
Sharon menaikki anak tangga dengan tergesa. Ia mengusap air
matanya dengan kasar. Ia terus berlari hingga sampai di depan pintu kamar
asramanya. Ia menarik handle pintu dengan cepat. Ketika pintu terbuka seketika
ia hanya dapat mematung.
Seorang pria bertelanjang dada dengan handuk yang
melilit di pinggangnya. Berada di kamarnya!
Pria itu tampak menatap Sharon
sama terkejutnya.Rambut cokelat basahnya, dan mata hijau beningnya.
"Si-apa kau?"
Sharon menatap pria di hadapannya dengan takut- takut.
la menegak saliva-nya dengan susah payah. Benaknya
bertanya-tanya, siapa pria itu? Darimana
asal pria itu?
la mengusap wajahnya dengan gugup. Pria itu tampak menatapnya
dengan tenang. Raut wajahnya tak menunjukan apapun, hanya datar. Sharon
mengamati wajahnya.
Halisnya
yang tebal, bibirnya yang tipis, mata hijau beningnya yang tajam, hidung
mancungnya, rahang tegasnya, dan... cambang tipis. Sangat tipis namun menunjukkan bahwa pria itu sudah
cukup matang.
Sharon melirik ke arah penampilan pria itu. la menutup matanya perlahan. Pria itu tampak masih dengan penampilannya. Lalu kemudian Sharon mendengar suara bariton pria itu.
"Aku akan menggunakan pakaianku, baru setelah itu kita bicara." Pria itu membuka
lemari milik Verline dan meraih pakaian disana. Sharon melongo.
Apa jangan-jangan pria itu... kekasih Verline?
__ADS_1
Atau mungkin, orang gila yang salah masuk kamar?
Argh! Tidak mungkin
'kan orang gila setampan ile.
Sharon meringis. Tak lama kemudian pria itu kembali, ia tampak telah mengenakan pakaiannya. Dengan santainya
pria itu duduk di atas ranjang milik Verline. Sharon menggelengkan kepalanya.
"Apakah ka-u
kekasih Verline?" Tanyanya hati-hati.
Deril terkekeh mendengar ucapan Sharon. Pria itu melempar wig di bawah ranjang ke arah Sharon. Gadis itu tampak melongo.
"I-ini?"
"Ya. Itu rambut Verline."
"A-apa kau membunuhnya?" Seru Sharon. Ia mulai ketakutan sekarang. Jangan-jangan pria itu psikopat yang telah membunuh Verline.
Ya tuhan..
Tawa Deril pecah seketika. Dios.. kenapa gadis ini begitu bodoh! la tertawa terbahak membuat
"Astaga Sharon kau begitu lucu.. hahaha.." Astaga! Bahkan pria itu tau namaku?!
Apa pria itu
Cenayang? Indigo Child mungkin?
Kenapa bisa mengetahui namaku?!
"Namaku Deril," ujar pria itu. Mata Sharon menyipit, ia menatap lekat mata hijaunya.
Seakan teringat sesuatu Sharon membelalak.
"Ka-kau? Apa kau Verline?"
"Tepat sekali!" Pria itu tersenyum tipis.
Jadi benar selama ini dugaannya. Bagaimana bisa? Verline sosok yang begitu cantik sebenarnya seorang pria yang sangat tampan.
Sharon menggeleng-gelengkan kepalanya. la pasti sudah gila,
apa ia sedang berhalusinasi? Oh.. Sharon kau bermimpi sepertinya, cepat bangunlah!
"Mana mungkin-bagaimana bisa?"
__ADS_1
"Tentu bisa." Deril
memotong ucapan Sharon."Aku tak habis fikir. Siapa kau sebenarnya?!"
"Aku sudah mengatakannya padamu. Namaku Deril." Deril menatap Sharon dengan datar.
"Aku masih tak mengerti." Sharon mengusap wajahnya. "Jadi selama ini kau seorang pria? Ya tuhan .." ia mendesah.
Begitu banyak yang membuatnya pusing hari ini- oh
bukan.. -tepatnya malam ini.
"Lebih baik sekarang kau keluar dari kamarku!"
Teriak Sharon.
Deril terkekeh, "kau mengusirku setelah apa yang
aku lakukan padamu?"
Sharon terdiam tak dapat berkutik. Ia membeku.
Lidahnya terasa kelu untuk berbicara.
"Ingat Sharon, kau berhutang banyak padaku. Aku telah membayar
operasi matamu, membantumu mendapatkan Christian." Tegas Deril.
"Christian bersama Mandy." Helaan nafas lolos dari
bibir mungil gadis itu. "Aku menyerah. Untuk operasi mata, aku akan
menyicilnya."
"Hoh.. benarkah? Apa kau mampu mencicilnya? Lalu bagaimana jika aku meneabut beasiswamu?" Ujar Deril
dengan suara mengejek.
"A-apa?!" Sharon tersentak kaget.
"Bagaimana dengan impianmu selanjutnya Sharon?"
Sharon benar-benar terpojok sekarang.
Tidak! Tidak
dengan beasiswanya! Semua itu satu-satu harapannya.
__ADS_1
TBC