Cinta Atau Dendam

Cinta Atau Dendam
BAB 64


__ADS_3

"Diam kau brengsek!"


"Kemari."         Deril         membalikkan          tubuhku menghadapnya, ia menarik tengkukku. "Lihat ini.. ” Deril tersenyum sinis.


Tiba-tiba Deril menarik tengkukku. Dengan cepat ia menciumku. Seketika mataku membelalak tak percaya.


Inikah rencananya?


Ia ******* bibirku dengan lembut. Aku


mulai hanyut dan membalas ciumannya. Akal sehatku menolak untuk menghiraukan sekitarku.


Ciumannya begitu lembut dan membuatku


terlena.


Apa artinya ciuman ini?


Apa ini hanya sandiwara?


 


Jadi ciuman di bukit itu ... sudah jelas bahwa ia ingin mengajarkanku. Untuk saat ini?


Jadi,   memang  benar   bahwa  ia   tak   mempunyai


perasaan apapun terhadapku?


Dadaku terasa bergemuruh. Aku mendorong Deril dengan cepat. Air mata semakin membanjiri pipiku.


Deril menatapku dengan terengah.


"Aku tau


sekarang." Bisikku dengan bergetar. "Sharon


aku--"


"Aku telah selesai." Ucapku terisak. Aku segera


berlari tanpa kembali menoleh. Namun suara itu... mengagetkanku.


Dorr.. Dorr..


"Christian!"


Mendengar suara tembakan yang begitu


menggelegar, sontak Sharon berlari ke arah Christian. Gadis itu semakin terisak. Di tatapnya Christian dengan nanar. Sosok pria itu tampak berlumuran darah di bagian dadanya.

__ADS_1


Mandy yang saat itu baru datang pun


berteriak histeris. Gadis itu mendekat. Meraih


ponselnya lalu segera menelpon ambulan.


la berteriak seperti orang yang kesetanan ketika ambulan belum juga datang.


Sedangkan Deril, pria itu hanya mematung. la terlalu terkejut melihat peristiwa penembakan yang cepat. Hingga sentuhan Paula membuatnya menoleh. Mereka saling mematung


menatap tiga sosok itu.


Sharon yang menangis seraya memeluk


Christian dengan erat. Membuat dada Deril bergemuruh. la mengepalkan


tangannya.


"Apa kau yang


melakukannya?" Bisik Paula pelan.


 


"Bukan, ini diluar rencanaku."


"Ku


asing,"


Deril menoleh, pria itu mengangkat sebelah halisnya. "Siapa?"


"Entah.. apa kau ingin aku menyelidikinya? Aku akan


menelfon temanku kalau begitu." Desah Paula.


"Lakukan." Ujar Deril tegas.


Ketika ambulan telah datang, sontak mereka segera membawa Christian ke dalam. Sharon dan Deril turut


ikut, sedangkan Mandy. Gadis itu memilih menaikki mobil pribadinya.


Seperjalanan, Sharon tak henti-hentinya menangis terisak. Gadis itu tampak begitu panik. Ia terus


bergumam pelan seraya meremas jemari Christian. Deril yang melihat itu hanya dapat tersenyum kecut.


"Maaf Nona, tunggu saja di luar." Ujar seorang perawat ketika mereka semua telah sampai di rumah sakit.


Sharon mendesah khawatir. Gadis itu mengusap air matanya dengan kasar.

__ADS_1


 


Semoga pria itu baik-baik saja.. semoga..


Mandy yang mematung seraya terisak, mencoba menggapai gadis


itu. Ia berteriak marah.


"Kau jala*g! Semua ini karena-Mu! Jika bukan rencana


busukmu menyakiti Christian! Dia tak akan begini!" Teriaknya murka.


Dan untungnya Deril membatasi jarak


mereka. Sharon hanya dapat terisak seraya berlindung di balik punggung Deril.


Seorang perawat yang kesal akibat


keributan yang terjadi pun menancapkan suntikkan di lengan Mandy. Membuat


gadis itu pingsan seketika. Para perawat itu


membopong Mandy pergi.


"Apa kau yang melakukannya?!" Bentak Sharon


menatap Deril dengan nanar.


"Apa


maksudmu?" Bisik Deril tak percaya.


"Apa kau yang merencanakan semuanya, hah?!" Sharon


terisak di balik telapak tangannya, "Kau jahat, Deril.. " isaknya.


"Kau telah berjanji tak akan membunuhnya,


tapi apa yang kau lakukan?!" Bisiknya.


 


"Bukan aku Shar--"


"Aku tau itu kau!" Potong Sharon dengan cepat.


"Christian sangat mencintai Renata, mereka saling mencintai. Christian


tidak selingkuh!"

__ADS_1


TBC


__ADS_2