
"Diam kau brengsek!"
"Kemari." Deril membalikkan tubuhku menghadapnya, ia menarik tengkukku. "Lihat ini.. ” Deril tersenyum sinis.
Tiba-tiba Deril menarik tengkukku. Dengan cepat ia menciumku. Seketika mataku membelalak tak percaya.
Inikah rencananya?
Ia ******* bibirku dengan lembut. Aku
mulai hanyut dan membalas ciumannya. Akal sehatku menolak untuk menghiraukan sekitarku.
Ciumannya begitu lembut dan membuatku
terlena.
Apa artinya ciuman ini?
Apa ini hanya sandiwara?
Jadi ciuman di bukit itu ... sudah jelas bahwa ia ingin mengajarkanku. Untuk saat ini?
Jadi, memang benar bahwa ia tak mempunyai
perasaan apapun terhadapku?
Dadaku terasa bergemuruh. Aku mendorong Deril dengan cepat. Air mata semakin membanjiri pipiku.
Deril menatapku dengan terengah.
"Aku tau
sekarang." Bisikku dengan bergetar. "Sharon
aku--"
"Aku telah selesai." Ucapku terisak. Aku segera
berlari tanpa kembali menoleh. Namun suara itu... mengagetkanku.
Dorr.. Dorr..
"Christian!"
Mendengar suara tembakan yang begitu
menggelegar, sontak Sharon berlari ke arah Christian. Gadis itu semakin terisak. Di tatapnya Christian dengan nanar. Sosok pria itu tampak berlumuran darah di bagian dadanya.
__ADS_1
Mandy yang saat itu baru datang pun
berteriak histeris. Gadis itu mendekat. Meraih
ponselnya lalu segera menelpon ambulan.
la berteriak seperti orang yang kesetanan ketika ambulan belum juga datang.
Sedangkan Deril, pria itu hanya mematung. la terlalu terkejut melihat peristiwa penembakan yang cepat. Hingga sentuhan Paula membuatnya menoleh. Mereka saling mematung
menatap tiga sosok itu.
Sharon yang menangis seraya memeluk
Christian dengan erat. Membuat dada Deril bergemuruh. la mengepalkan
tangannya.
"Apa kau yang
melakukannya?" Bisik Paula pelan.
"Bukan, ini diluar rencanaku."
"Ku
asing,"
Deril menoleh, pria itu mengangkat sebelah halisnya. "Siapa?"
"Entah.. apa kau ingin aku menyelidikinya? Aku akan
menelfon temanku kalau begitu." Desah Paula.
"Lakukan." Ujar Deril tegas.
Ketika ambulan telah datang, sontak mereka segera membawa Christian ke dalam. Sharon dan Deril turut
ikut, sedangkan Mandy. Gadis itu memilih menaikki mobil pribadinya.
Seperjalanan, Sharon tak henti-hentinya menangis terisak. Gadis itu tampak begitu panik. Ia terus
bergumam pelan seraya meremas jemari Christian. Deril yang melihat itu hanya dapat tersenyum kecut.
"Maaf Nona, tunggu saja di luar." Ujar seorang perawat ketika mereka semua telah sampai di rumah sakit.
Sharon mendesah khawatir. Gadis itu mengusap air matanya dengan kasar.
__ADS_1
Semoga pria itu baik-baik saja.. semoga..
Mandy yang mematung seraya terisak, mencoba menggapai gadis
itu. Ia berteriak marah.
"Kau jala*g! Semua ini karena-Mu! Jika bukan rencana
busukmu menyakiti Christian! Dia tak akan begini!" Teriaknya murka.
Dan untungnya Deril membatasi jarak
mereka. Sharon hanya dapat terisak seraya berlindung di balik punggung Deril.
Seorang perawat yang kesal akibat
keributan yang terjadi pun menancapkan suntikkan di lengan Mandy. Membuat
gadis itu pingsan seketika. Para perawat itu
membopong Mandy pergi.
"Apa kau yang melakukannya?!" Bentak Sharon
menatap Deril dengan nanar.
"Apa
maksudmu?" Bisik Deril tak percaya.
"Apa kau yang merencanakan semuanya, hah?!" Sharon
terisak di balik telapak tangannya, "Kau jahat, Deril.. " isaknya.
"Kau telah berjanji tak akan membunuhnya,
tapi apa yang kau lakukan?!" Bisiknya.
"Bukan aku Shar--"
"Aku tau itu kau!" Potong Sharon dengan cepat.
"Christian sangat mencintai Renata, mereka saling mencintai. Christian
tidak selingkuh!"
__ADS_1
TBC