku tak mungkin gerogi karena pria tai.


Batinnya mencibir.


Lalu pandangan gadis itu terhenti pada sosok Sharon yang tengah menatapnya. Entah apa yang ada di pikiran gadis itu. Tatapannya tampak.. kecewa? Atau terluka?


 


"Sepertinya.. aku masih banyak urusan Christian! Kau tau, Mrs.Tannisa tak mungkin membiarkanku berkeliaran."


Christian mendesah kecewa, "Baiklah.. mungkin di lain waktu!" Pria itu mencoba menyunggingkan senyuman.


Verline hanya tersenyum miring.


Sepulang sekolah, Sharon memilih untuk langsung ke kamar asrama. Ia mengurung diri di sana. Biasanya, ia akan pergi ke suatu tempat hanya untuk menghabiskan waktu sorenya. Tapi kali ini tidak.


Ia menyimpan tasnya di atas nakas. Dengan lesu, ia duduk di atas kursi belajarnya. Perlahan matanya menatap nakas miliknya. Seakan teringat sesuatu, seketika matanya membelalak.


Ia segera mengobrak-abrik seluruh isi laci di dalam nakas. Ia hanya dapat mendesah kecewa ketika barang itu sama sekali tak ia temukan.


Ya tuhan.. dimana cokelatnya?!


 


Tadi ia menyimpannya disini.

__ADS_1


Sharon mengacak-acak rambutnya dengan kesal. Ayo Sharon.. dimana terakhir kali kan menyimpannya?


Ia menggigit bibir bawahnya dengan gugup. Merasa frustasi, pada akhirnya ia memilih untuk membanting tubuhnya ke atas ranjang. Mata cokelatnya menatap langit- langit kamar.


Christian menyukai gadis itu..


Mungkin sekarang mereka sedang jalan bersama..


"Argh!" Sharon menggeram.


Ceklek Suara pintu terbuka membuatnya kembali berbaring di atas ranjang. Tampak Verline melangkah mendekat. Gadis itu menyimpan tasnya di atas nakas. Sama seperti yang Sharon lakukan tadi.


"Apa seragamku sudah kau cuci?"


"Aku sudah memberikannya pada laundry. Kau tidak perlu khawatir, nanti malam aku akan mengambilnya!" Ketus Sharon.


 


"Kau darímana?" Tanya Sharon. la beranjak bangkit. Verline yang sedang membuka sepatunya mendongak menatap Sharon.


"Apakah aku perlu memberitahukannya padamu?" Desis Verline.


"Itu terserah padamu, aku hanya bertanya...." Sharon tergagap.


"Aku dari perpustakaan." Verline mengangkat buku yang ia pinjam ke arah Sharon.


Sharon mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu ber- oh-ria.


 

__ADS_1


Hening.


Sama sekali tak ada percakapan di antara mereka. Hingga pada akhirnya, Sharon membuka suara. la mencoba memberanikan diri menanyakan soal cokelat miliknya pada Verline.


"Err.. Verline?" Tanya gadis itu memulai.


"Hm.."    Verline    hanya    menjawabnya   dengan gumaman.


 


"Apa kau melihat sesuatu di sini?" Sharon memberi kode menunjuk nakasnya.


Verline mengernyit, "Maksudmu? Sesuatu?"


"Kotak-err.. -kotak cokelat disini." Sharon menjeda ucapannya, "Apa kau melihatnya?"


Verline   tersenyum     miring.    Dengan   cepat    ia menyembunyikan senyuman miring itu, "Tidak." Ucapnya. "Tapi.. tadi pagi aku menyimpannya di sini." Gumam Sharon pelan.


"Apa kau sedang menuduhku?" Verline menutup bukunya dengan kasar.


"Bu-kan.. begitu maksudku--"


"Bahkan aku tak tahu bagaimana bentuk kotak itu!" Verline bangkit melangkah menuju kamar mandi. Gadis itu meninggalkan Sharon yang menatapnya.


Lalu dimana kotak itu? Jangan sampai seseorang mengetahuinya ..


Verline mendesah tak nyaman ketika ia tak dapat tertidur malam ini. Ia terus membalik-balikkan tubuhnya mencoba mencari posisi senyaman mungkin. Alhasil bukan mendapatkan posisi yang nyaman. Ia malah merasakan tubuhnya pegal.


Ia mengacak wig yang ia pakai dengan pelan. Wig ini begitu mengganggu. Ia mendesah frustasi.

__ADS_1


Kapan penderitaan ini akan selesai? Menung gu pria itu hancur?


Tbc


__ADS_2